
Jam 4 sore Cilla sudah kembali ke rumah. Perlahan ia membuka pintu kamarnya dengan Arjuna karena tahu kalau suaminya itu sudah pulang dan sedang beristirahat di dalam.
Perlahan Cilla mendekati ranjang dan duduk di pinggirannya dekat Arjuna. Tangannya terulur menyentuh wajah Arjuna yang sedang tertidur pulas. Tidak ada pergerakan dari Arjuna membuat Cilla cekikikan.
“Kasihan capeknya suamiku yang ganteng,” celoteh Cilla dengan suara sangat pelan.
Cilla beranjak bangun, berniat mandi dan bersiap-siap karena acara akan dimulai jam 6 sore. Tangan Arjuna menahannya dan menariknya hingga kembali duduk di ranjang berhadapan dengan Arjuna yang ternyata tidak tidur dan sekarang sudah dalam posisi duduk.
”Jangan lupa kasih obat capek suami nanti malam,” bisik Arjuna dengan suara sengaja mendesah.
“Dobel kombo,” sahut Cilla sambil terkekeh.
“Wah, Mas Juna harus minum obat kuat kalau begitu,” ujar Arjuna ikut tertawa pelan.
“Eh jangan !” mata Cilla langsung membelalak. “Baru pertama nggak boleh pakai obat segala. Nggak pakai obat aja katanya sakit, apalagi kalau tenaganya dobel.”
“Kata siapa sakit ?”
Wajah Cilla bersemu digoda Arjuna yang senyum-senyum menatapnya dengan posisi yang sangat dekat.
“Kata si mbah,” sahut Cilla cepat sambil beranjak bangun.
“Kok kabur ? Takut dieksekusi sebelum acara ?” ledek Arjuna sambil tertawa.
”Nggak kabur,” Cilla menoleh sebelum masuk ke kamar mandi. “Tuh lihat udah jam berapa. Cilla mau siap-siap mandi dulu.”
Arjuna hanya tertawa melihat wajah Cilla yang sudah di make up tipis memerah karena malu. Arjuna ikutan bangun dari ranjang dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah sore ini.
Jam 17.30 Arjuna dan Cilla sudah sampai di sekolah Guna Bangsa. Cilla langsung menuju ke aula besar, tempat acara akan diadakan sementara Arjuna menuju ruang guru setelah mendapat kabar dari Dono untuk berkumpul di sana terlebih dahulu.
”Halo calon kakak ipar,” sapa Jovan yang ternyata sudah ada di dalam aula. “Kak Juna nya mana ?”
“Kak Juna.. kak Juna… Status elo masih muridnya Mas Juna, belum sah sama Amanda,” Cilla mencebik sambil melangkah menuju meja penerima tamu, menulis di satu lembar karton besar tentang kesan dan pesan di bagian kelas XII IPS-1.
Nantinya lembaran beserta foto seluruh murid kelas itu akan dibingkai dan diberikan pada wali kelas.
“Ya ampun bocil, ternyata elo bisa kelihatan cantik juga,” suara Aron yang baru saja datang membuat Cilla langsung cemberut.
”Elo aja yang nggak pernah nyadar kalau gue juga cantik alami. Kalau elo kan demennya yang polesan,” sahut Cilla sambil mencibir.
”Dih dipuji dikit, ngegas nya panjang bingit,” ledek Nico yang datang bersamaan dengan Aron.
“Dan kalian ternyata bisa juga kelihatan sebagai cowok beneran, bukan preman pasar yang kerjanya keluar masuk ruang BK,” ledek Cilla sambil terkekeh.
“Eh bocil somplak, apa elo nggak sadar kalau gue ini nggak kalah ganteng sama laki lo ?” Aron mencebik. “Sering bareng gue di ruang BK aja sok jadi murid teladan. Mentang-mentang sekarang suaminya guru.”
