
Cilla terkejut saat lengannya ditahan dari belakang. Cilla sedang berjalan sendiri menyusuri lorong menuju ruang dosen dimana Glen sudah menunggunya.
“Mas Juna !” Cilla terperanjat saat melihat suaminya benar-benar datang ke kampus bersama Tino.
Demi memenuhi permintaan istrinya yang tidak mau Arjuna menjadi pusat perhatian para mahasiswi, Arjuna khusus berpenampilan seperti mahasiswa pada umumnya.
Semalam dari hasil perbincangannya dengan Sebastian sebagai pemilik saham terbesar kampus ini, Arjuna minta ijin untuk memberi pelajaran pada Glen yang menyalahgunakan wewenang dan statusnya sebagai dosen.
Bila cara Arjuna tidak berhasil barulah Sebastian membicarakannya dengan pihak berwenang di kampus untuk menindaktegas dosen seperti Glen.
“Gimana penampilan Mas Juna ? Masih cocok kan jadi mahasiswa ?” tanya Arjuna saat melihat Cilla masih dalam mode terkejut.
“Sengaja mau tebar pesona ? Lupa kalau udah jadi papi ?” cibir Cilla, langsung memasang wajah masam melihat suaminya yang terlihat berbeda.
Dengan penampilannya saat ini, sudah bisa dipastikan kalau Arjuna sangat mempesona dan masih cocok mengaku sebagai mahasiswa senior.
“Wuuihh beneran nih Nyonya Arjuna udah ketularan posesifnya,” ledek Tino yang berpenampilan sebelas duabelas dengan Arjuna.
“Soalnya lebih bahaya kalau mahasiswi yang jatuh cinta. Bisa-bisa Mas Juna diuber sampai ke kolong langit,” gerutu Cilla.
”Kolong ranjang kali,” ledek Tino sambil tergelak.
Arjuna ikut tertawa dan langsung merangkul bahu istrinya yang masih cemberut.
“Memang kenyataan kalau yang jatuh cinta sama Mas Juna maba menggemaskan ini.”
“Gombal !”
Tino geleng-geleng kepala menatap pasangan bucin di depannya, lalu mengangkat panggilan telepon dari Theo yang baru sampai di kampus bersama Luki.
Sebelumny Theo sempat mengomel saat mendengar permintaan Arjuna bertemu di kampus Cilla, tapi begitu Tino menceritakan soal kelakuan Glen pada sepupunya, Theo langsung menyetujuinya dan bersedia membantu Arjuna membasmi pebinor.
“Selamat siang, Pak,” sapa Cilla begitu membuka pintu ruang dosen.
Cilla sengaja masuk sendiri dulu, sedangkan Arjuna dan ketiga sahabatnya akan menyusul bersamaan.
“Bawa bekal lagi hari ini ?” tanya Glen saat Cilla duduk di hadapannya.
“Nggak, Pak.”
“Begitu dong, hari ini sudah aku siapkan menu spesial untukmu,” Glen mendekatkan satu kantong kertas ke tengah-tengah meja.
Mata Cilla menyipit, membaca tulisan yang tertera di kantong kertas. Seperti nama restoran yang cukup ternama di Jakarta.
“Terima kasih, Pak, saya sudah makan sebelum kemari dan tidak sanggup kalau harus diisi lagi.”
”Bukannya kamu masih menyusui ? Biasanya ibu menyusui membutuhkan asupan gizi di atas perempuan normal.”
“Suami saya sudah memberikan asupan lebih dari cukup, Pak,” sahut Cilla sambil tersenyum.
Glen ikut tersenyum, menikmati wajah menggemaskan di depannya. Di mata Glen, hari ini Cilla terlihat lebih cantik dari biasanya karena wanita di depannya tidak memasang wajah jutek dan masam seperti sebelumnya.
Tatapan Glen terputus dengan suara ketukan pintu dan sebelum Glen mempersilakan masuk, pintu sudah terbuka.
Mata Glen langsung membelalak saat melihat Arjuna muncul disusul dengan tiga pria lainnya.
“Sayang, perlu bantuan untuk menjalankan hukumanmu ?” tanya Arjuna seraya mendekati Cilla.
“Kalian mau ngapain di sini ?” tanya Glen dengan nada tidak suka.
“Mau menemani sepupu kesayangan gue,” Theo langsung berdiri di samping Cilla dan merangkul bahu sepupunya itu.
Arjuna langsung melotot memberi isyarat pada Theo yang suka seenaknya merangkul istrinya.
Arjuna yang super posesif tidak suka Theo yang merupakan sepupu Cilla itu sembarangan merangkul dan memeluk Cilla sejak jaman mereka pacaran hingga berkeluarga.
Di sisi lain, Theo juga tidak terima dengan sikap posesif Arjuna yang dianggapnya berlebihan. Memang pada kenyataannya Theo baru bertemu Cilla saat mereka sama-sama dewasa, namun hubungan mereka tetaplah saudara dari pihak ibu.
“Kalian mau menemui Priscilla atau adu mulut ?” ledek Glen sambil tersenyum sinis.
Cilla menghela nafas dan memutar bola matanya, kesal dengan aksi suami dan sepupunya yang selalu jadi musuh bebuyutan padahal sebelumnya adalah sahabat baik.
