MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Ancaman yang Jadi Kenyataan


Jumat pagi selesai jam istirahat pertama semua siswa dikumpulkan di aula SMA untuk diberi pengarahan soal dua ujian terakhir yang sudah di depan mata.


Terlihat para siswa kurang antusias mendengarkan pengarahan Pak Slamet dan Pak Ikbal selaku wakepsek bidang kurikulum, sampai akhirnya di akhir kalimatnya Pak Ikbal menyampaikan kalau SMA Guna Bangsa akan mengadakan malam perpisahan atau dalam bahasa kerennya disebut promp night.


Suasana mendadak riuh dan seluruh siswa bertepuk tangan penuh semangat.


“Ingat semangatnya buat menjalankan ujian dulu baru lanjut memikirkan malam perpisahan,” pesan Pak Slamet di sela-sela ramainya suasana.


“Cil, melow banget sih dari tadi,” Febi menyenggol bahu sahabatnya yang tidak ikut menyambut senang pengumuman yang baru saja disampaikan.


“Dimaklumi aja pengantin baru,” sahut Jovan yang sudah sejak tadi duduk di belakang Cilla, sekarang pindah ke sebelah Lili.


“Ya ampun Cilla,” Lili yang berbicara pelan tertawa melihat wajah sahabatnya yang lesu. “Baru juga ditinggal dua hari bukannya dua tahun, muka elo pahit banget dilihatnya.”


“Nggak enak aja nggak ada guru yang bisa gue gangguin. Biasa pasti dia berdirinya bareng Pak Dono,” sahut Cilla lesu.


“Dih lebay banget sih,” Jovan mencebik. “Apa kurang puas tiap melek mata sama mau tidur ngeliat mukanya Pak Juna ?”


“Tapi belum biasa nggak ngeliat di sekolah,” tukas Cilla sambil cemberut.


”Asli kayak bukan Cilla banget,” gerutu Lili dengan wajah sebal. “Lebay, alay !”


“Maklum aja Li, kita kan masih ting tong jadi belum mengerti rasanya jadi pengantin baru,” timpal Febi sambil tertawa pelan karena tidak ingin menarik perhatian teman-temannya.


“Gue juga masih ting tong,” lirih Cilla .


“Seriusan ?” pekik Lili dan Febi bersamaan dengan mata membelalak.


“Husstt,” Jovan mencoba menenangkan karena beberapa anak yang duduk dekat situ langsung menoleh.


“Penting banget apa membahas masalah begituan sekarang ?” tanya Jovan dengan suara pelan.


“Nggak,” Cilla menggeleng. “Dan nggak ada hubungannya sama rasa kangen gue.”


Jovan, Lili dan Febi geleng-geleng kepala melihat Cilla mendadak lesu seperti murid yang dapat nilai jelek meski sudah belajar mati-matian.


Tepukan tangan para siswa kembali bergema memenuhi aula saat Pak Rachman, guru olahraga maju ke depan menggantikan posisi Pak Ikbal.


Guru yang merangkap sebagai wakepsek bidang kesiswaan dan pembina OSIS itu sudah senyum-senyum menyaksikan antusias anak-anak kelas XII yang sebentar lagi akan meninggalkan SMA Guna Bangsa.


“Giliran membahas ujian kalian ngantuk,” sindir Pak Rachman. “Kalau soal party-party mata langsung melotot.”


“Kalau nggak hepi, SMA Guna Bangsa perlu dipertanyakan kondisi murid-muridnya, Pak,” celetuk Bimo dari kelas XII IPS-2.


“Kayak nggak pernah muda aja, Pak,” entah siapa lagi yang berkomentar.


Pak Rachman tertawa sambil mengangguk-angguk dan memberikan kode pada Pak Didi, guru IT yang membantu mengatur tampilan di layar proyektor.


“Jadi saya di sini mau menjelaskan soal pelaksanaan malam perpisahan dengan syarat dan ketentuan berlaku,” ujar Pak Rachmat sambil tersenyum lebar.


“Kayak mau ikut undian aja, Pak ada syarat dan ketentuannya,” celetuk salah satu siswa, yang langsung disambut tawa yang lainnya.


