
Cilla duduk sendirian di bangku taman. Suasana cenderung sepi karena selain hari Minggu, tidak ada dokter yang praktek, saat ini waktu juga sudah menunjukan jam 11 siang.
“Awas ketiduran duduk sendirian kena angin sepoi-sepoi,” sapa pria tampan itu langsung duduk di samping Cilla.
”Kok hari Minggu begini ke rumah sakit juga ?” Cilla menautkan kedua alisnya.
“Namanya juga dokter,” sahut pria itu sambil tertawa.
”Memangnya dokter nggak boleh libur juga ?”
“Kalau diikutin sih begitu,” sahutnya santai. “Apalagi selain mengurus pasien, harus mengawasi jalannya rumah sakit juga. Kamu sendiri habis ketemu papa, ya ?”
“Iya, pasti udah dapat bocoran,” sahut Cilla tertawa pelan. “Papi masuk rumah sakit lagi, nggak tahu sampai kapan. Om Raymond dan dokter Lee bilang kalau susah mencari jalan pengobatan yang tepat untuk papi.”
“Papa udah cerita soal kondisi om Darmawan dalam perjalanan kemari tadi pagi. Aku nggak akan bilang jangan bersedih karena tidak mungkin seorang anak tidak akan menangis melihat kondisi orangtuanya yang sakit. Tapi pesanku, jangan memaksakan semuanya sesuai keinginanmu dan akhirnya hanya menyesal dan menyesal saat keinginanmu tidak bisa terpenuhi.”
“Terus Cilla harus bagaimana ?”
“Pasrah.”
“Lagi belajar,” Cilla menghela nafas. “Yang susah itu menjaga air mata supaya nggak keluar.
Dokter Steven tertawa pelan sambil mengacak rambut Cilla.
“Kamu tahu Cil, bahkan seorang dokter pun bisa menangis dan stress saat gagal menolong pasiennya. Kadang timbul rasa bersalah karena tidak bisa membuat seseorang tetap hidup, terutama dalam bidang aku yang pasiennya adalah anak-anak. Tapi dokter tetap manusia yang tidak punya kuasa atas hidup manusia lainnya. Dokter cuma perpanjangan tangan Tuhan yang bekerja nyata dalam kehidupan manusia.”
“Aku pikir setiap dokter sudah terbiasa berhadapan dengan kematian.”
“Dokter manusia juga, Cilla,” dokter Steven malah mencubit sebelah pipi Cilla. “Punya hati dan rasa yang sama seperti manusia pada umumnya. Begitu juga dengan polisi dan tentara. Kamu pikir nurani mereka tidak bergumul saat di medan perang atau lagi adu tembak mengejar penjahat ?”
“Kebiasaan jelek,” omel Cilla sambil mengusap pipinya yang tadi dicubit dokter Steven. “Sama persis dengan Mas Juna, hobi banget cubit-cubit pipi.”
“Habis kamu ngegemesin sih,” ujar Steven sambil tergelak.
“Jangan terlalu sedih lagi apalagi nangis terus begitu, mata kamu udah bengkak pasti kalau balik ke kamar bakal ditanya dan malah bikin papi kamu jadi gundah. Nih bersihin dulu wajah kamu di toilet,” Steven mengulurkan saputan
“Nggak usah. Udah janji sama Mas Juna nggak boleh selingkuh,” ujar Cilla sambil terkekeh dan tangannya menolak pemberian Steven.
“Selingkuh ?” Steven menautkan kedua alisnya. “Bilang sama Juna kalau kamu tuh udah kayak adik aku sendiri.”
“Tadi Cilla udah janji nggak boleh terima tawaran cowok lain untuk meredakan kesedihan, termasuk dipinjami saputangan dokter,” Cilla beranjak bangun diikuti oleh dokter Steven.
“Posesif banget ya Arjuna,” gerutu Steven.
“Bukan posesif tapi sama-sama menjaga hati, soalnya jaman sekarang menikung orang yang sudah menikah itu lebih menantang daripada yang baru pacaran.”
