
Pulang sekolah Arjuna sudah dibuat kesal oleh Cilla. Pasalnya ia sudah mengirimkan pesan pada gadis itu untuk menunggunya di parkiran sekolah.
Cilla sudah membaca pesan yang dikirim oleh Arjuna meski tidak membalasnya, jadi Arjuna yakin kalau pacarnya itu pasti akan memenuhi permintaannya.
Sudah buru-buru menyelesaikan pekerjaannya, hati Arjuna harus kecewa karena tidak mendapati Cilla di sana, bahkan handphonenya tidak diangkat.
Kekesalannya tidak sampai di situ saja. Selesai mandi, Arjuna yang kembali ke kamar langsung mengecek handphonenya. Ternyata pesan yang dikirimnya sejak jam 3 sore tidak terkirim, hanya centang satu. Arjuna langsung menekan nomor Cilla, tapi langsung masuk ke kotak suara.
Akhirnya Arjuna memutuskan untuk jalan-jalan ke taman kota yang biasa kalau malam berubah jadi seperti pujasera istilah Cilla. Ia ingin melihat-lihat suasana di sana saat sore menjelang malam.
Kalau hanya tiduran di rumah, matanya pasti tidak mau lepas dari handphone menunggu balasan dari Cilla. Bukannya tenang, hatinya bisa tambah jadi seperti gado-gado yang kelamaan nggak dimakan. Berair dan berubah masam karena campuran sayur dan bumbu kacang.
Arjuna menyipitikan matanya saat melihat sepasang manusia yang sedang duduk berhadapan sedang berbincang sambil tertawa di sebuah meja yang terpasang di tempatnya biasa makan dengan Cilla.
Belum ada pedagang sate, nasi goreng, martabak atau sekoteng langganan mereka. Hanya terlihat seorang pedagang es podeng. Tapi beberapa meja dan kursi sudah terpasang di sana.
“Sore Pak,” sapa pria yang duduk di seberang Cilla menyapa Arjuna yang sudah berdiri di belakang kekasihnya.
Cilla mengerutkan dahinya saat mendengar Dimas menyapa seseorang. Ia langsung menoleh dan matanya membelalak saat mendapati sosok Arjuna sudah berdiri di belakangnya dengan wajah galak dan tangan melipat di depan dada.
Cilla langsung nyengir kuda mendapati guru sekaligus kekasihnya itu kembali menangkap basah dirinya sedang berdua dengan Dimas.
“Kalian ngapain berdua di sini ?” tanya Arjuna sambil menatap ke arah Cilla dan Dimas bergantian.
Tatapan mata Arjuna yang melotot membuat Cilla sedikit ciut karena merasa bersalah.
“Pacaran,” sahut Dimas santai.
Sejak melihat api cemburu membara di wajah Arjuna, niat jahil Dimas langsung meronta ingin menggoda guru matematika yang sudah resmi menjadi pacar sahabatnya ini.
Cilla langsung menoleh ke arah Dimas sambil melotot. Bukannya menenangkan hati kekasih Cilla, sahabat laknat ini malah sengaja memanasi Arjuna yang sudah dalam mode kompor meleduk.
“Bohong, Pak. Jangan didengar cowok lebay ini,” sanggah Cilla sambil kembali menatap Arjuna.
Ia menggeser bangkunya dan menarik bangku kosong lainnya lalu memberi isyarat pada Arjuna untuk duduk di sebelahnya.
“Saya mau pulang,” ketus Arjuna sambil bergerak hendak meninggalkan Cilla dan Dimas. Ia mengabaikan ajakan Cilla untuk duduk di sebelahnya.
“Eehhh jangan dong…” Cilla buru-buru bangkit dan menahan lengan Arjuna. Pria itu menoleh dan melirik tangan Cilla lalu menatap gadis itu yang sedang nyengir kuda.
“Jangan ditinggal dong. Masa pacarnya ditinggal sama cowok lain. Memangnya Bapak nggak cemburu ?” goda Cilla sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.
