
Arjuna menautkan kedua tangannya, duduk berhadapan dengan papi Rudi di depan meja kerja mantan calon mertuanya di kantor Darmawan grup. Tidak ada om Budi atau orang lain, hanya mereka berdua yang ada di ruangan itu.
Terlihat Arjuna begitu gugup, padahal saat berangkat dari sekolah menuju tempat ini, Arjuna begitu percaya diri ingin menemui papi Rudi karena tidak ingin hubungannya dengan Cilla terbentur oleh restu, ditambah lagi kejadian di ruang Bu Retno tidak bisa dihentikan sampai di Pak Slamet saja.
Arjuna mencoba membalas tatapan papi Rudi yang menunggunya bicara sambil bersandar di kursi dan melipat kedua tangannya di depan dada.
“Saya datang kemari ingin minta ijin dari Om untuk menjalin hubungan lagi dengan Cilla, bahkan kalau memang Om merestui saya ingin menikahi Cilla secepatnya.”
“Bukankah kamu sendiri yang ragu-ragu untuk menjadi suami Cilla ?” suara papi Rudi yang datar dan dingin membuat Arjuna bergidik.
“Maaf saya sudah jadi laki-laki pengecut, Om. Saya terlalu memikirkan diri sendiri dan khawatir akan sesuatu yang belum tentu terjadi. Saat Cilla melepaskan saya, saya baru sadar kalau kehadirannya dalam hidup saya begitu berarti dan kehilangan Cilla adalah hal yang lebih menakutkan daripada semua tanggungjawab yang harus saya jalankan saåt menikah dengannya.”
“Tapi Cilla sendiri merasa tidak pantas untukmu karena perbedaan usia kalian.”
“Saya sudah bicarakan baik-baik dengan Cilla dan kami sudah sepakat untuk menjalani hubungan ini lebih terbuka dan menghadapi semua masalah bersama-sama.”
“Keputusan saya belum berubah, Arjuna. Saya tidak mau putri saya tersakiti lagi, cukup sudah dia menderita karena saya pernah meninggalkannya dan saya tidak mau pria yang akan menjadi suaminya melakukan kebodohan yang sama seperti yang saya lakukan. Itu sama saja menjerumuskan Cilla dua kali dalam kubangan yang sama.”
“Saya berjanji tidak akan membiarkan Cilla sendirian lagi, Om. Hidup saya adalah jaminannya. Selama Tuhan masih memberikan nafas untuk saya, selama itu juga saya akan selalu berada di sisi Cilla.”
“Bicara itu mudah, Arjuna, namun saat sudah dihadapkan dengan kenyataan yang sulit, saya tidak yakin kamu tidak akan bimbang lagi. Saya sudah pernah berada di dalamnya selama sembilan tahun.”
“Tapi Om…”
“Pulanglah, dan kalau memang tugasmu sudah selesai di sekolah, tinggalkan pekerjaanmu sebagai guru, tidak perlu menunggu sampai tahun ajaran berakhir. Cilla sudah menjadi tanggungjawab saya sepernuhnya.”
“Om Rudi…”
“Saya masih ada pekerjaan lain, Arjuna. Kalau memang kamu benar-benar mencintai Cilla, berikan dia kesempatan untuk mendapatkan kebahagiaannya tanpa kamu. Siapa tahu ada cinta yang lain yang bisa membuatnya merasa lebih baik.”
Om Rudi sudah beranjak dari kursinya dan memberi isyarat supaya Arjuna meninggalkan ruangannya.
Dengan lesu Arjuna pamit dan melangkah keluar ruangan.
“Arjuna !”
Panggilan itu menghentikan langkahnya yang sudah sampai di dekat pintu. Hati kecilnya berharap kalau panggilan itu adalah satu kejutan yang dia harapkan. Arjuna berbalik badan, urung membuka pintu.
“Ya Om.”
“Saya tidak main-main memintamu menjauhi dan melepaskan Cilla. Kamu sudah pasti tahu kalau semua celah untuk kalian akan saya tutup. Jangan sampai kamu menyesal kembali karena terlalu memaksakan diri. Sebagai pria yang lebih dewasa, kamu pasti tahu kalau Cilla akan mundur saat kamu menjauh darinya dan mengabaikannya. Jangan manfaatkan kepolosannya apalagi kamu adalah laki-laki pertama yang membuatnya jatuh cinta.”
Ucapan om Rudi begitu menohok hati Arjuna, membuat wajahnya sedikit tercengang, seakan tidak percaya kalau pria baya di hadapannya begitu keras dan tegas dengan keputusannya. Tidak ada lagi senyuman dan keramahan yang pernah Arjuna rasakan sebelumnya.
“Baik Om, saya mengerti.”
Meski berlawanan dengan keinginan hatinya, namun mulut Arjuna hanya bisa menyanggupi permintaan papi Rudi dan meninggalkan gedung Darmawan Grup dengan perasaan yang campur aduk.
**
**
Tanpa sepengetahuian Arjuna, ternyata Cilla jugadatang menemui papa Arman di gedung milik PT Indopangan.
Bedanya kalau Arjuna yang meminta waktu untuk menemui papi Rudi, sementara Cilla diminta datang karena papa Arman mau bertemu.
Pagi tadi ada pesan masuk ke handphone Cilla dan ternyata papa Arman yang mengirimkannya. Tidak lupa di akhir pesannya tertulis supaya Cilla tidak memberitahu Arjuna soal permintaan papa Arman siang ini.
Sepulang sekolah dan selesai mengukuti susulan terakhir, Cilla bergegas menuju gerbang sekolah. Saat berdiri di ujung tangga lantai dua, Cilla bisa melihat mobil Arjuna baru saja meninggalkan sekolah.
