
“Dimana Cilla ?”
Arjuna menahan langkah Glen yang baru saja keluar kelas usai mengajar. Rahang Arjuna mengeras dan ia membalas sapaan mahasiswa yang melintas hanya dengan anggukan kepala.
“Kenapa tanya pada saya ? Anda kan suaminya.”
Glen tersenyum sinis sambil melewati Arjuna dan berjalan mendahului suami Cilla itu. Arjuna hanya mengikutinya dari belakang, tidak mungkin bicara keras karena posisi mereka masih melintasi ruang-ruang kelas di lantai 2.
“Jangan membuang-buang waktu !” bentak Arjuna setelah berhasil menarik Glen di dekat ruang dosen yang sepi.
“Katakan dimana istriku ! Aku sudah memegang bukti kalau kamu adalah orang terakhir yang ditemuinya.”
Arjuna yang sudah tidak bisa menahan kesabarannya langsung mencengkram kerah kemeja Glen yang malah tersenyum mengejek.
“Bukti kalau saya menculiknya ? Kenapa berpikir kalau saya yang menyembunyikan Priscilla ? Bagaimana kalau dia sendiri yang memutuskan untuk pergi darimu ? Sekarang mungkin hanya beberapa hari lalu akhirnya selamanya.”
“Cilla bukanlah perempuan pengecut seperti itu,” geram Arjuna dan Glen hanya tertawa mengejek.
“Manusia bisa berubah seiring waktu dan tidak ada yang mustahil jika itu menyangkut soal hati. Bukankah dulu kamu juga sangat membenci muridmu itu sebelum menikahinya ?”
“Berharap perasaan Cilla beralih padamu ?” sindir Arjuna sambil tersenyum mengejek. Ia melepaskan cengkramannya.
”Bukan berharap tapi memberitahumu segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.”
Arjuna hanya menatap tajam ke arah Glen yang terlihat tenang bahkan masih bisa tersenyum. Kalau tidak ingat pesan Tino supaya jangan menggunakan kekerasan untuk menghadapi Glen, rasanya Arjuna ingin membuat pria di depannya babak belur.
****
Langit mulai gelap saat Cilla membuka tirai. Cilla sudah berkeliling mencari celah untuk membuka jendela atau pintu, tapi tidak ada yang bisa dilakukannya, semua terkunci rapat bahkan pintu balkon pun tidak bisa dibuka.
Ada rasa khawatir kalau terjadi kebakaran atau gempa di bangunan ini karena tidak ada jalan keluar yang bisa Cilla gunakan.
Cilla langsung menoleh saat pintu apartemen dibuka. Ia mengutuki dirinya yang duduk di sofa, bukan berjaga-jaga di depan pintu supaya bisa langsung mencari celah saat ada orang masuk.
Glen datang membawa satu kantong kertas besar dan satu kantong kresek yabg Cilla yakin berisi makanan.
“Mandilah dulu, ini pakaian ganti untukmu. Semoga saja cocok dengan seleramu.”
Glen meletakkan kantong kertas besar di dekat kaki Cilla namun wanita itu bergeming, tidak menyentuh pemberian Glen sama sekali. Pria itu sendiri berjalan menuju dapur dan terdengar gesekan kantong plastik dibuka.
“Aku tahu kamu tidak akan betah tidak mandi seharian dan jangan sampai tidak makan kalau masih sayang dengan puteramu.”
Cilla masih terdiam dan memasang wajah kesal. Ia menyesal telah meminta Arjuna untuk bicara baik- baik dengan Glen karena pria di hadapannya in ternyata seorang pengecut.
“Untuk apa Bapak menahan saya seperti ini ? Apa semua masalah dengan Mas Juna akan selesai dengan menyandera saya seperti ini ?”
“Makanlah !”
Glen menyodorkan sepiring nasi goreng yang dibawanya untuk Cilla.
“Saya yakin bukan seperti ini yang diharapkan Kak Gina. Lagipula bagaimana selembar surat cinta bisa menjadi bukti kalau Mas Juna yang menyebabkan Kak Gina mengakhiri hidupnya ?”
”Tidak usah mencoba membela cowok egois itu di hadapanku karena kamu belum mengenal dia dengan baik !” sahut Glen dengan nada gusar dan tatapan penuh rasa marah.
“Bukan sekedar membela tapi saya mengenal siapa suami saya,” sahut Cilla sambil tersenyum mengejek.