“Sejak kapan orang pacaran panggil kekasihnya bapak ? Memangnya saya bapak kamu ?” sahut Arjuna dengan galak.
“Sugar daddy, Pak,” celetuk Dimas nyeleneh sambil terkikik.
Cilla kembali menoleh pada Dimas dan melotot padanya. Kali ini mulut Cilla juga ikut mengomeli Dimas meski tanpa suara. Urusannya bisa jadi panjang kalau Arjuna sudah dalam mode ngambek level 10. Bisa-bisa kamus kata-kata pedasnya dikeluarkan lagi dari perpustakaan otaknya seperti waktu di Semarang.
“Mas Juna,” dengan sedikit berat akhirnya Cilla merubah panggilannya. Simpanan rayuan gombalnya harus dikeluarkan, biar bisa buat hati Arjuna membumbung tinggi kayak layangan.
Dengar panggilan berbeda dari mulut Cilla, dada Arjuna mulai berdesir. Apalagi suara gadis itu dibuat kalem dan matanya langsung mengerjap. Bisa-bisa mode ngambeknya mudah lumer dan gagal bikin Cilla kembang kempis.
Arjuna langsung mengalihkan pandangan ke arah lain, tidak mau membuat Cilla melihat pancaran hatinya yang sudah pasti terbaca lewat mata dan senyumannya.
Ini aja sudah menoleh ke arah lain, dua sudut bibir Arjuna tidak bisa ditahan untuk langsung naik ke kanan kiri membentuk senyuman tipis.
“Jangan terlalu dengerin Dimas, ya. Dia pasti sengaja bikin Mas Juna kesal. Cilla sudah kasih tahu kok kalau sekarang kita ini pacaran,” Cilla bergelayut manja sambil menggoyangkan lengan Arjuna.
Rona wajahnya ? Jangan ditanya. Harus memanggil Arjuna dengan sebutan mas lalu bergelayut manja seperti perempuan kebanyakan, membuat Cilla harus meredam malu apalagi ada Dimas di hadapan mereka.
“Cie… cie… yang udah ganti panggilannya langsung malu-malu meong,” ledek Dimas. “Kayak anak kucing yang keenakan dielus-elus sampai nunduk tersipu begitu,” lanjutnya sambil tergelak.
Cilla kembali melotot ke arah Dimas. Dia lepaskan tangannya dari lengan Arjuna membuat cowok itu menoleh ke arah Cilla yang kembali mendekati meja.
“Udah pergi sana !” Cilla member isyarat supaya Dimas bangun dan pergi meninggalkan mereka.
“Pergi jauh-jauh gih… Gue mau dating dulu sama pacar gue yang tampan dan mapan,” ujar Cilla sambil mengibaskan tangannya menyuruh Dimas pergi.
Sahabatnya itu masih tertawa namun beranjak dari kursinya. Ia memakai jaket dan menyandang tas ranselnya di bahu.
“Tadi belum disamperin minta-minta gue jangan pergi, sekarang udah ada pacar gue disuruh-suruh pergi. Bayarannya cuma es podeng segelas doang lagi,” ledek Dimas sambil pura-pura ngambek.
Arjuna sekarang menatap ke arah Dimas dengan wajah galaknya. Tangan pria itu kembali melipat di depan dada.
“Hati-hati kalau pacaran sama Pris, Pak, suka bikin malu,” ujar Dimas terkekeh. “Udah galak dan suka ngomel, belum lagi makannya banyak.”
“Mulai sekarang jangan panggil Pris lagi !” tiba-tiba Arjuna mengeluarkan ultimatumnya dengan suara tegas dan berwibawa.
Dimas dan Cilla mendadak diam dan tercengang menatap Arjuna. Tatapan pria itu tak tergoyahkan dengan dengan tangan terlipat di dada.