“Kok aku berasa tersindir ?” Steven mengerutkan dahinya.
“Memangnya dokter pernah coba nyerobot istri orang ? Sensi banget, sih,” cebik Cilla. “Udah sana pulang ! Om Raymond bilang kalau dokter Steven sekarang sudah terikat anak. Hari Minggu begini lebih baik cepat pulang dan main sama anak.”
“Iya Cilla. Cerewetnya kamu mulai kayak emak-emak, ya,” ledek Steven sambil tergelak sementara Cilla langsung manyun.
”Cilla balik dulu dokter Steven,” pamit Cilla sambil mulai melangkah.
“Cilla !”
Cilla menoleh saat Steven memanggil namanya. Terihat Steven berjalan mendekat dan akhirnya berjalan sejajar dengan Cilla.
“Panggil aku Kak Steven aja jangan pakai dokter segala. Terus jangan lupa, sedih boleh, meminta dalam doa juga boleh, tapi dari semuanya itu Cilla harus pasrah dan ikhlas.”
“Iya, terima kasih nasehatnya KAK STEVEN,” sahut Cilla tertawa saat menekankan panggilannya pada dokter Steven. “Salam buat istri dan anak Kak Steven, ya !”
Cilla melambaikan tangannya dan berlari kecil menuju lift sementara Steven tersenyum sebelum melangkah keluar menuju lobby.
“Habis selingkuh nih ceritanya ?” ledek Erwin dari belakang Cilla disertai tawa.
Cilla terkejut dan langsung menoleh karena tidak memperhatikan kalau kedua teman Arjuna ini ternyata sudah melihatnya sejak Cilla bicara dengan dokter Steven sebelum berpisah.
“Satu aja cinta Cilla belum habis, mana ada sisa hati mau diajak selingkuh,” sahut Cilla sambil mencibir.
“Cie cie… yang cinta mati sama Kakang Junjun,” ledek Luki ikut tertawa.
“Kok tumben berdua doang ? Biasa kayak rombongan sirkus,” tanya Cilla sambil masuk ke dalam lift diikuti Luki dan Erwin.
“Boni sama Mimi lagi ada acara keluarga. Kayaknya bakalan sebentar lagi resmi,” sahut Erwin. “Dono lagi cari orang yang bisa dititipin anaknya dulu karena nggak mungkin kan dibawa-bawa ke rumah sakit. Kalau Pius nggak ada suaranya di grup.”
“Mas Juna-nya lagi pulang dulu ambil baju sama tas kerja,” ujar Cilla sambil berjalan menuju kamar papi.
“Udah diinfo sama Juna pas laporan mau kemari,” sahut Luki.
Cilla mengangguk-angguk dan membuka pintu pelan. Ternyata papi sedang berbincang dengan papa Arman dan om Rio, sementara mama Diva berbincang dengan tante Siska di sofa.
“Maaf lama, Ma,” Cilla langsung menghempaskan bokongnya di samping mama Diva dan menyenderkan kepalanya di bahu mama.
“Iya, tadi Juna udah kasih tahu kalau kalian dipanggil dokter,” ujar mama Diva dengan suara pelan supaya papi tidak mendengar.
“Juna udah laporan juga kalau pulang dulu, Ma ?” tanya Cilla sambil merangkul lengan mama Diva. Ada rasa nyaman bisa bermanja dengan sosok ibu yang sudah menganggapnya sebagai anak sendiri.
“Udah, tadi udah wa mama kasih tahu juga.”
“Manjanya sama mertua,” ledek tante Siska sambil tertawa.
“Tante Siska pengen juga ya punya menantu yang manja-manja ?” sahut Cilla sambil terkekeh. “Makanya suruh Kak Theo cepat-cepat cari pacar tuh, terus suruh nikah.”
“Eh jangan jadi kompor,” omel Theo yang mendengar omongan Cilla meski posisinya berada di dekat ranjang papi menemani Luki dan Erwin yang membesuk.