“Udah lulus, nyombong dikit boleh dong,” sahut Cilla dengan wajah pongah.
“Halo Nyonya Arjuna,” suara cempreng Lili langsung menggema dari pintu aula.
Lili datang bersama Febi. Sehabis pergi ke salon dengan Cilla, Febi memutuskan untuk ikut ke rumah Lili supaya bisa berangkat bersama ke acara ini.
“Khusus malam ini gue tinggalin sebentar jadi nyonya Arjuna. Mau senang-senang jadi Cilla, anak kelas 12 SMA Guna Bangsa,” sahut Cilla dengan wajah berbinar.
“Yakin elo bisa ?” ledek Jovan. “Apalagi laki lo ikut hadir juga malam ini.”
“Yakin doonngg,” sahut Cilla penuh percaya diri.
“Kalau begitu jadi pacar gue khusus di acara ini aja,” ujar Aron dengan wajah menantang mendekati Cilla.
“Diihh ngapain jadi pacar sementara elo ?” Cilla menautkan alisnya.
“Kan pas hari Kamis bilang ke nyokap kalau bakal kehilangan gue, teman senasib di ruang Bu Retno, jadi wajarlah demi menutup kenangan indah itu, malam ini jadi pacar gue,” Aron langsung menarik tangan Cilla menuju meja kelas mereka.
“Cari mati lo, Ron ?” ujar Jovan setengah berteriak karena Aron sudah melangkah membawa Cilla.
Aron hanya melambaikan tangannya yang terangkat ke atas dan menggandeng Cilla yang masih tidak percaya dengan kelakuan Aron.
“Aron mau kemana sih ?”
“Malam ini wajib duduk di sebelah gue,”sahut Aron santai dan menarik bangku di depan meja yang sudah disusun menjadi dua barisan meja panjang - gaya di film Harry Potter.
“Elo kok kelihatan melow banget malam ini ?” Cilla menyipitkan mata menelisik wajah Aron yang tidak terlihat seperti biasanya.
“Bokap gue dipindah tugas ke Kalimantan dan gue sekeluarga bakalan pindah juga. Itu artinya gue batal nerusin kuliah di Jakarta,” ujar Aron dengan nada sedih.
“Memangnya nggak boleh kost aja di Jakarta ? Kan elo udah diterima dan bayar kuliah di kampus Wacana ?”
“Bokap udah ngadep ke kampus dan akhirnya mereka kasih kebijakan mengembalikan uang yang udah disetor, kena potong beberapa ratus ribu doang.”
“Kalau elo kost sendiri atau ikut sama saudara gitu nggak boleh ?”
“Gara-gara gue suka bikin masalah selama SMA, ortu pernah dipanggil gara-gara keseringan masuk ruang BK, bokap gue nggak percaya buat melepas gue sendirian.”
“Apa bokap nggak bisa diajak diskusi gitu dan elo kasih penjelasan kalau selama SMA, elo masuk ruang BK bukan karena berantem sama teman, nge-bully orang atau drugs atau merokok ? Kalau perlu temuin bokap elo sama Pak Dono dan Bu Retno biar mereka bisa menjelaskan soal bandrlnya elo itu kayak gimana di sekolah, bukan yang model menindas hak orang lain.”
“Tapi udah terlanjur bokap gue daftarin kuliah di Kalimantan. Gue hanya pasrah aja.”
“Gini aja Ron,” Cilla menepuk bahu Aron dengan posisi duduknya yang menyamping. “Elo ikutin aja maunya bokap elo sambil membuktikan kalau elo itu anak yang bisa dipercaya dan bertanggungjawab. Tahun depan coba lagi, ngomong baik-baik kalau elo maunya kuliah di Jakarta dengan alasan yang bisa diterima sama bokap elo. Siapa tahu dikasih. Elo bisa mutasi ke universitas di Jakarta kalau memungkinkan.”
