
Ternyata papi harus dirawat semalam setelah terapi dengan tujuan observasi karena obat yang diberikan adalah jenis baru.
Cilla yang sejak di sekolah merasa resah dengan kondisi papi memaksa menemani di rumah sakit. Arjuna pun yang sedang sibuk-sibuknya akhirnya ikut memaksa menemani Cilla meski istrinya itu sudah menolak karena tidak ingin Arjuna tidur dalam kondisi tidak nyaman di rumah sakit.
Dan siang tadi papi diperbolehkan pulang oleh dokter. Ada tante Siska yang akhirnya datang menemani Cilla karena sejak jam 6.30 pagi Arjuna sudah dijemput Tino untuk menyelesaikan pekerjaannya yang cukup padat.
Cilla melirik jam dinding di kamarnya. Jam 10 malam lewat sedikit. Belum ada tanda-tanda Arjuna pulang. Cilla mondar mandir di kamar dan sesekali melihat keluar jendela. Hatinya gelisah meski Arjuna sudah memberi kabar akan pulang malam dan menyuruh Cilla tidur dulu.
Tadi om Rio menyusul tante Siska sekitar jam 5 sore, menemani papi berbincang santai di teras belakang sementara Cilla membantu tante Siska memasak di dapur. Theo pun menyusul tepat sebelum makan malam dan sekeluarga pulang sekitar jam 9 malam.
Cilla megintip dari jendela kamar yang menghadap ke gerbang masuk. Terlihat mobil Arjuna baru saja tiba dan disopiri oleh Bang Dirman yang baru menjemput Arjuna setelah om Rio sekeluarga pulang.
Cilla tersenyum dan berbalik menatap satu pakaian yang sudah disiapkannya dekat pintu lemari baju.
Cilla ingin memberi kejutan untuk Arjuna malam ini. Memenuhi kewajibannya sebagai istri. Dalam bayangannya, Arjuna yang cukup dipusingkan dengan pekerjaan yang menumpuk belakangan ini pasti akan senang menerima kejutan darinya.
“Kok Cilla belum tidur ?” suara Arjuna yang sudah masuk kamar membuat Cilla terkejut karena sedang fokus dengan kejutannya.
“Kok kaget ? Kenapa ?” mata Arjuna memicing.
“Eh nggak…Nggak kenapa-napa. Perasaan tadi baru dengar mobil masuk gerbang, tahu-tahu Mas Juna udah di sini aja,” sahut Cilla tersenyum kaku, deg deg kan dengan kejutannya sendiri.
“Cilla kenapa ? Lagi ada masalah ?” mata Arjuna masih memicing, menelisik wajah Cilla yang terlihat gugup.
“Nggak ada. Beneran deh,” Cilla kembali tersenyum dengan sikap yang lebih santai. “Cilla tuh nggak tenang karena nungguin Mas Juna. Kepikiran udah buat Mas Juna tidur nggak nyaman di rumah sakit padahal lagi capek karena banyak kerjaan.”
Cilla mendekat dan berniat memeluk Arjuna namun pria itu menghindar dan menahan Cilla dengan tangannya.
”Mas Juna belum mandi,” ujar Arjuna saat meihat Cilla mengerutkan dahi. “Hari ini banyak meetingnya di luar, ke beberapa tempat. Kalau sudah mandi, Mas Juna akan peluk-peluk sampai Cilla bobo,” lanjut Arjuna sambil tertawa pelan.
Ia melewati Cilla, meletakkan tas kerjanya di atas meja tulis sedehana yang biasanya dipergunakan Cilla untuk belajar.
“Bajunya udah Cilla siapin,” Cilla memberi isyarat ke arah ranjang mereka sambil kembali berjalan mendekati Arjuna.
Cilla membantu melepaskan dasi sementara Arjuna melepaskan kancing-kancing kemejanya.
“Thankyou,” Arjuna mengedipkan sebelah matanya dan mengambil baju yang disiapkan Cilla lalu masuk ke kamar mandi.
Cilla mengerutkan dahi saat Arjuna membawa baju gantinya. Biasanya suaminya itu malah sengaja keluar kamar mandi hanya memakai handuk danmemakai bajunya di depan Cilla hingga istrinya itu tersipu malu.
Cilla segera berganti baju dan naik ke atas ranjang. Menarik selimut hingga ke batas leher karena tidak mampu menahan rasa malunya.
Arjuna mengernyit saat menyusul ke atas ranjang, tidak biasanya Cilla memakai selimut hingga ke leher.
“Cilla lagi nggak enak badan ? Mau matiin AC ?” tanya Arjuna dengan wajah khawatir.
“Nggak. Cilla sehat-sehat aja,” sahut Cilla dengan sedikit gugup.
