MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Cinta yang Belum Kesampaian


Amanda baru saja kembali ke kamarnya selesai berbincang dengan kedua orangtuanya membahas masalah Cilla, Arjuna dan om Rudi. Diliriknya jam dinding yang ada di kamar. Hampir jam 10 pagi.


 


Amanda meraih handphone di nakas yang tadi sedang diisi ulang  daya baterainya. Ada 3 panggilan telepon tidak terjawab dengan nama Jovan di sana. Ternyata cowok yang sering membuat Amanda berdebar itu mengirimkan pesan juga untuknya.


 


Jovan : tolong hubungi gue secepatnya. P-E-N-T-I-N-G !!!


 


Amanda menautkan alisnya. Antara deg deg kan dan rasa khawatir membuatnya langsung menekan panggilan ke nomor Jovan.


 


“Amanda !” mendengar suara itu memanggil di hari Minggu pagi membuat tangan Amanda sedikit gemetar.


 


“Lagi ngapain sih lo, telepon nggak diangkat, pesan nggak dibaca-baca. Baru bangun, ya ?” cerocos Jovan tanpa memberi kesempatan Amanda menjawab.


 


“Baru selesai sarapan sama papa dan mama sekalian ngobrol. Heboh amat, sih !” Amanda berusaha membuat suaranya terdengar biasa saja, padahal jantungnya berdegup tidak karuan.


 


“Gue mau ke tempat elo  sekarang juga. Elo nggak kemana-mana, kan ?”


 


“Mau ngapain ?” Amanda menautkan kedua alisnya dan menggigit bibir bawahnya.


 


“Mau ngajak adiknya Bapak Arjuna Hartono pacaran,” sahut Jovan sambil terkekeh.


 


“Nggak terima tamu yang mau uji coba doang !” sahut Amanda dengan nada jutek.


 


“Eh beneran, gue punya berita penting banget buat elo. Please ya, gue boleh ke rumah elo sekarang ?” nada memelas terdengar dari suara Jovan.


 


“Tapi bukan mau PHP atau minta makan, kan ?”


 


“Bukan dua-duanya, tapi langsung mau melamar kayak Pak Juna melamar Cilla. Langsung tancap gas, nggak usah pakai pemanasan lama-lama.”


 


“Udah gue bilang kalau ogah cepat-cepat nikah sama cowok model elo. Belum mapan, duit aja masih minta sama bo-nyok. Mau kasih makan istri pakai cinta doang ? Nggak kenyang, yang ada malah berantem terus,” nada suara Amanda masih terdengar jutek.


 


“Dasar cewek matere,” ledek Jovan. “Pokoknya nggak ada penolakan, gue jalan ke rumah elo sekarang,”


 


Tanpa menunggu jawaban Amanda, Jovan langsung menutup teleponnya. Ia sendiri sudah bersiap-siap mandi dan berpakaian rapi setelah mendapat kiriman pesan dari Cilla.


 


Jovan bergegas turun dan berharap orangtuanya belum pulang biar tidak perlu berlama-lama diinterogasi sebelum ke rumah Amanda. Tapi harapannya ternyata tidak dikabulkan, karena begitu membuka pintu utama, orangtuanya baru saja turun dari mobil sehabis olahraga pagi.


 


“Mau kemana kamu ?” mami Joan yang baru saja turun dari mobil bertanya pada putra tunggalnya.


 


“Mau pacaran,” sahut Jovan menghampiri maminya dan mencium pipinya seperti biasa.


 


“Sama adiknya calon suami Cilla ?” mata mami Joan memicing.


 


“Belum jadian, baru pdkt,” sahut Jovan sambil terkekeh.


 


“Mami nggak setuju. Itu sama saja kamu menyiksa diri, tiap kali harus melihat Cilla dan calon suaminya itu.”


 


“Jovan  nggak sakit hati, mam, karena ternyata perasaan Jovan ke Cilla nggak lebih dari seorang sahabat bukan perasaan cinta antara pria dan wanita.”


