
Arjuna menghentikan mobil di depan rumah sesuai dengan instruksi Cilla. Ternyata di gerbang sudah menunggu Bang Dirman dan Bang Toga.
“Eh pulangnya sama bapak guru,” ujar Bang Dirman yang terlihat lega saat melihat Arjuna di balik kemudi.
“Takut saya nyeruduk kebo, Bang ?” ujar Cilla sambil tertawa dengan posisi melongok dari jendela Arjuna yang terbuka.
“Masih untung nyeruduk kebo, bisa ganti uang. Nah kalau nyeruduk cowok ganteng terus langsung disuruh nikah kan repot,” celetuk Bang Toga yang berdiri di dekat Bang Dirman.
Keduanya memang selalu menunggu dengan hati deg deg plus kalau Cilla membawa mobil sendiri kemana-mana. Bukan karena gadis itu belum mahir menyetir, tapi belum ada surat ijin mengemudi dan usianya juga belum tujuhbelas tahun.
“Hari ini memang dugaan Bang Toga tepat,” Cilla memberikan jempolnya. Posisi mobil masih belum sepenuhnya masuk ke halaman. “Hari ini noni nyeruduk cogan,” Cilla melirik ke arah Arjuna yang langsung memutar bola matanya.
“Langsung disuruh kawin nggak, Non ?” tanya Bang Toga sambil terkekeh.
“Nikah Toga, nikah. Bukan kawin dulu baru nikah,” ujar Bang Dirman sambil menoyor temannya itu.
“Nggak tahu nih,” Cilla melirik ke arah Arjuna yang menoleh ke arahnya. “ Gimana Mas Juna langsung disuruh nikah atau kawin nggak ?” tanya Cilla sambil terkekeh.
“Belum minta restu, Bang,” sahut Arjuna sambil tersenyum.
Kedua pria berbadan besar yang berdiri dekat gerbang itu pun tertawa.
“Kalau kita berdua langsung merestui, Pak,” ujar Bang Dirman. “Cocok banget bapak sama Non Cilla,” Bang Dirman memberikan jempolnya.
Cilla tertawa dan memberi isyarat supaya Arjuna membawa masuk mobil lalu melambaikan tangan pada Bang Dirman dan Bang Toga.
Keduanya pun turun sampai depan teras. Arjuna mengernyit melihat rumah Cilla. Secara ukuran sedikit lebih kecil daripada rumah keluarganya. Tapi yang menjadi perhatiannya, rumah ini berbeda dengan rumah yang pernah didatanginya bersama Luki saat mengikuti Luna waktu itu.
Setelah dipikir-pikir, lokasi rumahnya pun berbeda. Rumah lama milik keluarga Cilla berada di komplek yang terbilang berisi rumah-rumah mewah.
“Masuk, Pak,” Cilla mempersilakan Arjuna masuk. Ia kembali menoleh saat membuka pintu kayu, Arjuna masih bergeming di tempatnya.
“Kok bapak malah bengong ? Aman kok, nggak ada anjing galak,” ujar Cilla sambil tertawa.
Cilla mengerutkan dahinya saat Arjuna tetap diam malah sekarang melipat kedua tangannya di depan dada.
“Kamu ngajak saya kemari sebagai guru privatmu atau sebagai pacar ?” tanyanya dengan raut wajah yang jangan ditanya galaknya. Belum lagi mode juteknya yang siap menjawab setiap ucapan Cilla dengan nada ketus.
Cilla langsung nyengir kuda sambil menangkup kedua tangannya.
“Maaf, lidahnya baru masuk TK, belum lancar baca tulisan Mas Juna.”
“Makanya sekolahnya yang benar, jangan lancarnya naik pohon mangga di samping sekolah buat menghindar hukuman pacar nggak kesampaian,” ketus Arjuna sambil melengos.
