MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Obrolan yang Lama Menghilang


Cilla sudah duduk berseberangan dengan papi Rudi di sofa ruang keluarga. Hatinya dilanda rasa tidak percaya karena bisa duduk bersama dengan papi Rudi, yang entah kapan terakhir kalinya mereka berada dalam situasi seperti ini.


 


Sudah lama juga papi Rudi tidak mengajak Cilla untuk berbincang bersama, makanya  Cilla sempat kaget waktu Mbak Sumi mendatangi kamarnya dan memintanya turun menemui papi Rudi.


 


“Kamu nggak mau duduk di sebelah papi ? Waktu kecil biasanya kamu nggak mau jauh-jauh dari papi.”


 


Papi Rudi menepuk-nepuk sofa di sebelahnya dan memberi isyarat supaya Cilla supaya pindah duduk di sebelahnya.


 


“Kamu kenapa ? Takut dimarahi MAS JUNA mu itu karena duduk di sebelah pria tampan dan mapan seperti papi ?” ledek papi Rudi sambil tertawa melirik putrinya.


 


Cilla makin tercengang karena mendengar tawa papi Rudi, bukan omelan atau nasehat panjang lebar karena menangkap basah Arjuna datang ke rumah mereka sebagai pacar. Apalagi mendengar papi Rudi sengaja menekan ucapannya pada kata Mas Juna.


 


“Sepertinya Mas Juna lebih takut sama papi karena sudah tertangkap tangan memacari muridnya. Mana muridnya itu anak pemilik sekolah pula,” sahut Cilla berusaha santai dan akhirnya membuat papi tertawa.


 


“Katanya dulu sebel banget sama cowok brengsek yang bisa-bisanya kabur saat diajak ketemuan cewek imut kayak kamu ?” ledek papi Rudi.


 


“Soalnya belum tahu kalau cowok brengsek itu ternyata ganteng tapi suka jutek kalau lagi dijahilin,” sahut Cilla sambil tertawa.


 


“Jadi kamu sudah tahu kalau Arjuna itu anaknya Om Arman ? Sejak kapan ?”


 


“Sudah Pi,” Cilla mengangguk. “Belum lama ini, tapi sebelum Mas Juna nembak Cilla jadi pacarnya. Malah Cilla juga sudah sempat ketemu dengan Om Arman dan Tante Diva waktu Tante Diva ulangtahun. Tapi Om Arman melarang Cilla untuk memberitahu Mas Juna kalau Cilla adalah anaknya papi yang mau dikenalin sama Mas Juna.”


 


“Jadi ceritanya dari sebel jadi cinta nih ?” ledek papi Rudi lagi.


 


“Pengennya sih sebel terus, Pi, tapi hati sama mulut nggak bisa kompak,” sahut Cilla sambil tertawa. “Waktu pertama kali Mas Juna masuk ke kelas dan duduk di sebelah Cilla, jantung ini udah kayak pengen copot, kencang banget degupnya.”


 


Papi Rudi tergelak dan mencubit kedua pipi Cilla dengan tatapan gemas.


 


“Ternyata putri kecil papi ini sudah besar. Sudah bisa punya rasa berdebar kalau dekat-dekat dengan cowok.”


 


Cilla cemberut karena bukan hanya mencubit pipinya, tapi papi Rudi juga menggoyang-goyangkan wajahnya. Namun rasa bahagia lebih mendominasi hatinya.


 


“Terus Papi sengaja terima Mas Juna sebagai guru di Guna Bangsa ? Dan papi tahu kenapa om Arman masih melarang Cilla untuk memberitahu Mas Juna ?”


 


Papi Rudi memberi isyarat pada Cilla supaya mengambilkan cangkir teh hangat yang sudah disediakan oleh Bik Mina. Selesai meneguknya sedikit, papi Rudi kembali meletakkannya di atas meja.


 


“Kalau masalah om Arman, beliau bilang belum cukup Arjuna diberi pelajaran. Om Arman ingin Arjuna benar-benar memantapkan hatinya padamu dulu. Jangan sampai kamu itu dianggap hanya sebagai pelarian dari pacarnya yang materialistis.”


 


“Jadi om Arman sudah tahu kalau Mas Juna sudah putus dengan Kak Mia ?”


 


“Mia ?” dahi papi Rudi berkerut. “Mia anaknya tante Sofi ? Yakin kamu kalau mantan pacar Arjuna yang sempat om Arman ceritakan sama papi Mia yang itu ?”


 


“Iya, Pi.” Cilla mengangguk. “Cilla sudah pernah bertemu langsung. Ternyata kalau di sekolah, Kak Mia itu memperkenalkan dirinya sebagai Luna, bukan Mia.”


