
Cilla sedikit lega karena Arjuna batal menginap di rumahnya. Hari ini Cilla sudah berencana datang lebih siang supaya tidak ada kesempatan bagi Arjuna untuk menemuinya.
Cilla menautkan alisnya ? Apa tidak terlalu over pede mengatakan kalau Arjuna akan datang ke sekolah hari ini ?
Cilla menggelengkan kepalanya dan buru-buru beranjak dari kursi makan. Ia bergegas keluar setelah pamitan dengan Bik Mina. Bang Dirman sudah menunggunya di mobil.
**
**
Cilla bergegas turun menuju gerbang yang hampir saja ditutup oleh Pak Tukimin.
”Pak Tuki !” Cilla memekik dan memohon pada satpam itu untuk menunggunya. Pak Tukimin geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
Sudah lama Cilla tidak datang terlambat dan hanya anak pemilik sekolah itu yang memberikan panggilan khusus untuknya, Pak Tuki. Padahal semua guru dan siswa memanggilnya Pak Min.
“Terima kasih Pak Tuki,” sambil terengah-engah Cilla memegang kedua lututnya. Setidaknya dia tidak tertangkap basah masih di luar gerbang.
“Jangan lupa minum dulu, Non,” Pak Tuki tersenyum sambil membalas lambaian tangan Cilla yang melanjutkan langkahnya menuju gedung SMA.
“Mulai terlambat lagi ?”
“S**it” umpat Cilla dalam hatinya.
Baru hatinya senang karena belum melihat Bu Retno dan Devan, sang ketos baru berdiri di depan pintu masuk SMA, ternyata ada penjaga lain yang lebih mengerikan sudah menunggunya.
Cilla mendongak, meski sudah tahu siapa yang menegurnya. Matanya melirik ke samping, ternyata Devan juga sudah ada di sana, tapi tanpa Bu Retno.
“Mulai kangen masuk ruang BK lagi ?”
Cilla menghela nafas. Baru semalam pria ini memasang muka sedih dan mengucapkan kata maaf berkali-kali, pagi ini penampilannya berubah seratus delapanpuluh derajat.
Kedua tangannya di pinggang dan tatapannya galak seperti waktu pertama masuk ke dalam kelas sebagai guru baru.
“Saya belum terlambat !” protes Cilla dengan tatapan menantang. “Gerbang belum digembok sama Pak Tuki.”
Devan hanya diam saja, dia juga bingung harus bagaimana. Guru matematika ini mengajaknya menunggu anak-anak terlambat 3 menit lebih awal. Seharusnya Cilla memang belum masuk daftar anak terlambat.
“Selama guru dan ketua OSIS sudah berdiri di sini, maka murid yang baru sampai dinyatakan terlambat,” tegas Arjuna tanpa mengubah wajahnya.
Cilla mengeluarkan handphonenya dan langsung menyodorkannya ke depan wajah Arjuna membuat pria itu kaget dan memundurkan badannya.
“Masih kurang 1 menit Bapak Arjuna yang terhormat, jadi saya tidak terima kalau dimasukan dalam daftar anak terlambat !” Cilla balas melotot menatap Arjuna.
“Selama status kamu murid di sini, maka keputusan guru harus diterima, suka atau tidak !” Tegas Arjuna sambil mencondongkan badannya hingga wajahnya begitu dekat dengan Cilla.
Gadis itu langsung melotot. Wajahnya ikut memerah saat hembusan nafas Arjuna menerpa mukanya. Cilla kembali dalam mode bertahan dan bersiap hendak mengeluarkan jurus aikidonya, tapi Arjuna ternyata lebih sigap membaca bahasa tubuh calon istrinya ini dan menarik tangan Cilla.
“Loh Pak, mau dibawa kemana Cilla-nya ?” Devan yang sejak tadi hanya jadi penonton makin bingung dengan tindakan Arjuna.
“Kamu teruskan aja mengurus anak-anak terlambat, saya masih ada urusan dengan Cilla dan memberi hukuman buat anak yang suka melawan gurunya,” tegas Arjuna sambil menarik tangan Cilla yang terus berontak.
“Cilla nurut sama Mas Juna atau sekalian Mas Juna cium di sini biar heboh satu sekolah !” ancam Arjuna saat Cilla semakin keras berusaha melepaskan genggaman tangan Arjuna.
Akhirnya Cilla menurut dengan mulut menggerutu dan muka masam.
