
Kekhawatiran Wiwik dan Mimi akhirnya bisa teratasi karena ternyata Cilla sudah membawa koper pakaian yang disiapkan di mobil.
Sebulan ke depan, Arjuna minta ijin supaya diperbolehkan tinggal berdua dengan Cilla di apartemen miliknya. Apartemen yang dibeli untuk ditempati bersama Luna saat mereka menikah, sempat disita oleh papa Arman saat Arjuna menolak perjodohan.
Sekarang apartemen itu akan menjadi tempat tinggal sementara dengan Cilla. Setelah itu berdua mereka sudah sepakat untuk menemani papi Rudi di rumahnya.
Dan di sinilah mereka. Setelah jam 4 sore pulang dari restoran, Arjuna langsung memboyong istrinya.
“Mau mandi sama-sama ?” Arjuna mengerling dengan senyum menggoda Cilla.
Gadis itu masih terpaku berdiri dekat pintu kamar dengan satu koper di sampingnya. Cilla masih merasa canggung berada satu kamar dengan Arjuna meski pria itu sekarang adalah suaminya.
”Nggak ! Nggak mau !” sahut Cilla dengan cepat.
“Kenapa ? Kan biar sama-sama wangi” Arjuna mendekati Cilla yang malah semakin mundur hingga terbentur pintu.
“Mas Juna mau ngapain ?” Cilla menahan tubuh Arjuna yang makin mendekat.
“Kenapa ? Kok Cilla panik begitu ?” Arjuna mengernyit dengan wajah dibuat serius, sengaja ingin menggoda istrinya.
“Nggak…Nggak panik,” sahut Cilla sedikit terbata. Wajahnya menunduk menahan debaran di hatinya yang semakin bertambah ritmenya saat Arjuna begitu dekat.
“Terus ? Biasanya nggak begini pas pacaran ?”
Cilla masih terdiam. Arjuna ingin tergelak namun ditahannya. Ternyata sangat menyenangkan mengerjai istrinya yang pasti cemas memikirkan soal malam pertama.
“Perlu CPR ?” bisik Arjuna lembut di telinga Cilla membuat gadis itu bergidik.
Cilla mendorong tubuh Arjuna hingga sedikit menjauh, wajahnya sudah merona dan terasa panas.
“Mandi dulu, biar udah ganti baju, bau air kolamnya masih belum hilang,” ujar Cilla lebih lancar meski masih berdebar. Cilla mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah, seolah mengusir bau kolam ikan yang mengganggu penciumannya.
“Makanya kita mandi bareng biar sama-sama wangi,” ledek Arjuna dengan langkah kembali mendekati Cilla namun tangan gadis itu sudah terulur, menahan dada Arjuna.
“Cilla mau bersihin make up dulu. Lengket.” Bergegas Cilla menarik kopernya melewati Arjuna dengan wajah masih merona.
Arjuna senyum-senyum. Memperhatikan Cilla yang sudah duduk di lantai sambil mulai membuka kopernya
“Mau dibantuin beresin pakaiannya ?” Arjuna kembali mendekat dengan wajah masih penuh senyuman.
Cilla hanya menggeleng dengan pandangan masih ke arah koper. Terlihat Cilla ragu membuka kopernya.
“Lemari Cilla dimana, Mas Juna ?” Cilla mendongak ke arah Arjuna yang berdiri di belakangnya.
“Yang di sini,”Arjuna mendekati lemari dan membuka salah satu pintunya untuk Cilla.
“Ya udah, Mas Juna mandi dulu sana. Cilla mau bersihin muka baru mandi.”
“Mas Juna bantuin masukin bajunya dulu.”
Cilla menggeleng dan tangannya bertahan di atas koper membuat Arjuna mengerutkan dahinya.
“Kenapa ?”
“Nggak apa-apa. Mas Juna sana mandi gih, Cilla beres-beres sebentar.”
Wajah Arjuna masih terlihat bingung, padahal niatnya tulus ingin membantu Cilla merapikan isi kopernya.
“Kamu sembuyiin apa di koper ?” tanya Arjuna dengan wajah curiga.
“Nggak, nggak sembunyiin apa-apa.”
“Terus kenapa kopernya nggak dibuka sekarang dan harus tunggu Mas Juna ke kamar mandi ?”
