MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
MCPG 2


Arjuna baru saja keluar dari kamar mandi saat mendengar Cilla sedang mengomel sambil berbicara di handphone tapi bukan miliknya sendiri.


”Siapa ? Luna ?” tanya Arjuna menghampiri istrinya yang cemberut.


“Kok tahu ? Sudah sering dia nelepon Mas Juna ?” mata Cilla menyipit, menatap Arjuna dengan curiga tapi suaminya itu malah tertawa.


”Siapa lagi yang bisa bikin anak bebek kesayangan Mas Juna cemberut begini kalau bukan para ulat bulu dan saat ini cuma Luna yang berani menghubungi Mas Juna.”


Arjuna masih tertawa dan dengan gemas mencubit kedua pipi Cilla . Tidak tahan melihat bibir istrinya mengerucut, Arjuna langsung memberikan ciuman di bibir manis itu.


“Cilla masih kesal nih !” gerutunya saat Arjuna melepaskan ciumannya.


“Ingat kalau Cilla lagi hamil. Memangnya Luna kenapa lagi ?”


“Alasannya nggak punya nomor handphone Cilla makanya dia hubungi Mas Juna. Kalau memang niatnya mau bicara sama Cilla kan tinggal kirim pesan ke Mas Juna dan minta nomor Cilla, nggak usah ngomong panjang lebar segala.”


“Ya udah, Cilla udah kasih nomor Cilla ke dia ?” Cilla mengangguk masih dengan wajah cemberut.


“Kalau begitu biar Mas Juna blokir dulu nomor Luna.”


Cilla menyerahkan handphone pada suaminya hang langsung memblokir nomor Luna. Ada satu pesan masuk yang belum terbuka tapi Arjuna mengabaikannya.


“Cilla udah janjian sama Luna mau ketemu di rumah sakit. Dia bilang Tante Sofia dirawat di ICU.”


“Jangan gegabah mengambil keputusan, nanti beritahu dulu sama Mas Juna persoalan yang sebenarnya.” Cilla mengangguk dan melewati Arjuna.


“Mau kemana ?” Arjuna menahan lengan Cilla.


“Mau ambil kemeja buat Mas Juna. Kelamaan nggak pakai baju nanti masuk angin.”


“Nanti aja pakai kemejanya.” Arjuna menarik Cilla ke dalam pelukannya.


“Eh Cilla belum mandi, baru sikat gigi doang.”


“Nggak apa-apa, wanginya masih tetap seksi. Siapa suruh pagi-pagi sudah manyun begitu, bikin Mas Juna jadi gemas. Cilla harus tanggungjawab.”


“Kebiasaan !” sungut Cilla namun tangannya langsung merangkul leher Arjuna.


“Kebiasaan baik untuk menyenangkan istri, lagian dedek bayinya minta dibesuk juga.”


“Haaiissss.”


Cilla langsung membalas ciuman Arjuna yang selalu penuh semangat seperti biasanya. Untung saja sekarang Sean tidak lagi tidur satu kamar dengan mereka.


*****


Sekitar jam 2 siang Cilla sampai di rumah sakit. Luna sudah duluan, duduk di depan ruang ICU. Cilla baru memperhatikan kondisi Luna yang tampak kuyu dan tidak lagi glamor seperti dulu tapi masih tersisa sikap sombongnya yang sudah mendarah daging.


Cilla tidak membesuk Tante Sofia di dalam ruang ICU karena dilarang oleh Arjuna, akhirnya Luna langsung mengajaknya menemui dokter.


Sambil menunggu dokter, Luna sempat menceritakan situasi yang dialaminya termasuk soal Raja dan kehamilannya. Cilla hanya menjadi pendengar, tidak ingin berkomentar apa-apa.


“Kamu sedang hamil juga ?”


“Iya, anak kedua.”


“Berapa bulan ?”


“Baru 8 minggu.”


“Arjuna agresif juga, ya,” ujar Luna sambil terkekeh. “Padahal dia adalah laki-laki yang paling kaku yang aku kenal.”


Cilla hanya tersenyum tipis, menjawab pertanyaan Luna dan enggan menanggapi omongan Luna.


“Anak pertama kalian umur berapa ?”


“Dua tahun lebih.”


“Kamu masih takut aku merebut Arjuna ? Jangan bilang kalau suamimu itu masih sama kebiasaannya, gampang luluh pada wanita yang memasang wajah memelas,” sindir Luna dengan tawa meledek.


