
“Mas Juna yakin kalau Cilla nggak kelihatan aneh,” bisik Cilla sambil menggandeng lengan Arjuna.
Keduanya baru saja tiba di tempat resepsi Boni dan Mimi yang akhirnya mengikat cinta mereka dalam mahligai rumah tangga.
“Darimana anehnya ?” Arjuna melirik Cilla. “Mas Juna malah khawatir soalnya aura kecantikan Cilla makin menggoda. Awas nanti jangan jauh-jauh dari Mas Juna.”
“Mau jauh-jauh kemana ? Paling kumpul sama para jones.”
Begitu masuk ruang pesta yang sudah lumayan penuh, pasangan beda usia ini sempat menjadi perhatian teman-teman SMA Arjuna dan Boni.
Keduanya langsung menuju pelaminan memberikan selamat untuk pasangan yang berbahagia.
“Ya ampun Juna, istri kamu udah melendung aja.”
Tante Risa, mamanya Boni tampak tercengang melihat perut Cilla yang memang sudah makin membesar.
Rasany belum lama kedua orangtua Boni yang sudah mengenal baik Arjuna sebagai sahabat Boni sejak masih SMA, datang ke perhelatan akbar Cilla dan Arjuna.
“Usaha tidak bisa bohong, Tante,” Cilla yang menyahut. “Bahkan obat dokter aja nggak mempan menahan gempuran Mas Juna.”
Mimi dan papa Boni tertawa mendengar jawaban Cilla sementara Arjuna hanya senyum-senyum sudah terbiasa dengan ucapan istri kecilnya.
Mimi yang ikut mendengar ikut tersenyum sambil geleng-geleng.
“Semoga Mimi dan Boni juga cepat menyusul,” ujar tante Risa sambil menyentuh perut Cilla.
“Amin, Tante,” sahut Cilla sambil tersenyum apalagi saat tangan Tante Risa menyentuh perutnya, baby langsung bergerak.
“Akhirnya Kak Mimi,” ujar Cilla saat berdiri di depan Mimi memberi selamat sekaligus pelukan.
“Udah aku ancam kalau nggak diajak nikah, aku mau selingkuh aja,” ujar Mimi.
“Masih banyak pilihan di luar Kak Mimi,” ujar Cilla sambil terkekeh.
“Jangan jadi kompor deh bocil,” gerutu Boni.
“Lagian Om Boni nggak sensi banget, sih. Nggak mikirin umur Kak Mimi,” Cilla mencibir. “Dan sekarang Cilla udah nggak bocil lagi. Nggak lihat ini hasil kerja Mas Juna ? Sekarang Cilla udah jadi calon mami muda.”
”Bangga banget bisa dihamilin sama Arjuna,” ledek Boni sambil mencibir.
“Harus bangga dong, berarti gue punya bibit kualitas unggul. Ditabur langsung jadi benih,” Arjuna ikut buka suara.
“Suami istri sekarang udah jadi pasangan mesum,” gerutu Boni melihat kekompakan Arjuna dan Cilla.
“Namanya aja suami istri, udah penyatuan lahir batin pula, jadi hati dan pikiran udah sejalan,” sahut Cilla dengan wajah bangga.
“Ya udah sana cepetan turun,” omel Boni yang langsung disambut tawa Cilla dan Arjuna.
“Selamat dulu dong Om Boni,” Cilla megulurkan tangannya yang dibalas oleh Boni.
“Kok om Boni nya nggak dipeluk plus cipika cipiki, Cil,” ledek Mimi sambil melirik Arjuna.
“Bayinya nggak minat sama om-om Kak Mimi, maunya sama berondong aja,” sahut Cilla ikut tertawa.
“Itu mah kemauan maminya,” Boni meledek. “Siap-siap aja tahan hati, tahan emosi, Jun,” Boni tertaw melihat Arjuna yang langsung membulatkan bola matanya.
“Om-om racun, yang mau sama berondong itu baby-nya bukan maminya. Udah tahu om yang satu ini gampang khawatir, bisa-bisa Cilla dilarang kuliah, nih.”
Mata Cilla langsung melotot menatap Boni yang masih tertawa melihat ekspresi Cilla dan Arjuna.
“Udah cepetan turun, masih banyak tamu yang mau kasih ucapan selamat,” Boni mengibaskan tangannya menyuruh Cilla lanjut melangkah.
Cilla menjulurkan lidahnya membuat Boni kembali tergelak sementar Mimi tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Sejak dulu para sahabat Arjuna memang senang meledek Cilla yang tidak pernah baper apalagi tersinggung.
Sampai di bawah pelaminan, Cilla langsung merangkul lengan Arjuna dengan sedikit posesif.
