MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Kencan dengan Cinta Pertama


Cilla masih terpaku di tempatnya. Semoga kenyataan tidak sesuai dengan pikirannya.


 


“Kamu nggak apa-apa, Cilla ?” papi Rudi menyentuh bahu putrinya yang tampak terkejut dan mendadak pucat.


 


“Nggak apa-apa, Pi,” Cilla menjawab dengan senyum terpaksa.


 


“Kenalkan ini teman papi, Om Raymond dan putranya Steven Pratama,” papi Rudi mengenalkan kedua pria di depan Cilla.


 


“Rumah sakit Pratama ?” reflek mulut Cilla menanggapi.


 


“Kamu tahu darimana ?” kedua alis papi terangkat.


 


“Cuma tebak aja, dari namanya,” sahut Cilla sambil tersenyum kikuk.


 


Ketiganya bersalaman dan saling memperkenalkan diri. Tangan Cilla mendadak dingin, bukan karena grogi berhadapan dengan pemuda tampan yang sejak tadi tersenyum menatapnya. Cilla berharap pikiran buruknya tidak menjadi kenyataan.


 


Papi Rudi mempersilakan tamunya duduk. Cilla baru sadar kalau Bagas mengantarnya ke meja dengan empat kursi lengkap dengan empat peralatan makan yang sudah tersusun rapi. Betapa teledornya Cilla yang terlalu senang bisa makan malam berdua dengan papi Rudi tidak memperhatikan kalau meja yang ditempatinya bukan untuk dua orang tapi empat orang.


 


“Ternyata anak kamu ini memang imut dan menggemaskan. Terlihat cerdas juga seperti papinya,” om Raymond membuka percakapan saat mereka sudah duduk bersama.


 


Posisinya ? Cilla berseberangan dengan Steven yang ternyata adalah seorang dokter yang hampir selesai mengambil spesialis.


 


“Sayang sudah ada yang punya,” ujar om Raymond kembali. “Kalau tidak sepertinya cocok untuk dijadikan calon istri anakku.”


 


Kedua ayah itu tertawa bersama sementara Steven terlihat biasa saja dan Cilla makin gugup mendengar ucapan om Raymond.


 


“Sepertinya Cilla memang sangat berjodoh dengan anak Arman, karena sudah lari kemana-mana ternyata mereka bertemu kembali di sekolah,” ujar papi Rudi.


 


“Bukannya anak Arman seumuran dengan Steven ?”  dahi om Raymond berkerut.


 


“Iya dan saat ini sedang menjadi guru di sekolah Cilla. Tidak disengaja juga, dan ternyata mereka benar-benar bertemu di sana dan sama-sama saling jatuh cinta.”


 


Cilla bernafas lega saat papi Rudi justru menegaskan hubungannya dengan Arjuna di depan om Raymond. 


Apalagi saat tahu kalau pertemuan papi Rudi dengan om Raymond tidak disengaja, di rumah sakit yang akan menjadi tempat papi Rudi melakukan tes kesehatan besok pagi.


 


Om Raymond dan Steven, putranya datang ke rumah sakit yang sama untuk membicarakan masalah kerjasama dengan salah satu rumah sakit ternama yang ada di Singapura.


 


Cilla tidak tahu kalau  om Raymond adalah teman papi Rudi yang selama ini menjadi teman konsultasi dan membantu mengusahakan segala macam pengobatan untuk kesembuhan papi Rudi.


 


Steven sendiri bukan pria yang banyak bicara. Ia hanya bertanya seputar usia Cilla, sekolah dimana dan ambil jurusan apa, serta sederetan pertanyaan yang terlihat kaku di mata Cilla. Setidaknya hati Cilla merasa tenang karena bukan pria semacam Steven yang dijodohkan dengannya.


 


Selesai makan malam, om Raymond dan Steven langsung pamitan dan meninggalkan Cilla serta papi Rudi yang memilih masih melanjutkan obrolan mereka di restoran.


 


“Kamu belum ngantuk, kan ?” tanya papi Rudi setelah kedua tamu mereka pulang.


 


“Belum,” sahut Cilla sambil menggeleng. “Cilla sempat tegang tadi. Cilla pikir papi akan menjodohkan Cilla dengan anak om Raymomd.”


 


“Kok bisa kamu berpikiran begitu ?” tanya papi Rudi sambil tertawa. “Apa kamu lupa kalau sekarang status kamu adalah calon istrinya Arjuna ?”


 


“Cilla nggak lupa, hanya saja Cilla takut. Kak Theo bilang…” Cilla ragu-ragu untuk bicara dengan papi Rudi.