Cilla hanya melirik dengan wajah tanpa emosi lalu kembali fokus ke handphonenya. Luna mengepalkan kedua tangannya dan wajahnya terlihat kesal, namun belum sempat mengeluarkan emosinya, suster memanggil mereka dan mempersilakan mereka berdua masuk.


Cilla hanya minta ijin merekam semua penjelasan dokter menggunakan handphonenya.


”Permintaan suami saya, Dok, supaya lebih jelas,” ujar Cilla sambil tersenyum.


“Tidak masalah,” sahut dokter itu sambil tersenyum.


Cilla pun mulai mendengarkan penjelasan dokter tanpa menanyakan soal kapan sebaiknya Tante Sofia dioperasi. Hingga 30 menit kemudian, keduanya keluar dari ruang praktek dokter.


“Apakah Mama bisa degera dioperasi, Cilla ?”


“Kedatanganku kemari untuk mengetahui apakah ceritamu benar atau tidak, bukan mengiyakan permintaanmu untuk membiayai operasinya. Jadi tolong jangan terlalu berharap banyak dulu. Lagipula…”


“Dasar wanita sombong !” pekik Luna hingga menarik perhatian pengunjung dan petugas medis yang ada di dekat mereka.


“Tidak usah mencari dukungan seperti itu,” sinis Cilla tanpa rasa khawatir dinilai buruk oleh orang-orang yang tengah menatap mereka.


“Kamu lupa bagaimana Mama membesarkanmu seperti anak kandungnya sendiri ? Sekarang setelah menjadi wanita kaya kamu tidak peduli lagi padanya.”


Luna masih sengaja bicara dengan suara yang tinggi dan keras membuat Cilla menghela nafas beberapa kali.


Caramu belum berubah dari dulu sampai sekarang. Dasar tidak kreatif, batin Cilla.


“Kamu pikir sikapmu itu bisa membuatku malu dan langsung memenuhi permintaanmu ? Asal kamu tahu saja Luna, aku tidak peduli dengan pandangan orang tentangku saat ini karena mereka hanya menilai apa yang mereka lihat. Jangan salahkan aku kalau membuatmu lebih malu daripada ini semua karena aku punya bukti-bukti yang kuat untuk membuat orang bisa melihat siapa Luna sebenarnya,” ujar Cilla dengan tenang namun tegas.


“Jadi kamu merekam juga ceritaku tadi ?” sindir Luna dengan senyuman sinis.


“Tidak,” Cilla menggeleng. “Masih lebih menarik cerita dongeng sebelum tidur yang biasa kubacakan untuk anakku daripada cerita hidupmu yang penuh dengan drama. Aku tidak berminat menyimpannya dalam handphoneku, menghabiskan memori saja,” ujar Cilla sambil tertawa pelan.


“Kamu…” tangan Luna sudah terangkat namun Cilla bergeming di tempatnya dan menatap Luna dengan tajam.


“Berani kamu menyentuh istriku, jangan harap anakmu bisa lahir di luar penjara !”


Cilla menoleh dan wajahnya langsung berbinar begitu melihat Arjuna berdiri di belakangnya bersama Tino.


Luna menurunkan tangannya dan mengepalkan keduanya di samping tubuhnya.


“Sudah selesai ?” Arjuna langsung menggenggam jemari Cilla.


“Sudah,” Cilla mengangguk sambil tersenyum.


“Hai Om Tino !”


“Halo juga anak bebek,” sahut Tino sambil menaikturunkan alisnya membuat Cilla tertawa pelan.


“Masih mau coba-coba ?” tahya Arjuna sambil melotot menatap asistennya.


“Kenapa ?” Cilla mengerutkan dahi, menatap Arjuna dan Tino bergantian.


“Suami posesifmu itu sudah mematenkan sebutan anak bebek adalah panggilan kesayangannya untuk kamu. Tidak ada yang boleh memanggil kamu begitu,” sahut Tino sambil tertawa.


“Duh romantis banget sih,” Cilla malah bergelayut manja pada Arjuna membuat Luna mencebik lalu membuang muka.


“Kita pulang sekarang !” Arjuna hanya menoleh sekilas ke arah Luna dan tanpa bicara apa-apa, ia membawa Cilla pergi.


“Ternyata elo belum berubah juga, ya,” sindir Tino sambil tersenyum sinis sebelum meninggalkan Luna.


Luna menggeram dan kedua tangannya masih mengepal. Ia sempat melirik ke sekitar situ dimana orang-orang masih menatapnya bahkan beberapa di antaranya mulai kasak kusuk.


Kesal dengan situasi yang harus dihadapinya, Luna pun memilih meninggalkan rumah sakit tanpa mampir membesuk mama di ruang ICU.