
Sabtu pagi Cilla sudah berada di taman dekat tempat kost Arjuna. Pagi ini ia janjian dengan Amanda yang meminta bertemu dengannya. Sepertinya wartawan gosip mulai beraksi melaporkan berita terkini hasil kunjungan Arjuna menemui papa Arman.
Cilla mencari-cari Amanda yang belum terlihat batang hidungnya. Ia sempat mengirimkan lokasi keberadaannya supaya Amanda tidak salah tempat.
Suasana hati Cilla sedikit jelek setelah semalam mengomel pada Febi dan Lili yang merelakan tas miliknya dibawa oleh Arjuna, padahal Cilla sudah mewanti-wanti supaya tas sekolahnya jangan diserahkan pada Arjuna.
“Nungguin pacar ?” tepukan di bahu dan suara pria itu membuat aktivitas Cilla yang sedang berselancar dengan handphonenya terhenti.
“Aduh udah jauh-jauh dari rumah, ketemunya elo lagi,” omel Cilla.
“Udah gue bilang kalau sepertinya kita memang berjodoh,” sahut Jovan sambil tertawa.
“Jodohnya elo, bukan jodohnya gue,” sungut Cilla. ‘Lagian rumah elo dimana, bisa-bisanya nyasar olahraga pagi di sini.”
“Eh nggak punya kaca di rumah ?” sahut Jovan sambil mencibir. “Kayak rumah elo dekat aja dari sini. Sama jauhnya dengan rumah gue. Apa jangan-jangan elo sengaja karena mau janjian ya sama Pak Arjuna ?”
“Asal !” omel Cilla. “Lagi nggak ada hubungan sama Pak Arjuna. The End.”
“Jangan ngomong sembarangan,” omel Jovan. “Nanti beneran the end, elo nyesel sambil nangis meraung-raung.”
“Sejak kapan gue nangis kayak macan ngamuk ?” sahut Cilla sambil melotot dan bertolak pinggang di depan Jovan.
“Sejak jatuh cinta sama guru matematika,” ledek Jovan sambil tergelak.
“Kangen udah lama nggak gue pukulin ya !” omel Cilla sambil memukul-mukul bahu Jovan.
Ketos tampan itu makin tergelak dan menjulurkan lidah meledek Cilla yang sudah cemberut. Dia berusaha menghindar dari Cilla yang masih ingin memukulnya, sampai akhirnya tanpa sengaja menabrak seseorang yang sejak tadi Cilla tunggu kedatangannya.
“Eh gajah, jalan tuh pakai mata ! Lari sembarangan ! Elo kira taman ini punya bapak moyang lo ?” bentak Amanda yang baru saja tiba dan menghampiri Cilla yang sudah dilihatnya dari kejauhan.
Jovan menautkan alisnya memandang gadis yang sedang memarahinya itu. Sekilas wajahnya mirip seseorang yang cukup dikenalnya.
“Elo juga yang iseng deketin gue,” sahut Jovan sambil mencebik.
“Dih nih cowok over pe-de banget ya,” gerutu Amanda. “Mana ada gue samperin elo. Gue tuh mau ketemu sama teman gue, bukan elo.”
Amanda menoleh ke arah Cilla yang terlihat sedang senyum-senyum sambil memandang Amanda dan Jovan bergantian.
“Ya udah sana pergi ketemu sama teman elo !” usir Jovan sambil mengibaskan tangannya. “Ganggu kesenangan orang aja !”
“Kalau begitu minggir,” tangan Amanda mendorong Jovan ke samping. “Badan elo menghalangi jalan gue ketemu teman gue tuh.” Amanda langsung menghampiri Cilla yang posisinya berada di belakang Jovan.
“Kayaknya kalian berdua cocok juga,” ujar Cilla sambil tergelak.
“What ?”
“Nggak mungkin !”
Jovan dan Amanda menanggapi ucapan Cilla secara bersamaan.
“Tuh kan, gue bilang apa. Kalian tuh berjodoh,” ujar Cilla di tengah-tengah tawanya.
Keduanya terlihat mendengus kesal dan menggerutu sambil menoleh ke arah lain.