“Cuma saya yang boleh memberi panggilan berbeda sama pacar saya. Panggil Cilla seperti yang lainnya !” suara Arjuna begitu tegas dan tak terbantahkan.
“Tapi namanya kan memang Priscilla, Pak. Saya…” protes Dimas dengan alis terangkat.
“Lidah saya nggak bisa nurut karena sudah biasa, Pak,” Dimas masih tidak mau kalah masih membantah dengan tatapan menantang.
Cilla menghela nafas kesal mendengar Dimas yang protes terus kayak debat capres. Ia menatap sahabatnya itu sambil melotot dan memberi isyarat dengan gerakan mata dan mulutnya supaya mengiyakan permintaan Arjuna.
Dimas, mahasiswa teknik mesin tingkat dua itu masih memasang wajah menantang tanpa mempedulikan isyarat Cilla.
“Mana boleh juga Bapak larang-larang Pris mau berteman dengan siapa ! Kan status pacar aja masih baru dua minggu, belum juga jadi istri. Mana bisa…”
“Kamu itu temannya Cilla atau bapaknya ?” sahut Arjuna masih dalam mode galak.
“Kalau saya bapaknya Pris, sudah pasti saya nggak kasih pacaran sama bapak. Apalagi bapak sendiri sudah punya calon istri,” sahut Dimas santai.
Arjuna membelalak mendengar ucapan Dimas. Ia langsung menoleh menatap Cilla yang sedang tersenyum kikuk membalas tatapannya. Arjuna menghela nafas dan berbalik meninggalkan Cilla dan Dimas
Cilla berbalik menoleh ke arah Dimas dan memakinya dengan suara pelan, mulutnya komat-kamit memarahi Dimas yang malah menertawakan kelakukan Cilla.
Selesai mengomeli Dimas, Cilla bergegas menyusul Arjuna. Langkah kakinya yang lebih pendek membuat Cilla harus setengah berlari mencari Arjuna yang sudah tidak kelihatan punggungnya di sekitar taman.
Cilla merogoh tas selempang dan mengambil handphonenya. Ia menepuk jidatnya karena ternyata handphonenya dalam keadaan mati total, entah sejak kapan. Terakhir dia pergunakan saat janjian dengan Dimas bertemu di lokasi proyek mereka berdua. Karena buru-buru, Cilla bahkan lupa memindahkan powerbank nya yang ada di dalam tas ransel sekolah.
Cilla menyusuri jalan menuju tempat kost Arjuna, dan tidak melihat ada tanda-tanda pacarnya itu lewat di sana. Sampai di ujung gang, Cilla maju mundur mau terus melangkah atau menunggu Arjuna di situ. Masalahnya ia tidak tahu rumah mana yang merupakan tempat kost pacarnya itu.
Cilla masih berdiri dengan wajah ragu dan peluh membasahi keningnya. Ia kembali merogoh tas selempangnya dan mengomel karena baru ingat botol air mineralnya tertinggal di meja.
“Rese banget nih Dimas, perlu dikasih pelajaran,” gerutunya pada diri sendiri.
“Kamu ngapain di situ jampi-jampi kayak dukun ?” suara Arjuna menghentikan omelan Cilla.
Ia berbalik dan tersenyum dengan wajah bahagia. Diliriknya tangan Arjuna sudah menenteng satu kantong kresek putih yang sekilas isinya kebutuhan kamar mandi.
“Nungguin Mas Juna,” sahutnya masih dengan senyuman yang sengaja dibuat manis manja.
Arjuna melengos dan melewati Cilla lanjut masuk ke dalam gang. Dalam hati Arjuna beharap ada adegan Cilla menahan lengannya. Tapi sekalipun Arjuna melambatkan langkah kakinya, tidak ada tanda-tanda Cilla memanggilnya.
Gengsi untuk menoleh berharap Cilla masih berdiri di ujung gang, Arjuna terus melangkah dan sedikit mengomel di dalam hatinya karena acara ngambeknya tidak ditanggapi Cilla lebih lanjut.