“Kenapa ?” Arjuna menunduk, menatap Cilla yang sedang membuang muka ke samping.
Arjuna menoleh, mengedarkan pandangan dan menemukan sumber ketidaknyamanan istrinya.
Terlihat Glen berjalan ke arah mereka sambil senyum-senyum. Arjuna berusaha bersikap biasa saja dan membalas senyuman Glen meski hatinya waspada juga.
“Datang juga, Glen,” Arjuna langsung menyambut uluran tangan Glen yang sudah pasti ditujukan pada Cilla.
“Baru aja dan langsung lihat Priscilla lagi kasih selamat sama Mimi. Hai Priscilla,”
Glen hanya menoleh sekilas pada Arjuna lalu fokus menatap Cilla.
“Apa kabar juga Om,” sapa Cilla dengan senyum canggung.
“Mas Juna.,” panggil Cilla sambil meremas lengan Arjuna sebagai isyarat.
“Ah iya, kami pamit dulu Glen. Mau cari makanan,” ujar Arjuna masih berusaha bersikap tenang.
Cilla hanya menganggukan kepala sebelum meninggalkan Glen yang masih terus menatapnya.
“Jangan jauh-jauh dari Mas Juna,” bisik Arjuna sambil mengajak Cilla ke meja hidangan.
“Sepiring berdua aja, ya. Cilla lagi ingin makan yang lain, tapi ambilnya nanti aja bareng sama Mas Juna.”
“Duuhh yang sok romantis,” Erwin berdiri di belakang Arjuna.
“Makanya cepetan cari pacar terus nikah,” sahut Cilla. “Kelamaan jomblo keburu Mas Juna udah punya 3 anak.”
“5 sayang, kalau perlu punya anak 6,” ujar Arjuna menimpali ucapan Cilla.
“Mau buka peternakan bebek, Jun ?” ledek Lucky yang menyusul di belakang Erwin.
“Buka kesebelasan kalau perlu, Om,” sahut Cilla sambil terkekeh.
“Dengan senang hati Mas Juna cari uang kalau Cilla mau punya kesebelasan anak-anak kita.”
“Terus kapan Cilla kuliahnya,” bibir Cilla mengerucut membuat yang lainnya tertawa.
“Jangan mau disuruh jadi mesin anak sama Arjuna,” Theo yang ikut mendekat langsung berkata sinis seperti biasanya.
“Kalau Kak Theo udah dapat pacar, pasti akur,” sahut Cilla melirik sepupunya. “Soalnya berasa ditinggalkan sama belahan jiwa.”
“Cie cie belahan jiwa,” ledek Lucky. “Kalau Theo belahan jiwa, kamu apanya Juna, Cil ?”
“Belahan jiwa bisa dibuang. Kalau Cilla separuh nafas gue. Kalau nggak ada Cilla bisa-bisa susah nafas guenya,” Arjuna yang menyahut.
“Duuhh makin cinta nih sama suami,” Cilla mengerjap sambil bergelayut manja pada Arjuna membuat pria itu akhirnya mencium kening istrinya.
“Duuhh jangan sengaja pamer deh, bikin jiwa jombloku meronta. Senang banget pamer ke-uwu-an kalian,” protes Erwin dengan nada sebal.
“Tuh banyak cewek cantik, Om, tinggal dipilih dan didekati. Jangan bisanya diajak guyon doang,” ledek Cilla sambil terkekeh.
Mereka menepi setelah selesai mengambil makanan, berdiri dekat meja dessert sesuai permintaan Cilla. Gantian Cilla yang mengambil salad.
“Ngeliatinnya begitu amat Jun, istri lo nggak bakalan hilang,” ledek Lucky.
“Bukan masalah hilangnya. Udah ada calon pebinor yang aktif banget ngedektin Cilla biar udah dibilang kalau dia tuh udah nikah dan lagi hamil.”
“Siapa ?” Theo mengerutkan dahi dengan tatapan waspada.
“Glen,” sahut Arjuna datar sambil mengerutkan dahi saat melihat Glen masih saja memperhatikan Cilla yang ternyata bertemu dengan Yola.
Theo pun menangkap pandangan Arjuna dan berjalan mendekati Cilla dan Yola.
“Arjuna mau juga salad buahnya,” ujar Theo berdiri di samping Cilla mencegah Glen yang mendekat.
“Ayo,” tanpa sungkan Theo langsung merangkul bahu sepupunya itu.
“Theo ?” Glen yang berdiri di belakang mereka menyapanya.
Theo menoleh, mengerutkan dahi seolah-olah lupa dengan pria di depannya.
“Glen,” pria itu langsung memperkenalkan dirinya.
“Oh iya, anak MIPA 3, ya ?”
