
“Perkenalkan ini istri saya, Bu Desi,” Arjuna memperkenalkan Cilla sambil merangkul anak bebek kesayangannya dengan posesif.
“Tadi kami sudah kenalan di kamar kecil,” ujar Cilla saat melihat keduanya masih terkejut hingga mengabaikan ucapan Arjuna.
“Mas Juna lanjutin aja meetingnya, nanti dicariin om Tino. Cilla ada perlu dengan Om Bastian juga.”
Dengan gerakan tubuhnya, Cilla melepaskan diri dari rangkulan Arjuna dan kembali mendekati Sebastian yang langsung menerima permintaan Cilla.
“Oh ya Bu Desi,” Cilla berhenti dan menoleh. “Saya bukan sugar baby dan Mbak Aggita, pernikahan saya memang dijodohkan tapi bukan berarti kami tidak saling cinta.”
Cilla tersenyum manis dengan wajah tanpa emosi membuat Arjuna langsung bergidik. Akan lebih menyeramkan jika Cilla berada dalam situasi seperti ini.
“Tunggu sebentar, Dim. Gue nggak lama, kok. Limabelas menit paling lama. Elo tunggu di lobby dulu nanti gue nyusul.”
Cilla mengajak Sebastian masuk kembali ke restoran dan kembali menemui Sisi.
Entah apa yang diperbincangkan Cilla, hati Arjuna sudah tidak tenang, pikirannya kemana-mana. Arjuna sadar kalau Cilla tahu tentang kebohongannya dan kedua wanita ini pasti sudah bikin ulah dengan Cilla.
“Pembahasan kita hari ini sepertinya cukup untuk hari ini, Bu Desi. Masalah permintaan Bu Desi untuk menjadi distributor akan saya pelajari dulu.”
Arjuna terlihat kesal dengan wanita di hadapannya. Entah apa yang mereka ucapkan, yang pasti kata-kata mereka cukup membuat Cilla kesal.
Hanya butuh waktu sepuluh menit, Cilla sudah keluar lagi dari restoran bersama Sebastian.
“Saya pamit dulu, Om. Salam untuk Mbak Kirana,” Cilla tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
“Jaga diri kamu dan ingat sudah ada nyawa lain yang perlu kamu perhatikan.”
“Iya, pasti saya jaga baik-baik, Om. Terima kasih.”
Cilla berbalik dan hendak meninggalkan restoran, mengabaikan Arjuna yang langsung menghampirinya, mengabaikan kedua wanita yang sudah cari masalah dengan Cilla.
Cilla menepiskan tangan Arjuna yang menggandengnya, membuat Arjuna hanya bisa menghela nafas panjang.
Baik Arjuna dan Cilla sama-sama menghubungi sopir yang membawa mereka untuk datang ke lobby hotel.
“Dim, motor ditinggal dulu aja di hotel, elo sama gue naik mobil. Nanti gue antar balik lagi kemari,” ujar Cilla saat berhadapan dengan Dimas di lobby hotel.
“Bolak balik, Cil. Dari sekolah balik ke hotel terus ke rumah elo itu nggak searah, lagipula habis beres urusan sekolah, gue mau bawa Tami ke dokter, kontrol aja.”
“Nggak apa-apa, kan udah lama nggak ngobrol sama elo dan Tami. Nanti gue anterin juga ke dokternya. Lebih gampang bawa Tami pakai mobil daripada motor.’Kenapa sih sekarang udah nggak pernah minta tolong gue lagi ?”
Wajah Cilla cemberut dengan bibir mengerucut membuat Dimas tergelak.
“Elo lupa kalau elo tuh udah nikah ? Udah punya suami ? Dan nggak sadar kalau laki elo itu cowok yang posesif dan protektif. Tuh lihat aja dia lagi jalan kemari. Pasti dia takut kalau istrinya yang lagi ngambek malah pergi naik motor sama gue.”
“Dia mau balik kantor,” sahut Cilla dengan wajah masih ditekuk.
“Cilla sama Mas Juna,” tanpa permisi Arjuna langsung menggandeng Cilla. “Ketemu langsung di sana ya, Dim.”
Dimas mengangguk dan mengikuti langkah Cilla demi membuat Cilla tidak mogok jalan bersama Arjuna.
Arjuna membukakan pintu penumpang depan untuk Cilla dan meminta Dirman untuk ikut dengan Pak Pujo kembali ke rumah.
Arjuna pun sudah minta bantuan Ami untuk membatalkan semua janjinya di hari ini demi meluruskan masalahnya dengan Cilla.
Perlahan Arjuna membawa mobil meninggalkan hotel. Cilla sendiri langsung menyandarkan kepalanya ke pintu.
“Cilla soal tadi…”
“Cilla ngantuk banget Mas Juna,” potong Cilla kalem. “Cilla mau bobo dulu.”
