MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Para Penjaga Jodoh Orang


Baru sampai depan lapangan basket, terlihat Jovan berlari kecil menghampiri Dono bersama Cilla. Nafasnya sedikit tersengal karena berlari di bawah terik matahari yang cukup menyengat.


 


“Kamu mau ngapain ?” tanya Dono dengan alis menaut.


 


“Tadi Febi sama Lili sudah menceritakan kejadian Cilla dan Sherly, Pak. Biar saya yang antar Cilla. Rencananya nggak pulang, tapi beli handphone baru,” ujar Jovan.


 


“Ngaco Jo, mana bisa main langsung beli aja. Elo pikir gue mau beli kerupuk buat makan bakso ?” dahi Cilla berkerut  mendengar ucapan Jovan.


 


“Gue tadi sempat ngomong sama om Rudi, tapi tenang aja, gue nggak cerita soal kejadiannya karena bukan saksi langsung juga. Gue bilang handphone elo nggak sengaja jatuh. Bokap elo bilang, beli aja terserah mau yang mana, nanti soal pembayaran, bokap bisa langsung transfer ke rekening toko atau kirim orang untuk bayar.”


 


Dono geleng-geleng sambil tersenyum. Dasar anak-anak orang kaya, mau ganti handphone tinggal tunjuk mau yang mana, nggak perlu mikir harus kumpulin uang dulu.


 


“Gue mau tunggu Mas Juna aja,” ujar Cilla.


 


Sejak bertunangan, Cilla memang sedikit membatasi bergaul dengan kaum pria. Bukan karena Arjuna melarang, tapi Cilla sadar kalau ada hati yang harus dijaga. Cilla berharap Arjuna akan memperlakukan dirinya sama juga.


 


Jovan langsung menekan tombol handphonenya. Ternyata mantan ketos itu berbicara dengan Arjuna. Entah apa yang dikatakannya karena Jovan sedikit menjauh dari Cilla dan Dono. Tidak lama Jovan kembali dan memberikan handphonenya pada Cilla.


 


“Calon suami mau bicara,” ledek Jovan sambil tertawa.


 


Cilla mencibir dengan wajah cemberut dan menerima handphone Jovan.


 


“Kamu pergi dulu aja sama Jovan diantar Bang Dirman. Nanti aku akan minta Amanda menyusul kalian di sana. Aku nggak rela kalau kamu pergi berdua aja dengan pemburu cintamu itu,” ujar Arjuna dengan nada suara terdengar jutek.


 


“Iya..Cilla ngerti kok,” sahut Cilla sambil tertawa.


 


“Aku percaya sama kamu, tapi belum bisa percaya sama mantan ketos itu, Jadi kamu jalan aja, nanti selesai rapat di sekolah, aku akan nyusul ke sana. Rencananya Jovan akan kasih pinjam motornya dan kalian sama Bang Dirman.”


 


“Ya udah, Cilla pergi dulu ya,” pamit Cilla.


 


Baru saja ia mau menutup teleponnya, terdengar gema suara Arjuna memanggilnya.


 


“Kenapa Mas ?” tanya Cilla.


 


Di tempatnya Arjuna senyum-senyum. Hatinya langsung terasa adem dan bahagia saat mendengar Cilla memanggilnya dengan sebutan Mas Juna.


 


“Suruh Jovan duduk di depan sama Bang Dirman, dia nggak boleh duduk sama kamu,” tegas Arjuna dengan suara galak.


 


“Iya.. siap jalankan perintah Pak Arjuna,” ledek Cilla sambil tertawa.


 


“Mulai sekarang setiap panggil aku dengan sebutan bapak saat di luar sekolah, denda satu ciuman.”


 


Cilla hanya tertawa sambil mencibir meski Arjuna sudah pasti tidak bisa melihatnya. Ia pun langsung mematikan sambungan telepon mereka karena melihat Dono sudah bolak balik melirik jam tangannya.


 


“Saya pergi dengan Jovan, Pak Dono. Sudah dapat ijin dari Mas Juna,” ujar Cilla pada walikelasnya.


 


“Kalau begitu saya balik dulu ya, soalnya belum makan. Rapat bakalan lama karena membahas masalah semesteran.”


“Saya titip ini untuk Pak Arjuna, Pak Dono. Nanti Pak Arjuna yang bawa motor saya ke mal.” Jovan menyerahkan kunci dan STNK motornya pada Dono.


 


“Terima kasih sudah mengantar saya, Pak,” Cilla membungkukan badannya sekilas.