“Elo tahu kenapa gue curhatnya sama elo ?” Aron menatap Cilla sambil senyum-senyum.
Lili dan Febi sudah menyusul duduk di sebelah kiri Cilla sementara Nico ikut menyusul duduk di sebelah Aron bersama dengan Nino.
“Gue bukan cenayang,” sahut Cilla tertawa.
“Pas ngeliat elo menghadapi Sherly sama emaknya dan mendengar alasan keputusan elo menikah sama Pak Arjuna di usia yang masih muda banget, gue yakin elo itu biar bocil tapi bukan bocil biasa,” ujar Aron dengan wajah serius.
“Waahh ge-er deh gue,” Cilla tergelak.
“Gue serius, Cilla !” wajah Aron sedikit ditekuk. “Selama kenal sama elo dan jadi teman seperjuangan di ruang BK, gue melihat elo tuh biasa banget sebagai anak pemilik sekolah. Nggak menggunakan posisi elo buat neken orang lain, entah teman atau guru. Dan gue bersyukur banget karena bisa sekelas sama elo dua tahun terakhir.”
“Gue boleh kapan-kapan tukar pikiran lagi sama elo dari Kalimantan, ya ?”
“Asal jangan minta gue yang beliin pulsa sama kuota buat elo,” sahut Cilla cekikikan.
“Gue tinggal nebang pohon kalau nggak bisa beli pulsa sama kuota,” sahut Aron ikut tertawa.
“Awas kena tangkap karena penebangan hutan sembarangan,” timpal Cilla sambil tertawa.
Jam 6.15 acara akhirnya dimulai meskipun masih ada sebagian anak yang belum datang.
Seperti biasa acara dimulai dengan sambutan singkat dan sesudahnya kejutan singkat dari para guru yang menyiapkan drama dengan durasi 20 menit yang lebih mirip stand up komedi.
Di tengah tawa para siswa menyaksikan akting para guru yang menanggalkan kewibawaan mereka sebagai pengajar, ada rasa haru dan sedih karena harus menutup lembaran putih abu-abu malam ini.
Cilla menepuk-nepuk bahu Aron yang terlihat begitu terharu dan sedih.
“Selalu ada kata perpisahan dalam suatu pertemuan,” ujar Cilla memberi semangat Aron.
Tidak lama, acara makan malam ditemani oleh acara hiburan musik dari siswa kelas 12 dan adik-adik kelas juga.
“Cilla, laki lo tuh,” Lili yang duduk persis di sebelah kiri Cilla menyenggol bahu sahabatnya yang sedang fokus pada makanan di atas piringnya.
Cilla menoleh ke arah panggung, menatap ke arah Arjuna yang teneyata sudah berdiri di panggung sambil memegang mic.
“Bukan cuma kalian doang yang bisa bikin kejutan untuk kami para guru,” ujar Arjuna sementara para guru yang memegang alat musik terlihat sedang bersiap.
“Malam ini, kami akan menemani acara makan malam kalian dengan lagu-lagu persembahan spesial.”
“Nggak buat Cilla doang kan, Pak ?” celetuk salah satu siswi dari meja barisan seberang Cilla.
“Nggak dong,” sahut Arjuna sambil tertawa. “Kalau untuk istri saya, selain harus romantis, lagunya juga harus bikin hatinya melehoy.”
“Cie… cie… istri,” ledek Mira dan Reina yang duduk berseberangan dengan Ciila dan Aron.
“Ya iya gue istrinya,” sahut Cilla dengan wajah sombongnya membuat teman-temannya malah senyum-senyum. “Awas aja kalau nggak berani ngakuin gue ini istrinya.”
“Dih tadi bilangnya khusus malam ini, di tempat ini, status elo sebagai istri Pak Arjuna nggak berlaku, hanya ada Cilla anak kelas 12 SMA Guna Bangsa,” ledek Nico.
“Itu hanya berlaku buat gue,” sahut Cilla berkelit.
