
“Kenapa Sean harus dititip ke Mama segala sih, Mas Juna ?” tanya Cilla saat Arjuna memaksanya untuk mengantar putra mereka menginap semalam di rumah Papa dan Mama.
“Nanti malam kita ada acara dan Cilla tahu sendiri gimana sekarang Sean susah ditinggal kalau melihat Cilla dan Mas Juna sudah berpakaian rapi malam-malam.”
Cilla menghela nafas, apa yang dikatakan suaminya itu benar. Usia Sean sekarang sudah 15 bulan, mulai bawel dengan celotehnya dan tidak bisa diam karena sudah semakin lancar berjalan.
Sampai di rumah keluarga Arjuna, kedua mertua Cilla itu sudah berdiri di teras menunggu kedatangan anak, menantu dan terutama cucu kesayangan mereka.
“Opa, Oma,” Sean yang sudah bisa memanggil kedua orangtua Arjuna dengan suara cadelnya segera minta turun dari gendongan Cilla dan berlari menghampiri opanya.
“Apa kabarnya, Sayang ?” sapa Mama Diva memeluk menantu kesayangannya.
“Baik, Ma. Mama dan Papa sehat kan ?” sahut Cilla sambil membalas pelukan mertuanya.
“Halo gemoy,” pekik Amanda dari dalam rumah membuat Sean langsung merangkul dan bersembunyi di ceruk leher opanya.
“Sean, sapa aunite Manda dulu,” tegur Cilla yang melihat putranya enggan bertemu Amanda.
“Gemoy somse banget sih,” ledek Amanda sambil mengacak gemas rambut Sean.
“Tie pegi ana,” pekik Sean yang mulai merajuk, wajahnya pun terlihat kesal.
“Kamu juga sih suka cubit-cubit Sean, makanya dia ogah sama kamu,” ujar Arjuna yang baru saja bergabung selesai memarkir mobilnya.
“Apa kabar, Ma, Pa,” sapa Arjuna memeluk dan mencium mama Diva,
“Baik, Jun,” sahut Mama membalas pelukan Arjuna.
Sean langsung merengek minta pindah ke gendongan Arjuna begitu pria itu mendekati Papa Arman dan memeluknya.
“Sean,” Cilla mencoba menasehati kembali putranya yang sekarang menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Arjuna.
“Tie akal, Mi. Yan no no.” (Auntie nakal, Mi. Sean nggak mau)
“Nanti Opa jewer kalau auntie gangguin Sean,” ujar Papa Arman membujuk cucunya yang enggan masuk karena sering dijahili Amanda.
“Udah jangan suka cubitin Sean terus, nanti dia trauma sama kamu dan nggak mau datang kemari lagi,” tegas Mama Diva sambil melotot menatap putrinya yang masih saja meledek Sean.
Mama Diva langsung mengajak anak dan menantunya untuk makan siang tetapi Sean masih enggan duduk di dekat opa dan omanya apalagi Amanda masih saja iseng meledeknya.
Suasana makan siang bersama keluarga yang sudah jarang Cilla rasakan karena kesibukannya kuliah sekaligus mengurus rumah tangga membuat Cilla banyak tertawa apalagi celoteh Sean yang masih patah-patah terdengar lucu dan menggemaskan.
Usai makan siang, keduanya masih tinggal sebentar untuk berbincang di ruang tengah. Kehadiran Sean memang membawa suasana yang berbeda, Cilla pun menyempatkan diri mengajak putranya berbicara, menasehatinya dan mengajarinya bagaimana menghadapi keisengan Amanda.
Arjuna tersenyum, istrinya memang sabar dan penyayang pada anak namun selalu bertindak tegas saat Sean melakukan kesalahan tanpa main tangan.
Akhirnya dengan bujukan opa dan omanya, Sean bersedia ditinggal dan akan dijemput lagi besok siang. Babysitternya ikut menemani untuk membantu menjaga Sean yang semakin aktif.
***
Jam 6 sore Cilla turun ke bawah dengan dandanan sesuai gaun yang dibelikan Arjuna. Gaun hitam bergaya cocktail dress itu terlihat pas di badan Cilla yang masih langsing seperti anak remaja seusianya.