 


Cilla pun menceritakan tentang pertemuannya dengan Mia Luna di café dan bagaimana mereka sempat bertengkar. Hanya saja adegan ciuman dadakan Arjuna tidak lulus sensor di dalam cerita Cilla. Bisa-bisa papi Rudi langsung menyuruh Arjuna melamar Cilla karena sudah berani nyosor putri tunggalnya ini.


 


“Ternyata sifatnya belum berubah meskipun sudah makin dewasa,” ujar papi Rudi sambil menghela nafas.


 


Dipandanginya Cilla dengan tatapan sendu. Papi Rudi mengelus kepala Cilla dengan penuh kasih sayang.


 


“Kamu masih marah sama papi karena kejadian tante Sofi dan Mia ?” tanya papi Rudi dengan wajah sedih.


 


Cilla menggeleng sambil tersenyum. “Cilla nggak pernah marah sama papi, hanya kesal karena waktu itu papi nggak mau percaya sama Cilla. Tapi sepertinya rasa kesal itu sudah terkalahkan dengan rasa kangen Cilla sama papi.”


 


Cilla mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha menahan air mata yang ingin keluar dari kedua matanya.


 


“Maafkan papi,” lirih papi Rudi sambil tersenyum. “Maaf karena papi telah mengabaikan kamu sejak kepergian mami.”


 


Cilla tidak mampu lagi menahan rasa harunya. Ia menghambur ke dalam pelukan papi Rudi dan menangis di dada pria kesayangannya itu.


 


“Tidak usah ingat yang lalu. Cukup mulai sekarang Papi punya waktu sedikit aja buat Cilla, sudah pasti Cilla akan bahagia banget.”


 


Papi Rudi masih membelai kepala Cilla yang ada dalam pelukannya. Ia pun menahan rasa haru dan kerinduannya sebagai seorang ayah pada putri tunggalnya.


 


“Kamu semakin mengingatkan papi pada mami. Wajah kamu, sifatmu yang mudah memaafkan, tingkahmu dan banyak hal dalam diri Cilla yang membuat papi selalu teringat pada mami.”


 


 Cilla melerai pelukannya dan menatap wajah papi Rudi dengan pipi yang masih basah. Papi Rudi tersenyum dan mengambil tisu lalu membersihkan wajah putri kesayangannya.


 


 


Papi Rudi langsung menggeleng dan mencium kening putrinya. Matanya sudah memerah menahan rasa haru yang membuncah di dalam hatinya. Rasa haru bercampur bahagia karena putrinya tidak menaruh kebencian pada dirinya.


 


“Justru karena papi merasa bersalah sudah membuat Cilla kehilangan mami di umur yang masih terlalu kecil. Kalau saja mami tidak mendonorkan ginjalnya untuk papi, mungkin mami tidak akan mengalami sakit yang membuatnya menderita. Ditambah lagi papi telah salah mengambil keputusan dengan meminta Tante Sofi sebagai ibu sambung Cilla.”


 


“Tapi mami selalu bilang kalau mami bahagia bisa membuat papi hidup menemani mami. Tidak ada penyesalan sedikit pun dalam hati mami.”


 


Papi Rudi tersenyum dan membelai wajah Cilla. Sepertinya ia telah kehilangan banyak momen dalam kehidupan putrinya dan sekarang dapat dilihatnya kalau Cilla sudah tumbuh menjadi gadis yang dewasa dan kuat.


“Dan masalah tante Sofi juga sudah lama berlalu. Setidaknya tante Sofi dan Mia sudah tidak mengganggu lagi, hanya kebetulan saja kalau ternyata dia pacarnya Mas Juna.”


 


“Maafkan papi,” papi Rudi kembali membawa Cilla ke dalam dekapannya. “Maafkan papi karena sudah membiarkan kamu sendirian tumbuh menjadi dewasa. Semoga papi masih punya banyak waktu untuk menemani Cilla.”


 


“Papi kok ngomongnya begitu ?” Cilla langsung merenggangkan pelukannya dan menatap papi Rudi dengan wajah cemberut.


 


Papi Rudi tertawa untuk menutupi kesedihan hatinya. Betapa ia merindukan melihat wajah Cilla yang selalu lucu saat mengekspresikan perasaannya.


 


“Kita kan belum menyelesaikan misi membuat Mas Juna sadar dan menyesal karena memilih kabur saat mau dipertemukan dengan kita,” ujar Cilla penuh semangat.


 


Papi Rudi mengangguk-angguk sambil tertawa. Ia kembali mencubit pipi Cilla dengan wajah gemas.


 


“Yakin tega memberi pelajaran sama pacarnya ?” ledek papi Rudi.


 


“Kenapa harus nggak tega ?” Cilla mengernyit dengan mulut yang masih cemberut. “Apa papi memang sengaja mempekerjakan Mas Juna jadi guru di Guna Bangsa supaya bisa bertemu dengan Cilla ?”