“Udah sini, daripada kebanyakan ngomel, lebih baik kenalan buat tambah koleksi teman nih,” Cilla menarik tangan Amanda agar memutar badannya berhadapan dengan Jovan.
“Elo kira gue perangko kuno yang perlu dikoleksi ?” gerutu Jovan.
Cilla hanya tertawa sambil mencibir melihat reaksi Jovan yang cemberut.
“Kenalin nih, Van, ini teman gue Amanda, dan Amanda, kenalin ini teman sekolah gue namanya Jovan,” Cilla mulai memperkenalkan keduanya yang masih memasang tampang jutek.
Cilla mencibir saat keduanya tidak ada yang mau mengulurkan tangan untuk bersalaman dan saling membuang muka. Cilla pun menghela nafas dan mengambil kedua tangan sahabatnya itu. Dengan sedikit memaksa, Cilla menautkan kedua tangan itu untuk saling bersalaman.
“Jangan pada sok jaim deh, nanti malah jatuh cinta repot loh !” ujar Cilla dengan suara ketus.
Amanda dan Jovan spontan menoleh menatap Cilla dengan mata melotot. Bukannya marah, Cilla malah terbahak.
“Fixed kalau kalian sepertinya akan berjodoh. Sampai reaksi kalian menanggapi ucapan gue nggak ada bedanya gitu.”
Amanda dan Jovan saling menatap dengan raut wajah perang. Namun tanpa sadar genggaman tangan mereka tidak dilepaskan. Cilla tertawa melihatnya.
“Muka perang, tangan berjabatan. Gencatan senjata namanya,” ujar Cilla masih sambil tertawa,
Jovan dan Amanda yang menyadari kalau memang mereka masih dalam posisi bersalaman saling melepaskan diri dan mundur beberapa langkah.
Cilla berjalan duluan dan akhirnya diikuti oleh Jovan dan Amanda yang masih saling berdiam diri. Selesai memesan, mereka duduk di bangku taman yang letaknya agak jauh dari tukang bubur.
“Kemarin Kak Juna jadi datang ke rumah,” bisik Amanda pada Cilla yang duduk di sebelahnya. Jovan sendiri duduk di bangku semen lainnya dengan posisi berhadapan dengan kedua gadis itu.
“Terus reaksi bokap elo gimana ?” tanya Cilla dengan suara pelan juga. Ia belum siap kalau harus melibatkan Jovan dalam drama mereka.
“Papa sih nggak banyak omong. Tapi sepertinya keputusan papa masih sama, Kak Juna harus meneruskan perjodohan itu. Soalnya mukanya masih sama-sama tegang gitu.”
“Kenapa bokap elo nggak terus terang aja, sih ? Kan nggak ada gunanya bohongi kakak elo terus-terusan. Kasihan juga lihat mukanya tegang terus begitu.”
“Tapi belum ada instruksi apapun dari papa, gue belum berani tanya alasannya apalagi disuruh debat dengan keputusan papa. Mama juga belum tanya-tanya lebih jauh. Semalam Kak Juna sempat makan malam di rumah, tapi nggak ada pembicaraan tentang elo.”
“Gue mau ketemu sama bokap elo dan minta supaya masalah ini dibuka aja. Gue juga nggak sanggup kalau disuruh berbohong terus sama Mas Juna,” ujar Cilla dengan alis menaut.
“Kebohongan apa lagi yang kamu punya ?” suara bariton itu membuat keduanya terkejut dan saling menatap dengan mata membelalak.
Jovan tidak lagi duduk di seberang mereka hingga tidak bisa memberitahu akan kedatangan Arjuna dari belakang Cilla dan Amanda.
“Kak Juna,” Amanda yang pertama menyapa sambil tersenyum kikuk.
Dilihatnya kakaknya sudah berdiri dekat mereka dengan celana olahraga pendek dan kaos oblong.
“Kebohongan apa lagi yang sedang kalian jalani ?” tanya Arjuna kembali tanpa membalas sapaan adiknya. Matanya menatap tajam pada Amanda kemudian beralih ke Cilla yang masih dalam posisi menyamping.
“Bukan apa-apa kok, Kak Juna. Ini masalah teman aja… Tadi…”
“Cilla !” bentak Arjuna.