 


“Titip Cilla, Van. Awas jangan macam-macam, bisa habis dikuliti kamu sama Pak Arjuna,” ujar Dono sambil tertawa.


 


 Jovan balas tertawa dan tangannya memberi hormat layaknya saat pengibaran bendera waktu upacara.


 


“Duduk di depan !” perintah Cilla saat melihat Jovan hendak membuka pintu belakang.


 


“Yaelah Cilla, calon laki elo tega banget ya sama gue. Benar-benar kayak penjaga jodoh orang doang,” omel Jovan namun akhirnya bergeser ke depan juga. Cilla hanya tertawa pelan melihat wajah Jovan yang menggerutu kesal.


 


Mobil yang dikendarai Bang Dirman pun berjalan meninggalkan sekolah Guna Bangsa. Cilla menyandarkan kepalanya ke pintu, mengingat kejadian yang baru saja dialami di sekolah.


 


Ia menghela nafas. Hidup memang tidak selurus jalan tol. Sekali- sekali pasti ada lubang atau jalan berkerikil.


Tidak bisa selalu berjalan dengan kecepatan penuh, sekali-sekali harus perlahan karena mungkin cuaca yang tidak baik.


 


Jovan duduk di depan tanpa mengajak Cilla bicara. Meski Cilla sempat menjauh darinya selama sembilan tahun, namun kebiasaan gadis ini bila sedang ada masalah belum berubah. Lebih memilih diam dan ingin dibiarkan sendiri.


Hampir 40 menit kemudian, mobil memasuki lobby salah satu mal di kawasan Jakarta Selatan.


 


“Jo, memangnya harus mal ini yang kita datangi ?” tanya Cilla saat melihat tempat yang mereka datangi terasa asing baginya. Ini pertama kalinya Cilla menginjakan kakinya di mal ini.


 


“Sesuai instruksi yang mulia Arjuna elo tuh,” sahut Jovan sambil memperlihatkan pesan yang dikirim oleh Arjuna. “Katanya ada toko milik temannya di sini. Selisih harganya lumayan kalau dibandingkan dengan toko resmi di mal besar.”


 


“Bukan barang aspal kan ?” tanya Cilla sambil menautkan alisnya.


“Mana mungkin calon suami elo suruh beli barang aspal apalagi abal-abal,” sahut Jovan.


 


Saat di pintu masuk, mereka berdua sempat dicegah oleh petugas keamanan, memastikan kalau mereka bukan anak sekolah yang kabur saat pelajaran tengah berlangsung.


 


Baru mereka masuk ke dalam mal, terlihat Amanda sudah menunggu dan melambaikan tangan ke arah Cilla dan Jovan.


 


“Elo nggak sekolah ?” tanya Cilla saat melihat adik Arjuna itu sudah memakai baju bebas.


 


“Sudah libur dari kemarin, makanya gue bisa sampai duluan di sini.”


 


“Naik ojol ?” tanya Cilla khawatir hanya demi disuruh kakaknya menemani Cilla, Amanda terpaksa harus naik kendaraan umum.


 


“Nggak kok,” sahut Amanda sambil menggeleng dan tersenyum. “Tadi diantar sopirnya papa sebelum balik ke kantor.”


 


 


“Calon laki elo beneran ya,” omel Jovan di belakang Cilla. “Sampai suruh si biang rusuh ini kemari juga. Nggak percaya banget sih sama gue.”


 


“Memang tampang elo kurang bisa dipercaya,” ujar Amanda sambil mencibir.


 


Cilla hanya tertawa dan menarik lengan hoodie Jovan supaya segera berjalan di depan menuju toko yang dimaksud oleh Arjuna.


 


Letak toko milik teman Arjuna ternyata tidak sulit dicari karena berada di tengah-tengah dan cukup besar serta ramai dengan pengunjung.


 


“Mbak Cilla ya  ?” tanya seorang pegawai perempuan yang menghampiri mereka saat ketiganya celingak celinguk mencari orang yang harus mereka temui.


 


“Mbak Lasmi ya ?” tanya Jovan.


 


“Iya saya Lasmi. Tadi boss saya sudah telepon kalau ada temannya Pak Luki akan datang kemari,” sahut Lasmi, wanita berusia tigapuluhan itu tersenyum ramah.


 


Ketiga anak SMA itu sibuk membahas handphone mana yang akan dibeli Cilla sampai tidak sadar kalau di belakang mereka sudah ada yang berdiri sejak tadi sambil senyum-senyum.


