
Cilla mondar mandir dengan gelisah di depan ruang ICU. Sudah berkali-kali Cilla mencoba menghubungi Arjuna namun tidak ada satu pun panggilannya yang diangkat, begitu juga dengan nomor Tino.
Cilla menghela nafas panjang. Kekhawatirannya tentang papi sepertinya akan menjadi kenyataan. Saat bangun tidur siang, Cilla tidak menemukan Arjuna di kamar papi. Cilla yang sempat bermimpi buruk akhirnya memilih ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Kepalanya sedikit pusing karena teebangun tiba-tiba.
Saat mendekati papi yang masih tertidur di ranjangnya, Cilla sedikit panik saat merasakan tubuh papi yang dingin. Belum sempat menghubungi dokter Handoyo, dokter senior itu yang memang ingin mengunjungi papi sebelum praktek sore masuk ke dalam kamar.
Cilla akhirnya memilih duduk di depan ruang ICU menunggu kabar dari dokter Handoyo. Cilla masih berusaha menghubungi Arjuna yang belum juga menjawab panggilan Cilla.
Arjuna sendiri sedang menemui Tino untuk membahas pekerjaan penting berkaitan dengan urusan Grup Hotel Prisma di cafe dekat rumah sakit.
Tanpa sadar kedua pria itu menon-aktifkan dering telepon mereka karena sedang serius membahas masalah Riana yang masih terus memaksakan diri untuk menjalin kerjasama dengan Grup Hotel Prisma.
“Kayaknya gue harus balik ke rumah sakit, No.Udah kelamaan ninggalin Cilla,” ujar Arjuna setelah melihat jam tangannya.
“Masalah Riana akan gue pikirin jalan keluarnya,” sahut Tino sambil membalik handphonenya yang diletakkan dalam posisi tertelungkup.
“Jun, Cilla banyak missed call ke gue,” Tino memperlihatkan layar handphonenya. “Coba periksa handphone elo, pasti lebih banyak lagi.”
Arjuna yang sejak tadi menyimpan benda itu di saku celananya segera melihat handphone miliknya.
“Shit !” omel Arjuna pda dirinya sendiri dan langsung berdiri. “Tolong bayar bill-nya dulu, No. Papi dibawa ke ICU udah 30 menit yang lalu. Cilla pasti panik sendirian.”
“Ya udah cepetan sana !”
Arjuna mengangguk dan berlari menuju rumah sakit yang hanya berjarak 100 meter dari cafe. Bergegas Arjuna naik lift menuju ruang ICU.
Hatinya terenyuh melihat Cilla masih duduk seorang diri dengan kepala menunduk dan kedua kakinya yang bergerak bergantian. Ada rasa menyesal karena terlalu serius membahas pekerjaan, Arjuna sampai lupa waktu dan meninggalkan Cilla terlalu lama.
“Cilla sayang,” Arjuna berlutut di depan Cilla.
Arjuna tercengang saat melihat wajah Cilla mendongak tanpa air mata, malah menyunggingkan senyum.
“Maaf Mas Juna habis ketemu Tino membahas soal kerjaan. Mas Juna lupa kalau hp-nya masih di silent. Maaf…”
Cilla meletakkan jari telunjuknya di bibir Arjuna hingga pria itu tidak lagi meneruskan ucapannya.
“Nggak usah kebanyakan minta maaf, nggak ada hitungan harga grosir,” Cilla tertawa pelan membuat Arjuna mengerutkan dahi dan menelisik mata Cilla tapi ikut tersenyum juga.
“Papi kenapa ?” Arjuna pun bangun dan duduk di sebelah Cilla. Tangannya direntangkan sebelah dan merangkul bahu Cilla yang duduk bersandar.
“Cilla nggak tahu kenapa lagi. Habis cuci muka tadi, Cilla dekati papi ternyata badan papi pada dingin.”
“Kita doakan yang terbaik untuk papi, ya ?” Arjuna merengkuh Cilla ke dalam pelukannya.