Cilla menghela nafas dan perlahan menoleh menatap Arjuna. Ia berusaha tersenyum dan bersikap biasa-biasa saja meskipun tatapan Arjuna begitu menghujam hatinya.
“Sandiwara apa lagi yang sedang kamu mainkan saat ini ?” tanya Arjuna tanpa mempedulikan Amanda yang terlihat bingung.
“Kita cari tempat lain, di sini terlalu ramai,” ujar Cilla sambil bangun dari bangkunya. Mangkuk buburnya yang belum habis tuntas diletakkan di atas bangku semen.
Amanda menahan tangan Cilla dan memandang sahabatnya itu. Cilla hanya tersenyum dan mengangguk berusaha menenangkan Amanda.
Jovan yang baru saja kembali membayar pesanan bubur mereka menatap bingung ke arah Cilla dan Arjuna yang hendak meninggalkan mereka, apalagi Amanda menatap mereka dengan wajah khawatir.
“Gue titip Amanda, Van. Kalau bisa tolong anterin pulang sekalian, ya,” ujar Cilla pada Jovan saat mereka berpapasan. “Gue mau pacaran dulu,” sambungnya sambil tertawa.
Jovan mengangguk dan menatap Arjuna yang terlihat sedang emosi. Ia pun urung menyapa gurunya itu yang menoleh ke arah lain.
Cilla membawa Arjuna ke sisi taman yang agak sepi dan mengajak Arjuna duduk di atas rumput, namun pria itu mengabaikannya.
“Mas Juna mau dengar bagian yang mana ?” tanya Cilla sambil menatap Arjuna yang berdiri sambil melipat tangannya di depan dada. Suaranya dibuat setenang mungkin dan biasa-biasa saja.
Pria itu membalikan badannya hingga berhadapan dengan Cilla yang duduk di atas rumput sambil melipat kedua lututnya.
“Kebohongan apa yang sedang kamu lakukan dengan Amanda ? Jangan bilang kalau tidak ada hubungannya dengan saya ! Tadi saya dengar kalau kalian berdua menyebut nama saya.”
Cilla menghela nafasnya. Arjuna sedang dalam mode emosi tingkat tinggi. Ia tidak lagi menyebut dirinya aku kamu dalam percakapan dengan Cilla, tapi kembali dalam percakapan formal dengan menyebut diri saya dan kamu, meskipun begitu Arjuna tidak menolak saat Cilla memanggilnya Mas Juna.
Cilla menelan salivanya. Bukan ini yang ia inginkan dalam hubungannya dengan Arjuna. Mengapa begitu sulit menjadi sepasang kekasih yang biasa-biasa saja, tanpa harus melewati semua sandiwara ini. Apa pentingnya memalsukan identitasnya dan berpura-pura tidak mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh Arjuna ?
“Priscilla !” panggil Arjuna dengan membentak. “Jangan bilang kalau kamu pura-pura menerima saya menjadi pacar kamu hanya untuk memanasi Jovan !”
Cilla kembali menghela nafas panjang. Ia mengibaskan rumput yang menempel di celananya saat kembali berdiri, lalu mendekati Arjuna hingga posisi mereka persis berhadapan sekarang.
“Ini tidak ada hubungannya dengan Jovan atau pihak ketiga lainnya,” ujar Cilla dengan nada setenang mungkin. Hatinya berdebar tidak karuan membayangkan reaksi Arjuna saat ia mengatakan keadaan yang sebenarnya.
“Cilla adalah anak teman om Arman yang membuat Pak Arjuna kabur saat undangan makan malam itu. Nama papi Cilla Marcel Rudi Darmawan, dan selama ini memang orang mengenalnya sebagai Pak Darmawan. Hanya orang-orang yang cukup dekat memanggil papi dengan nama Rudi.”
Arjuna membelalak karena terkejut mendengar ucapan Cilla karena tidak percaya. Entah bagaimana emosinya sekarang saat mengetahui kebenaran yang diucapkan oleh Cilla.
Cilla sendiri terlihat beberapa kali menelan saliva membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Ia sama tegangnya menunggu reaksi Arjuna.