“Iiihh siapa lagi pacar nggak kesampaian ? Jovan maksud bapak ?” ujar Cilla dengan nada kesal dan wajah cemberut.
“Jadi saya datang sebagai guru atau pacar kamu ?” tegas Arjuna.
“Terserah anda deh,” sahut Cilla ketus. “Saya mau mandi dulu biar nggak panas jadi gampang emosi.”
Tanpa mempedulikan Arjuna yang masih berdiri di teras, Cilla masuk ke dalam tanpa menutup pintu. Arjuna menggerutu, entah kenapa ia merasa pacar kecilnya ini lagi dalam mode sensitif. Jarang-jarang Cilla langsung tersulut emosi padahal baru berbincang pendek dengannya.
Ternyata Cilla masih peduli padanya, karena tidak lama kemudian terlihat Bik Mina keluar dan menyapanya. Bukan hanya dipersilakan duduk di ruang tamu, Arjuna langsung digadang masuk ke dalam dan menunggu Cilla di ruang tengah. Ruang yang luas tanpa pembatas terbagi atas sofa untuk menonton TV dan di sisi kirinya ada meja makan untuk delapan orang.
Arjuna melihat-lihat foto yang dipajang di atas atas bufet, di bawah TV yang dipasang menggantung di dinding.
Sederetan foto Cilla di masa kecil, di antaranya dalam gendongan atau dipangku oleh mami Sylvia.
Wajah keluarga bahagia itu hanya terlihat sampai usia Cilla sekitar 5 atau 6 tahun, sisanya hanya satu foto Cilla berdua dengan papi Darmawan dengan latar belakang Menara Tokyo yang terletak di Taman Shiba, Tokyo, Jepang.
Arjuna jadi teringat dengan cerita Cilla kalau liburan pertama dan terakhirnya dengan sang papi adalah saat kelas 8, dimana ia diajak ke Jepang tetapi malah liburan dengan keluarga teman papinya.
Sekitar 30 menit kemudian, Cilla turun dengan wajah lebih segar dan mengenakan celana selutut dengan kaos oblong bergambar Mickey Mouse, tokoh kartun kesukaan Cilla.
“Nggak jadi pulang ?” Cilla berdiri di belakang Arjuna yang sekarang sedang melihat koleksi piala Cilla di dalam lemari kaca.
“Nanti kamu nangis kalau ditinggal pulang sama pacar,” sahut Arjuna tanpa menoleh. Matanya masih asyik edang membaca tulisan yang tertera di masing-masing piala dengan kedua tangannya di belakang pinggang.
“Cilla udah lapar nih,” rengeknya dengan suara manja.
“Tumben,” ujar Arjuna sambil mencebik. “Sejak kapan bisa berprilaku seperti anak perempuan normal ?” ledeknya.
“Katanya pacar, masa nggak boleh manja ?” Cilla mengerjap dengan mata puppy eyesnya.
Arjuna kembali mencibir dan melewati gadis itu menuju meja makan yang sudah terlihat dari tempatnya beridir. Tangannya masih tetap ditautkan di belakang, membuat Cilla langsung melotot dan gerakan tangannya mengepal di udara , ingin meninju Arjuna.
“Kamu duduk di sini,” Arjuna memberi isyarat supaya Cilla duduk persis di sebelahnya padahal Bik Mina sudah menyiapkan dua piring dengan posisi duduk berseberangan.
“Tapi Cilla lebih suka duduk berhadapan kalau sedang makan berdua,” tolak Cilla.
“Aku suka makan udang rebus, tapi malas mengupasnya. Jadi sebagai pacar yang baik, tugas kamu mengupasnya untukku. Dan posisi terbaik adalah duduk di sebelahku biar tidak perlu melempar udang yang sudah dikupas,” ujar Arjuna tegas dan tak terbantahkan.
