
Arjuna sampai di depan café yang dipilih Theo sebagai tempat mereka bertemu sore ini. Setelah berpikir sejak kemarin. Arjuna memantapkan hati untuk berbicara terus terang mengenai perasaannya pada Cilla. Ia tidak ingin persahabatannya dengan Theo rusak hanya karena menyukai wanita yang sama.
Masalah akhirnya bagaimana, keputusan akhir ada di tangan Cilla. Kalau sampai muridnya itu tetap memilih Theo sebagai kekasihnya, maka dengan berbesar hati Arjuna memutuskan untuk mundur.
Matanya memicing saat memasuki café dan berjalan menuju meja tempat Theo menunggu. Bukan Theo yang melambaikan tangan memanggilnya, tapi justru Erwin yang memang posisi duduknya menghadap ke arah pintu masuk.
Matanya semakin membelalak karena semua anggota grup wa-nya hadir di situ, termasuk Mimi kekasih Boni dan Wiwik istrinya Dono. Belum lagi Pius yang hari ini memperkenalkan Anita, pacar barunya.
Arjuna menghela nafas dan duduk di bangku yang masih kosong. Posisinya persis di seberang Theo. Hatinya sedikit kecewa, karena ia sudah mengatakan alasannya ingin bertemu Theo. Dengan kondisi banyak orang seperti ini, bagaimana mungkin mereka bisa bicara soal pribadi.
Arjuna kembali menghela nafas membuat Theo yang sejak tadi meliriknya tersenyum tipis. Guru kontrak itu menyesal datang ke tempat ini, padahal ia sudah merencanakan ingin mengajak Cilla keluar dan bersiap-siap menyatakan cintanya.
Niat itu diurungkannya saat menerima balasan pesan dari Theo yang menerima ajakan Arjuna untuk bertemu membahas soal Cilla.
Arjuna mengambil gelas minumannya dan meneguk lime squashnya perlahan saat seseorang datang dan duduk di sebelah Theo. Terlalu kaget melihat bayangan orang itu, Arjuna reflek menyemburkan minuman yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.
“Pak Arjuna !” Cilla langsung melotot menatap gurunya. “Kebiasaan ! Kenapa kalau saya datang Bapak suka main sembur begitu ?” omelnya sambil mengambil tissue yang diberikan oleh Mimi yang duduk di seberang Cilla.
“Namanya juga semburan cinta, Cil,” ledek Erwin sambil terbahak.
“Maaf,” ujar Arjuna sambil terbatuk dengan sisa lime squash yang masih menyangkut di tenggorokannya.
Cilla beranjak dari kursinya hendak ke toilet membersihkan wajah dan rambutnya yang agak lengket. Arjuna ikut bangun dan mengikuti Cilla ke toilet.
“Maaf Ciila,” ujar Arjuna di belakang Cilla.
“Kebiasaan banget, Pak. Salah apa saya sama Bapak sampai disembur untuk ketiga kalinya ?”
Di depan wastafel, ternyata Arjuna langsung berdiri di sebelah Cilla.
“Bapak mau ngapain ?” Cilla menautkan alisnya saat melihat Arjuna meletakkan telapak tangannya di bawah keran.
“Membantu kamu,” sahutnya santai dan tidak mempedulikan Cilla yang berusaha menghindari tangan Arjuna yang hendak membasuh wajahnya. Malah tangan kiri Arjuna sudah merangkul pinggang Cilla hingga gadis itu tidak bisa bergerak leluasa.
Akhirnya Cilla diam saat tangan Arjuna membasuh wajahnya sekali lalu mengambil tissue yang disediakan di dekat situ. Tidak hanya membasuhnya, dengan perlahan Arjuna juga mengeringkan wajah Cilla. Sekali lagi Arjuna membasahi telapak tangannya, lalu membersihkan bagian rambut Cilla yang lengket.
“Bapak nggak salah makan, kan ?” Cilla mengerutkan dahinya saat tangan Arjuna mengeringkan rambutnya dengan tissue juga.
Kalau sudah begini Cilla merasa lebih seperti anak kecil yang sedang dirawat sama bapaknya, bukan kekasihnya. Mengingat rentang usia mereka cukup jauh berbeda, ditambah lagi tinggi Cilla yang hanya sampai dagu Arjuna.
“Nggak, bukan salah makan, tapi hati saya yang udah nggak bisa ditahan.”
“Maksudnya ?”
Arjuna memegang kedua bahu Cilla dan memposisikan diri mereka saling berhadapan.
“Inginnya cari tempat romantis untuk mengatakan hal ini sama kamu, tapi apa daya ternyata nasib saya bisa berduaan begini sama kamu di depan toilet. Sepertinya memang suasana romantis untuk kita berbeda dari orang lain.”
“Bapak ngomong apaan sih ?” ujar Cilla sambil mengernyit.
“Saya nggak mau bohongi perasaan saya lagi. Saya nggak mau menyangkal suara hati saya lagi,” ujar Arjuna sambil tersenyum sangat-sangat manis dan seperti biasa efeknya langsung terasa di hati Cilla.