“Cilla sekarang mengerti arti ikhlas dan pasrah Mas Juna. Saat melihat kondisi papi tadi, Cilla malah merasa bersalah kalau memaksa supaya papi terlihat baik-baik saja. Bukankah kalau kita mencintai seseorang maka kita akan ikut bahagia saat melihatnya bahagia sekalipun orang itu tidak lagi bersama dengan kita ?”
“Begitu yang pernah Mas Juna dengar,” sahut Arjuna sambil menyenderkan kepala di atas kepala Cilla yang bersender pada bahunya.
“Dan Cilla sayang banget… bukan sayang doang, tapi Cilla cinta eama papi dan mami,” Cilla tertawa pelan. “Kalau memang bertemu kembali dengan mami adalah kebahagiaan terbesar dalam hidup papi, Cilla rela, Cilla akan ikut bahagia melihat papi dan mami bisa sama-sama lagi.”
“Anak bebek kesayangan Mas Juna tambah dewasa, ya,” Arjuna mencium kening Cilla.
”Punya suami mantan guru ternyata bisa membuat istrinya cepat pintar soalnya dikasih pelajaran baru terus tiap hari,” sahut Cilla sambil terkekeh.
“Kecuali pelajaran di ranjang belum dipraktekan langsung,” Arjuna ikut tertawa pelan.
“Kan Mas Juna pernah bilang kalau urusan itu tidak perlu ujian jadi nggak perlu belajar juga.”
“Cilla beneran siap punya anak sekarang kalau dikasih sama Tuhan ?”
Cilla mengangkat kepalanya dan menatap Arjuna sambil mengerutkan dahi.
“Maunya punya anak pas Cilla tingkat dua. Kalau boleh… kalau boleh nih ya,” Cilla menatap Arjuna dengan puppy eyes-nya.
“Malam pertamanya sekarang nggak apa-apa, tapi punya baby-nya pas Cilla tingkat dua. Nggak perlu pas banget tingkat dua deh, pas akhir semester dua juga boleh.”
“Bukannya udah bilang sama papi, papa dan mama kalau dikasih Tuhan nggak masalah punya anak sekarang ?”
“Iya,” Cilla mengangguk sambil memasang wajah sendu. “Sebetulnya Cilla pengen banget menikmati dulu gimana jadi mahasiswa. Kalau punya anak, sudah pasti waktu, pikiran dan tenaga harus terbagi-bagi.”
“Iya Mas Juna ngerti dan kasih ijin, kok. Umur Cilla kan masih muda juga. Tapi nggak boleh ketagihan jadi mahasiswa doang ya, soalnya ada suami tersayang yang selalu merindukan pelukan istrinya.”
“Gombal deh,” cibir Cilla. Arjuna tertawa pelan.
Tidak lama dokter Handoyo keluar dari ruang ICU didampingi dokter Krisna dan seorang perawat.
“Bagaimana kondisi papi, Om ?”
Cilla dan Arjuna langsung beranjak bangun dan mendekati dokter Handoyo dan tim-nya.
Terlihat dokter Handoyo menghela nafas dan tersenyum getir.
“Tidak apa-apa jika memang sudah sulit, dok. Papi sempat pesan kemarin supaya jangan memaksa papi hidup dengan memasang berbagai alat bantu,” Cilla ikut tersenyum dengan wajah sedih.
“Sayang,” Arjuna merangkul bahu Cilla.
“Apapun yang bisa Om lakukan untuk papi, Cilla akan menyetujuinya,” Cilla kembali tersenyum meski wajahnya terlihat sedih.
“Cilla, Arjuna.”
Keduanya menoleh dan mendapati dokter Raymond didampingi dokter Steven baru saja datang.
“Sore Om, dokter Steven,” sapa Arjuna.
“Sore juga, Jun,” balas dokter Raymond sementara dokter Steven hanya menanggukan kepala sambil tersenyum.
Dokter Raymond menghampiri dokter Handoyo dan timnya membahas soal kondisi papi Rudi. Terlihat dokter Raymond menghela nafas panjang.
