MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Cerita Cilla


Selesai makan siang di nasi pindang Pak Ndut yang lokasinya tidak jauh dari Simpang Lima, mobil yang ditumpangi Arjuna, Cilla dan Tino meluncur menuju Yogyakarta.


“Gimana caranya kamu bisa mendatangkan Adrian dan Riana sekaligus, Cil ?” tanya Tino.


“Dasar asisten kepo !” gerutu Arjuna. “Nggak cukup dimarahin sama nyonya boss ?”


Arjuna tertawa saat melihat wajah Tino cemberut. Selesai makan siang, Tino dengan santainya naik ke kursi penumpang paling belakang sementara Arjuna dan Cilla duduk di barisan tengah.


Dengan tegas Cilla menolak dan menyuruh Tino duduk di paling depan menemani Nano. Cilla tidak mau kemesraannya dengan Arjuna terganggu dengan ledekan Tino yang sudah pasti tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan komentarnya.


“Cilla nggak membuat Riana datang, tapi Luna yang mengaturnya begitu. Kalian berdua aja yang nggak sadar kalau diikuti oleh Riana sejak meeting dengan Rafael. Bahkan Cilla juga ada di sana aja kalian berdua nggak tahu. Pantas aja Mas Juna gampang dibohongi Luna dan Om Tino belum dapat pacar yang bisa dijadikan istri.”


“Dih sombong banget nih bocil,” gerutu Tino.


“Bocil lagi,” Arjuna menepuk bahu Tino dari belakang. “Udah gue bilang…”


“Iya sih… Sensi banget,” Tino mengusap bahunya. “Bukan bocil tapi Nyonya Arjuna soalnya udah bukan anak kecil lagi.”


“Pintar,” Arjuna menepuk-nepuk bahu Tino lagi namun dengan cukup keras membuat Tino memajukan badannya.


“Penindasan namanya, boss,” Tino mengusap lagi bahunya.


“Terus kamu kenal Adrian darimana ?” tanya Arjuna sambil terkekeh melihat Tino meringis.


“Suami kepo !” gerutu Tino membalas Arjuna yang hanya mencibir dan nyengir kuda saat Tino menatapnya dengan wajah sebal.


“Nggak lama setelah dapat foto dari Kak Theo, Cilla langsung cari tahu pria yang jadi selingkuhannya Luna dan ketemu Mas Juna di mal.”


“Terus Cilla ajak Adrian kenalan dan kepo-in dia sampai mau aja disuruh ke Semarang ?” tanya Arjuna dengan wajah penasaran sampai memiringkan badannya menghadap Cilla yang tetap duduk bersandar pada kursi.


“Diihh ngapain juga ngajak kenalan suami orang. Cilla mulai menghubungi Pak Adrian sejak Riana pantang menyerah mendekati Mas Juna. Apalagi Kak Yola udah mengingatkan kalau di balik keberanian Riana, bukan hanya karena dukungan om Eka, tapi pasti ada Luna yang memprovokasinya.”


“Itulah kelebihan cewek, bisa mendekati cowok demi mencapai niatnya,” ledek Tino sambil terkekeh.


“Mas Tino mau ditendang dari mobil atau turun dengan sukarela ?” ketus Cilla sambil melotot.


Arjuna langsung tergelak sementara Nano hanya senyum-senyum melihat wajah Tino yang menggerutu dan kembali pada posisi menghadap ke depan.


“Cilla baca gosip keretakan rumah tangga Pak Adrian karena pihak ketiga dan Cilla yakin pihak ketiganya itu Luna. Cilla langsung putusin untuk menghubungi Pak Adrian, membahas soal Luna sama dia.”


”Jadi kamu sempat ketemu berduaan sama Adrian ?” mata Arjuna memicing, menelisik kejujuran ucapan Cilla.


“Nggak berdua doang, ada om Budi dan Kak Yola yang temani Cilla. Mau dikonfirmasi ?”


“Kok nggak bilang-bilang sama Mas Juna ?” terdengar nada kesal dalam ucapan Arjuna membuat Tino terkekeh.


“Mas Juna nya sibuk ngambek soal Hotel Prisma,” cebik Cilla.


“Ya minimal kan bisa kasih tahu atau cerita gitu,” protes Arjuna dengan wajah ditekuk.


“Udah deh, nggak penting banget membahas soalbagaimana Cilla bisa kenalan sama Pak Adrian. Intinya Cilla udah bisa menebak alurnya kalau Riana akan menggunakan Luna untuk menuntaskan niatnya mendapatkan Mas Juna. Setelah jalur om Eka tidak menunjukan hasil yang maksimal, Riana pasti akan lari ke Luna, yang dengan senang hati akan membantunya sekalian melampiaskan rasa bencinya sama Cilla.”


“Terus kamu ngomong apa sampai Pak Adrian mau ikut drama yang kamu buat tadi ?” tanya Tino dengan nada kepo yang tidak bisa ditahannya.


“Waktu Mas Juna mogok bicara gara-gara masalah Hotel Prisma, Cilla yakin kalau Riana akan meminta bantuan Luna untuk kembali mendekati Mas Juna. Di saat itulah Cilla mengajak Pak Adrian bicara dan memintanya berpikir ulang untuk melanjutkan proses perceraiannya karena Luna bukanlah wanita yang pantas diperjuangkan. Cilla ceritain juga kalau saat mereka jalan sebagai kekasih, Mas Juna adalah pria yang sudah melamar Luna menjadi istrinya. Dan sebagai bukti kalau Pak Adrian diperlakukan sama saja dengan Mas Juna, Cilla menawarkan untuk datang ke Semarang dan membuktikannya sendiri.”