Cilla hanya diam dan menggeleng membuat Arjuna malah penasaran. Ia pun berjongkok dekat Cilla dan dengan sigap langsung membuka koper Cilla yang memang sudah terbuka kuncinya.
Wajah Cilla merona saat Arjuna melihat isi kopernya. Masalahnya Cilla tadi baru teringat kalau tas kecil yang berisi pakaian dalamnya justru berada di tumpukan paling atas.
Arjuna mengernyit dan langsung tersenyum saat tahu permasalahannya, membuat Cilla makin merasa malu.
“Gara-gara ini Cilla nggak kasih Mas Juna bantuin ?” ledek Arjuna sambil tertawa pelan. “Nggak usah malu, kita kan sekarang sudah suami istri. Lagipula kalau kayak begitu doang Mas Juna sudah sering lihat.”
“Maksudnya ?” mata Cilla membelalak kemudian menyipit, menelisik wajah Arjuna. “Sudah sering lihat punya Kak Mia ?”
Ada nada cemburu dalam pertanyaan Cilla membuat Arjuna tertawa dan menyentil kening istrinya.
“Mulai nethink !” Cilla hanya meringis namun matanya kembali menelisik Arjuna.
“Kamu lupa kalau Mas Juna punya adik perempuan ? Amanda itu bukan cewek yang rapi. Beberapa kali Mas Juna masuk kamarnya, pakaian bersih tidak langsung masuk ke lemari, termasuk yang itu juga,” Arjuna tertawa sambil menujuk tas plastik berisi pakaian dalam Cilla.
“Bahkan sepertinya selalu ada yang dibiarkan menggantung di pintu kamar mandi,” lanjut Arjuna.
Cilla kembali tersipu, masih aneh baginya membicarakan masalah-masalah pribadi seperti ini.
Arjuna berdiri sambil tertawa. Satu tangannya mengacak rambut Cilla yang sudah digerai. Gara-gara basah tadi, akhirnya mama Diva dan tante Siska membantu membuka tatanan rambut Cilla.
Bukannya ke kamar mandi, Arjuna malah keluar kamar. Dia teringat kalau Bang Dirman menurunkan dua koper milik istrinya, sementara yang ada di kamar baru satu koper.
“Ini dibereskan dulu isinya,” Arjuna meletakan koper lainnya di dekat Cilla. “Mas Juna mandi dulu.”
“Mas Juna !”
Langkah pria itu terhenti di dekat pintu kamar mandi saat Cilla memanggilnya.
“Mas Juna nggak lupa kalau kita baru program punya anak pas Cilla kuliah tingkat dua ?”
“Nggak. Memangnya kenapa ?”
“Berarti…” Cilla terdiam, tidak berani meneruskan kalimatnya.
Arjuna tertawa dan menaruh handuk di handel pintu kamar mandi. Ia balik mendekati Cilla dan ikut duduk di lantai. Tangannya langsung menangkup wajah Cilla.
“Sayang, kita memang baru program punya anak saat Cilla kuliah tingkat dua, tapi bukan berarti malam pertama kita baru dilakukan setahun lagi.”
Mata Cilla membelalak. Debar jantungnya semakin tidak karuan. Kalau dulu Cilla dengan berani menggoda Arjuna dengan meminta CPR, kalau sekarang, Cilla yakin Arjuna akan memberikannya tanpa diminta.
“Tapi Cilla nggak tahu gimana caranya,” lirihnya pelan.
“Nggak ada kelas khusus untuk itu karena setiap manusia secara alami akan bisa dengan sendirinya.”
“Cilla bahkan belum pernah nonton film begituan. Hanya dengar cerita Febi dan Lili aja.”
Tangan Arjuna terlepas, tidak lagi menangkup wajah Cilla. Jemarinya menganngkat dagu Cilla hingga netra mereka saling menatap.
“Mas Juna juga belum pernah melakukannya. Cilla adalah yang pertama untuk Mas Juna. Jadi kita sama-sama belajar.” Arjuna tersenyum dan dibalas anggukan Cilla yang bergerak perlahan.
“Lagipula Mas Juna mau menikah dengan Cilla sekarang bukan karena ingin mendapatkan malam pertama secepatnya. Mas Juna akan menunggu sampai Cilla siap, paling tidak sampai Cilla menyelesaikan ujian di SMA. Selebihnya, semoga Mas Juna bisa tahan.” Arjuna tergelak sementara wajah Cilla tambah merona.
