
“Loh, Cilla mana Rud ? Kamu nggak jadi ajak dia ?” tanya Tante Siska saat dilihatnya hanya papi Rudi dan om Rio yang sudah berpakaian rapi.
”Aku nggak jadi ajak dia bertemu dokter,” jawab papi Rudi sambil menghela nafas.
“Tapi Rud, apa kamu lupa tujuan utama mengajak Cilla kemari ?” tante Siska langsung duduk di sebelah suaminya berseberangan dengan papi Rudi.
“Cilla sedang kacau saat ini. Dia sedikit tertekan soal hubungannya dengan Arjuna,” sahut papi Rudi sambil meneguk air putihnya.
Pagi ini papi Rudi memang tidak menikmati sarapan bahkan segelas teh, hanya air putih, sebagai syarat persiapan sebelum melaksanakan serangkaian tes kesehatan.
“Memangnya ada masalah apa lagi antara Cilla dan Arjuna ? Apa mereka terancam putus ?” tanya Tante Siska dengan wajah penasaran.
“Sepertinya kamu harus tanya pada anakmu,” sahut papi Rudi sambil menatap ke arah Theo yang baru saja keluar dari kamar dengan muka bantalnya.
Tante Siska langsung menoleh ke arah Theo dengan tatapan galak. Sepertinya ia sudah siap untuk memarahi putra tunggalnya itu jika memang benar kalau Theo lah penyebab gagalnya papi Rudi bicara dengan Cilla.
“Apa yang kamu lakukan pada Cilla ?” tanya Tante Siska dengan nada galak saat Theo sudah berdiri dekat meja makan. Bahkan pria itu belum sempat memberikan ucapan selamat pagi.
“Nggak diapa-apain. Memangnya kenapa, Mi ? Sekarang anaknya kemana ?”
Dengan wajah tidak bersalah, Theo malah balik bertanya sambil mengedarkan pandangannya mencari Cilla.
“Cilla ijin olahraga ke taman dekat sini,” tutur papi Rudi seolah mengerti maksud tatapan Theo.
“Kamu bicara apa sama Cilla soal Arjuna ?” tanya tante Siska kembali dengan suara galak.
Theo mengernyit sambil merapikan rambutnya dengan jari.
“Aku nggak bicara banyak,” sahut Theo lalu meneguk air putih yang baru dituangnya. “Kemarin ini Cilla sempat galau karena Arjuna hanya membalas singkat pesan yang dikirimnya. Aku bilang ya memang begitu kesibukan Arjuna dan ini semua belum seberapa karena saat ini pekerjaan Juna hanya membantu om Arman. Kalau sudah kembali jadi CEO, kesibukannya sudah pasti akan lebih daripada sekarang.”
“Pasti ada yang salah dengan cara kamu menyampaikannya pada Cilla,” gerutu tante Siska dengan wajah kesal.
“Cilla sangat cemas memikirkan ucapan kamu itu, Theo,” ujar papi Rudi dengan santai. “Dia ketakutan kalau Arjuna terlalu sibuk, Cilla akan sendirian lagi.”
“Tapi yang aku sampaikan pada Cilla adalah kenyataan, Om. Aku nggak mau Cilla hidup dalam angan-angannya punya pacar seperti di film-film atau cerita yang tetap punya banyak waktu di tengah tanggungjawab Juna sebagai pemimpin perusahaan. Apalagi kalau sampai nanti semua perusahaan Om harus diserahkan pada Cilla.”
“Maksud kamu kalau sampai Om meninggal dalam waktu dekat, semua usaha Om akan dibebankan juga pada Arjuna karena dia yang akan menjadi suami Cilla ?”
“Aku hanya membuat Cilla membuka matanya,” nada biacar Theo mulai sedikit meninggi.
“Theo !” tegur tante Siska sambil melotot.
“Tapi Mi…”
“Om tahu maksud kamu baik, dan apa yang kamu sampaikan pada Cilla tidak semuanya salah tapi juga tidak semuanya benar,” potong papi Rudi sebelum Theo mendebat kembali omelan tante Siska.
“Jangan kamu lupa Theo, usia Cilla masih sangat belia. Dalam angannya punya kekasih dan calon suami untuk anak seusianya memang seperti itu. Mungkin selama ini Cilla terlihat dewasa dibandingkan dengan umurnya, terlihat kuat dan mandiri, dan seolah tidak pernah terbebani dengan semua kenyataan hidup yang harus dia hadapi seorang diri karena Om malah lari sebagai seorang pengecut yang menghindari putrinya sendiri dengan alasan tidak ingin putrinya tersakiti. Tapi selama ini, Om justru membuat Cilla sering merasa terpuruk karena kesepian dan merasa sendirian.”