“Namanya juga masih berkaitan dengan sekolah, jadi party-party nya nggak boleh melenceng dari aturan yang berlaku.”


Suasana yang awalnya berisik mendadak jadi sepi total saat Pak Didi mulai menampilkan gambar di layar proyektor.


“Eh Cilla, kok foto elo bisa ada di situ ?” Lili langsung menegakkan posisi duduknya dan pandangannya fokus ke depan.


Cilla yang sempat fokus ke handphone karena sedang mengirim pesan pada Arjuna langsung mendongak.


Matanya membelalak menatap tampilan di layar proyektor. Bukan penjelasan acara malam perpisahan, tapi foto-foto kebersamaannya dengan Arjuna. Mulai dari keduanya bergandengan tangan di lobby apartemen, jalan di mal, mobil Arjuna keluar dari basement apartemen sampai saat Cilla turun dari mobil di hari pertamanya diantar Arjuna setelah status mereka resmi suami istri.


Devan, ketos yang bertanggungjawab atas file yang ingin ditampilkan oleh Pak Rachman bergegas ke arah Pak Didi.


“Jangan diganti Devan,” Sherly langsung berdiri di bangkunya dan bersuara dengan lantang. “Kenapa harus diganti ? Bukankah kita semua perlu tahu bagaimana kelakuan anak pemilik sekolah yang selama ini terlihat baik ?”


Sherly menoleh ke arah Cilla dengan wajah pongah dan senyuman sinisnya. Cilla balas menatapnya dan menghela nafas panjang menghadapi cewek populer di sekolah yang selalu menganggap Cilla sebagai rivalnya.


Dono tidak kalah kagetnya, dia langsung menoleh ke arah Cilla yang berada tidak jauh darinya. Dan bukan hanya Dono, banyak mata teman-temannya ikut menoleh memandang Cilla.


Cilla beranjak bangun dari kursinya dan dengan sikap tenang dia keluar dari barisan lalu berjalan menuju ke depan.


Wajahnya sedikit tercengang saat melihat tampilan foto berikutnya. Foto dengan Arjuna saat mereka ada di Semarang, tepatnya kejadian di Klenteng Sam Poo Kong dan saat Arjuna memeluknya di pelataran Lawang Sewu.


“Kebenaran apa yang mau elo tahu ?” tanya Cilla menatap tajam ke arah Sherly yang ternyata ikut maju ke depan berhadapan dengan Cilla masing-masing di sisi layar proyektor.


“Kebenaran kalau selama ini elo memang sudah menyusun rencana buat menggoda Pak Arjuna,” sindir Sherly.


”Apa ada buktinya ?” tantang Cilla dengan wajah datar dan senyuman tipis.


“Ini,” Sherly mengeluarkan laser pointer dari saku roknya. Cilla kembali tersenyum tipis. Ternyata dewi jadi-jadian ini sudah mempersiapkan semuanya bahkan sampai laser pointer sudah dibawanya.


“Tertulis tanggal pengambilan foto ini Juni tahun lalu, tepat waktu liburan kenaikan kelas. Status Pak Arjuna waktu itu belum resmi mengajar di kelas XII.”


“Hanya foto itu sebagai bukti yang elo punya ?” tanya Cilla dengan senyuman mengejek.


“Sepertinya masalah ini kita bicarakan di luar forum karena acara di aula ini masih resmi masuk dalam agenda sekolah,” ujar Pak Rachman saat meihat kondisi semakin memanas.


“Apa karena Cilla anak pemilik sekolah maka masalah ini harus dibahas secara tertutup, Pak ?” tanya Sherly dengan senyuman sinis.


”Bukan begitu Sherly,” sahut Pak Rachman. “Saya di sini karena ada keperluan memberikan penjelasan pada semua siswa kelas XII, dan urusan foto-foto itu murni masalah pribadi Cilla dan Pak Arjuna. Jadi tidak mungkin masalah pribadi harus diutamakan daripada kepentingan banyak orang.”


“Tapi saya yakin kalau banyak siswa di sini ingin mencari kebenarannya, Pak,” sanggah Sherly. “Kalau akhirnya dibicarakan secara tertutup, sudah pasti banyak kebenaran juga yang akan disembunyikan.”