“Mas Juna pria dewasa yang normal. Ada wanita yang halal di depan mata pasti sulit dibiarkan begitu saja,” ujar Arjuna di tengah tawanya. “Tapi Mas Juna akan melakukannya saat Cilla benar-benar siap.”
Cilla mulai tersenyum perlahan. Ia langsung memeluk Arjuna. Pelukan kedua yang datang atas inisiatif Cilla. Pertama saat gadis itu menemukan Arjuna tertidur di apartemen. Selebihnya Arjuna lah yang berinisiatif lebih dulu memeluk Cilla.
“Terima kasih karena Mas Juna mau mengerti kondisi Cilla,” ujar Cilla dengan kepala bersandar di bahu Arjuna.
“Tapi jangan kelamaan nunggu siapnya,” sahut Arjuna terkekeh. Tangannya balas membeluk pinggang Cilla. “Dalam posisi begini aja Mas Juna bisa tergoda.”
Cilla buru-buru melepaskan pelukannya dan kembali duduk sedikit berjarak dengan Arjuna.
Arjuna tertawa dan mencubit kedua pipi Cilla dengan gemas. Tidak lama ia bangun dan meneruskan niatnya untuk mandi.
“Beneran nggak mau mandi bareng ?” Arjuna masih sempat meledek Cilla sebelum menutup pintu kamar mandi.
“Nanti kalau sudah melewati maper,” sahut Cilla dengan wajah merona namun nadanya sudah tidak sekaku tadi.
“Ditunggu tanggal mainnya,” Arjuna mengedipkan sebelah matanya sebelum menutup pintu.
Cilla senyum-senyum sendiri. Ingat pesan papa pagi tadi kalau Cilla harus belajar menjadi istri Arjuna yang baik tanpa menghilangkan kepribadiannya.
Meski canggung, Cilla berjanji akan terus belajar membuat dirinya pantas disebut sebagai seorang istri.
Di balik pintu kamar mandi Arjuna masih bersandar, memegang dadanya sambil senyum-senyum. Sebetulnya Arjuna sama canggungnya dengan Cilla.
Tidur sekamar berdua dengan perempuan adalah yang pertama bagi Arjuna. Beberapa kali Luna memang pernah merayunya, seolah memberi kesempatan pada Arjuna untuk berbuat lebih pada kekasihnya itu. Tapi Arjuna menolak. Teringat pesan papa Arman untuk belajar menghormati dan menghargai perempuan.
Rasa bahagia membuncah di hati Arjuna. Istri kecilnya bukan hanya muda usia tapi juga masih sangat polos. Bahkan masalah pakaian dalamnya terlihat oleh Arjuna, wajah malu-malu Cilla membuat Arjuna jadi gemas.
Arjuna bersyukur karena jalan hidupnya berubah banyak. Bahkan Tuhan memberinya kesempatan untuk melihat sendiri bagaimana kelakuan Luna sebelum menikahi wanita itu.
20 menit kemudian Arjuna keluar dari kamar mandi, sudah berpakaian celana pendek dan kaos oblong.
“Mas Juna sudah siapkan air mandi untuk Cilla,” ujar Arjuna saat melihat Cilla sudah berdiri, bersiap dengan peralatsn mandinya.
“Terima kasih,” sahut Cilla sambil bergegas masuk ke kamar mandi melewati Arjuna yang langsung tertawa.
Cilla mengunci pintu dan memegang dadanya yang berdebar. Di bathup terlihat air sabun yang sudah disiapkan oleh Arjuna.
Cilla senyum-senyum sendiri. Bahagianya merasakan disiapkan oleh suami. Cilla bergegas mandi karena tidak tahan dengan bau amis yang melekat di kulit dan bajunya.
30 menit kemudian Cilla baru keluar dengan piyama lengan pendek dan celana panjangnya. Rambutnya yang masih basah masih terlilit handuk. Dia langsung menuju meja rias untuk ritual perawatan wajahnya.
Cilla terpana saat melihat bayangan Arjuna di cermin meja rias. Suaminya terlihat lebih tampan. Mengenakan kacamata, Arjuna bersandar pada headboard dan memangku laptop.