“Ya udah, Cilla bobo dulu, nanti Mas Juna bangunin kalau udah sampai. Masih 35 menit lagi ke sana,” Arjuna mengusap kepala Cilla dengan lembut dan membiarkan Cilla tidur.
Hingga akhirnya mobil tiba di depan satu ruko sederhana dimana Cilla dengan batuan Dimas, Tami dan Pak Wahyu, mendirikan semacam kursus untuk anak-anak jalanan, pemulung dan pengemis untuk belajar membaca, menulis dan berhitung
“Tami !” pekik Cilla dengan wajah sumringah
“Wah mama muda udah sampai nih,” ledek Tami “Duh dianter sama suami lagi. Benar-benar suami idaman dan andalan istri.”
“Wah kayaknya siang-siang ada yang gosip nih,” Arjuna yang baru saja masuk mencoba ikut bercanda dengan Tami dan Cilla.
Cilla sendiri hanya tersenyum tipis dan melirik Arjuna. Hatinya masih sakit bukan karena perempuan tapi kebohongan Arjuna.
Seolah melupakan kesedihan hatinya dengan sikap Arjuna, saat bersama Dimas, Tami dan Pak Wahyu, Cilla tampak bersemangat membahas program mereka untuk satu tahun ke depan.
Hingga akhirnya perbincangan itu baru berakhir di jam 4 sore karena Tami masih harus pergi ke dokter.
“Cilla,” Arjuna menyentuh jemari Cilla saat mereka sudah kembali membelah jalan dengan tujuan pulang ke rumah.
“Hmmm.”
Meski tidak menepis jemari Arjuna namun Cilla juga tidak membalasnya.
“Maaf tadi Mas Juna bohong sama Cilla,” lanjut Arjuna. “Mas Juna nggak mau Cilla khawatir dan kepikiran, lalu stres dan akhirnya menganggu kondisi Cilla dan baby. Mas Juna nggak ada maksud lain.”
“Hmm.,”
Tatapan Cilla masih ke samping jendela dengsn kepala bersandar pada pintu.
“Apa Bu Desi dan Anggita ngatain Cilla sugar baby ?”
Arjuna mencoba memancing Cilla membuka suara dengan mengajukan pertanyaan. Namun ternyata gagal karena tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Cilla malah mata istrinya itu terpejam, seolah tertidur pulas.
Arjuna hanya bisa menghela nafas dan melepaskan genggamannya karena harus fokus pada jalan raya yang mulai padat.
Empatpuluh lima menit kemudian mobil yang dibawa Arjuna akhirnya sampai di rumah mereka. Cilla yang tidak tidur langsung membuka matanya dsn melepas sabuk pengaman lalu turun dari mobil.
Bik Mina yang melihat suasana makan malam yang hening itu paham kalau ada sesuatu yang terjadi antara pasangan suami istri ini.
Selesai makan, Cilla tidak langsung ke kamar, melainkan ke arah gudang belakang ditemani Bik Mina.
”Minta tolong Bang Toga dan Bang Dirman mengeluarkan kantong-kantong ini dan langsung taruh di mobil aja. Besok saya jalan sekitar jam 9 pagi.”
“Cilla mau kemana ?” Arjuna yang tidak menemukan istrinya di kamar langsung menyusul ke gudang belakang setelah bertanya keberadaan Cilla pada pelayan lain di rumah ini.
“Antar barang-barang ini ke panti asuhan,” sahut Cilla tanpa mau menatap Arjuna lalu berlalu melewati Arjuna kembali ke dalam rumah.
Arjuna kembali menghela nafas, mengikuti langkah Cilla yang kembali ke kamar mereka.
Cilla langsung masuk kamar mandi dan kali ini langsung mengunci pintu hingga Arjuna tidak bisa menyusulnya.
Selesai dengan ritual malamnya, Cilla keluar kamar mandi dan melewati Arjuna tanpa bicara apa-apa. Rasanya tangan Arjuna sudah gatal ingin menahannya, tapi Arjuna tidak punya keberanian menghadapi sikap Cilla yang memilih diam ini daripada marah-marah seperti biasanya.
Saat Arjuna keluar kamar mandi, Cilla sudah pasti tertidur pulas karena terdengar suara dengkuran halus saat Arjuna mendekat.
Arjuna menatap wajah istrinya dengan perasaan bersalah. Rasanya didiamkan Cilla atas kesalahan yang diperbuatnya membuat Arjuna sangat tersiksa.
Arjuna mencoba meraih tubuh Cilla yang tidur dengan posisi memunggunginya. Ingin rasanya memeluk Cilla malam ini dan membisikkan sejuta maaf di telinga istrinya.
Namun sepertinya tubuh Cilla belum bisa berbaikan dengan Arjuna. Saat tangan Arjuna memeluk tubuh Cilla, dengan mata terpejam, Cilla mendorong tubuh Arjuna dan kembali berbalik badan, memunggungi Arjuna hingga pria itu hanya bisa pasrah. Malam ini tidak ada pelukan hangat anak bebek kesayangan Arjuna, tidak ada celotehnya dan tidak ada omelan yang bisa didengar Arjuna.