Sampai halaman belakang sekolah, Arjuna langsung memeluknya. Cilla hanya diam mematung, tidak menolak atau membalas pelukan Arjuna.
“Maafkan Mas Juna, Cilla. Mas Juna nggak akan bosan-bosannya meminta maaf sama Cilla sampai Mas Juna benar-benar dimaafkan.”
Arjuna melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Cilla.
“Sudah pernah saya katakan, meminta naaf dan memberi maaf terkadang mudah, tapi yang sulit adalah melupakan. Tolong beri saya ruang untuk meyakinkan diri kalau kebiasaan Bapak tidak akan berulang-ulang terjadi. Saya memang hanya anak kecil yang sepertinya hanya bisa merengek dan manja serta haus akan perhatian, tapi prinsip saya sama dengan orang-orang dewasa. Saya hanya mau menikah satu kali dengan pria yang saya cintai dan juga mencintai saya, bukan hanya cinta di mulut saja. Jadi saya membutuhkan waktu untuk memikirkan kembali permintaan orangtua.”
Cilla menghela nafas dan tersenyum getir. Perlahan ia meninggalkan Arjuna yang kali ini tidak menahannya.
Arjuna ikut menghela nafas berkali-kali, menatap punggung calon istri kecilnya yang semakin menjauh. Sepertinya perjuangannya kali ini tidak akan mudah.
*
*
Sekolah kembali dipulangkan jam 11 di hari ketiga semester dua ini. Secepat kilat Cilla meninggalkan kelas tanpa menunggu Febi dan Lili. Ia tidak mau bertemu dengan Arjuna lagi.
Namun rencananya gagal total saat mendapati Arjuna sudah berdiri di gerbang SMA yang memang hanya satu-satunya pintu keluar masuk.
Cilla masih berusaha menghindar dengan cara berbaur dalam kerumunan para siswa yang berjalan keluar, namun lagi-lagi Arjuna sudah mempersiapkan semuanya. Dengan sigap tangannya langsung menangkap pergelangan tangan Cilla.
Tanpa peduli dengan tatapan anak-anak SMA Guna Bangsa yang akhirnya mulai berbisik-bisik, Arjuna menggandeng jemari Cilla dalam genggamannya dan membawa gadis itu menuju parkiran mobil.
Cilla menghela nafas saat Arjuna membukakan pintu di samping pengemudi.
“Jangan coba-coba kabur kalau nggak mau lihat aksi nekad Mas Juna,” tegas pria itu sambil tersenyum mengancam. Cilla menatapnya dengan kesal dan bibir mengerucut.
Cilla menurut dan bisikan-bisikan para murid yang melihatnya diabaikan oleh Arjuna. Baginya tidak masalah jika satu sekolah tahu kalau ia ada hububgan khusus dengan Cilla.
Hubungan mereka sudah direstui oleh kedua orangtua dan statusnya saat ini bukan lagi guru kontrak di SMA Guna Bangsa. Surat pengunduran dirinya sudah disetujui oleh pihak yayasan dan biaya ganti rugi juga sudah dibayarkan.
Kehadiran Arjuna di sekolah saat ini adalah bentuk tanggungjawabnya sebagai guru kelas 12 yang akan membantu para siswa kelas 12 menjalankan ujian akhir.
“Kamu mau makan dimana ?” tanya Arjuna saat mobilnya sudah meninggalkan gerbang sekolah.
Cilla tidak menyahut hanya mengangkat kedua bahunya tanpa menatap Arjuna. Sejak tadi Cilla hanya memandang ke jendela samping.
Arjuna menghela nafas. Dan akhirnya bukan menuju ke restoran, Arjuna malah membawa Cilla ke rumah orangtuanya.
Sebelumnya Arjuna sempat mengirim pesan pada mama Diva, menyampaikan niatnya mengajak Cilla makan siang di rumah. Dengan senang hati mama Diva menanti kedatangan calon menantunya.
“Kok kemari ?” Cilla mengerutkan dahi saat Arjuna mulai membawa mobilnya masuk ke halaman rumah keluarganya.
”Kan Cilla bilang terserah, jadi Mas Juna ajak kemari sekalian Mama mau ketemu, mungkin membahas soal baju pengantin dan tema pernikahan kita,” sahut Arjuna sambil senyum-senyum.
Cilla hanya diam saja meski dalam hati memaki Arjuna yang ingin menjebaknya dalam situasi yang memaksanya harus berdamai dengan pria itu.