 


“Tapi mami dan papi…”


 


“Jodoh, hidup dan mati ada di tangan Tuhan, mam. Namanya Amanda. Jovan juga baru mulai pendekatan, belum resmi pacaran, belum terpikir mau menikah segala. Jovan masih mau melanjutkan sekolah dan membuat bangga papi dan mami,”


 


Mami Joan hanya menghela nafas. Tidak lama papi Revan turun dari mobil dan sempat mendengar perdebatan antara istri dan anaknya.


 


“Kenapa bisa kecantolnya sama adik calon suaminya Cilla ? Kamu nggak dalam misi tertentu sama Cilla, kan ?” tanya papi Revan sambil tertawa pelan.


 


“Kalau soal kecantol itu rahasia hati, Papi. Jovan juga nggak tahu kenapa bisa tertariknya sama Amanda yang notabene adalah calon adik iparnya Cilla. Mungkin jodoh Jovan dan Cilla bukan sebagai kekasih apalagi suami istri, tapi jodoh sebagai kakak adik yang saling menjaga.”


 


“Pacaran yang benar, jangan permainkan anak gadis orang,” pesan papi Revan.


 


“Thankyou papi. Dadah mami…” Jovan melambaikan tangannya dan menuju ke motornya yang terparkir tidak jauh.


 


“Jadi papi kasih ijin ?” wajah mami Joan terlihat kesal saat mendengar suaminya seolah memberi dukungan pada putra mereka. Jovan sendiri sudah berlalu menuju rumah Amanda.


 


“Namanya juga baru usaha, Mam. Biarkan saja Jovan merasakan bagaimana perjuangan mendapatkan cinta dan jatuh bangun waktu pacaran. Selama ini kan fokusnya hanya pada Cilla, itu pun karena mereka sudah kenal sejak lahir. Biar dia belajar dengan orang lain yang mungkin bisa membuatnya menjadi laki-laki sejati dan lebih dewasa.”


 


Meski hatinya kesal, mami Joan akhirnya memilih diam dan menuruti ucapan suaminya.


 


 


Sementara di rumahnya, Amanda terlihat gelisah membolak balik pakaian di dalam lemarinya. Rasanya ingin tampil beda menyambut kedatangan Jovan, tapi malu kalau sampai terlihat berpenampilan spesial padahal saat ini Jovan bukanlah siapa-siapa.


 


Akhirnya Amanda memilih celana jeans selutut dan kaos yang sedikit longgar berwarna biru muda biar kesannya cerah namun tidak terlalu formal. Amanda memilih menunggu di kamar, seolah tidak tahu kalau Jovan akan datang. Bisa habis digoda oleh papa dan mamanya yang memang memberi kebebesan pada Amanda dan Arjuna soal pacar.


 


Sekitar limabelas menit kemudian pintu kamar Amanda diketuk. Hatinya makin berdebar karena yakin kalau panggilan ini karena kedatangan Jovan.


 


“Ada tamu di bawah cari non Amanda,” ujar Bik Isah saat Amanda membuka pintu kamarnya.


 


“Sebentar Manda turun, Bik. Tolong suruh tunggu di ruang tamu dulu, ya.”


 


“Baik, Non.”


 


Amanda berdiri di balik pintu kamarnya yang tertutup. Ia menarik nafas dan membuangnya perlahan beberapa kali sambil memegang dadanya yang semakin berdebar.


 


“Tenang Amanda, tenang. Jangan sampai Jovan melihat kalau elo grogi ketemu dia,” ujar Amanda pada dirinya sendiri sebelum tangannya membuka pintu kamar.


Sampai di ruang tamu terlihat Jovan sedang mengutak-atik handphonenya. Senyuman terus mengembang di bibir mantan ketos tampan itu. Pesonanya benar-benar sudah menyihir Amanda.


“Ngapain sih pagi-pagi udah bikin heboh ?” gerutu Amanda sambil duduk berhadapan dengan Jovan.


Hanya dengan senyuman, Jovan beranjak bangun dan pindah duduk di sebelah Amanda.


“Eh mau ngapain dekat-dekat,” Amanda langsung mengangkat tangannya dan hendak bergeser.


