MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Permintaan Papi Rudi


Sesuai permintaan papa, sejak Sabtu ini Arjuna kebali tinggal di rumah keluarganya. Bahkan semua fasilitas yang pernah dimilikinya dan sempat disita oleh papa Arman, dikembalikan sepenuhnya pada Arjuna.


Hanya kartu kredit yang belum mau Arjuna terima. Sembilan bulan terbiasa tanpa kartu kredit, tidak masalah bagi Arjuna tetap meneruskan hidupnya tanpa kartu itu.


Tapi Arjuna minta ijin untuk tetap tinggal di tempat kost sampai masa kontraknya sebagai guru berakhir, karena selain lebih dekat dengan SMA Guna Bangsa, Arjuna masih ingin merasakan kehidupam yang cukup nyaman dalam sembilan bukan terakhir ini.


“Mau kemana nih udah cetar membahana,” ledek Amanda mendekati Arjuna yang duduk di ruang keluarga bersama papa Arman dan mama Diva.


“Mau ketemu calon istri dong. Nanti ditikung sama Jovan bisa gawat,” balas Arjuna sambil mencibir pada Amanda.


“Siapa bilang Jovan niat menikung kakak ? Dia udah bilang nggak cinta sama Cilla, cuma sayang seperti kakak sama adiknya,” sahut Amanda dengan nada sedikit ketus.


“Yakin ? Mana ada hubungan sayang antara cewek cowok yang bukan saudara ?” cibir Arjuna. “Dan supaya kamu tahu kalau orangtua Jovan sudah melamar Cilla untuk menjadi menantu mereka, tapi papi menyerahkan keputusannya pada Cilla.”


“Beneran Jun ?” tanya mama Diva dengan raut tidak percaya.


“Iya,” Arjuna mengangguk. “Bahkan sebelum papa mau menjodohkan Juna dengan Cilla.”


“Jovan sudah cerita sama Manda, kok. Dan Jovan sudah memastikan kalau perasaannya sama Cilla bukan cinta tapi hanya sayang seperti kakak dan adik.”


“Jadi ceritanya dia sudah nembak kamu ?” Ledek papa Arman.


“Iih papa, memangnya Manda papan target buat orang belajar menembak ?” gerutu Amanda namun wajahnya mulai memerah.


“Kalau sudah cerita-cerita soal hati, itu artinya kasih kode ke kamu,” ledek papa Arman sambil tertawa.


“Memangnya papa kasih ijin Amanda pacaran ?”


“Gimana, Ma ?”papa Arman sengaja menoleh ke arah mama Diva sambil mengangkat kedua alisnya.


“Orangnya sih baik… tapi…”


“Tapi kenapa, Ma ?” tanya Amanda dengan wajah penasaran, membuat papa Arman dan Arjuna senyum-senyum.


“Jangan mengharap bisa nikah muda kayak Cilla !” sahut mama dengan nada yang sengaja dibuat tegas. “Kalau Cilla kan calon suaminya sudah punya kerjaan tetap, nah kalau seumur, harus menunggu sampai kalian berdua sudah tidak bergantung sama orangtua.”


“Idih mama, siapa juga yang mau kawin muda kayak Cilla ? Nih Mas Juna nya aja yang mengambil kesempatan dalam kesempitam. Beda sembilan tahun disikat juga,” ujar Amanda sambil mencibir kepada kakaknya.


“Iri bilang boss,” Arjuna mengacak rambut Amanda saat beranjak bangun membuat wajah adiknya langsung cemberut.


“Udah dikasih lampu hijau sama papa dan mama. Sana diterima aja kalau udah ngebet pengen punya pacar,” ledek Arjuna sambil tertawa.


“Mas Juna tuh udah ngebet nikah melulu, sampai anak gadis orang belum jadi pacar udah disosor,” balas Amanda sambil mencibir.


Arjuna tertawa sambil menjulurkan lidahnya, dan dibalas dengan juluran lidah pula oleh Amanda.


“Ma, Pa, pergi dulu ya. Udah janji sama Cilla mau ajak pacaran ala abege,” ujar Arjuna sambil terkekeh.


“Ingat umur wooii,” teriak Amanda. “Udah hampir kepala tiga, masih kepingin kayak abege.”