“Terus kenapa selimutan sampai begitu ?”
Arjuna mendekati posisi Cilla dan berusaha membuka selimut supaya bisa menempel dengan badan Cilla. Tangannya terulur memegang kening Cilla dan dirasa baik-baik saja.
Arjuna belum sadar kalau Cilla memakai pakaian tidur yang berbeda malam ini. Dengan santai Arjuna merebahkan tubuhnya dan merentangkan sebelah tangannya.
“Sini, bobo peluk sama Mas Juna.”
Arjuna kembali mengernyit saat Cilla terlihat gugup. Melihat tingkah Cilla yang sedikit aneh akhirnya Arjuna kembali duduk dan menghentakan selimut sebelum Cilla bisa mencegahnya. Arjuna tercengang saat melihat penampilan Cilla yang berbeda malam ini.
“Kok tumben ?” gumam Arjuna sambil mengernyit menatap Cilla yang sudah merona menahan malu.
“Cilla mau memenuhi janji,” sahut Cilla dengan wajah tersipu.
Arjuna tertawa pelan, kembali mendekati Cilla yang terdiam dengan wajah merona malu dan menyuruh istrinya itu tidur berbantalkan lengannya.
Posisi Arjuna yang membali rebahan sudah menempel dengan Cilla, membuat gadis itu merasakan tegang dan panas di sekujur tubuhnya.
“Cilla makin kelihatan imut dan…seksieh,” bisik Arjuna dengan suara mendesah dan tawa pelan.
”Cilla benar-benar udah siap malam ini,” Cilla memberanikan diri mendongak, menatap Arjuna.
“Tapi Mas Juna nya nggak siap,” Arjuna tersenyum sambil menatap Cilla.
“Apa Cilla nggak menarik dengan pakaian seperti ini ?” Cilla mengernyit dengan ekspresi wajah sedih.
“Malah bikin jantung Mas Juna deg deg kan,” Arjuna meraih jemari Cilla supaya memegang dadanya. “Berasa ?”
Cilla mengangguk dan masih menempelkan tangannya di dada Arjuna.
“Mas Juna ingin memberikan malam pertama yang akan Cilla ingat terus. Mas Juna mau melakukannya bukan sekedar karena kewajiban semata”
“Beneran Mas Juna nggak masalah karena kita menundanya cukup lama ?”
“Nggak masalah. Mas Juna kan udah pernah bilang kalau mau menikahi Cilla cepat-cepat bukan supaya bisa punya teman gulat di ranjang,” ujar Arjuna sambil tertawa.
“Lagpula hari ini Mas Juna capek banget jadi nggak bakalan maksimal. Besok pagi-pagi Mas Juna harus meeting lagi, sorenya kita pergi ke acara prom night di sekolah.”
“Mas Juna beneran mau pergi sama Cilla ? Sebagai guru atau pasangan ?” mata Cilla menyipit
“Dua-duanya. Sebagai guru kelas 12 sekaligus pasangan Cilla. Keberatan ?”
Cilla langsung menggeleng dan mengeratkan pelukan, menyusupkan kepalanya di dada Arjuna dan menciumi harum tubuh suaminya itu.
Cilla mengernyit karena tidak ada tanggapan apapun dari Arjuna. Cilla pun merenggangkan pelukan dan mendongak. Terihat Arjuna sudah tertidur pulas dengan suara dengkuran halus.
Cilla tersenyum. Sepertinya tadi Arjuna yang menawarkan akan sayang-sayang sampai Cilla tertidur, ternyata malah Arjuna yang duluan tidur.
Cilla mencium bibir Arjuna yang sedikit terbuka. Suaminya bahkan tidak terbangun, hanya bergerak dengan mata terpejam dan merubah posisinya hingga berhadapan dengan Cilla dan memeluk istrinya seperti guling.
☘️☘️☘️
Cilla menggeliat sambil mengerjapkan matanya yang terkena bias cahaya matahari yang masuk lewat celah tirai.
Dahinya berkerut saat tidak mendapati sosok Arjuna di sampingnya. Cilla langsung duduk sambil mengucek matanya. Hawa dingin yang menyentuh kulitnya membuat Cilla baru sadar dengan pakaian tidur yang dikenakannya.
Perlahan Cilla turun dari ranjang langsung ke kamar mandi melakukan ritual pagi sambil mengganti pakaiannya.
Sekitar limabelas menit kemudian, Cilla keluar dari kamar mandi dan matanya langsung membelalak saat melihat jam dinding di kamar. Jam 9 pagi !
Cilla bergegas ke nakas dan mengambil handphonenya. Matanya yang sudah dibasuh dengan air tidak salah melihat. Kalau sudah jam segini berarti Arjuna sudah pergi mengurus kerjaan seperti infonya semalam.