“Dih istri somplak !” cebik Aron. “Kalau gue jadi Pak Arjuna, bakal gue pikir ulang deh buat nerusin jadi suami elo.”
“Untungnya elo bukan Pak Arjuna dan gue juga nggak minat jadiin elo suami,” cibir Cilla. “Malam ini gue kasih kebebasan ciwi-ciwi menikmati ketampanan dan merdunya suara suami gue, yang penting jangan berharap terlalu jauh apalagi jadi pelakor. Dan satu lagi : NO TOUCHING !” tegas Cilla dengan wajah galak menatap ke arah teman-teman ceweknya.
“Yah baru mau ajak Pak Arjuna dansa nanti,” ledek Reina.
“Boleh mau joget barang sama Pak Juna, tapi awas berani pegang-pegang ! Pak Juna udah hak milik gue !”
“Cie… cie… istri posesif nih,” Nino ikut meledek.
Arjuna mulai bernyanyi lagu Kepompong yang dipopulerkan oleh Sindentosca.
Saat bagian refreinnya, Arjuna mengajak semua yang hadir untuk ikut menyanyi :
Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagai kepompong
Sebagian siswa yang sudah selesai makan, tanpa malu-malu maju mendekati panggung dan ikut menikmati lagu yang dinyanyikan oleh Arjuna.
Suasana begitu haru saat cahaya di ruangan dibuat lebih redup dan masing-masing siswa diminta untuk meminta maaf dan memaafkan teman-teman yang mungkin diam-diam menyakiti mereka selama masa sekolah, bahkan ada siswa yang menghampiri guru bukan teman mereka.
Arjuna menatap semuanya dari kejauhan dengan senyuman tipis. Suasana malam ini mengingatkan dirinya pada masa-masa remaja yang indah dan sudah berlalu dalam hidupnya.
Sekarang statusnya sudah suami, bukan sekedar pacar lagi. Ada tanggungjawab lain yang harus dijalaninya dan dilewatinya dengan belajar lagi. Bukan untuk mengejar nilai di atas selembar ijazah, tapi untuk menjadi suami sekaligus anak yang lebih baik lagi.
“Duh kasihan suami sendirian,” suara Cilla yang sudah berdiri di depannya membuat Arjuna yang sempat melamun sedikit kaget.
”Kok udah di sini aja ?” dahi Arjuna berkerut. “Memangnya nggak ada niat mau minta maaf atau memaafkan siapa gitu.”
“Udah,” sahut Cilla dengan posisi makin mendekat dan tanpa Arjuna duga, Cilla langsung memeluknya dan menyandarkan kepalanya di dada Arjuna.
“Terima kasih karena Mas Juna benar-benar sudah mengukirkan kenangan paling indah untuk Cilla di penghujung SMA.”
Arjuna tersenyum dan balas memeluk istrinya.
”Jadi ceritanya ucapan terima kasihnya sama guru tersayang atau suami tercnta ?” ledek Arjuna.
“Buat guruku tersayang,” sahut Cilla sambil mendongak.
“Kalau begitu mana boleh siswi SMA peluk-peluk gurunya kayak begini ? Nanti dianggapnya pelecehan oleh guru, apalagi gurunya sudah punya istri. Nggak takut istrinya Pak Juna nanti marah ?” Arjuna tertawa pelan meledek Cilla.
“Saya jamin istri Bapak kalah galak sama saya dan bakalan rela kalau saya yang peluk-peluk Bapak. Kalau nggak rela, siap-siap aja suaminya dipecat dan di blacklist di semua sekolah se-Indonesia.”
“Ya ampun, ternyata anak pemilik sekolah suka mengancam dan menindas para gurunya, ya,” ujar Arjuna sambil berdecak.
“Kali ini doang,” sahut Cilla sambil mempererat pelukannya pada Arjuna. Arjuna tertawa dan ikut mempererat pelukannya.