Akhirnya Arjuna ikut tidur setelah beberapa saat hanya bisa menatap punggung Cilla dengan posisi berjarak.
🍀🍀🍀
Berharap situasi hati Cilla sudah lebih baik pagi ini. Arjuna keluar kamar mandi. Namun hanya ada palaian kerja lengkap dengan dasi yang disiapkan Cilla, tapi sosok istrinya itu tidak ada di dalam kamar.
Arjuna menghela nafas panjang. Baru kali ini Cilla tidak menunggunya di kamar, siap memasangkan dasi sambil berceloteh tentang banyak hal.
Selesai berpakaian, Arjuna langsung menuju ke ruang makan. Hanya ada Bik Mina di sana.
“Cilla dimana, Bik ?”
“Sedang di luar mengatur barang masuk ke mobil, Den. Tapi tadi sudah pesan, kalau Den Juna sudah kemari, Non Cilla minta dipanggilkan.”
Bik Mina pun meninggalkan aktivitasnya dan memanggil Cilla di luar.
Lagi-lagi tidak ada suara ceria anak bebeknya menyapa pagi Arjuna. Cilla masih dalam mode diam dan duduk berhadapan dengan Arjuna.
Tangannya tetap cekatan melayani Arjuna menikmati sarapan pagi, tapi mulutnya tetap terkunci, bahkan tidak ada senyuman tersungging di sana.
“Nanti siang selesai antar barang langsung ke kantor, ya ? Kita makan siang bareng.”
“Nggak bisa, nggak keburu,” sahut Cilla tanpa menatap Arjuna.
“Mas Juna tungguin sampai Cilla selesai, nggak apa-apa biar telat, Mas Juna hanya meeting internal aja, kok.”
“Nggak usah, Cilla masih ada perlu ke tempat lain.”
“Cilla…”
“Cilla sudah minta Pak Pujo jemput Mas Juna pagi ini,” potong Cilla sambil beranjak dari kursinya dan membawa piring bekas makannya ke tempat cuci piring.
“Cilla mau kemana ?” tanya Arjuna saat melihat istrinya hendak meninggalkan ruang makan.
“Mandi, udah gerah. Cilla mau jalan pagian.”
Arjuna menghela nafas tanpa mampu mencegah Cilla berlalu. Namun tidak lama Arjuna memutuskan untuk menyusul Cilla ke kamar.
Cilla hanya menoleh sekilas dari lemari pakaian begitu melihat Arjuna yang masuk ke dalam kamar.
Tanpa basa basi, Arjuna langsung menarik Cilla dan memeluknya hingga pakaian yang ada di tangan Cilla terlepas dan jatuh ke lantai.
“Maafkan Mas Juna. Maaf. Marahin Mas Juna kalau Cilla kesal dan kecewa karena Mas Juna sudah berbohong sama Cilla.”
Cilla hanya diam saja, tidak memberontak namun juga tidak membalas pelukan Arjuna.
“Mas Juna nggak mau Cilla kepikiran kalau tahu Tino nggak ikut lalu Cilla kesal sendiri dan akhirnya emosi Cilla kemana-mana. Mas Juna benar-benar bekerja profesional biarpun meetingnya di hotel. Nggak ada niat sama sekali untuk mengkhianati Cilla.”
Terdengar helaan nafas panjang Cilla yang masih berada dalam pelukan Arjuna namun tetap tidak ada satu kata pun keluar dari mulutnya.
Arjuna merenggangkan pelukannya dan mengangkat dagu Cilla yang menghindari tatapan langsung dengan Arjuna.
“Mas Juna akan lebih senang kalau Cilla ngomel-ngomel seperti biasa daripada diam begini.”
Cilla hanya mengerjap dan matanya kembali melirik ke arah lain. Arjuna kecewa pada dirinya sendiri karena membuat satu luka kembali terlihat di dalam tatapan Cilla.
“Cilla…”
“Cilla mau mandi, gerah, udah nggak tahan.”
Cilla pun melepaskan pelukan Arjuna dsn memungut pakaiannya yang jatuh dan langsung masuk ke kamar mandi.
Arjuna menghela nafas dan hanya bisa menatap punggung Cilla yang akhirnya menghilang di balik pintu kamar mandi.
Semoga nanti sore suasana hatimu jauh lebih baik, sayang, batin Arjuna.
Dengan langkah berat, Arjuna keluar kamar dan berangkat ke kantor. Sudah lebih dari 3 notifikasi pesan dan panggilan dari Tino yang diabaikan oleh Arjuna.
Kalau saja hari ini tidak ada rapat dengan papa Arman dan jajaran petinggi di Indopangan, ingin rasanya Arjuna cuti dan menghabiskan waktu seharian menemani Cilla.