 


Mulutnya ingin bertanya apakah benar apa yang dikatakan oleh Theo soal kesibukan Arjuna saat kembali bekerja menjadi CEO. Sebetulnya pengalaman hidupnya sendiri yang membuat Cilla menjadi mudah terpengaruh dengan ucapan Theo.


Selama ini papi Rudi memang cukup sibuk dengan tugasnya sebagai pengusaha hingga Cilla pun jarang bertemu dengan papinya. Cilla tidak ingin membangun rumah tangga  dengan kondisi yang sama.


 


Kalau saja boleh memilih, Cilla lebih suka dengan kehidupannya bersama Arjuna yang sekarang, sebagai guru bukan seorang CEO. Tapi sadar dengan kenyataan keluarga mereka, Cilla tidak mungkin meminta Arjuna melepaskan tanggungjawabnya menjadi penerus usaha keluarganya sendiri.


 


“Theo bilang apa sama Cilla ?” tanya papi Rudi sambil menyentuh jemari Cilla.


 


Cilla menghela nafas dan tersenyum lebar sambil menatap papi Rudi.


 


“Besok-besok aja tanyanya. Malam ini Cilla hanya ingin ngobrol santai sama papi, kayak orang kencan,” ujar Cilla sambil terkekeh.


 


“Kencan sama om-om ?’ ledek papi Rudi sambil tertawa.


 


“Nggak apa-apa semalam jadi sugar baby, apalagi om-om nya keren kayak papi.”


 


Papi Rudi tertawa. Cilla terpesona melihatnya. Entah sudah berapa lama, ia tidak melihat papi Rudi tertawa begitu bahagia. Ingin rasanya menangis karena rasa haru yang menyeruak di dada, tapi suasana malam ini begitu sayang bilang diisi dengan hal-hal melow dan menguras air mata.


 


“Apa Cilla aneh dandan kayak begini, Pi ? Berasa udah tua banget,”


 


Mata papi Rudi menyipit dengan kedua tangan melipat di depan dada. Tatapannya seolah sedang memberi penilaian akan penampilan Cilla malam ini.


 


“Kamu cantik dan semakin mirip dengan mami. Tadi aja papi langsung kaget pas baru masuk restoran. Rasanya seperti melihat mami kembali, hanya sayangnya badan kamu lebih pendek,” ujar papi Rudi sambil tertawa di ujung kalimatnya.


 


Cilla langsung cemberut dan bibirnya mengerucut. Ternyata bukan tanpa alasan Lili suka memanggilnya cebol, karena memang tinggi Cilla termasuk pedek di antara teman-temannya.


 


“Salah papi sama mami karena pas buat Cilla nggak dihitung dulu sampai tingginya nggak memenuhi syarat untuk jadi foto model,” gerutu Cilla masih dengan wajah cemberut.


 


“Dapatnya mendadak nggak sempat ditimbang-timbang dulu bahannya. Sudah kelamaan nunggu bisa punya kamu, jadi biar mungil tidak masalah. Nyatanya sudah tumbuh menjadi gadis imut dan menggemaskan dan tetap cantik.”


 


“Iiih itu ternyata Papi jago gombal juga biarpun sebagian nyontek ucapannya om Raymond,” cebik Cilla. “Pantas aja kecil-kecil mami mau dinikahin sama papi. Rupanya kena gombalan Papi.”


 


“Kamu lebih parah dari mami,” balas papi Rudi meledek Cilla. “Belum punya KTP udah mau dinikahi sama Arjuna. Usia mami waktu menikah sama papi sudah hampir duapuluh tahun, sedangkan kamu baru juga tujuhbelas tahun kalau jadi dinikahi Juna tahun depan.”


 


“Ralat Pi, Cilla belum menikah, baru tunangan aja. Bisa jadi nanti menikahnya lebih tua dari umur mami.”


 


 


“Kalau memang bukan jodohnya Cilla, baru tunangan atau udah jadi suami, bukan nggak mungkin Mas Juna pindah ke lain hati,” lirih Cilla dengan wajah sendu meski senyum masih menghiasi bibirnya.


 


Papi Rudi tampak menyesal sudah membuat putrinya jadi sedih, padahal ia tidak bermaksud serius dengan ucapannya. Masalah pernikahan Cilla dan Arjuna, semua diserahkan pada keputusan mereka berdua.


 


“Mau dansa sama Papi sekarang ?” tanya papi Rudi mengalihkan topik pembicaraan dan disentuhnya kembali jemari Cilla.


 


“Cilla belum pernah dansa, jadi nggak tahu bagaimana caranya dansa.”


 


“Ikuti lagu aja, pasti bisa dengan sendirinya. Kan bukan mau menari salsa atau tango,” sahut papi Rudi sambil tertawa.


 


Papi Rudi beranjak bangun dan mengulurkan tangannya mengajak Cilla menuju lantai dansa yang memang ada di restoran, tepatnya di depan panggung yang sedang menampilkan live music.