Sampai di gerbang, Cilla mencari-cari mobil asing yang akan menjemputnya. Tidak lama, sebuah mobil hitam berhenti di depannya dan seorang pria paruh baya muncul di balik jendela.
“Non Cilla ?”
Diantar seorang perempuan muda, Cilla sampai juga di ruangan yang ada di lantai 9 dan seorang wanita lainnya mengantarnya sampai masuk ke dalam ruangan yang ada di balik pintu berikutnya.
“Apa kamu menjalin hubungan lagi dengan Arjuna ?’ Pertanyaan dengan suara datar itu membuat hati Cilla langsung deg-deg kan.
Saat ini Cilla sedang duduk berhadapan dengan papa Arman di sofa.
Cilla tidak menyangka kalau papa Arman akan menemuinya dengan wajah dingin dan datar seperti sekarang ini.
Terakhir bertemu di rumah sakit, papa Arman sudah menunjukan sifat tegas dan galaknya, namun auranya belum sedingin ini.
Cilla sempat bergidik dibuatnya.
“Belum, Om,” sahut Cilla pelan. “Masih menunggu ijin dari papi.”
“Kamu pikir hanya papi kamu yang tidak setuju kalau sampai kalian balik lagi ? Mamanya Arjuna mungkin sudah memberikan lampu hijau, tapi sebagai ayahnya, Om juga tidak setuju kalian kembali menjalin hubungan lagi.”
Cilla tercengang mendengar ucapan papa Arman yang sedikit keras.
“Bukankah kamu sendiri yang minta supaya kami menerima keputusanmu membatalkan pernikahan kalian bahkan memutuskan hubungan kalian bedua ?”
Cilla menunduk dan mengela nafas. Kedua tangannya saling meremat. Rasanya malu dihadapkan pada situasi seperti ini sampai Cilla tidak tahu harus menjawab apa.
“Bahkan kamu tidak mempertimbangkan bagaimana kesedihan yang mama Arjuna rasakan saat kamu menemui kami di restoran. Dan dalam waktu sesingkat itu kamu mau menjalin hubungan lagi sama Arjuna dan dengan mudahnya bilang kalau keputusan kamu waktu itu adalah satu kesalahan ?”
Deg
Ungkapan kekecewaan papa Arman begitu menohok hati Cilla. Tidak terpikirkan olehnya kalau perbuatannya itu sempat menyakiti mama Diva.
“Maafkan Cilla, Om. Maaf karena sudah membuat Tante Diva terluka dan Om Arman kecewa. Maaf karena Cilla belum cukup dewasa untuk berpikir panjang sebelum mengambil keputusan. Ternyata rasa cinta Cilla belum cukup untuk melihat kondisi Mas Juna dari sisi yang berbeda, Cilla hanya melihatnya dari sisi Cilla saja.”
“Jadi tolong kamu sekarang mengerti dengan posisi Arjuna. Papimu sendiri sudah berkeras hati untuk tidak akan pernah menerima kalau kalian ingin kembali menjalin hubungan. Sebagai seorang ayah, Om juga tidak ingin anak Om semakin terluka. Tolong jauhi Arjuna kalau memang kamu mencintainya dan jadilah anak yang baik untuk papimu. Apalagi saat ini papimu lebih membutuhkanmu, siapa tahu dengan memberinya banyak kebahagiaan, papi lebih cepat sembuh.”
Cilla menunduk dan mengangguk pelan. Hatinya benar-benar tercubit dengan banyak ucapan om Arman kali ini. Cilla berpikir mungkin inilah yang dirasakan oleh tante Diva saat Cilla tetap berkeras hati mengembalikan kalung pemberian tante Diva dan menyerahkan cincin pertunangannya dengan Arjuna.
Sesakit inilah yang dirasakan oleh tante Diva saat Cilla tetap berkeras hati memanggilnya tante meski wanita itu memintanya tetap memanggil mama sekalipun tidak ada lagi jalinan calon menantu dan mertua di antaara mereka.
“Terima kasih atas semua kebaikan yang pernah Om dan Tante berikan untuk Cilla. Maaf kalau akhirnya Cilla mengecewakan Om dan Tante. Cilla pamit, Om.”
Cilla beranjak bangun dari sofa yang ada di ruang kerja papa Arman dan membungkukan badannya sebelum berjalan meninggalkan ruangan.
“Pak Mino akan mengantarmu pulang. Om sudah memintanya menunggu di lobby.”
“Terima kasih, Om,” sahut Cilla sambil kembali membungkukan badannya sekilas.
Terlihat beberapa kali Cilla menghela nafas saat berjalan gontai menuju lobby. Menyadari dirinya belum cukup dewasa untuk menghadapi persoalan hidup yang sebenarnya.
Selama ini Cilla hanya berusaha tegar dan menerima semuanya seolah baik-baik saja. Cilla tidak mampu melawan kenyataan kalau usianya masih muda belia, belum cukup dewasa untuk melihat banyak hal di luar lingkupnya. Cilla berharap pengalaman ini akan mampu mendewasakan dirinya dan berakhir dengan kebahagiaan.
**
Cilla dan Arjuna berdiri di lobby yang berbeda, satu di gedung Darmawan Grup dan satunya lagi di gedung milik PT Indopangan.
Saat ini posisi keduanya sama-sama berdiri tegak di pinggir lobby dan menghela nafas lalu menghirup dalam-dalam udara sore yang tidak terlalu panas hari ini.
Menyadari kalau perjuangan cinta mereka tidaklah mudah. Namun selama niat itu berujung kebaikan, semua usaha yang mereka lakukan pasti akan berakhir dengan baik juga.
Cilla dan Arjuna sama-sama kembali menghela nafas panjang dan memberi semangat pada diri mereka masing-masing hanya dengan satu kata “ SEMOGA “.