“Cantik,” puji Arjuna yang datang dari belakang Cilla.
Rupanya Arjuna sengaja bersembunyi membuat Cilla terkejut karena tidak menyangka kalau suaminya akan datang dari arah belakangnya.
Arjuna melepaskan kalung yang dikenakan Cilla dan mengganti dengan seuntai kalung dengan liontin berbentuk bebek dan berlian kecil di tengahnya.
“Kenapa bebek ?” tanya Cilla saat memegang liontinnya.
“Karena selamanya Cilla akan jadi anak bebek kesayangan Mas Juna,” bisik Arjuna sambil memeluk Cilla dari belakang.
“Mas Juna malu kalau dilihat Bik Mina dan yang lainnya,” ujar Cilla dengan wajah malu-malu.
“Nggak apa-apa, mereka pasti mengerti malah bahagia melihat kita bisa mesra begini.”
Arjuna mencuri ciuman di pipi Cilla sambil menggandeng istrinya keluar. Ternyata Bik Mina dan Pak Trimo sudah menunggu di teras. Kedua pelayan yang sudah dianggap seperti orangtua angkat Cilla tampak tersenyum bahagia melihat Cilla dan Arjuna bisa bersama setelah melewati perjalanan panjang yang tidak mudah.
“Cilla pergi dulu, Bik, Pak Trimo,” pamit Cilla sambil tersenyum manis. Keduanya mengangguk masih dengan senyuman di wajah.
Cilla tidak banyak bertanya saat Arjuna melajukan mobilnya, hanya pikirannya sedang berusaha mengingat-ingat acara apa yang akan didatangi mereka karena Arjuna tidak memberitahu apa-apa seperti biasanya.
“Mas Juna maaf, Cilla kok bisa lupa. Happy Anniversary,”
Cilla merentangkan tangan hendak memeluk Arjuna saat keduanya masih di dalam mobil. Arjuna tersenyum dan membuka tangannya, menerima Cilla dalam pelukannya.
“Maaf, Cilla benar-benar lupa,” bisiknya dalam pelukan Arjuna.
“Nggak apa-apa, Mas Juna jadi bisa kasih kejutan hari ini.”
Keduanya turun dan masuk ke dalam restoran. Wajah Cilla tampak bahagia karena tahun ini Arjuna tidak melupakan ulangtahun perkawinan mereka yang kedua. Semuanya sudah disiapkan oleh mantan guru Cilla itu dengan sempurna termasuk satu ruangan privat yang sudah ditata sedemikian indah dengan pemandangan lampu malam kota Jakarta.
“Happy anniversary, anak bebek kesayangan Mas Juna,” Arjuna mengeluarkan seikat bunga tangan yang ternyata sudah disiapkan dekat situ namun tertutup oleh taplak meja.
Mata Cilla berkaca-kaca, terharu dengan semua yang dilakukan Arjuna. Cilla pun beranjak dari kursinya lalu menghambur ke dalam pelukan Arjuna yang memegang bunga untuk Cilla.
“Terima kasih karena cinta Mas Juna terus bertambah untuk Cilla.”
Arjuna tersenyum, kemejanya terasa mulai basah karena Cilla menangis dalam pelukannya. Arjuna balas memeluk Cilla setelah meletakkan bunga tangan di atas meja.
“Mas Juna juga bahagia karena cinta Cilla tidak pernah habis dan terus bertambah untuk Mas Juna dan Sean. Cilla selalu sabar menghadapi Mas Juna dan sudah menjadi istri yang luar biasa.”
Arjuna menciumi pucuk kepala Cilla sambil mengeratkan pelukannya. Saat di restoran seperti ini, terkadang Arjuna teringat bagaimana pertama kali dia kabur saat ingin diperkenalkan pada Cilla. Bagaimana Tuhan mengatur hidupnya yang melarikan diri justru terperangkap di dalam pelukan wanita yang dipilihkan Papa untuk menjadi jodohnya.