Arah mata Arjuna fokus menatap tajam ke arah Cilla dan memberi isyarat supaya gadis itu menurut. Sambil mengomel Cilla menurut juga, membawa piring yang sudah disediakan Bik Mina dan duduk di sebelah Arjuna. Bik Mina dan beberapa pelayan yang berdiri dekat dapur terlihat tertawa perlahan. Mereka senang akhirnya Cilla tidak lagi makan sendirian.
Bukan sekedar perintah mengupas kulit udang saja, Arjuna dengan gerakan matanya memberi isyarat supaya Cilla menuangkan nasi dan mengambilkan lauk untuknya.
“Kamu sekarang pacar aku, kan ?” Arjuna menatap Cilla sambil mengangkat kedua alisnya. “Habis jadi pacar, siap-siap jadi istri. Nah mulai sekarang, harus tahu bagaimana cara melayani suami di meja makan.”
“Haiss Pak Arjuna Hartono… kita baru aja dua minggu pacaran udah berharap saya belajar jadi istri yang baik. KTP aja baru 3 bulan lagi punya, udah disuruh belajar beginian. Ogah lah saya kalau begini caranya.”
Cilla yang ngambek langsung duduk di kursinya dan melipat kedua tangan di dada. Mulutnya jangan ditanya, sudah persis seperti anak bebek.
“Jadi mau putus aja ?” tanya Arjuna sambil menyenderkan tubuhnya ke kursi, sedikit menjauh dari meja makan. “Mau balik status guru dan murid aja ?”
Cilla menghela nafas sambil cemberut. Mulutnya pengen jawab iya, tapi hatinya tidak rela. Akhirnya ia bangun, mengambilkan tempat nasi yang ada di sisi kirinya dan mengambilkan untuk Arjuna.
Pria itu menertawakan Cilla dalam hatinya dan bersorak akhirnya bisa juga mengalahkan gadis cerewet dan pemberontak ini. Wajah Arjuna masih dalam mode jaim tanpa senyuman. Matanya melihat pergerakan Cilla, yang mengambilkan sayur setelah nasi dituang di atas piringnya.
“Mas Juna mau apa lagi ?” Cilla menoleh ke arah Arjuna masih dengan wajah masam.
Arjuna hanya menggerakan mata dan dagunya menunjuk pada menu udang rebus yang tersaji di depannya.
Cilla kembali menggerutu dan duduk di kursinya. Ia menarik piring yang berisi udang rebus dan mulai mengupasnya untuk Arjuna. Setelah potongan yang kelima, Arjuna menyuruhnya berhenti dan gantian mengambilkan sayur untuk Cilla.
“Dengan senang hati aku juga akan melayani kamu,” ujar Arjuna dengan nada datar. “Mau pacaran tapi sukanya ngambek melulu,” cebiknya.
“Habisnya Pak Juna..” Arjuna langsung memasukkan sepotong udang rebus ke dalam mulut Cilla.
“Panggil bapak lagi di luar sekolah, hukumannya satu ciuman,” tegas Arjuna.
Cilla menggigit udang dan meletakkan sisanya di atas piringnya sendiri lalu mengunyahnya dengan tergesa.
“Mana bisa begitu. Itu curang namanya, nggak fair. Saya yang rugi dicium-cium terus sama Pak.. .eh Mas Juna,” protes Cilla dengan wajah cemberut.
“Kenapa nggak fair ?” Arjuna mengangkat sebelah alisnya. Ia merubah posisi duduknya menghadap ke arah Cilla.
“Kalau saya salah, Mas Juna cium saya… Nanti lama-lama bibir saya bisa tipis kalau sering-sering terpeleset nyebut,” sahut Cilla dengan bibir mengerucut.
“Dasar anak bebek, sukanya disosor,” Arjuna menyentil kening Cilla sambil tertawa mengejek.
“Memangnya aku bilang satu ciumannya di sini ?” Arjuna menunjuk bibir Cilla. “ Ciuman kan bisa dimana saja. Di pipi, di kening, ya di bibir juga, tapi bisa juga cium tangan, kan ? Katanya belum 17, tapi pikirannya udah 21 plus plus,” cibir Arjuna sambil tertawa.