“Gue udah ijin sama Sebastian untuk menemani istri sekalian bekerja di sini, jadi tenang aja. Gue bukan mau membebaskan istri dari tanggungjawabnya sebagai mahasiswa, tapi minta dispensasi dari Sebastian untuk menemani istri.
Biar bagaimana kita masih tinggal di Indonesia, nenek bilang berbahaya kalau berdua-duaan di dalam ruangan,” ujar Arjuna panjang lebar sambil tertawa dan berusaha santai di depan Glen.
“Bukan bermaksud nethink sama elo yang pasti menjunjung tinggi kehormatan sebagai dosen, tapi gue dan Arjuna nggak mau Cilla dicap jelek sebagai istri yang kurang bahagia dengan suaminya,” Theo menimpali sambil melirik Arjuna dengan senyum mengejek.
Cilla kembali memutar bola matanya, kalau dibiarkan kedua pria yang senang adu mulut dan saling menjatuhkan ini bisa memperpanjang perdebatan mereka.
“Udah kalau Mas Juna mau rapat, di meja sana masih kosong,” ujar Cilla menunjuk pada meja panjang yang ada di ruangan itu.
“Jangan menatap dosen kamu terlalu serius, Sayang, nanti kalau dia jatuh cinta, kamu juga yang repot,” bisik Arjuna lalu mencium pipi Cilla tanpa malu-malu.
Theo menghela nafas dan menggerutu dengan wajah sebal dan berjalan meninggalkan Arjuna yang mulai lebay.
Luki dan Tino yang masih tertawa pelan mengikuti Theo menuju meja panjang yang dimaksud Cilla, Arjuna pun menyusul para sahabatnya.
“Jadi masalah seperti ini kamu harus laporan juga sama Arjuna ?” sinis Glen sambil menatap Cilla.
“Hubungan saya dengan Mas Juna bukan sekedar sepasang kekasih, Pak, tapi kami ini suami istri. Sudah sepantasnya dan wajar kalau kami saling menceritakan kehidupan masing-masing supaya tidak ada kesalahpahaman.
Apalagi jaman now, Pak, pelakor dan pebinor sudah tidak malu-malu lagi unjuk gigi, mereka terang-terangan melakukan aksinya. Yang parahnya mereka melakukan hanya demi kepuasan hati bukan lagi cinta. Mereka merasa bangga dan bahagia kalau sudah berhasil merebut milik orang dan melihat kehancuran hidup orang lain.”
Glen hanya tersenyum sinis, tidak menanggapi ucapan Cilla yang malah tersenyum menatapnya.
“Apa tugas saya hari ini, Pak ? Sepertinya tidak banyak tugas mahasiswa yang harus diperiksa.”
“Mulai besok kita pindah ke ruangan lain,” tegas Glen tanpa menatap Cilla.
“Gue dengar ucapan elo, Glen,” ujar Arjuna dari kursinya.
“Tadi kan gue udah bilang kalau gue udah mendapat dispensasi dari Sebastian. Gue udah minta supaya Bastian menunda memberikan disiplin terhadap dosen yang menyalahgunakan wewenangnya.
Permintaan gue sederhana Glen, jangan ganggu lagi istri gue. Bersikaplah sebagai dosen yang profesional, karena di kampus ini istri gue pun tidak minta diperlakukan istimewa.”
“Tidak diperlakukan istimewa ?” sindir Glen dengan senyuman sinis. “Menggunakan jalur koneksi dengan pemilik kampus tapi masih berani bilang tidak mendapat perlakuan istimewa.”
Glen tertawa pelan dan bangun dari kursinya dan berjalan mendekati Cilla.
“Kenyataannya terbalik, Glen. Gue menemui Bastian bukan demi supaya istri gue menjadi mahasiswa istimewa di kampus ini, tapi demi menjaga wibawa elo sebagai dosen.
Gimana jadinya kalau ucapan elo yang sengaja membuat nilai istri gue gagal hanya demi bisa bersama istri gue dipakai untuk menuntut elo ?”
Arjuna memberi isyarat pada Cilla yang langsung mengeluarkan handphonenya dan memperdengarkan rekaman percakapannya dengan Glen di saat pertama kali ia diminta menemui Glen.
“Gue percaya tidak ada hukum tertulis yang melarang seseorang merekam pembicaraannya dengan pihak lain, malah bisa dipakai sebagai bukti hukum yang resmi.”
“Jadi elo mengancam gue ?” tanya Glen tanpa rasa takut .
“Tidak Glen, mana mungkin gue mengancam pria yang menjadi dosen istri gue sampai 4 tahun ke depan. Gue hanya memberitahu elo supaya berhenti mendekati istri orang lain karena masih banyak perempuan di dunia ini yang bisa elo pacarin atau dijadikan istri.
Cilla adalah istri gue yang sah secara agama dan negara dan sebagai suami sudah menjadi tanggungjawab gue untuk melindunginya dari pria-pria semacam elo.”
Glen tidak menjawab hanya tersenyum sinis membuat Cilla menautkan alisnya dan bertanya-tanya dalam hati apakah Glen cukup waras untuk menjadi dosennya atau ada alasan lain yang membuat pria di depannya bersikukuh merebut milik Arjuna dan berniat merusak kebahagiaan mantan teman sekolahnya itu ?