Cilla terpaku beberapa saat. Selama ini selalu melihat Arjuna dalam pakaian formal, bahkan saat santai pun penampilan Arjuna tidak seperti ini.
“Jangan terlalu lama memandang diri sendiri di cermin,” ujar Arjuna tanpa mengangkat wajahnya. Arjuna senyum-senyum sendiri melihat Cilla terpaku memandang ke arahnya.
Cilla langsung gelagapan dan menyelesaikan polesan pelembap di wajahnya.
“Sini duduk dekat Mas Juna,” Arjuna menepuk-nepuk sisi ranjang yang kosong.
Perlahan Cilla mendekat ke arah sisi ranjang Arjuna. Dirinya benar-benar dibuat kikuk berada di dekat Arjuna dalam situasi seperti ini.
“Kemana suara anak bebek kesayangan Mas Juna ?” Arjuna menarik lengan Cilla hingga duduk di atas pangkuannya.
Posisi Arjuna sudah duduk di pinggir ranjang, laptopnya sudah diletakan di atas ranjang.
“Suaranya hilang kemana ?” ledek Arjuna sambil merengkuh pinggang ramping Cilla.
“Sepertinya gara-gara ketelan air kolam sedikit jadi begini,” sahut Cilla asal membuat Arjuna tergelak.
“Mas Juna juga deg deg kan kok berduaan sama Cilla kayak begini. Kita sama-sama belajar membiasakan diri, ya. Makanya Mas Juna minta waktu sebulan kita tinggal berdua, supaya lebih cepat menghilangkan rasa canggung.”
“Iya, rasanya kok aneh gimana gitu,” ujar Cilla malu-malu. “Apalagi selama ini Cilla lebih banyak sendirian. Berduaan sama cowok biasanya di tempat ramai. Mas Juna adalah cowok pertama yang ngapelin Cilla ke rumah.”
“Bahagianya jadi pria yang serba pertama untuk istri yang imut-imut ini.”
Arjuna menempelkan kening mereka, membuat Cilla langsung merangkul leher Arjuna supaya tidak terjatuh.
“Kita sama-sama belajar menjadi suami istri yang sesungguhnya, ya. Jangan lagi memendam semuanya dalam hati, tegur Mas Juna kalau lupa atau lalai. Jangan merasa sendirian lagi, berbagi sama Mas Juna semua cerita dalam hidup Cilla.”
Arjuna mengecup lembut kening Cilla cukup lama membuat Cilla merasakan begitu dalam cinta Arjuna.
“Mas Juna juga sama, ya. Biar umur Cilla baru tujuhbelas dan mungkin banyak hal yang Cilla belum ketahui tapi jangan biarkan Cilla mendengar apapun tentang Mas Juna dari orang lain supaya kita nggak salah paham. Kalau lagi kesal karena beban pekerjaan, Cilla siap kok jadi tempat penampungan unek-unek Mas Juna.”
Arjuna mengangguk sambil tertawa dengan wajah bahagia. Perlahan bibir keduanya mendekat dan saling memberikan sentuhan.
Arjuna tertawa dalam hati saat merasakan Cilla masih begitu kaku dan bingung membalas ciuman Arjuna.
Arjuna melepaskan pagutan mereka sambil senyum senyum karena mendengar suara dari perut Cilla.
“Cilla lapar ?” Arjuna mengusap wajah istrinya
“Iya,” dengan wajah malu-malu Cilla mengangguk.
Dia mengutuki perutnya yang mendadak bermelodi saat dirinya sedang belajar berciuman dengan Arjuna.
“Mau pesan atau keluar makan ?” tanya Arjuna memindahkan Cilla ke atas ranjang.
“Boleh pesan aja ? Cilla mau istirahat. Semalam susah tidur dan tadi pagi-pagi sudah siap-siap untuk dandan.”
“Tunggu sebentar, istriku,” Arjuna tertawa sambil mengacak rambut Cilla.
“Terima kasih suamiku,” sahut Cilla ikut tertawa, meski masih sedikit canggung dan malu-malu.
Rasanya aneh mengucapkan kata suami dan istri, tapi Cilla dan Arjuna sudah sepakat akan memulainya perlahan dan tidak akan menyerah sekalipun banyak rintangannya.