Arjuna hanya tertawa sambil melambaikan tangan ke atas tanpa menoleh ke arah Amanda.


Perlahan mobil Arjuna meninggalkan halaman rumahnya. Kira-kira butuh waktu 30 menit untuk sampai ke rumah Cilla.


Sepanjang perjalanan, Arjuna teringat percakapannya dengan papi Rudi saat makan siang tadi.


Semua mata memandang mereka saat Arjuna berjalan beriringan dengan papi Rudi yang dikenal sebagai pemilik sekolah. Bukan hanya para siswa dan orangtua yang sedang menerima raport, tapi para guru yang kebanyakan belum mengetahui status hubungan Arjuna dengan pemilik sekolah.


Arjuna dan papi Rudi menjadi pusat perhatian karen keduanya terlihat akrab seperti ayah dan anak, bukan sekedar hubungan guru dan pemilik sekolah.


“Papi yakin kamu sudah tahu masalah sakit yang diderita oleh papi saat ini,” ujar papi Rudi saat mereka sudah duduk di salah satu restoran yang agak jauh dari sekolah.


Arjuna sempat diperkenalkan dengan Om Budi, orang kepercayaan papi Rudi yang membantu beliau sejak papi Rudi baru menikah dan terjun di perusahaan milik orangtuanya dan siang ini om Budi enemani papi Rudi sebagai sopir merangkap asistennya.


“Papa sudah menceritakannya pada Juna, Pi.”


Papi Rudi tersenyum tipis, terlihat begitu dalam kesedihan yang terpancar dari tatapannya. Bias mata yang sama dengan yang pernah Arjuna lihat dari Cilla saat gadis itu sedang sedih.


“Papi senang karena kamulah yang akan menjadi pendamping hidup Cilla, menggantikan papi bila usia papi hanya berhenti sampai di sini.”


“Papi jangan bicara begitu. Hidup dan mati adalah kuasa Tuhan, yang penting papi harus terus semangat. Biar bagaimana pun cinta papi tidak akan pernah bisa digantikan bahkan oleh cinta Juna pada Cilla.”


“Semula papi menolak permintaan papamu untuk menjodohkan kalian. Papi hanya minta agar papamu mau menerima Cilla seperti putrinya sendiri, tapi Arman tidak bersedia menerima Cilla sebagai anak angkat, malh memaksa papi untuk menjadikan Cilla menantunya,” ujar papi Rudi sambil tertawa pelan.


“Keputusan papa memang tepat, Pi. Dan sepertinya Juna memang berjodoh dengan Cilla. Mau lari kemana pun, ternyata di ujung pelarian Juna malah akhirnyabertemu dengan Cilla dan jatuh cinta pada kesayangan papi itu,” sahut Arjuna sambil ikut tertawa pelan.


“Panggilan kesayangan, Pi,” sahut Arjuna sambil tertawa kikuk.


“Setidaknya papi bisa tenang karena Cilla sudah memiliki seseorang yang akan menemaninya penuh cinta, ditambah lagi Cilla akan menjadi bagian keluarga Arman dan Diva yang juga menyayangi putri papi seperti anak mereka sendiri.”


Pembicaraan keduanya terhenti saat pelayan mengantar pesanan mereka. Om Budi ikut makan di restoran yang sama, hanya saja beda meja. Awalnya papi Rudi memintanya untuk bergabung tapi om Budi menolak karena berharap -hubungan Arjuna dan papi Rudi akan semakin dekat sebagai menantu dan mertua.


“Papi akan mengajak Cilla ke Singapura untuk menemani papi kontrol kesehatan di sana. Dokter sudah pesimis dengan kondisi papi, tapi paling tidak papi akan mencoba untuk memperlambat penyebaran sel kankernya.”


“Theo sudah sempat cerita pada Juna, Pi.”


“Dasar anak itu,” gerutu papi Rudi namun lanjut tertawa. “Theo dan mamanya akan menemani papi untuk mendampingi Cilla juga. Rencananya papi akan menceritakan kondisi papi yang sebenarnya pada Cilla.”


“Juna sangat mendukung kalau papi memang sudah siap untuk bicara terus terang pada Cilla, karena sekarang atau nanti, sebagai anak pasti Cilla akan merasakan kesedihan yang sama.”