 


“Semuanya bagus,” komentar cowok tampan itu.


 


Cilla yang mengenali suaranya langsung berbalik dan tampak senang saat melihat dua cowok tampan sudah berdiri di depannya.


 


“Kak Theo ! Om Luki !”


 


“Yahh masa Theo dipanggil kakak, aku dipanggil om,” protes Luki dengan wajah cemberut.


 


“Memang tampang elo lebih tua,” ledek Theo.


 


Amanda yang mengenali kedua sahabat kakaknya sejak SMP itu juga langsung menyapa begitu juga dengan Jovan yang sudah beberapa kali bertemu dengan para sahabat Arjuna.


 


“Kak Luki cocoknya jadi sugar daddy,” ledek Amanda sambil terkikik.


 


Cilla langsung mengulurkan tangan dan melakukan tos dengan Amanda sambil tertawa.


 


“Kalau kalian berdua jadi sugar baby-nya, dengan senang hati aku jadi daddy,” sahut Luki sambil mengedipkam sebelah matanya.


 


“Cari sugar baby yang lain,” celetuk seseroang dengan suara juteknya.


 


“Nah tuh pawangnya udah datang,” ledek Theo sambil tertawa. “Satu adik, satu lagi calon istri. Kalau langsung dikasih ijin, gue sumbang deh 100 juta.”


 


“Seratus jutanya jangan langsung kasih ke Om Luki, Kak Theo. Transfernya ke Cilla sama Amanda aja. Bisalah sebentar pura-pura jadi sugar baby- nya om Luki, begitu uang masuk tinggal bye bye sama Om Luki.”


 


“Boleh juga kalau begitu, Cil,” timpal Amanda.


 


“Aku tahu kalau penghasilanku nggak seberapa sebagai guru, tapi tidak perlu juga sampai minta sama sepupu kamu dengan cara begitu,” omel Arjuna.


 


“Demi limapuluh juta, sekedar jalan-jalan sama om Luki nggak apa-apa dong, Mas Juna. Lumayan buat tambah-tambah tabungan,” ledek Cilla sambil terkekeh.


 


“Iya, Manda juga mau, Kak Juna,” timpal Amanda sambil menaik turunkan alisnya.


 


“Udah kalau butuh buat makan doang, sini sama papa Jovan,” celetuk Jovan yang berdiri di belakang Arjuna.


 


“Eh ini lagi satu,”  omel Arjuna sambil melotot menatap Jovan, “Sejak kapan adik saya butuh uang dari kamu ?”


 


“Namanya juga usaha, Pak. Usaha,” sahut Jovan sambil mencibir.


 


“Tuh Manda, udah ditembak sama Jovan,” goda Cilla sambil menyenggol calon adik iparnya. “Jarang-jarang loh Jovan nembak cewek. Udah terima aja,” Cilla menaik turunkan alisnya.


 


“Aku nggak kasih ijin !” ucap Arjuna dengan galak.


 


“Mas Juna !” tegur Cilla.  “Dilarang menghalangi jodoh orang. Lagipula Jovan sudah terverifikasi sama papi, jadi aman juga buat Amanda.”


 


“Sudah teruji klinis belum. Cil ?” celetuk Luki sambil tertawa.


 


Bahasa anak bebek Arjuna ini kalau sedang emosi suka memancing tawa orang yang mendengarnya.


 


“Sudah dapat sertifikat ISO, Om,” sahut Cilla sambil tertawa.


 


Arjuna hanya melengos kesal, apalagi dilihatnya Amanda tidak marah digoda Jovan dan Cilla, malah adiknya itu sedang tersenyum malu-malu.


 


Dasar abege labil. Dirayu cowok ganteng langsung klepek-klepek. Dulu aja Luna tidak menggubris Arjuna yang sudah terkenal seantero SMA karena gantengnya biarpun sudah tiga tahun bersama. Adiknya yang baru beberapa bulan kenal dengan mantan ketos idola Guna Bangsa ini, langsung tersipu begitu dirayu sedikit.


 


“Jangan cemberut begitu, udah muka pas-pasan malah jadi jelek. Apalagi mulut pakai dimajuin begitu, ” ledek Cilla sambil cekikikan.


 


“Kan kamu sendiri yang kasih nama aku bapaknya anak bebek,” sahut Arjuna dengan senyum meledek.


 


Cilla membelalakan matanya menatap Arjuna. Darimana tunangannya ini tahu kalau Cilla menggunakan sebutan bapaknya anak bebek dalam daftar panggilan teleponnya ?