“Jadi kamu mau membahas masalah pribadi Cilla di depan umum sepert ini ?” tanya Pak Slamet sambil beranjak dari kursinya.


“Kami nggak keberatan kalau memang bisa membuat Cilla mengatakan kebenaran, Pak,” Susan, teman satu geng Sherly mulai memprovokasi.


“Dasar tuh ya kumpulan cewek-cewek gatel,” geram Lili sambil mengepallkan kedua tangannya.


“Iya, pengen gue sambit nih pake sepatu,” timpal Febi ikutan geram.


“Van, elo maju sana bantuin Cilla,” Lili mendorong bahu Jovan yang duduk di sebelahnya.


“Kan elo berdua yang ngajarin gue. Kalau lagi kondisi begini biar Cilla maju sendiri dulu, kecuali tuh ciwi-ciwi udah main fisik.”


Febi dan Lili hanya diam membenarkan ucapan Jovan. Cilla sendiri yang nggak pernah mengijinkan kedua sahabatnya ikutan kepo kalau dia sedang berhadapan dengan rivalnya.


Sementara provokasi Susan mulai merasuki pikiran banyak siswa yang mulai berkomentar supaya masalah Cilla ini diteruskan saja di depan forum.


Cilla mengangkat kedua telapak tangannya meminta siswa yang mulai berisik untuk tenang.


“Sebelumnya saya mohon maaf kepada Pak Slamet dan bapak ibu guru semua karena masalah pribadi saya sudah menganggangu acara hari ini. Dan kalau diijinkan saya tidak keberatan untuk melakukan klarifikasi soal foto-foto itu,” Cilla menunjuk ke layar proyektor.


Cilla menoleh, menatap Pak Slamet dengan maksud ingin meminta ijin. Setelah Kepala Sekolah itu mengangguk, Cilla membungkukan badannya dan kembali ke posisi awal, berdiri berhadapan dengan Sherly di kedua sisi layar proyektor.


“Kalau memang Sherly dipercaya menjadi wakil kalian untuk mencari kebenaran, gue nggak keberatan,” ujar Cilla dengan posisi berdiri menghadap ke arah teman-temannya.


“Tapi yang perlu diingat, gue sama Sherly ada di depan sini bukan dalam rangka debat calon ketua OSIS. Jadi yang mau ditanyakan dan jawaban yang gue berikan bukan untuk diperdebatkan. Dan satu hal lagi, gue mau semua ini direkam buat jaga-jaga kalau diperlukan. Dengan begitu nggak ada pihak-pihak yang bisa menyanggah ucapannya.”


Cilla memberi isyarat pada Devan untuk menunjuk anggota seksi dokumentasi OSIS yang sejak tadi memang ikut berada di aula untuk mengambil foto-foto kegiatan kelas XII.


“Minta tolong teman elo atau siapapun mulai merekam semuanya,” pinta Cilla pada Devan. Ketua OSIS itu mengangguk dan memberi isyarat pada temannya.


Cilla sempat tersenyum sinis saat melihat Sherly menoleh ke arah forum, seolah ingin melihat berapa banyak siswa yang berada di pihaknya.


Sementara Cilla yakin pasti bisa mematahkan semua tuduhan Sherly, bukan karena posisinya sebagai anak pemilik sekolah tapi kebenaran yang Cilla punya adalah kunci jawaban semua pertanyaan yang akan Sherly ajukan.


“Kenapa ? Takut karena ini direkam ?” tanya Cilla dengan nada mengejej.


“Nggak ! Siapa takut !” Sherly menjawab dengan ketus dan mata melotot. “Jangan elo pikir karena lo anak pemilik sekolah berarti semuanya akan diam saja melihat kelakuan bejat elo.”


“Jangan sampai elo menyesal, Sherly,” tegas Cilla dengan senyuman tipisnya.


“Jadi elo tinggal bareng sama Pak Arjuna, Cilla ?” tanya Lina, siswi kelas XII IPA-2 dari kursinya.


“Iya,” jawab Cilla tenang.