“Ya ampun Amanda, gue mau membahas soal pesan yang dikirim Cilla,” bibir Jovan langsung manyun dengan wajah kesal.


“Nggak bakal gue apa-apain juga, kecuali elo kasih ijin,” lanjutnya sambil terkekeh.


Jovan menyodorkan handphonenya yang sudah terbuka. Amanda mengernyit, ada foto Cilla, Arjuna dan sepasang suami istri yang Cilla pastikan kalau mereka adalah orangtuanya Jovan. Muka sosok prianya sebelas duabelas dengan Jovan.


“Maksudnya apa ?” Amanda menoleh dengan alis bertaut.


“Baca dulu sampai selesai napa ? Itu ada pesan yang Cilla kirim,” Jovan menunjuk handphonenya dengan telunjuk.


Cilla menscroll layar handphone dan memang ada pesan yang dikirim Cilla.


“Jo, gue nggak sengaja nih ketemu bo-nyok elo di Ancol. Ketangkap deh gue lagi asyik pacaran sama calon suami 😂😂😂. Udah gue kenalin juga Mas Juna sebagai calon suami. Nyokap lo sempat pasang muka jutek (tapi nggak sejelek muka elo kalau lagi bete 🤣🤣🤣) dan sepertinya tante Joan tidak terima dengan ucapan gue.


Apa mau dikata, gue memang cintanya sama Mas Juna 😍😍 (jangan cemberut lo ! Muka elo jadi tambah jelek, bisa-bisa Amanda batal naksir)


Selamat berjuang Bro 💪💪 Paling nggak udah gue bukain jalan ke ortu elo, tinggal gimana perjuangan elo deh…Sama jangan lupa, calon suami gue belum seratus persen merestui elo jadi pacar adik kesayangannya… Fighting oppa hihihihi….


 


Amanda mengembalikan handphone ke pemiliknya dan menggeser sedikit duduknya sambil mengambil bantal sofa.


“Kok diam aja sih,” gerutu Jovan. “Nggak ada reaksi senang atau sedih atau apa gitu.”


“Memangnya gue harus gimana ?” tanya Amanda sambil menatap Jovan dengan wajah malas.


“Manda, jujur gue belum pernah benar-benar menyatakan cinta sama cewek. Kalau sama Cilla berasanya kayak obrolan biasa aja, nggak ada waktu khusus apalagi pakai acara candle light dinner segala. Jadi gue agak-agak oon menyusun kata-kata cinta.”


Amanda hanya melirik masih dengan wajah malasnya membuat Jovan jadi salah tingkah dan mengusap tengkuknya.


“Perasaan gue ke elo bukan sekedar PHP. Gue sendiri juga nggak tahu kapan mulainya gue suka sama elo, tapi gue jamin kalau gue nggak main-main. Gue suka sama elo, Manda. Mau nggak jadi pacar gue ?” Jovan dengan kata-kata rayuannya sedikit mendekati Amanda sambil memasang wajah sok imut dan senyum selebar-lebarnya.


“Gue nggak mau,” jawab Amanda dengan wajah datar membalas tatapan Jovan.


Jovan mundur kembali dengan tatapan tidak percaya. Sepertinya kemarin-kemarin Amanda membalas kode-kode yang diberikan Jovan soal hatinya.


“Kok berubah ? Kenapa ? Nggak dikasih pacaran dulu ya sama ortu elo ?” serentetan pertanyaan langsung diucapkan Jovan dengan dahi berkerut.


“Bukan,” sahut Amanda dengan senyuman tipis.


“Karena nggak dikasih sama kakak elo ?” dengan nada penasaran, Jovan tidak sabar mendengar alasan penolakan Amanda.


“Bukan.”


Jovan menghela nafas dan menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa.


“Apa gue nggak boleh tahu sama sekali alasannya ?” tanya Jovan dengan nada lesu.


“Karena gue belum percaya dengan perasaan elo sama gue,” sahut Amanda tanpa mau mengulur waktu.


“Kenapa ? Apa wajah gue kelihatan bohong ? Apa karena cara ngomong gue yang suka nyeleneh ?”