Arjuna mendekatkan wajahnya hingga Cilla agak memundurkan wajahnya, tapi ternyata wajah Arjuna sedikit membelok ke samping.
“Saya cinta sama kamu, Priscilla Darmawan,” bisik Arjuna di telinga Cilla, membuat seluruh tubuh Cilla langsung meremang. Jantungnya ? Jangan ditanya lagi, mungkin kalau Arjuna masih terus berbisik di telinganya, pria itu harus siap-siap memberikan CPR untuk Cilla.
Arjuna tersenyum saat melihat wajah Cilla yang masih tertegun dan diam membisu . Karena sudah ada pengunjung lain yang hendak menggunakan wastafel, Arjuna langsung menggandeng lengan Cilla dan membawanya kembali ke meja dimana para sahabat mereka menunggu.
Boni yang melihat keduanya kembali sambil bergandengan tangan langsung mengerutkan dahi, membuat Theo yang melihatnya jadi menoleh dan tercengang melihat Cilla yang diam saja digandenga oleh Arjuna.
Khawatir Cilla terlihat kaku bagai orang kesambet, Theo beranjak bangun dan menyentuh bahu gadis itu saat Cilla sudah mendekat.
“Kamu nggak kenapa-napa, Cil ?”
Gadis itu masih terdiam sementara Arjuna senyum-senyum sendiri. Tangannya tidak mau dilepaskan dari jemari Cilla yang masih digenggamnya.
“Elo apain Cilla sampai dia kayak begini ?” tanya Theo menatap Arjuna sambil menautkan kedua alisnya.
“Habis gue tembak dengan cinta,” sahut Arjuna sambil terkekeh.
“What ?” Theo langsung melotot. “Berani-beraninya elo menyatakan cinta sama Cilla !”
Theo langsung menarik kedua kerah Arjuna membuat Erwin dan Boni langsung berdiri dan Cilla tersadar dari lamunannya. Tangan Cilla juga terlepas dari genggaman Arjuna.
“Eh Kak Theo mau ngapain pakai tarik-tarik kerah begitu ?” tanya Cilla menatap Theo.
“Kamu diapain sama lelaki songong ini ?” Theo yang masih mencengkram kemeja Arjuna menunjuk sahabatnya dengan gerakan dagunya.
“Udah gue bilang, Cilla habis gue tembak dengan cinta, dan mulai sekarang kita resmi pacaran,” sahut Arjuna sambil tertawa bahagia.
“Beneran kamu terima Arjuna jadi pacar kamu, Cil ?” tanya Theo sambil mengernyit menatap Cilla.
“Nggak, saya nggak jawab apa-apa,” sahut Cilla sambil menggeleng.
“Tuh kan !” Theo kembali menatap Arjuna dengan wajah galak.
“Eh beneran kamu nggak mau terima saya, Cil ? Kan udah saya kasih cap bibir, masa masih ditolak juga ?” Arjuna melirik Cilla yang ternyata sedang menatapnya sambil melotot.
“Cap bibir ?” Boni bertanya sambil menautkan alisnya. “Maksud elo kiss kiss ? ******* ?”
Arjuna mengangguk sambil tersenyum dan wajahnya penuh rasa bangga.
Melihat Theo hanya sekedar mencengkram kerah kemeja Arjuna tanpa tanda-tanda ingin memukul wajah tampan sahabat mereka, Boni dan Erwin langsung kembali duduk.
“Eh beneran elo udah cium-cium Cilla, Jun ?” Dono yang duduk di sebelah kanan Mimi langsung melotot menatap Arjuna.
“Dimana ?” tanya Theo.
“Di bi…” Cilla langsung membungkam mulut Arjuna dengan telapak tangannya sebelum pria itu menyelesaikan ucapannya.
“What ?” Theo kembali membelalak saat pikirannya langsung menangkap ucapan Arjuna meskipun sahabatnya belum selesai berucap.
“Beneran Cil ?” Theo menoleh ke arah Cilla sambil memicingkan matanya.
Cilla balik terkejut saat Theo malah bertanya langsung kepadanya. Satu tangannya masih menutup mulut Arjuna, tapi tidak bisa menahan pria itu mengangguk meski kerah kemejanya masih dicengkram oleh Theo.
Akhirnya Theo melepaskan cengkramannya dan menatap Cilla dengan tajam sambil menunggu jawaban gadis itu.
Cilla terlihat bingung dan canggung bagaimana harus menjawab pertanyaan Theo di depan banyak orang seperti sekarang ini.
Arjuna meraih tangan Cilla yang menutupi mulutnya supaya bisa bersuara menjadi corong jawaban Cilla.
“Beneran Theo !” Arjuna yang menjawab dengan yakin dan tegas.
“Di bibir. Amanda dan Luna jadi saksi matanya,” lanjutnya dengan senyuman penuh rasa bangga.
“Jadi kamu sudah diapa-apain sama guru mesum ini ?” tanya Theo masih sambil menatap Cilla dan tangannya menunjuk ke arah Arjuna
“Eh mana ada aku rela diapa-apain sama cowok songong ini ! Itu juga dadakan diciumnya, nggak pakai ijin, nggak bilang apa-apa, udah kayak soang main nyosor aja,” gerutu Cilla.