Suasana kembali ramai dan para siswa mulai kasak kusuk mendengar jawaban Cilla.


“Kumpul kebo, dong,” celetuk salah satu siswa yang Cilla tidak bisa pastikan suara siapa karena suasana masih cukup berisik.


“Wuuiihh bisa-bisanya anak pemilik sekolah kumpul kebo sama gurunya,” celetuk yang lain memancing suasana bertambah ramai.


Cilla menghela nafas mendengar komentar miring teman-temannya. Cilla pun sempat menoleh ke arah Sherly yang sedang menatapnya dengan wajah pingah dan sinis.


Cilla mendekati Pak Rachman dan meminta ijin hntuk menggunakan mic karena tidak mungkin berbucara di tengah suasana ramai.


“Jadi hanya berdasarkan foto-foto ini kalian semua percaya kalau gue kumpul kebo sama Pak Arjuna ?” tanya Cilla sambil mengedarkan pandangannya.


Mas Juna, semoga keputusan Cilla kali ini benar dan tidak mengecewakan Mas Juna, batin Cilla.


“Bukannya elo sendiri ngaku kalau tinggal bareng sama Pal Arjuna ? Terus apa sekolah akan diam saja melihat muridnya kimpul kebo dengan gurunya sendiri ? Jadi Pak Arjuna mengalah untuk berhenti bekerja di tengah-tengah masa kontraknya gara-gara elo kan ?” tanya Sherly dengan nada sinis.


Cilla hanya tersenyum tipis, mendekati Pak Didi dan berbincang sebentar sambil memegang handphone.


Sherly mengerutkan dahi, mencoba membaca gerakan bibir Cilla. Begitu juga dengan murid-murid lainnya, sebagian wajah penasaran terlihat jelas. Semuanya tidak sabar menunggu jawaban Cilla.


Tidak lama pandangan murid-murid kembali beralih ke layar proyektor dan hampir semua membelalakan matanya melihat foto yang ditampilkan di sana.


“Gue nggak pernah kumpul kebo sama Pak Arjuna karena kami sudah resmi menikah. Kalau soal kapan, kalian bisa lihat sendiri tanggal kapan foto itu diambil. Gue sama Pak Arjuna menikah lewat jalur resmi baik secara agama atau negara dan semua persyaratan secara hukum sudah kita penuhi.”


Wajah-wajah tidak percaya kembali menjadi pemandangan di antara para siswa dan suasana perlahan mulai kembali berisik dengan kasak kusuk di antara mereka.


Cilla menoleh ke arah Pak Slamet yang tersenyum sambil menganggukan kepala, lalu Cilla beralih menoleh ke arah Dono yang langsung memberikan jempolnya sambil tersenyum.


Hati Cilla sedikit tenang melihat dukungan kedua orang penting yang tahu persis bagaimana hubungan Cilla dan Arjuna sejak awal.


Bagi Cilla, menghadapi orang-orang seperti Sherly dengan kepala tegak akan lebih baik daripada menghindarinya. Toh pernikahannya dengan Arjuna sudah mengikuti semua ketentuan hukum yang berlaku.


Cilla kembali tersenyum tipis sambil membalas tatapan Sherly yang terihat bertambah emosi.


“Don,” panggil Arjuna di layar handphone.


Rupanya Dono langsung melakukan panggilan video dengan Arjuna begitu Cilla maju ke depan.


“Kenapa Jun ?” Dono langsung memasang earphonenya sebelah.


“Istri gue keren banget ya,” ujarnya dengan nada bangga. “Nggak disangka kalau anak bebek gue bisa jadi singa juga kalau di depan musuh-musuhnya.”


“Kenapa semua perumpamaannya hewan, Jun ? Kagak ada yang kerenan dikit gitu ? Berubah jadi dewi apa gitu, masa jadi singa betina,” ledek Dono sambil tertawa pelan.


”Nggak mau dewi,” tolak Arjuna tegas. “Soalnya Sherly itu ibarat dewi jadi-jadian di mata Cilla. Anak bebek gue nggak boleh disamain sama tuh cewek.”


Dono hanya tertawa mendengar ucapan sahabatnya yang sudah fixed menderita bucin akut pada Cilla.