“Rasanya papi tidak rela melihat Cilla menangis di tengah kebahagiaannya saat ini. Hatinya begitu baik sampai mampu memaafkan sikap papi yang menghindarinya selama ini dan sudah pasti menyakiti hatinya.”


“Cilla adalah gadis kuat yang selalu siap menghadapi berbagai kemungkinan dalam hidup, Pi. Juna juga akan selalu ada untuk mendampingi Cilla seandainya ia teralu terpuruk.”


Papi Rudi meraih satu tangan Arjuna yang ada di atas meja dan digenggamnya dengan kedua tangan papi Rudi.


“Papi titip Cilla pada Juna. Sebagai seorang ayah, papi sadar sudah banyak kehilangan momen terindah dengan putri papi satu-satunya bahkan beberapa kali papi malah menyakitinya. Papi mohon supaya Juna bisa membahagiakan Cilla dan oebih banyak memberikan hari-hari indah daripada airmata dalam hidupnya. Papi mohon.”


Tatapan sendu seorang ayah yang begitu mencintai putrinya membuat Arjuna begitu terharu.


Kepala Arjuna langsung menganggk dan tangan lainnya yang bebas menyentuh punggung tangan papi Rudi yang masih menggenggamnya.


“Juna bukan laki-laki sempurna, Pi tapi akan Juna buat hari-hari Cilla lebih banyak indahnya daripada kesedihannya. Juna mohon doa restu dari papi.”


“Kamu akan selalu mendapat restu daei papi.” Papi Rudi tersenyum dengan tatapan lebih tenang.


Tanpa sadar ternyata mobil Arjuna sampai di depan gerbang rumah Cilla. Arjuna membuka kaca supaya Bang Toga bisa melihat wajahnya karena baru kali ini Arjuna datang dengan mobil.


“Selamat sore Bang Toga,” sapa Arjuna setelah kaca mobil di sisinya terbuka sempurna.


“Wuuiihh Pak Guru,” Bang Toga bergegas membukakan gerbang.


“Tambah ganteng dan keren aja, nih.” Bang Toga memberikan jempolnya saat Arjuna melintas di sampingnya.


“Bisa aja Bang Toga,” sahut Arjuna sambil tertawa. “Saya lanjut ke dalam ya, sudah kangen sama calon istri.”


Bang Toga tertawa dan mempersilakan Arjuna melajukan mobilnya ke halaman rumah. Arjuna mengangkat tangannya sebelah pada Bang Toga.


Ternyata Clla sudah menunggunya di teras rumah membuat Arjuna buru-buru memarkir mobilnya.


Dahinya berkerut saat melihat pensmpilan Cilla terlihat berbeda sore ini dengan dress selututnya, sepatu snikers dan tas selempang ala abege, tapi mukanya cemberut dan bibirnya mengerucut.


Arjuna sempat melirik jam tangannya dan waktu baru menunjukan pukul 17.55.


“Pamit dulu sama papi,” ujar Cilla dengan nada sedikit ketus sebelum Arjuna sempat bertanya apa-apa.


Arjuna pun melewati Cilla yang tetap berdiri di teras ditemani oleh Bik Mina. Arjuna menautkan kedua alisnya dengan wajah yang bingung.


“Hati-hati anak bebekmu sedang jelek moodnya,” ledek papi Rudi sambil tertawa.


Calon mertua Cilla itu sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton berita sore.


“Memangnya ada masalah apa, Pi ?”


“Tanya langsung saja dengan calon istrimu itu,” sahut papi Rudi sambil terkekeh. “Sabar-sabar menghadapi anak bebek yang baru akan jadi dewasa.”


Arjuna hanya tersenyum dan mengangguk-angguk.


“Juna pamit dulu, Pi,” ujanya sebelum berlalu.


“Selamat berkencan,” goda papi Rudi sambil tertawa.


Arjuna kembali mengangguk sambil tertawa lalu meninggalkan papi Rudi.


Sampai di teras ternyata Clla sudah ada di dalam mobilnya dan duduk di kursi penumpang depan dengan sabuk pengaman yang sudah terpasang pula.


Arjuna sempat meirik pada Bik Mina yang hanya senyum-senyum sebagai jawaban atas tatapan Arjuna.