“Tuh kan Yo, elo denger sendiri dari mulut Cilla, kalau gue udah pernah kiss kiss dia di sini,” Arjuna terkekeh sambil menunjuk bibirnya sendiri.
“Bukan kiss kiss namanya, tapi nyosor !” omel Cilla sambil memukul bahu Arjuna cukup keras.
“Jangan KDRT dong, sayang,” ledek Arjuna.
“Sayang ! Sayang ! Sejak kapan saya sudah mengiyakan pernyataan cinta Bapak ? Memangnya saya cewek apaan, gara-gara dicium bibir mau aja jadi pacar bapak,” Cilla mendekati Arjuna sambil bertolak pinggang dan melotot.
“Jadi beneran kamu udah dicium sama Arjuna ?” Theo dengan wajah galaknya menatap Cilla sambil melipat kedua tangannya di dada.
Cilla berbalik menatap Theo sambil nyengir kuda dengan wajah canggung. Apalagi ia sudah mendengar para sahabat Arjuna cekikikan di belakang mereka.
“Terus kamu mau terima cinta guru mesum kamu ini ?” tanya Theo masih menatap Cilla dan menunjuk ke arah Arjuna tanpa memandang pria itu.
“Belum diterima kok, Kak Theo,” sahut Cilla dengan kikuk.
“Theo sebelumnya sorry, gue…”
“Gue nggak nanya sama elo !” bentak Theo sambil menoleh ke arah Arjuna sekilas.
“Tapi gue mau ngomong sama elo !” balas Arjuna dengan suara yang tidak mau kalah. “Gue minta maaf kalau memang sudah dianggap menikung elo. Tapi gue juga nggak bisa membohongi diri gue lagi kalau gue benar-benar cinta sama Cilla, bukan sekedar suka doang,” lanjut Arjuna dengan penuh keyakinan meski Theo masih belum mau menatapnya.
Di belakang Arjuna, para sahabatnya bukan lagi hanya terkekeh, tapi sudah bercampur dengan deheman dan ucapan cie cie untuk ungkapan Arjuna yang gagah berani.
“Terus Cilla kasih jawaban apa sama elo ?” tanya Theo sambil menoleh ke arah Arjuna.
“Eh, Cilla belum jawab apa-apa sih,” sahut Arjuna sedikit canggung sambil mengusap tengkuknya.
Theo kembali menatap Cilla dan menggerakan kedua alis serta dagunya, sebagai isyarat bertanya apa jawaban Cilla.
“Memangnya perlu aku katakan sekarang, Kak ?” tanya Cilla sambil tertawa canggung.
“Kalau kamu nggak mau sama dia,” Theo menunjuk wajah Arjuna dengan jarinya yang sangat dekat di tengah-tengah mata Arjuna. “Aku akan usir dia sekarang juga supaya tidak membuat kamu tidak nyaman.”
Theo sudah bergerak ingin mendorong tubuh Arjuna menjauh dari Cilla bahkan menyuruhnya keluar dari café.
“Eh jangan !” Cilla langsung memegang lengan Theo yang sudah berada di bahu Arjuna. “Jangan diusir,” lanjut Cilla.
“Terus ?” tanya Theo sambil mengernyit menatap Cilla.
Cilla menghela nafas panjang sambil menoleh ke arah Arjuna yang malah senyum-senyum memandangnya, lalu mengalihkan pandangannya menatap Theo.
“Jangan diusir, gimana mau dijawab iya kalau yang nembak malah disuruh pergi dari sini,” jawab Cilla dengan suara pelan namun masih terdengar bukan hanya oleh Theo dan Arjuna, bahkan Boni, Erwin dan juga Mimi.
“Yes !” Arjuna langsung mengangkat kedua tangannya dan memeluk Cilla.
“Terima kasih karena sudah bersedia membalas cintaku,” ujarnya sambil mencium pucuk kepala Cilla.
Theo geleng-geleng kepala dengan posisi tangannya masih terlipat di depan dada. Para sahabat lainnya langsung bertepuk tangan seperti habis menonton aksi drama percintaan di atas panggung.
“Udah lepasin adik sepupu gue !” Theo langsung menarik Arjuna menjauh dari Cilla.
Theo tersenyum tipis sambil menggeleng saat dilihatnya wajah Cilla menunduk sambil tersipu malu saat terlepas dari pelukan Arjuna.
Sementara Arjuna jangan ditanya, wajahnya langsung kinclong dan bersinar bagaikan habis dibersihkan dengan deterjen yang mampu menghilangkan noda membandel sekalipun.
“Eh tunggu !” Arjuna menatap Theo sambil mengernyit. “Barusan elo bilang apa sama gue ? Adik sepupu elo ?” Arjuna sampai memiringkan wajahnya untuk memastikan ucapan Theo.
Matanya memicing menelisik Theo untuk memastikan kalau pendengarannya tidak salah dan ucapan Theo bukan asal bicara saja.