”Iihh sensi banget sih kalo ngomong pacar,” cebik Cilla. “‘Memang kenyataan kalau tante sama om udah pengen punya cucu, cuma Kak Theo aja nggak peka. Jutek lagi,” Cilla menjulurkan lidahnya mengejek Theo.
“Memangnya kamu nggak dengar juga suara hati mertua kamu yang mau cepat-cepat punya cucu ? Kamu malah suruh Juna nunggu dua tahun lagi,” sahut Theo tidak mau kalah.
“Iya ISTRI Juna, yang kerjanya pamer terus. Sengaja bikin tanda banyak-banyak di leher biar pada tahu yang habis adu gulat sama SUAMI !” Theo dengan wajah sebal sengaja berbicara penuh penekanan.
Reflek mama Diva dan tante Siska menoleh pada Cilla yang sudah duduk tegak. Bahkan papa, om Rio, Luki dan Erwin langsung melihat ke arah leher Cilla.
Theo melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah penuh kemenangan sementara papi yang duduk bersandar di ranjang hanya senyum-senyum.
”Ya ampun Cilla !” Erwin terbelalak sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan. “Juna dikasih makan apa sampai gahar begitu ?”
Cilla langsung cemberut dan balas menatap Theo dengan wajah sebal.
“Ranjang kamu nggak sampai ambruk kan ?” ledek tante Siska sambil tertawa.
“Diihh Tante ikut-ikutan lagi,” Cilla langsung manyun.
“Bukan cuma Cilla yang penuh bekas vampir, Mam. Arjuna juga sama, tunggu aja tuh anak balik kemari,” ujar Theo sambil tersenyum mengejek Cilla.
“Duuhh Kak Theo benar-benar Jones akut, ya. Iri ya lihat Cilla sama Mas Juna bikin tanda-tanda begini,” Cilla membalas dengan bibir mencibir.
“Kalau begitu program cucunya nggak usah tunggu Cilla tingkat dua. Nanti mama sama papa mau kok bantuin jaga,” mama Diva ikut meledek sambil senyum-senyum.
“Tuh dengar permintaan orangtua,”’cibir Theo.
“Mulai aja belum, Ma,” bisik Cilla malu-malu membuat mata mama langsung membelalak.
“Terus itu apaan ?” tanya mama sambil mengerutkan dahi menunjuk ke leher Cilla.
“Gatot alias gagal total karena papi pingsan,” sahut Cilla masih dengan suara berbisik sambil cekikikan.
Mama Diva tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Menantu mudanya ini cukup polos dan bicara apa adanya.
“Kalau begitu langsung program aja begitu papi keluar. Mama sama papa nggak keberatan,”’ujar mama Diva sambil tertawa pelan.
“Perlu diskusi dulu sama Mas Juna,” sahut Cilla dengan wajah merona dan tersipu.
“Dih malu-malu gitu, pasti pikirannya lagi mesum,” sindir Theo.
“Om Luki, om Erwin, mendingan ajak Kak Theo makan siang gih. Kayaknya efek perut lapar jadi bawaannya nge-gas melulu,” ujar Cilla dengan wajah sebal.
“Kayaknya semua mulai lapar,” ujar tante Siska. “Mau pesan diantar kemari atau makan keluar ?”
“Tante, om sama papa mama keluar makan dulu nggak apa-apa, Cilla nemenin papi di sini sekalian tunggu Mas Juna. Tadi Bik Mina udah wa kalau ada titipan makan siang untuk Cilla.”
“Yakin kamu nggak ikut makan ?”
“Cilla ikut aja nggak apa-apa, kan sebentar doang,” ujar papi Rudi.
“Tadi udah makan es krim sama Mas Juna di cafe, Pi, masih agak kenyang juga. Nggak apa-apa kok, Ma, Cilla beneran mau nunggu di sini aja.”
Mama Diva menatap papa Arman yang mengangguk dan pamit pada papi Rudi untuk keluar makan sebentar.