“Cilla sepertinya…”
“Nggak apa-apa, Om,” Cilla memotong ucapan dokter Raymond sambil tersenyum. “Tadi Cilla udah ngomong juga dengan Om Handoyo. Lakukan yang terbaik untuk papi dan tidak perlu memasang alat bantu yang tidak diperlukan sesuai permintaan papi.”
“Sudah menemukan arti kata pasrah, adik kecil ?” Steven mengacak poni Cilla sambil tertawa pelan. “Keren !”
“Tangan dikondisikan,” sindir Arjuna dengan wajah sebal.
Cilla yang baru sadar dengan reaksi Arjuna langsung bergerak mundur dan agak menjauh dari Steven lalu merangkul lengan Arjuna untuk menenangkan hati suaminya.
“Punya suami yang sabar mengajari Cilla dan selalu ada kalau Cilla butuhkan membuat Cilla jadi lebih cepat belajar, Kak Steven.”
“Kak Steven ?” Arjuna mengerutkan dahi sambil menatap Cilla yang malah terkekeh.
“Panggilan kalau lagi nggak di depan umum,” bisik Cilla dengan suara yang masih bisa didengar yang lainnya.
“Nggak om Steven aja ? Kan biasanya panggil teman-teman Mas Juna dengan sebutan om. Steven hanya lebih muda setahun dari Mas Juna. Apalagi Steven sudah punya anak juga, jadi cocok banget dipanggil om,” ujar Arjuna dengan wajah serius.
“Bener juga,” Cilla manggut-manggut.
Steven tertawa melihat ekspresi Arjuna, membuatnya teringat dengan sepupunya yang sebelas duabelas dengan Arjuna.
“Suami posesif,” ledek Steven dengan tawa mengejek membuat Arjuna mendengus kesal. Kalau suasana tidak sedang berada di depan ruang ICU, rasanya ingin menyahut ledekan Steven.
“Cilla suka dengan sikap posesifnya Mas Juna, Om Steven,” ujar Cilla sambil tertawa pelan membuat Arjuna menarik kedua sudut bibirnya.
“Om ?” dahi Steven langsung berkerut.
“Iya, om. Semua teman Mas Juna Cilla panggil om. Dan soal posesif, itu artinya Mas Juna cinta banget sama Cilla. Bener nggak Mas Juna ?”
Cilla mengedipkan sebelah matanya sambil menatap Arjuna langsung mengangguk setuju.
“Cilla, Arjuna, kalau mau tetap menunggu di kamar rawat di lantai 5 tidak masalah atau mau di lantai ini di tempat yang lalu ?” tanya dokter Raymond mendekati ketiganya setelah keluar lagi dari ruang ICU.
Sebelumnya didampingi dokter Handoyo dan dokter Krisna, dokter Raymond masuk ke dalam ruang ICU melihat kondisi papi.
“Gimana Mas Juna ?” Cilla menatap Arjuna.
“Di lantai ini saja, Om. Cilla nggak bakalan tenang juga kalau di bawah,” Arjuna yang menyahut.
Dokter Raymond memeritahkan perawat yang berdiri dekat mereka untuk menyiapkan ruangan yang akan dipakai Arjuna dan Cilla.
“Terima kasih, Om,” ujar Cilla sambil sedikit membungkuk.
“Kalau begitu kami beres-beres barang dulu, Om,” pamit Arjuna sambil menggandeng lengan Cilla.
“Papa ! Mama !” panggil Cilla dan Arjuna yang urung masuk ke dalam lift saat melihat papa Arman dan mama Diva keluar dari sana diikuti oleh Amanda
“Gimana papi kamu, sayang ?” Mama Diva langsung memeluk menantunya dan menepuk-nepuk punggung Cilla.
“Papi nggak sadarkan diri lagi, Ma. Tadi badannya dingin banget sebelum dibawa ke ICU.”
“Cilla yang sabar, ya,”’papa menepuk-nepuk bahu Cilla.
“Kakak ipar,” Amanda gantian memeluk Cilla setelah mama melepaskannl pelukannya.