“Kenapa sih kalau nanya demennya borongan ? Elo bukan lagi belanja di toko grosiran,” gerutu Amanda.


“Karena gue benar-benar, sungguh-sungguh penasaran.”


Jovan merubah posisi duduknya miring ke arah Amanda dan mengambil bantal sofa untuk tatakan tangannya yang digunakan untuk menopang dagunya.


“Gue nggak yakin dengan perasaan elo ke gue,” ujar Amanda sambil menghela nafas, diliriknya Jovan sekilas yang kali ini tidak terlihat akan menyanggahnya.


“Elo menyukai Cilla hampir seumur hidup elo, lalu tiba-tiba nggak ada angin, hujan apalagi badai tahu-tahu elo bilang suka ke gue yang secara status bakal jadi adik iparnya Cilla. Gue nggak yakin kalau perasaan elo ke gue itu murni karena diri gue. Sepersekian persen masih ada kemungkinan kalau ini semua karena dalam hati kecil elo masih ingin dekat dengan Cilla, makanya gue yang elo pilih untuk jadi pacar.”


Jovan menghela nafas sambil memejamkan matanya sejenak. Ia sudah merubah posisi duduknya tegak kembali.


“Gue nggak nyalahin kalau elo punya pikiran semacam itu. Gue yakin kalau Pak Juna juga punya pikiran yang sama makanya nggak setuju kalau gue jadian sama elo. Bokap gue aja tadi memastikan juga saat gue pamit mau ke rumah elo. Gue ngerti banget Amanda dan kalau gue ada di posisi elo, delapanpuluh lima persen gue juga akan punya perasaan yang sama.”


Jovan kembali menghela nafas dan diam beberapa saat. Amanda pun hanya diam dan memainkan ujung bantal sofa.


“Akan sulit dipercaya kalau perasaan gue yang kelihatannya menggebu-gebu sama Cilla sampai gue rela menunggu hampir sembilan tahun buat dapat maaf dari tuh cewek, tiba-tiba berubah jadi suka sama elo. Tapi seperti yang gue pernah bilang ke elo, saat tahu Cilla memilih Pak Juna untuk jadi pelabuhan hatinya bahkan calon suaminya, gue sama sekali nggak merasakan yang namanya sakit hati, cemburu apalagi patah hati. Jujur gue memang sempat sedih karena merasa akan kehilangan seorang sahabat. Elo tahu sendiri, mana ada calon suami yang membiarkan calon istrinya tetap dekat dengan cowok yang pernah bilang suka sama calon istrinya.”


Jovan menatap Amanda yang masih sibuk memainkan tangannya di bantal sofa. Sepertinya Jovan perlu berjuang lebih keras lagi untuk membuktikan cintanya. Bukan hanya pada Amanda, tapi juga pada Arjuna dan orangtua Jovan sendiri.


“Gue nggak akan maksa elo untuk menjawab iya hari ini juga, Manda. Tapi gue akan membuktikan kalau perasaan gue bukan pelarian dari Cilla apalagi gue jadian sama elo karena alasan supaya tetap bisa dekat dengan Cilla.”


Jovan beranjak bangun dari sofa dengan senyuman getir.


“Terima kasih atas waktu yang sudah elo berikan untuk mendengarkan ungkapan hati gue. Suatu saat kalau gue masih punya kesempatan, gue pasti akan datang lagi. Dan gue harap saat itu elo bisa menerima perasaan gue. Gue pamit dulu, Manda.”


Tanpa menunggu jawaban apapun dari Amanda, Jovan berjalan keluar dan tidak lama meninggalkan rumah keluarga Hartono dengan motornya.


Amanda masih melongo di tempatnya. Nggak ada usaha lebih gimana gitu yang Jovan lakukan untuk menaklukan hati Amanda ? Bahkan Jovan tidak menunggu Amanda menanggapi ucapannya yang panjang lebar.


Amanda menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Semoga Jovan benar-benar membuktikan ucapannya akan kembali sekali lagi dengan cintanya pada Amanda. Dan Amanda sendiri berharap kalau hatinya akan sanggup memberikan jawaban YA pada pernyataan cinta Jovan.