“Cilla mau titip apa ?” tanya mama sambil mengelus kepala menantunya.
“Nggak usah, Ma. Nanti sekalian makan sama Mas Juna aja, udah dimasakin sama Bik Mina.”
Mama Diva hanya tersenyum dan akhirnya semua meninggalkan Cilla dan papi Rudi di kamar.
“Papi udah minum obat ?” tanya Cilla mendekati ranjang papi.
“Sudah. Papi mau istirahat aja,” sahut papi Rudi sambil merebahkan tubuhnya. “Papi merepotikan Cilla, ya ?”
“Papi jangan begitu ah, Cilla nggak merasa direpotkan, kok. Anggap aja ini quality time sama Papi yang super sibuk,” sahut Cilla sambil tertawa.
“Melihat Cilla banyak yang sayang rasanya hati papi jauh lebih tenang sekarang. Apalagi Arjuna,” ledek papi sambil tertawa. “Sampai bikin tanda supaya banyak orang tahu kalau Arjuna sayang banget sama Cilla.”
“Duh Papi bikin Cilla malu banget deh,” sahut Cilla tersipu sambil senyum malu-malu. “Cilla nggak sadar kalau Mas Juna bikin tanda begini. Udah banyak, lebar-lebar lagi, nggak bisa ditutup plester.”
“Nggak apa-apa, suami kamu itu memang pria yang penyayang. Sekali cinta nggak akan melepaskan. Papi benar-benar bahagia Cilla menikah dengan Arjuna. Untung aja papa Arman memaksa menikahkan anaknya dengan Cilla.”
“Iya, Cilla juga bahagia. Pas pertama ketemu Mas Juna di sekolah, Cilla benar-benar nggak tahu kalau Mas Juna itu anaknya papa Arman loh, Pi.”
“Sepertinya kalian jodoh,” sahut papi sambil tersenyum.
“Iya, Mas Juna kelihatan cowok penyayang banget ya pas lagi gendong Cilla waktu pemakaman mami.”
“Papi benar-benar tenang kalau harus meninggalkan Cilla dalam waktu dekat.”
“Papi jangan pikir macam-macam dong, semangat harus sehat terus,” ujar Cilla sambil mengangkat tangannya yang mengepal, tanda pemberi semangat.
“Kalau Papi masih diberi waktu, mau juga gendong cucu dari Cilla sama Arjuna,” ujar papi sambil terkekeh.
“Papi pasti sehat, dan kalau Tuhan memang mau memberi Cilla sama Mas Juna momongan dalam waktu dekat, Cilla nggak akan menolaknya. Gimana Tuhan kasihnya aja.”
“Papi hanya bisa mendoakan kebahagiaan Cilla dan Juna,” ujar papi dengan suara semakin pelan dan tidak lama mata papi terpejam.
Rupanya sejak tadi papi sudah mulai merasa ngantuk, efek dari obat yang diberikan oleh dokter.
Cilla tersenyum dan membetulkan selimut papi lalu mencium pipi papi.
“Cilla sayang banget sama Papi dan akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Papi,” lirih Cilla dengan kedua sudut mata yang basah.
Cilla tidak mampu lagi mencegah kesedihan yang masih berusaha disimpannya dalam hati. Hati kecilnya benar-benar berharap papi sembuh, menemani hari-hari Cilla sampai bisa lulus kuliah sekaligus memberi cucu untuk papi.
Cilla bergegas keluar kamar dan menutup pintu dengan pelan, lalu duduk di kursi yang letaknya tidak jauh dari kamar.
Tangisnya tidak lagi bisa ditahan, rasa batinnya penuh sesak. Cilla mendongak saat ada tangan menyentuh bahunya dan langsung menghambur ke dalam pelukan Arjuna yang baru saja sampai dan melihat Cilla keluar dari kamar.
Arjuna mengusap-usap punggung Cilla yang masih menangis dalam pelukannya sambil berdoa semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk papi.