MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
MCPG 2 Ketegasan Suami


Selesai dengan urusannya, Cilla diantar Arjuna kembali ke lapangan. Tujuan awalnya Arjuna ingin minta ijin untuk membawa Cilla pulang dan tidak melanjutkan ospek hari ini.


“Jangan pulang sekarang dong, Mas Juna. Besok kan ada acara penutupan, pasti ada tugas-tugas kelompok yang harus dikerjakan. Lagipula tinggal 2 jam lagi. Cilla lanjut, ya. Please,” Cilla menangkup kedua tangan di depan wajah dan dengan puppy eyes – nya menatap Arjuna.


“Mau urusin kerja kelompok atau sama cowok kepo itu ?” Arjuna menelisik mata Cilla.


“Kak Hans maksudnya ?” Cilla  mengerutkan dahi , mencoba mencari si penerima julukan dari Arjuna.


“Memangnya ada berapa senior yang nempelin Cilla ?”


“Ya sementara Kak Hans doang , sih,” sahut Cilla sambil terkekeh.


“Sementara ?” mata Arjuna langsung melotot dan tangannya mencengkram lengan Cilla. “Memangnya target kamu ada berapa senior ?”


“Nggak ada target, Mas Juna. Punya satu aja udah cukup, nggak habis-habis biar tiap hari suka makan Cilla.”


“Hari ini nggak mempan sama gombalan Cilla. Pokoknya Mas Juna nggak kasih dekat-dekat cowok, mau mabar atau senior. Kalau nggak mau nurut, Mas Juna batalin ijin kuliahnya.”


“Yah jangan, dong. Masa Mas Juna mau punya istri cuma lulusan SMA doang ?” Cilla merengek sambil bergelayut manja di lengan Arjuna, lupa kalau posisinya sedang ada di kampus.


Beberapa senior yang melihat dari kejauhan mulai kasak kusuk. Menebak-nebak siapa Arjuna dan Tino yang datang menemui Cilla.


Rembesan di kaos Cilla apalagi tepat di bagian dada kiri dan kanan membuat para senior tahu apa artinya, Cilla adalah seorang ibu yang memiliki bayi yang masih menyusui.


Arjuna yang sadar kalau mereka sedang diperhatikan terutama oleh si kepo langsung memanfaaatkan situasi.


“Jaminannya apa Cilla nggak main mata dengan senior atau mabar ?” Arjuna masih bergaya cool dan datar padahal hatinya tertawa melihat si kepo mengerutkan dahinya.


“Memangnya masih kurang hampir tiap malam dikasih vitamin dan asupan gizi ?” bisik Cilla dengan wajah tersipu.


“Yakin vitaminnya bisa menjaga kestabilan dan ketentraman di rumah ?”


Bukannya menjawab Cilla malah tergelak, tangannya masih bergelayut di lengan Arjuna.


“Mas Juna pikir lagi ngurus negara ? Pakai acara demi kestabilan dan ketentraman segala.”


Arjuna menarik kedua sudut bibirnya dan menatap penuh kemenangan ke arah Hans yang terlihat sebal.


“Ya udah Mas Juna kasih ijin. Nggak boleh ngaret keluarnya, Mas Juna tunggu di parkiran.”


“Loh memangnya Mas Juna nggak balik ke kantor ? Yakin nggak lagi sibuk ?”


“Aman, papa juga sudah kasih ijin. Begitu dengar menantu kesayangan lagi membutuhkan suaminya, langsung rapat dinterupsi dan Mas Juna disuruh jalan diantar Tino segala.”


“Bahagianya banyak yang sayang .” Reflek Cilla menarik lengan Arjuna hingga tubuh pria itu condong ke arah Cilla dan ciuman di pipi langsung diberikan sebagai bonus untuk Arjuna.


Arjuna melirik ke arah Hans dengan senyum yang semakin lebar, wajahnya mengejek Hans penuh kemenangan.


“Cilla lupa ya kalau lagi di kampus ?” bisik Arjuna.


Cilla membeku sesaat, tidak berani melirik ke arah kanannya karena yakin kalau banyak mata sedang memperhatikannya.


Arjuna gantian tertawa dan melepaskan tangan Cilla pada lengannya lalu menggandeng Cilla menghampiri Pak Bernard yang berdiri di dekat lapangan.


Arjuna pun memperkenalkan Cilla sebagai istrinya sekaligus mabar di kampus itu. Setelah perkenalan singkat, Cilla menghampiri meja panitia dan kembali menitipkan tas ranselnya lalu bergabung dengan kelompoknya.


“Itu siapa ? Ganteng banget,” bisik Dita, teman baru Cilla.


“Suami gue,” sahut Cilla dengan mulut komat-kamit.


Bukan hanya mata Dita yang membola, Hilda, Ruth dan Fino yang duduk di dekat Cilla juga ikut tercengang. Biarpun suara Cilla setengah berbisik, posisi duduk mereka yang berdekatan membuat keempat teman barunya ikut mendengar.


Tidak sempat membahas penjelasan Cilla, mereka kembali fokus mengikuti pengarahan dari para senior. Hari ini ospek bubar lebih awal menggantikan kegiatan besok yang akan berakhir di malam hari.