 


Cilla menunggu di lantai dansa saat papi Rudi mendekati panggung, berbicara dengan para pemusik yang baru saja menyelesaikan satu lagu. Rupanya papi Rudi ingin meminta lagu khusus untuk mengiringi acara dansanya dengan Cilla.


 


“Lagu ini pernah mengiringi mami sama papi dansa berdua saat kami baru menikah. Sayangnya papi dan mami hanya berani berdansa di kamar,” ujar papi Rudi sambil tertawa.


 


“Dan malam ini, Papi ingin berdansa lagi dengan lagu yang sama bersama  putri cantik kesayangan papi dan mami di sini, di hadapan banyak orang. Biar mereka bisa melihat kalau om-om yang jadi teman kencan Cilla malam ini, amat sangat  menyayangi Cilla, “ lanjut papi Rudi masih dengan tawanya.


 


Papi Rudi meraih tangan Cilla dan meletakannya sesuai dengan posisi orang berdansa. Rasanya ingin menangis mendengar ucapan papi Rudi, tapi Cilla sudah bertekad kalau malam ini tidak boleh ada air mata yang merusak saat spesialnya dengan papi Rudi.


 


Perlahan para pemain musik mulai mengalunkan nada-nada indah lagu Wonderful Tonight dari Eric Clapton.


 


It's late in the evening


She’s wondering what clothes to wear


(menjelang larut malam, dia bertanya pakaian apa yang akan dikenakan)


She puts on her make up


and brushes her long black *) hair


(ia mengenakan make up dan menyisir rambut panjang hitamnya)


 


And then she asks me


“Do I look all right ?”


(dan ia bertanya padaku apakah aku terlihat baik-baik saja ?)


And I say “ Yes, you look wonderful tonight”


(dan aku jawab ya kamu terlihat cantik malam ini)


 


We go to a party


And everyone turns to see


(kami pergi ke pesta dan semua orang berpaling untuk melihat


This beautiful lady,


that’s walking around with me


(wanita cantik ini yang berjalan-jalan denganku)


 


And then she asks me  


“Do you feel all right ?”


(dan ia bertanya apakah kamu merasa baik-baik saja ?)


And I say “ Yes, I feel wonderful tonight.”


(dan kujawab iya aku merasa luar biasa malam ini)


 


I feel wonderful because I see


the love light in your eyes


(aku merasa luar biasa karena kulihat pancaran cinta di matamu)


And the wonder of it all is that you just don’t realize how much I love you


(dan yang sungguh mengherankan kamu tidak menyadari betapa aku sangat mencintaimu)


 


It's time to go home now


and I’ve got an aching head


(kini saatnya pulang dan aku merasa pening sekali)


So I give her the car keys


and she helps me to bed


(Oleh karena itu kuserahkan kunci mobil dan ia membantuku ke tempat tidur)


 


And then I tell her as I turn out the light


(dan aku katakan kepadanya saat aku mematikan lampu)


I say “My Darling, you were wonderful tonight.”


(aku bilang, sayangku kamu terlihat luar biasa malam ini)


 


*) lagu aslinya blonde hair, atas permintaan papi Rudi diganti menjadi black hair (rambut hitam) sesuai dengan warna rambut Cilla.


 


Papi Rudi mencium kening Cilla lalu memeluk putrinya dengan sangat erat. Cilla membalas pelukan dan menyandarkan kepalanya di dada papi Rudi.


Wangi tubuh papi Rudi yang sangat disuka Cilla sejak kecil dan selalu dirindukan membuat Cilla seperti mendapat kekuatan baru untuk membuang jauh-jauh kesedihan hatinya karena rasa sepi dan kerinduan yang mendalam.


 


Cilla tidak mampu membendung lagi air matanya. Kehangatan pelukan cinta pertamanya mengalir memberikan ketenangan hatinya yang saat ini memang sedang merasa gundah.


 


Papi Rudi pun tidak mampu menahan kesedihannya. Ia berdoa jika saja Tuhan masih mengijinkan untuk memberikan umur lebih panjang untuknya, ingin rasanya membalas semua waktu yang terbuang  karena papi Rudi memilih membuat Cilla terluka dan berharap Cilla membencinya supaya putrinya itu tidak akan merasa kehilangan saat papi Rudi tidak sanggup lagi melawan penyakitnya.


 


Namun Papi Rudi sadar bahwa keputusan yang diambilnya justru adalah kesalahan.


Cilla memang terluka tapi tidak sekalipun membencinya. Dengan segala lukanya, Cilla masih berdiri di tempat yang sama, menanti kembalinya papi Rudi untuk memeluknya sebagai seorang ayah..