Arjuna : Cilla sayang, maaf Mas Juna pergi nggak pamit. Cilla pulas banget tidurnya, nggak tega Mas Juna bangunin.
Ada hadiah untuk Cilla, Mas Juna taruh di atas meja. Nggak usah kemana-mana, habis makan siang Mas Juna balik kok.
Cilla tersenyum dan mengalihkan pandangan ke atas meja. Ada satu kotak yang cukup besar di sana.
Cilla mendekat dan membuka kotak yang dimamsud Arjuna. Matanya langsung membelalak saat melihat isi kotaknya. Satu pakaian pesta lengkap dengan sepatunya.
Cilla mengambil selembar kartu yang diletakkan di atas sepatu.
Untuk istriku tersayang ❤️❤️❤️
Jangan bingung lagi mencari gaun pesta untuk prom
night nanti malam.
Cilla tersenyum dan langsung mengetik, membalas pesan Arjuna.
Cilla : Maaf belum jadi istri yang baik, suami pergi kerja malah masih tidur 🥺🥺
Cilla tersenyum saat pesannya langsung terbaca dan terlihat tulisan kalau Arjuna sedang mengetik membalas pesannya.
Arjuna : Nggak apa-apa, banyak istirahat. Sepertinya malam ini Mas Juna tidak akan menolak kalau dapat kejutan seperti semalam lagi 😍😍
Wajah Cilla langsung merona dan tersipu. Hatinya berdebar tidak karuan. Antara takut dan ingin memberikan yang terbaik untuk Arjuna.
Cilla : Ijin ke salon sama Lili dan Febi, ya… Kurang lengkap kalau sudah dapat baju pesta dari suami tapi penampilan wajah tanpa polesan apa-apa.
Arjuna : 🤔🤔
Cilla : Pllleeaassee 🙏🙏
Arjuna : Jangan dandan terlalu menor dan yang bikin pangling. Mas Juna nggak rela kalau banyak teman Cilla yang melirik penuh damba 😡😡
Cilla : Siap suami tersayang 😍😍
Arjuna : Jangan lupa kejutan nanti malamnya. Masih punya stok baju seksieh nya kan ? Atau perlu Mas Juna yang pilihkan dsn belikan langsung ?
Cilla : Teserah suami aja 🤭🤭
Arjuna : Nggak boleh nolak apapun pilihan Mas Juna , ya !
Cilla : Udah sana meeting dulu, fokus kerja cari uang yang banyak buat istri 😃😃 Cilla mau sarapan dulu.
Arjuna : I love you, my wife 😍😍
Cilla : Love you too 😍😍
Cilla senyum-senyum sambil keluar kamar. Hatinya berbunga-bunga dan berdebar hanya membaca pesan Arjuna dan mengingat permintaan Arjuna nanti malam.
Tepat jam 12 siang, Febi dan Lili menjemputnya, bersamaan dengan kembalinya papi bersama om Budi.
“Cilla mau kemana ?” tanya papi saat berpapasan dengan Cilla di teras yang keluar dengan sedikit berlari.
“Mau ke salon dulu, Pi. Sudah ijin sama Mas Juna. Mau dandan cantik dulu buat acara nanti malam,” sahut Cilla sambil mencium pipi Papi yang hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Daahh Papi,” ujar Cilla dari dalam mobil setelah masuk menyusul Lili dan Febi.
Papi Rudi hanya melambai, membalas lambaian Cilla, Febi dan Lili yang ikutan pamit dan menunggu hingga mobil Lili keluar dari gerbang.
“Tolong diatur keberangkatan saya ke Singapura menemui dokter Lee, Bud,” pesan papi sebelum masuk ke rumah.
“Sudah diatur Tuan. Tiket sudah saya siapkan untuk Senin pagi dan Dokter Lee akan menemui Tuan sebelum makan siang,” sahut om Budi.
“Terima kasih, Bud. Maaf kalau merepotkanmu lagi.”
“Tidak masalah Tuan, sudah tugas saya.”
“Pulanglah. Sudah tidak ada yang perlu dibereskan lagi. Sampai bertemu hari Senin,” ujar Papi Rudi teraenyum dan menepuk-nepuk bahu om Rudi sebelum masuk ke dalam rumah.
Terlihat om Budi menghela nafas panjang. Hasil pengobatan dengan obat terbaru yang dijalankan oleh dokter Handoyo dan timnya, belum menunjukan tanda-tanda yang signifikan hingga papi Rudi memilih untuk ke Singapura guna berkonsultasi lagi dengan dokter yang menanganinya sebelum ini.