“Terus darimana kamu tahu soal Rafael dan Luna itu pacaran ?” tanya Arjuna.


“Kak Theo sempat memberitahu Cilla soal Rafael, investor dari Surabaya yang mau bekerjasama dengan Hotel Prisma. Tidak sulit untuk mencari tahu seseorang dengan bantuan kecanggihan teknologi di jaman now. Apalgi Rafael itu pengusaha muda yang gemar memamerkan aktivitasnya di medsos miliknya. Cilla mendapatkan foto Rafael dengan Luna di salah satu postingannya. Waktu Cilla minta bantuan om Budi mencari tahu soal perusahaan yang dipimpin Rafael, ternyata om Budi malah mengenal baik kedua orangtuanya. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.


Cilla yakin seribu persen kalau Luna akan memanfaatkan rencana Rafael menjadi investor Hotel Prisma untuk mendekati Mas Juna untuk membantu Riana sekalian melampiaskan rasa bencinya pada Cilla.”


“Bisa kebetulan banget rencana Luna bertemu dengan Arjuna,” ujar Tino.


“Bukan kebetulan, tapi memang sudah direncanakan. Kak Theo itu bukan sakit flu, tapi diare. Sakit yang sengaja dibuat oleh Luna dan Riana dengan membayar orang untuk memasukan obat pencahar di makanan Kak Theo. Sayang tidak ada bukti CCTV-nya.”


“Terus apa rencananya Riana sampai datang ke Semarang ?” tanya Arjuna dengan dahi berkerut.


“Cilla nggak tahu detilnya, tapi sempat mendengar pas mereka berdua ke toilet, Cilla buru-buru ke sana duluan dan ngumpet di WC. Riana ada bicara soal obat yang berhasil dia dapatkan. Dugaan Cilla sih kalau kemarin Mas Juna mau diajak bicara berdua dengan Luna, sudah pasti Riana akan muncul dan memberikan obat apapun itu. Kemungkinan obat perangsang yang bisa membuat Mas Juna harus bertanggungjawab pada Riana.”


“Untung aja keduluan kamu, Cil. Kalau nggak bisa dipastikan keperjakaan Arjuna bakal jadi milik Riana,” ujar Tino terkekeh.


“Tino ! Perlu banget apa ngomongin soal begituan ?” omel Arjuna dengan wajah emosi sambil menunjukkan kepalan tangannya yang siap dilayangkan untuk Tino.


“Maaf boss, susah menahan diri untuk bicara fakta,” Tino menangkup kedua tangannya di depan wajah sambil terkekeh.


“Sabar sayang, biarin aja Om Tino mau ngomong apa. Maklum asisten Mas Juna itu ngiri soalnya melepaskan keperjakaannya bukan sama perawan,” ujar Cilla sambil mengusap-usap bahu Arjuna dan melirik Tino dengan tatapan meledek.


“Eh nih bocil sotoy banget, ya !” omel Tino sambil melotot menatap Cilla yang malah menjulurkan lidahnya.


“Berani lo melotot sama istri gue ?” Arjuna balas melotot pada Tino. “Masih mau terima gaji dari gue apa udah mau pindah tempat ?”


“Dasar suami istri tegaan,” gerutu Tino. “Kompak banget kalau lagi menindas orang.”


Arjuna akhirnya tertawa melihat Tino menggerutu dengan wajah ditekuk.


“Terima kasih istriku sayang, kamu memang paling pengertian dan selalu tahu apa yang dibutuhkan suami,” Arjuna tersenyum sambil membelai wajah Cilla.


“Dasar pasangan lebay !” Tino mencebik dan berbalik ke posisi awalnya sambil menggerutu.


”Nggak lagi berantem, nggak lagi baikan apalagi mesra-mesraan selalu lebay abis,” gerutu Tino yang masih bisa didengar oleh Arjuna dan Cilla.


“Makanya carinya calon istri, Om Tino, jangan sukanya tebar pesona doang !” ledek Cilla. “Makin tua cowok memang makin menawan, tapi kalau udah ketuaan banget yang ada malah jadi sugar daddy doang.”


“Doain yang benar !” omel Tino tanpa menoleh.


“Iya… iya Cilla doain biar Om Tino cepat dapat jodoh yang baik tapi jangan posesif apalagi protektif.”


“Cilla nyindir Mas Juna ?” Arjuna melirik istrinya yang langsung mengusap wajah suaminya.


“Nggak kok, cuma mikirin kalau sampai istrinya Om


Tino posesif apalagi protektif, bisa-bisa habis menikah disuruh berhenti kerja karena takut Om Tino masih suka lirak lirik di kantor. Apalagi di kantor Mas Juna karyawan ceweknya hobi banget pakai rok pendek.”


“Tuh Jun, harap didengar keluhan istri,” Tino balas meledek Arjuna.


“Tinggal bilang sama papa, Sayang. Mas Juna nggak pernah ngurusin soal internal,” Arjuna kembali mengelus rambut Cilla.”


“Nanti Cilla ngomong sama papa, biar Mas Juna nggak keseringan ditempelin ulat bulu,” ujar Cilla dengan bibir mengerucut.


Arjuna tertawa dan mengecup bibir Cilla sekilas.


“Boss, di depan sini ada orang hidup bukan robot yang nggak punya perasaan,” sindir Tino yang tanpa melihat tahu kalau Arjuna mencium Cilla dari suara kecupan yang tertangkap oleh telinganya.


“Makanya kenapa Cilla suruh Om Tino duduk di depan biar nggak baper melihat Mas Juna sayang-sayangan sama Cilla,” ujar Cilla sambil cekikikan.