 


“Kalau masalah itu, papi tidak tahu kalau Pak Slamet menerima anaknya Om Arman untuk mengajar di sekolah. Pak Slamet sendiri tahu kalau Arjuna adalah anaknya Arman Hartono dari CV-nya, tapi tidak tahu kalau Arjuna adalah pria yang akan dijodohkan denganmu. Semuanya murni karena unsur kebetulan.”


 


“Terus kenapa Pak Slamet menempatkan Mas Juna untuk mengajar kelas 12 ? Dia kan guriu baru dan belum punya pengalaman mengajar. Bukannya seharusnya mulai mengajar di kelas 10 dulu ?”


 


“Kalau masalah itu papi yang suruh, biar kamu punya kesempatan untuk mengerjainya. Papi sempat mendengar kalau kamu itu sering membuat Arjuna kesal karena tidak pernah bisa menang kalau sedang berbantahan denganmu.”


 


“Jadi waktu papi datang ke sekolah, papi sudah tahu kalau Mas Juna itu anaknya Om Arman ?”


 


“Iya papi sudah tahu sejak Pak Slamet melaporkan pada kalau anaknya om Arman sudah lolos tes penerimaan calon guru pengganti Pak Wahyu. Sebelum turun surat keputusan penempatan Arjuna, tentu saja Pak Slamet harus melaporkan detailnya pada papi. Dan di saat itulah papi baru bercerita soal kejadian kaburnya Arjuna dan niatan om Arman menjodohkan anaknya dengan kamu.”


 


“Jadi besok pagi papi mau bicara apa sama Mas Juna sampai menyuruhnya datang kemari ?”


 


“Mau ajak main golf,” jawab papi Rudi santai.


 


“Sekalian mau jadi partner kamu dan om Arman untuk memberi pelajaran pada Arjuna. Mana ada cerita laki-laki macam itu meninggalkan putri papi yang imut dan bawel ini,” ujar papi Rudi sambil tertawa.


 


“Iya kata Mas Juna, Cilla tuh bawel banget, sampai-sampai dipanggil anak bebek sama dia,” ujar Cilla dengan wajah cemberut.


 


Cilla bergelayut manja di lengan papi Rudi dan menyandarkan kepalanya ke bahu pria itu.


 


“Terima kasih karena sudah menjadi anak papi mami yang penuh cinta dan jauh dari rasa kebencian,” papi Rudi mencium pucuk kepala Cilla yang bersandar padanya.


 


“Tentu saja selalu akan ada kata maaf untuk papi. Kata orang, cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayah mereka. Dan buat Cilla itu benar banget. Papi adalah cinta pertama Cilla yang selalu Cilla sayangi,” sahut Cilla sambil mengeratkan pelukan di lengan papi Rudi.


 


Keduanya sempat terdiam dengan pikiran dan perasaan masing-masing. Hanya ada satu kata yang sama yaitu bahagia.


 


“Oh ya Pi,” Cilla melerai rangkulannya. “Besok kalau Mas Juna datang jangan panggil  Cilla turun apalagi ajak sarapan bareng. Cilla lagi aksi mogok bicara sama Mas Juna.”


 


“Yakin nggak bakal nyesel melewati kesempatan sarapan bareng sama pacar gantengnya ?” ledek papi Rudi.


 


‘Iya yakin bingit,” Cilla mengangguk. “Lagipula papi jadi bisa membuat Mas Juna semakin merasakan kalau tidak mudah untuk mendapatkan restu dari papi. Jangan sampai cowok jutek itu kabur lagi begitu tahu kalau papi adalah teman om Arman.”


 


Papi Rudi mengangguk-angguk sambil tertawa. Dalam hatinya ia tidak memahami rencana Tuhan tentang jodoh anaknya ini.


 


Tidak pernah terlintas dalam benak papi Rudi untuk menjodohkan Cilla dengan anak sahabatnya. Papi Rudi menyerahkan sepenuhnya pada Cilla untuk memilih pasangan hidupnya, karena ia sendiri sudah merasakan bagaimana rasanya diatur soal jodoh.


Tapi siapa sangka, niat sahabatnya itu seperti mendapat dukungan dari Tuhan. Meskipun Arjuna memilih kabur dan meninggalkan keluarganya, ia malah dipertemukan dengan perempuan yang hendak dijodohkan dengannya.


 


Papi Rudi masih tersenyum mendengarkan ocehan putri kecilnya. Anak Bebek. Sepertinya panggilan itu memang cocok untuk putri kecilnya ini.


 


Semoga Arjuna adalah kebahagiaan dalam hidupmu, Cilla, doa papi Rudi dalam hatinya.