Setelah berbincang dengan Pak Bernard, dekan FE, Arjuna langsung menghampiri cowok kepo yang membuat hatinya kesal.


“Bisa bicara sebentar ?”


Hans mengangguk dan mengajak Arjuna menjauh dari kerumunan, ke arah sisi kiri gedung dimana ada bangku dan meja dari semen yang disediakan untuk para mahasiswa di waktu senggangnya.


“Terima kasih sudah membantu istri saya,” Arjuna memulai percakapan. “Tapi tolong ke depannya tidak perlu pakai pegang-pegang tangan istri saya.”


Mata Hans menyipit memperhatikan Arjuna dan lima detik kemudian Hans malah tergelak.


“Yakin Om ini suaminya Cilla, kok kayaknya udah tua gitu ?”


Mata Arjuna langsung membola. Om ? Tua ? Otak Arjuna langsung berhitung, kalau Hans baru lulus S1 tahun ini, berarti usianya sekitar 21-22, paling mentok 23, sementara Arjuna baru 29 tahun, berarti usia mereka beti alias beda tipis.


“Saya nggak pernah kawin sama tante kamu ! Sembarangan panggil saya Om, kamu kira umur saya sama dengan bapakmu ?”


“Oo salah, toh ?  Habis dari segi penampilan dan wajah, perkiraan saya umur Om sekitar 40 tahun,” Hans bicara santai sambil tertawa pelan sementara wajah Arjuna langsung terlihat sebal.


“Terserah kamu mau nebak umur saya berapa, nggak penting karena nggak ada nilainya juga. Yang penting mulai sekarang jangan ganggu istri saya apalagi pakai acara pegang-pegang tangan istri saya di depan umum.”


“Saya kok nggak percaya ya kalau Cilla itu sudah menikah, “ Hans mengusap dagunya.


“Nggak peduli kamu mau percaya atau tidak, tapi yang pasti Cilla itu istri sah saya. Pernikahan kami sah di mata hukum dan agama, bahkan kami sudah dikaruniai anak.


Kalau kamu masih coba-coba mengganggu Cilla, saya nggak akan segan menuntut kamu secara hukum.”


“Pasti Cilla terpaksa menikah sama Om seperti di novel-novel, kemungkinan besar alasannya karena faktor ekonomi.”


“Terserah apa pikiranmu. Sudah menyandang gelar S1 otak dipakai yang benar, jangan bisanya kepoin rumah tangga orang. Pernikahan saya dan Cilla bukan drama sinetron atau telenovela, jadi jangan coba-coba jadi pebinor.”


“Saya bersedia jadi mata-mata Om atau bodyguardnya Cilla di kampus, merangkap sopir pribadi juga boleh,” ujar Hans sambil tertawa.


“Kemampuan istri saya di atas wanita rata-rata jadi nggak perlu satpam apalagi sopir pribadi model cowok kepo kayak kamu. Saya serius dengan ucapan saya, berani mengganggu istri saya atau mencoba jadi pebinor, kamu bukan sekedar berurusan sama saya.”


Arjuna beranjak bangun dan malas meneruskan perbincangannya dengan cowok kepo di depannya. Capek hati karena tidak bisa diberi pengertian dengan tatanan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.


“Saya sengaja meneruskan S2 di kampus ini setelah tahu kalau Cilla mendaftar lagi sebagai mahasiswa baru,” ucap Hans dengan suara lantang.


Arjuna menghentikan langkahnya dan menarik nafas lalu menghembuskannya dengan kasar untuk mengontrol emosinya.


“Terus maksud kamu apa ?” Arjuna bertanya sambil membalikkan badannya.


“Saya masih susah percaya kalau Cilla sudah menikah dan punya anak di usianya yang baru 18 tahun, susah percaya kalau pernikahannya bukan karena terpaksa,” tegas Hans dengan wajah serius.


“Itu urusan kamu mau percaya atau tidak, yang penting jangan coba-coba ganggu Cilla selama dia kuliah di sini.


Selagi saya masih bisa bicara baik-baik, silakan jaga sikapmu pada istri saya dan pikirkan usaha keluargamu biar hidup kalian tetap enak dan sejahtera.


Saya bukan orang yang pendendam tapi tidak akan tinggal diam kalau ada orang yang mencoba mengganggu rumahtangga saya. Saya tidak akan membiarkan istri saya merasa tidak nyaman karena terus didekati cowok kepo seperti kamu.”


Tatapan yang tajam dan suara tegas Arjuna membuat Hans enggan mendebatnya lagi. Arjuna masih menatap Hans beberapa saat untuk menunjukkan kalau ucapannya bukan main-main.


Arjuna berbalik dan meninggalkan Hans yang  tetap diam.


Begitu sosok Arjuna tidak terlihat lagi olehnya, Hans langsung memegang dadanya sambil menghirup nafas dan menghembuskannya berkali-kali, merasa lega karena terbebas dari Arjuna.


Tadi Tino sempat menginterogasi Hans saat Cilla diambil alih oleh Arjuna. Menanyakan hal-hal pribadi yang dijawab Hans seperlunya.


Sebelum mengakhiri perbincangannya dengan Hans, Tino berpesan supaya jangan main-main dengan Arjuna. Suami Cilla itu bukanlah orang sembarangan meski penampilannya terlihat biasa saja dan sederhana.