Papi Rudi menjeda dan menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.
“Semalam Cilla benar-benar menjadi dirinya sendiri. Gadis belia yang selama ini tumbuh seorang diri, harus mencari tahu banyak hal tanpa ada keluarga yang mendampingi. Lalu datang Arjuna seperti dewa penolong dan sumber kekuatan baru untuk Cilla, mengisi kekosongan yang dicarinya selama ini. Dan masalah usaha Om, semuanya sudah dipersiapkan bahkan jika Om harus menyerah dalam waktu dekat ini.”
“Bukan seperti itu maksudku, Om,” ujar Theo dengan wajah bersalah.
“Om berterima kasih atas perhatianmu pada Cilla dan segala niat baikmu itu. Tapi jangan pernah lupa kalau Cilla masih sangat muda, kehidupannya masih dalam dunia remaja. Bahkan dia baru akan punya KTP dalam dua bulan ke depan,” ujar papi Rudi sambil tertawa pelan.
“Maafkan Theo, Om,” lirih Theo dengan wajah penuh penyesalan.
“Tolong jangan usik Cilla dulu saat ini apalagi menyinggung soal Arjuna, dia lagi sensitif banget,” ujar papi Rudi sambil tertawa pelan. “Maklum lagi cinta-cintanya sama Arjuna alias bucin.”
“Kamu nggak tegur Arjuna karena tega membiarkan putrimu yang adalah calon istrinya sedih karena rindu ?” tanya tante Siska pada papi Rudi.
“Kalau soal itu biarkan Cilla belajar secara alami. Aku yakin Cilla mengerti makanya ia tidak ngotot menghubungi Arjuna.”
“Tapi Cilla sekarang baik-baik aja kan, Om ?”
“Tadi pagi dia ijin mau jalan-jalan sambil olahraga di sekitar sini. Kebiasaannya kalau hatinya sedang galau. Semoga nanti perasaannya sudah membaik saat pulang ke sini.”
“Jadi kita berangkat sekarang, Rud ? Sudah hampir jam setengah delapan,” om Rio yang sejak tadi hanya menjadi pendengar akhirnya buka suara dan beranjak bangun dari kursinya.
“Aku titip Cilla dulu, Sis,” papi Rudi beranjak bangun juga. “Jangan paksa dulu kalau memang Cilla tidak mau datang ke rumah sakit. Aku nggak bakalan tega juga untuk memberitahu soal kondisiku saat ini. Mungkin aku akan bicara saat Arjuna ada di sampingnya. Sepertinya saat ini hanya Arjuna yang bisa menjadi kekuatan Cilla. Aku tidak ingin Cilla malah semakin merasa terpuruk sendirian.”
“Kalau begitu minta ijinlah pada Arman untuk membiarkan Arjuna datang kemari,” ujar tante Siska.
“Biarkan Arjuna fokus dengan pekerjaannya dulu. Toh itu semua bukan sepenuhnya soal perusahaan Arman, tapi rencana kami berdua untuk melebur usaha yang ada.”
Dahi tante Siska dan Theo berkerut karena tidak mengerti maksud ucapan papi Rudi.
“Nanti saja ceritanya, Rud,” sela om Rio. “Terlalu panjang untuk dijelaskan pada mereka sekarang. Sudah semakin siang, jangan sampai kita terlambat sampai di rumah sakit.”
Sementara di taman yang tidak jauh dari apartemen, Cilla sedang duduk di atas bangku besi yang ada di situ. Ia mengeluarkan handphone dari saku celana trainingnya.
Hatinya merasa tidak nyaman karena Arjuna masih belum juga membalas pesannya. Terakhir Arjuna hanya mengirimkan pesan kalau ia sudah sampai di Semarang dengan selamat.
Ingin rasanya Cilla melakukan panggilan sampai Arjuna menjawabnya, tapi kecemasannya takut dianggap sebagai calon istri pengganggu dan tidak pengertian, membuat Cilla urung menelepon Arjuna lebih dulu.
Cilla menghela nafas, berharap apa yang dikatakan papi Rudi lah yang akan terjadi. Arjuna akan menjadi suami yang tepat untuk Cilla, yang akan selalu mempedulikannya dan menempatkan Cilla sebagai wanita spesial yang penting dalam hidup Arjuna.
Cilla mengutak-atik handphonenya dengan perasaan yang campur aduk. Tangannya mengganti nama panggilan Arjuna di handphonenya, bukan lagi bapaknya anak bebek tapi calon suami.