“Mas Juna sudah berusaha mencari akar masalah dan minta maaf pada Pak Glen secara langsung tapi ternyata Bapak tidak cukup berani untuk menuntaskan masalah ini.”
“Jangan membuatku ingin berbuat lebih padamu hingga akhirnya kamu dan Arjuna akan menyesalinya seumur hidup !” ancam Glen sambil mencengkram rahang Cilla.
Cilla tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun meskipun ada rasa khawatir kalau sampai Glen mengeksekusi ucapannya.
“Kalau begitu jangan pernah lagi bilang Bapak mencintai saya,” sahut Cilla dengan tatapan tajam.
“Tidak seharusnya Bapak memperlakukan orang yang dicintai seperti ini.”
Glen menghempaskan tangannya dengan kasar hingga membuat Cilla meringis dan terjembab di atas sofa.
Pria itu masuk ke dalam kamar dan membanting pintu sekencang-kencangnya.
***
“Siapa kamu ?” bentak Tino saat pria yang membawa mobil Glen turun di parkiran basement apartemen.
Tino mengerahkan 2 orang untuk mengikuti aktivitas Glen dari kampus. Semua data dosen itu sudah diberikan termasuk ciri-ciri pria itu dan pakaian yang dikenakannya hari ini sesuai info yang diberikan Arjuna.
Ternyata Glen sudah mengantisipasi semua kemungkinan hingga membayar orang untuk menggantikannya membawa pulang mobilnya dan memakai pakaian Glen hari itu.
”Sa…ya..Saya penghuni di sini,” sahut pria itu dengan wajah ketakutan.
“Tapi mobil dan pakaian kamu bukan milikmu !” bentak Tino kembali untuk membuat pria di hadapannya merasa takut dan akhirnya mengaku.
“Mobil ini memang milik Glen, penghuni di sini yang saya kenal. Mobil saya mogok di kantor dan niatnya hanya ingin nebeng pulang dengan Glen karena tempat kerja kami berdekatan. Ternyata Glen malah menyuruh saya membawa mobilnya pulang karena dia masih ada urusan di tempat lain.”
“Dan ini,” Tino mencengkram kemeja yang dikenakan pria itu.
“Glen memang minta tolong saya memakai kemejanya tapi untuk apa saya tidak tahu. Saya menurut karena bersyukur sudah dipinjamkan mobil untuk pulang.”
Tino menghela nafas dan memaki sendiri dengan kesal. Glen sudah berhasil mengecoh mereka.
“Awas kalau kamu bohong !” ancam Tino yang langsung memberi isyarat supaya pria itu naik ke lobby bersamanya.
Ternyata apa yang diceritakan pria itu hampir sepenuhnya benar. Dia memang penghuni di apartemen yang sama dengan Glen dan mobilnya memang ada di parkiran gedung kantor yang disebutnya, tapi mogok atau tidaknya belum dipastikan lebih lanjut.
“Saya tidak bohong kan ?” tanya pria itu dengan senyuman sombong.
“Kali ini kami memang tidak bisa membuktikan kalau anda bekerjasama dengan Glen untuk mengecoh kami namun jangan berharap anda bisa bebas begitu saja. Cukup hanya dengan satu bukti anda terlibat dalam tindakan kriminal yang dilakukan oleh Glen saat ini, jangan harap bisa bebas dengan mudah,” sahut Tino dengan senyuman smirk nya.
Pria itu bergegas masuk ke dalam lift dan meninggalkan Tino beserta 2 orang suruhannya.
”Sorry Jun belum ada hasilnya,” ujar Tino yang langsung menghubungi Arjuna sambil berjalan keluar.
”Yakin kalau Cilla nggak ditempatkan di apartemen itu ?”
“Sistem keamanan di sini dipegang oleh MegaCyber dan orang-orang mereka sudah memastikan kalau Cilla tidak pernah mendatangi apartemen ini.”
Terdengar helaan nafas panjang Arjuna dari seberang sana. Bukan hanya dirinya yang gelisah, tapi Sean juga ikut tidak tenang sejak maminya tidak kunjung pulang dan sama sekali tidak menelepon seharian ini.
“Gue mengandalkan elo, No,” lirih Arjuna.
“Gue pasti akan mengusahakan yang terbaik, Jun.”
Panggilan telepon pun berakhir dan Tino beserta 2 anak buahnya meninggalkan apartemen dengan tangan hampa.