Arjuna merenggangkan pelukannya dan mengusap wajah Cilla yang basah dengan punggung tangannya.
“Mas Juna punya hadiah yang sangat istimewa buat Cilla. Hadiah untuk istri, ibu dan mahasiswi yang luar biasa.”
Arjuna mengambil sesuatu yang tertindih vas bunga. Satu amplop putih yang berukuran sedang dan memberikannya pada Cilla. Arjuna mengangguk saat Cilla mengerutkan dahinya seolah ingin memastikan pemberian Arjuna.
Mata Cilla membola saat membaca tulisan di atas selembar kartu berwarna putih gading.
“Peresmian pabrik di Batang ?” tanya Cilla masih dengan alis menaut. Arjuna mengangguk.
“Sebagian besar saham di sana adalah milik Papi yang diwariskan untuk Cilla, jadi sudah seharusnya Cilla ikut dalam peresmian pabriknya. Rencananya sesudah acara, Mas Juna mau ajak Cilla dan Sean menginap di Semarang, ingin bernostalgia tentang kita di sana.”
“Sama Om-om semuanya ?” Cilla mengerjapkan mata.
“Kalau mereka mau boleh ikutan juga, kita makan duren lagi dan jalan-jalan di seputaran Semarang. Kebetulan mereka diundang juga, tapi sepertinya Boni dan Mimi tidak bisa ikut karena baru punya debay.”
Cilla kembali memeluk Arjuna dan meneteskan air mata,
“Terima kasih karena Mas Juna tidak pernah menyerah untuk menyelesaikan cita-cita Papi dan menjaga Cilla dengan penuh cinta.”
“Sama-sama, Sayang. Untung saja saat Mas Juna kabur malah tersesat di hatinya Cilla,” ujar Arjuna sambil terkekeh.
Keduanya melanjutkan dengan acara makan malam sambil bernostalgia tentang awal perjalanan cinta mereka.
Bagaiaman pesona guru matematika yang jutek itu membuat Cilla merasakan cinta untuk pertama kalinya, sementara bawelnya anak bebek kesayangan Arjuna ini membuat Arjuna susah menghindar dari sikap ceria dan semangat hidupnya meski harus besar seperti anak tanpa orangtua.
“Loh kok bukan ke arah rumah ?” tanya Cilla saat mobil Arjuna sudah meninggalkan restoran.
“Kita akan menghabiskan malam panas dengan suasana baru. Siapa tahu bisa dapat adiknya Sean,” kelakar Arjuna sambil tertawa.
“Siapa takut ? Cilla siap kok kalau Mas Juna mau memberikan adik buat Sean, asal kalau bisa diatur supaya waktu lahirannya pas Cilla libur semesteran kayak begini.”
“Beneran nih ? Cilla siap punya anak lagi ?” mata Arjuna berbinar dan alisnya sengaja dinaikturunkan.
“Memangnya Cilla suka main-main dengan ucapan Cilla ?” Cilla malah melirik lalu mengedipkan sebelah matanya.
“Kuy lah, di gas pool,” ujar Arjuna dengan penuh semangat.
Cilla langsung memeluk suaminya itu dari samping dan menyandarkan kepalanya. Cilla sempat mengingat bagaimana ia harus menerima pernikahan dengan Arjuna di usia muda demi Papi yang saat itu sudah divonis tidak bisa sembuh dari penyakitnya.
Cilla tidak pernah menyesal saat melihat teman-teman sebayanya masih memiliki banyak waktu bebas sementara ia sibuk dengan tugasnya sebagai istri dan ibu satu anak, karena bagi Cilla kebebasan yang mereka miliki belum tentu bisa memberikan kebahagiaan seperti yang ia dapatkan dari Arjuna dan Sean.
Terima kasih Papi karena sudah menerima permintaan Papa untuk menikahkan Cilla dengan Mas Juna. Menantu Papi adalah pria terbaik yang selalu memberi warna dan kebahagiaan untuk Cilla. Doakan semoga cinta kami mampu mengatasi semua masalah dan rintangan yang menghalangi sampai batas waktu yang sudah ditentukan untuk kami.