Baru saja menekan tombol simpan, matanya langsung berbinar saat nama itu muncul di layar handphonenya melakukan panggilan video.
Cilla merapikan anak rambutnya yang terjuntai di wajah dengan kondisi setengah basah dan mengatur senyuman agar tetap menawan di mata Arjuna meski belum mandi dan habis berolahraga.
Cilla menggeser ikon warna hijau dan mengangkat telepon hingga wajahnya terlihat di layar.
“Pagi Mas Juna,” sapanya dengan wajah sumringah.
“Kamu dimana ?” mata Arjuna mengernyit.
“Lagi di taman habis jalan-jalan pagi, olahraga.”
“Yakin ?” tanya Arjuna dengan alis menaut. “Sama siapa ?”
“Ya ampun Mas Juna, ini Cilla lagi di taman, tuh lihat banyak orang juga lagi pada olahraga,” Cilla menggerakan handphonenya untuk memperlihatkan Arjuna suasana di sekitar taman.
“Cilla nggak sendirian, banyak orang di sini,” ujarnya kembali dengan bibir manyun.
“Yakin sendirian ? Nggak janjian sama orang ?” tanya Arjuna kembali sambil memicing. “Bukan lagi selingkuh karena jauh dari Mas Juna, kan ?”
Nada jutek mulai terdengar dari ucapan Arjuna dan matanya masih menyipit memperhatikan Cilla.
“Mulai nethink, deh,” gerutu Cilla masih dengan wajah cemberut.
“Terus itu siapa ? Cowok yang daritadi berdiri di belakang kamu ? Kayaknya sedang menunggu kamu dan nggak pakai baju olahraga.”
Cilla langsung menoleh dan mendongak menatap sosok pria yang ternyata memang berdiri di belakangnya.
Terlihat Cilla terkejut dan mulutnya sedikit menganga karena tidak menyangka akan bertemu lagi dengan cowok ini.
“Cilla !” panggil Arjuna dengan nada galak.
“Eeehhh iya Mas Juna,” dengan sedikit gugup Cilla kembali menatap ke layar handphone sambil nyengir kuda.
“Kamu nggak lagi selingkuh, kan ?” wajah Arjuna menekuk, bibirnya ikut manyun dengan tatapan tajam memperhatikan Cilla.
“Sumpah nggak kok, Mas Juna,” Cilla mengangkat sebelah tangannya yang bebas. “Cintanya sama Mas Juna doang,” ucapan spontannya membuat Arjuna ingin tertawa tapi ditahannya demi menjaga image supaya tidak langsung jatuh di mata Cilla apalagi di depan cowok asing yang belum pernah ditemuinya.
Cilla menoleh saat pria di belakangnya menepuk bahunya.
“Kamu masih lama di sini ?” tanya pria itu dengan wajah datar. “Nggak mau berangkat bareng aku ?”
Mata Arjuna membelalak saat mendengar pria asing itu mengajak calon istrinya pergi.
“Cilla !” pekik Arjuna dengan wajah garang.
Cilla yang sempat melongo karena tidak mengerti dengan ucapan pria di depannya ini, sedikit terlonjak karena panggilan Arjuna yang cukup keras dan tedengar emosi.
Dia menoleh kembali menatap Arjuna sambil nyengir kuda.
“Kamu janjian pergi sama cowok lain ?”
Cilla menggeleng, ia sendiri tidak mengerti dengan pertanyaan yang dilontarkan pria itu.
“Terus ngapain tuh orang ada di situ ? Ngajak-ngajak kamu berangkat bareng segala. Memangnya kamu mau kemana hari ini ?” tanya Juna dengan nada jutek. “Kamu kenal kan sama dia ?”
Cilla mengangguk dengan wajah bingung mau menjawab apa.
Tiba-tiba pria itu mengambil handphone Cilla dan menghadapkan wajahnya di depan layar handphone. Arjuna langsung emosi dan tatapannya seperti tentara di medan perang.
“Apa kabar Arjuna Hartono ?” pria itu menyapa nama Arjuna dengan lengkap membuat Arjunamenyipitkan matanya, berusaha mengenali wajah yang ada di hadapannya sekarang.
Cilla terpaku di tempatnya dan meremas kedua jemarinya, berharap Arjuna tidak akan ngambek setelah ini.
“Nggak ingat sama gue ?”
Arjuna hanya diam saja masih dengan tatapan menelisik wajah di layar handphonenya. Tampang pria itu terlihat familiar, tapi Arjuna tidak tahu atau lupa siapa namanya.