“Iya. Dan ini bukannya istri Arjuna ?” Glen menunjuk Cilla yang masih dirangkul Theo.
“Iya sepupu gue ini istrinya Arjuna, lagi hamil anaknya Juna juga.”
Glen tampak mengangguk-angguk sambil tersenyum.
“Kak Theo…”
Theo yang paham dengan maksud Cilla langsung pamit dengan Glen dan kembali bergabung dengan Arjuna, Lucky dan Erwin.
“Kamu berdiri menghadap Juna aja,” perintah Theo.
“Gila tuh cowok, kayak kurang modal aja buat cari cewek lain,” gumam Lucky saat melihat Glen akhirnya menjauh, mengobrol dengan teman SMA
mereka yang lain.
”Memangnya dia ngapain Cilla ?” tanya Theo dengan nada tidak suka.
“Kak Theo kayaknya dendam banget sama dia.”
“Yola pernah nolak Theo gara-gara Glen,” ledek Lucky.
“Eh beneran Kak Theo pernah punya story sama Kak Yola ? Kenapa nggak bikin chapter baru aja, kan status sama-sama jomblo. CLBK gitu,” ledek Cilla sambil menatap Theo yang sudah cemberut
“Dasar penggemar drakor, memangnya hidup bisa diatur sesuai keinginan penonton,” gerutu Theo
”Bukan keinginan penonton, Kak tapi suara hati. Kalau memang masih cinta dan Kak Yola udah berubah kenapa nggak ? Cilla sama Mas Juna aja kan juga sempat pisah terus karena merasa cocok dan udah klop, ya balik lagi nggak pakai gengsi.”
“Kamu tuh udah kayak emak-emak banget, sih,” Theo tertawa pelan.
“Memang bakal jadi emak-emak sebentar lagi. Mama muda,” sahut Cilla sumringah.
“Susah ngomong sama batu kali, sayang,” ujar Arjuna sambil menyuapi Cilla nasi dan lauknya. “Kegedean gengsi dan keras kepala makanya cewek juga ogah mau dekat-dekat. Takut tertimpa batu kali, sakitnya itu loh.”
“Mukanya aja udah kayak bintang film horor kalau lihat cewek,” ledek Lucky.
Cilla sudah mau membuka mulutnya namun dilarang oleh Arjuna.
“Kunyah dulu yang betul, ingat makanan kamu dibagi untuk baby juga,” Arjuna melap ujung bibir Cilla yang terkena sisa makanan.
“Sok romantis,” cebik Theo.
“Iri bilang boss,” Arjuna mencibir lalu terkekeh dan tangannya masih menyuapi Cilla dengan telaten.
“Udah kenyang, Cilla lagi pengen buah sama puding aja.”
“Ya udah, makan jangan buru-buru.”
Cilla mengangguk dan berjalan menuju meja dessert mengambil beberapa potong buah dan gelas-gelas berisi puding untuk dirinya dan Arjuna.
“Mas Juna kalau mau kumpul sama teman-teman nggak apa-apa, Cilla samperin Kak Yola aja.”
“Nggak usah, sesuai perjanjian nggak boleh jauh-jauh dari Mas Juna. Memangnya kamu mau ngobrol sama Glen ?”
“Tuh nethink deh,” Cilla langsung cemberut. “Cilla malah ogah banget ketemu sama dia. Tapi amit-amit kalau lagi hamil kata orang nggak boleh sebal-sebal sama orang lain, nanti mukanya mirip orang itu.”
“Mana bisa gitu,” protes Arjuna. “Mas Juna yang buat, bibit juga produksi sendiri masa mukanya kayak Glen.”
“Cilla juga nggak rela.”
Tidak lama Yola datang mendekat menyapa semua yang ada di situ. Cilla senyum-senyum sambil melirik Theo yang melengos sambil membuang muka ke lain arah.
Yola hanya bisa menghela nafas dan pura-pura tidak terusik dengan sikap jutek Theo, berbincang dengan Cilla, Arjuna, Lucky dan Erwin.
Penolakan Yola sudah berlalu 10 tahun yang lalu karena saat itu Glen lebih menarik. Glen adalah pria supel yang ramah pada banyak orang termasuk dengan Yola. Berbeda dengan Theo yang memang suka mendadak jutek.
Yola dan Glen sempat akrab karena keduanya sama-sama anggota tim inti basket sekolah mereka.
Yola sempat menyesal telah membuat Theo sakit hati dengan ucapannya sepuluh tahun yang lalu. Saat itu selain jiwa mudanya yang sedikit arogan menganggap mudah mendapatkan cowok, Riana dan Luna yang menjadi sahabatnya cukup berpengaruh dan bilang kalau lebih baik sosok Glen daripada Theo untuk dijadikan pacar.