Arjuna membuka pagar rumah kost yang memang tidak pernah digembok sebelum jam 11 malam. Saat ia berbalik hendak menutup pagar, matanya membelalak melihat Cilla sedang tersenyum menatapnya. Satu tangan Cilla menahan pagar supaya Arjuna tidak bisa menutupnya.
Untung saja Arjuna masih ingat kalau ia sedang dalam mode ngambek sama pacarnya. Kalau terlalu jujur, rasanya Arjuna ingin membalas senyuman Cilla dengan wajah bahagia.
“Kamu mau ngapain lagi ikut saya sampai kemari ?”
“Tadi Cilla mau samperin ke tempat kost Mas Juna tapi bingung yang mana. Mau tanya emak-emak yang tadi Mas Juna sapa, takut disangka anak SMP yang ngejar-ngejar cinta pria dewasa. Jadinya Cilla sengaja ikutin biar tahu tempat kost pacar tersayang ini,” Cilla kembali mengeluarkan jurus rayuan gombalnya, tidak lupa puppy eyes dan senyuman mautnya.
Padahal dalam hati, Cilla merutuki dirinya dan merasa geli sendiri dengan kelakuannya. Baru pertama kali ia besikap secentil ini di depan cowok. Biarpun status Arjuna adalah pacar yang sedang ngambek, tapi rasanya memalukan bercentil-centil ria di depannya.
“Sekarang kan udah tahu, terus mau ngapain lagi ?” Arjuna masih memasang wajah sok jaimnya.
“Mau ikut masuk. Boleh ?” Cilla sengaja mengerjap-ngerjapkan matanya.
“Nggak !” jawab Arjuna tegas. Wajahnya digerakan sedikit ke kanan dengan lirikan mata ke arah pengumuman yang dipasang di depan pintu masuk yang berjarak hanya 1,5 meter dari pagar.
Cilla mengikuti gerakan mata Arjuna dan mengangguk-angguk melihat tulisan
DILARANG MEMBAWA TEMAN WANITA MASUK TERMASUK ISTRI (kecuali bisa kasih lihat surat nikah)
Cilla tertawa membacanya, membuat Arjuna menautkan alisnya sambil menatap gadis itu.
“Kenapa tertawa ?” tanya Arjuna ketus.
“Sepertinya saya harus sabar menunggu sampai punya akta nikah supaya boleh masuk,” jawab Cilla di sela tawanya.
“Memangnya kamu mau saya nikahi ?” tanya Arjuna sambil mengerutkan dahinya.
“Mau !” sahut Cilla cepat dan mantap, membuat Arjuna tercengang sampai membelalakan matanya.
“Tapi nggak tahu kapan,” lanjut Cilla sambil tertawa. Ia melepaskan tangan dari pagar dan berjalan mendekati Arjuna dengan jarak yang lumayan dekat.
“Dan hari ini Cilla mau ajak Mas Juna pacaran dulu,” suaranya pelan seperti berbisik. “Kencan pertama sebagai pacar beneran, bukan settingan,” lanjut Cilla sambil tersenyum.
Arjuna masih memasang wajah datar. Jantungnya sudah mulai berdebar mencium aroma Cilla yang ternyata masih wangi meski sempat bercucuran keringat di ujung gang.
“Tunggu di sini !” jawab Arjuna dengan ketus dan berbalik meninggalkan Cilla yang langsung berbinar karena berhasil membujuk Arjuna untuk pergi dengannya.
Arjuna sendiri langsung bergegas naik sambil memegang dadanya. Lupa sudah dengan mode jaim karena wangi Cilla begitu menggodanya.
Biar sudah dua minggu menyandang status pacar Cilla, hatinya masih sering berdebar kencang kalau sedang berada di dekat anak bebek satu itu. Benar-benar gila ! Melebihi rasa yang pernah dialaminya saat mengejar Luna dulu.