“Panggil gue nama aja, napa ?“ protes Cilla dalam pelukan Amanda. “Rasanya aneh elo panggil kakak ipar begitu.”
“Bukannya memang elo kakak ipar gue ?” mata Amanda menyipit.
“Iya tapi panggil gue nama aja, lebih nyaman,” omel Cilla sambil mencibir. Amanda tertawa pelan.
“Kalian mau kemana ?” tanya papa Arman saat melihat anak dan menantunya masih berdiri di depan lift
“Mau balik ke kamar papi dulu, Pa. Mau beresin barang-barang. Malam ini kami tidur di lantai ini,” sahut Cilla.
“Suruh Amanda bantuin,” ujar mama Diva. “Daripada wa-an terus sama Jovan.”
“Iihh mama kayak bisa jauh dari handphone kalau lagi ditinggal papa keluar kota,” balas Amanda sambil mencibir.
“Kamu tuh ya, dibilangin orangtua pintar aja ngelesnya,” gerutu mama.
“Arjuna sama Cilla aja, Ma,” ujar Arjuna sambil memberi kode pada mama dan Amanda untuk tidak ikut naik ke kamar rawat papi karena ada yang ingin Arjuna bicarakan dengan Cilla.
Keduanya langsung masuk ke dalam lift yang membawa mereka ke lantai 5.
“Jangan berpura-pura tegar di depan Mas Juna. Keluarkan perasaan Cilla yang sebenarnya, jangan ditahan apalagi disimpan sendirian. Cilla udah nggak sendirian lagi sekarang, Cilla punya Mas Juna sebagai suami.”
Arjuna menangkup wajah Cilla saat mereka berdua sudah kembali ke kamar papi dirawat.
Cilla mengerjap dan menatap Arjuna dengan mata berkaca-kaca.
“Sebetulnya Cilla merasa takut, Mas Juna. Cilla takut ditinggal papi dan akan merasa sendirian lagi,” Cilla mulai terisak. “Cilla tahu udah ada Mas Juna, tapi Cilla takut sendirian karena tidak punya orangtua lagi.”
“Nggak apa-apa merasa takut,” Arjuna mengeratkan pelukannya dan mengusap punggung Cilla. “Wajar banget kalau Cilla takut akan menjadi yatim piatu. Tapi Cilla nggak bakal sendirian lagi. Sekarang aja kan selalu ada Mas Juna setiap kali Cilla mau bobo dan membuka mata.”
Arjuna merenggangkan pelukannya dan mengangkat dagu Cilla. Memberikan senyuman dan mengeluarkan saputangan untuk mengusap wajah anak bebek kesayangannya yang basah dengan air mata.
“Apapun yang Cilla rasakan, jangan pernah ragu untuk mengungkapkannya di depan Mas Juna. Mungkin Mas Juna bukan suami dan pria sempurna, tapi cinta Mas Juna tidak akan pernah berkurang, justru akan bertambah setiap harinya, dan itulah yang akan menyempunakan semua kekurangan itu.”
Cilla kembali meneteskan air mata dengan senyuman di bibirnya.
“Kalau Mas Juna laki-laki sempurna, Cilla akan merasa nggak berguna jadi istri. Terima kasih karena sudah menjadi suami yang menjadi segalanya buat Cilla.”
Cilla memeluk Arjuna dengan erat dan membenamkan wajahnya di dada Arjuna, menghirup aroma tubuh Arjuna yang selalu menenangkannya.
”Berusaha ikhlas dan pasrah bukan berarti tidak boleh merasa sedih karena kehilangan. Bukan berarti kita tidak boleh merasa takut menghadapi situasi yang tidak diharapkan.”
“Pak Guru memang selalu punya kalimat yang bisa meyakinkan muridnya,” ujar Cilla terkekeh.
“I love you anak bebek kesayangan Mas Juna,” Arjuna mengeratkan pelukannya dan mengecup kening Cilla.
“I love you juga Pak Guru,” balas Cilla sambil tersenyum.
Keduanya pun menyatukan bibir mereka dalam ciuman panjang yang penuh cinta.