Cilla menurut mengikuti langkah Arjuna bahkan membiarkan pria itu menggandeng tangannya.
Cilla menyapa mama Diva yang ternyata masih sibuk mempersiapkan makan siang. Dengan cekatan, Cilla ikut membantu setelah cuci tangan. Meski belum mahir memasak, tapi membantu pekerjaan dapur sudah sering dilakukannya di rumah menemani Bik Mina.
Sekitar 30 menit Arjuna kembali ke ruang makan dan sudah berganti pakaian. Ia tersenyum saat melihat keakraban Cilla dengan mamanya.
Ternyata bukan hanya Cilla dan Arjuna yang pulang makan siang hari itu, tapi papa Arman juga pulang bersama Amanda membuat Cilla agak kaget dan merasa tidak nyaman. Mama Diva memang sengaja meminta suaminya untuk makan siang di rumah bersama Arjuna dan calon menantu mereka.
Perbincangan layaknya keluarga tidak membuat situasi hati Cilla lebih baik, apalagi ia sempat menangkap tatapan Amanda yang berbeda siang ini.
Beberapa kali Cilla mencoba mengajaknya ngobrol bahkan setelah makan siang berakhir, tapi hanya jawaban singkat yang Cilla dapatkan.
“Jadi sudah tentukan tema pernikahan kalian, Cil ?” Papa membuka percakapan saat mereka berkumpul di ruang tengah minus Amanda.
“Belum, Pa,” sahut Cilla sambil tersenyum. Cilla ingin pernikahan ini ditunda dulu, batinnya.
“Masalah tempat pesta, mungkin papa dan papimu yang akan memilih, sisanya bisa kamu diskusikan dengan Arjuna. Untuk masalah pakaian pengantin, kamu bisa ajak mama dan tante Siska.”
Cilla hanya mengangguk-angguk mengiyakan. Mama Diva yang melihat calon menantunya tidak nyaman membahas soal pernikahan, mengajak Cilla ke dapur untuk membuat kue. Cilla hanya tersenyum dan kembali mengiyakan.
Benar-benar masuk perangkap Pak Juna kalau begini kondisinya, gerutu Cilla dalam hati.
Dan akhirnya Cilla harus menghabiskan waktunya sampai makan malam di rumah keluarga Hartono. Namun sayangnya, ia tidak sempat berbincang dengan Amanda.
Dengan alasan ada tugas kelompok, Amanda pergi di sekitar jam 3 sore dan belum kembali sampai Cilla pamit pada kedua calon mertuanya.
“Terima kasih buat hari ini,” Arjuna meraih jemari Cilla saat mobilnya sudah terparkir di depan pintu tumah Cilla.
“Ya,” jawab Cilla singkat. Ia melepaskan tangan Arjuna dan bergegas membuka pintu lalu turun dari mobil.
Tidak ada tawaran untuk Arjuna mampir sekedar memperpanjang waktu kebersamaan mereka. Biasanya Cilla suka membujuknya turun dan ngobrol sebentar apalagi baru jam 9 malam dan besok adalah hari libur.
Cilla langsung masuk ke dalam rumah tanpa menunggu mobil Arjuna pergi, melewati Bik Mina yang membukakan pintu utama dan menatapnya penuh keheranan.
Arjuna hanya menganggukan kepala dari dalam mobil pada Bik Mina dan kembali melajukan mobilnya meninggalkan rumah keluarga Darmawan.
Arjuna sadar kalau sikap Cilla bukan karena sifat kanak-kanaknya tapi kesalahan Arjuna yang kurang peduli pada gadis yang berstatus calon istrinya hingga gadis itu meragukan ketulusan dan keseriusan cinta Arjuna padanya.
Arjuna tersenyum getir. Meski dalam situasi yang sedang tidak baik-baik saja, Arjuna menganggumi sikap Cilla yang masih bersikap biasa-biasa saja di depan kedua orangtua Arjuna. Itulah salah satu sifat Cilla yang membuatnya jatuh hati pada gadis itu,
Arjuna memandang lurus ke depan namun tidak sepernuhnya fokus pada jalan. Seperti ini rasanya jatuh cinta yang sesungguhnya, hatinya ternyata lebih sakit saat menyakiti orang yang dicintainya.
Semoga Cilla bisa memaafkan Mas Juna dan memberikan kesempatan untuk menjadi pria yang lebih baik lagi, batin Arjuna.