“Ya namanya pacaran….”
“Siapa yang pacaran ?” suara berat itu memotong percakapan mereka. Keduanya langsung menoleh dan Arjuna langsung membelalakan matanya.
Arjuna bergegas bangun dari kursi dan berdiri di sampingnya.
“Selamat malam Pak Darmawan,” sapa Arjuna sambil membungkukan badannya sedikit.
“Papi,” panggil Cilla sambil mengernyit. “Tumben jam segini sudah sampai rumah ?”
“Memangnya ada aturan jam berapa papi boleh pulang ? Kayak jam besuk di rumah sakit ?” sahut papi Darmawan sambil tertawa pelan.
Pria baya itu berjalan ke arah meja dan duduk di bangku ujung kanan berdekatan dengan Arjuna.
Pak Darmawan juga mempersilakan Arjuna untuk duduk kembali di kursinya.
“Kamu sudah lama menjadi guru les Cilla ?” tanya Pak Darmawan sambil menggeser posisi duduknya agar Bik Mina bisa meletakkan peralatan makannya.
“Siapa yang les sama Mas Juna ?” tanya Cilla.
“Mas Juna ?” Pak Darmawan mengerutkan dahinya mendengar panggilan Cilla pada gurunya.
“Sejak kapan kamu nggak sopan begitu, Cilla ?” Pak Darmawan menautksn kedua alisnya.
“Masa kamu memanggil guru kamu dengan sebutan mas ? Biarpun di luar sekolah, ada baiknya kamu tetap memanggil Pak Arjuna,” nasehat Pak Darmawan sambil tersenyum pada putrinya.
Pak Darmawan mulai menyendok sayur yang ada di dekatnya.
“Papi nggak mau nasi ?” Tanya Cilla dengan tangan yang sudah memegang mangkuk nasi.
“Papi sudah sempat makan sambil meeting tadi. Tapi rasanya tidak sopan kalau tidak menemani tamu datang,” sahut Pak Darmawan sambil tersenyum menatap Arjuna.
Cilla tertawa canggung, dia bingung bagaimana harus menjelaskan pada papinya yang datang mendadak begini.
“Jadi kamu mulai memberi Cilla les tambahan ?” Tanya Pak Darmawan sambil mulai menikmati makanannya.
“Papi,” ujar Cilla. “Cilla nggak les dengan Pak Arjuna, Sebenarnya Pak Arjuna datang kemari….” Cilla masih bingung menjelaskan situasinya saat ini.
“Saya datang kemari bukan sebagai gurunya Cilla, Pak Darmawan. Maaf sebelumnya,” Arjuna menjeda sambil menatap Pak Darmawan yang menautkan alisnya menunggu ucapan Arjuna.
“Maaf kalau kami ini punya hubungan khusus atau singkatnya kami pacaran,” ujar Arjuna tanpa terbata.
Ucapan Arjuna membuat Cilla tercengang dan menatap pacarnya dengan mata membelalak, begitu juga dengan Pak Darmawan yang terkejut mendengar pengakuan guru kontrak di sekolah miliknya ini. Tangannya urung menyuap lauk yang sudah ada di sendoknya.
Arjuna hanya tersenyum sambil menatap Pak Darmawan dengan wajah yang dibuat setenang mungkin, tanpa rasa gugup dan emosi yang berlebihan.
Padahal telapak tangannya langsung dingin plus debaran jantungnya juga semakin kencang dan tidak beraturan.
Arjuna berharap pemilik sekolah yang saat ini berada di depannya sebagai papi kekasihnya, tidak akan melihat bagaimana kencangnya dada Arjuna berdegup dan betapa cemasnya hati Arjuna kalau sampai hubungan mereka tidak direstui.