MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Ke Rumah Theo


Para murid SMA Guna Bangsa terkesima dengan pemandangan yang melewati mereka. Kali ini Cilla digandeng oleh cowok keren namun wajahnya terlihat misterius karena mengenakan kacamata hitam. Cilla sendiri sudah siap-siap menjadi trending topikdalam waktu dekat ini.


 


Theo sengaja menggandeng Cilla menuju mobilmya karena melihat ada sosok Arjuna yang memperhatikan mereka dari lantai 2. Sekalian sudah terlanjur basah, Theo tidak mau tanggung-tanggung membuat sahabatnya menyesal dengan ucapannya.


 


“Kita mau kemana, Om ?” Tanya Cilla saat mereka sudah di mobil.


 


“Ke rumah. Mami udah nunggu kamu di sana sampai masak khusus buat kamu. Lagian kamu mau lihat koleksi foto mami, kan ?” Pandangan Theo tetap lurus ke depan fokus dengan jalan raya yang dilewatinya.


 


“Dimasakin bukan sama calon mertua, kan ?” tanya Cilla sambil terkekeh.


 


“Memangnya kamu mau kalau jadi menantunya mami ?” tanya Theo sambil tertawa pelan.


 


“Nggak !” jawab Cilla spontan.


 


“Dasar bucinnya Arjuna. Apa kamu nggak takut sakit hati kalau sampai dia tetap menolak kamu ?”


 


“Saya sudah biasa diabaikan soal cinta, Om. Jadi Pak Arjuna bukan orang yang pertama. Saya selalu punya cara mengatasinya,” sahut Cilla dengan senyuman getir.


 


“Memang berapa banyak cowok yang kamu taksir ?” Theo menoleh sekilas sambil mengerutkan dahinya.


 


“Bukannya cinta pacar doang, Om,” Cilla tergelak. “Tapi cinta orangtua juga. Papi seperti nggak sayang lagi sama saya. Biarpun masih serumah, kami jarang ketemu. Kalau ke kantor papi, saya harus buat janji dulu. Nggak kayak papi-papi umumnya yang selalu senang kalau anak ceweknya dekat dengan papinya. Jadi saya berasa kalau cinta saya ditolak sama papi,” celoteh Cilla sambil tertawa, namun getir terdengar di telinga Theo.


 


Pria itu menarik nafas panjang. Alasan inilah yang membuat  dirinya dan mami Siska mengajak Cilla bertemu siang ini.


 


Setelah 25 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di rumah keluarga Theo. Rumah besar dan mewah dengan pagar otomatis yang dibuka dengan remote dari dalam mobil. Ada penjaga di pos dekat gerbang. Theo membuka kaca dan melambaikan tangan pada seorang pria paruh baya yang sedang berjaga di sana.


 


Ternyata mami Siska sudah menunggu mereka di depan pintu utama. Setelah keduanya turun, Theo menyerahkan kunci mobil pada sopir yang tinggal di rumah itu juga.


 


“Apa kabar Cilla ?” mami Siska langsung memeluk gadis belia itu  dan mengusap punggungnya.


 


“Baik Tante. Terima kasih karena sudah diundang siang ini,” Cilla tersenyum setelah mami Siska melerai pelukannya.


 


“Mam,” Theo menyapa maminya dan memberikan salam cipika cipiki seperti kebiasaannya.


 


Ketiganya melewati ruang tamu langsung menuju ke ruang makan. Cilla tercengang melihat banyak makanan sudah disiapkan di atas meja. Bukan hanya menu utama, namun ada kue-kue yang menggoda selera,


 


“Kita makan dulu, ya. Mumpung sayurnya masih hangat.”


 


Cilla mengangguk dan mengikuti mami Siska yang sejak tadi menggandeng tangannya. Mereka duduk berdampingan sementara Theo berada persis di seberang Cilla.


 


“Bagaimana masakan mami. Cil ?” tanya Theo saat Cilla sudah memakan separuh nasi dan lauknya yang ada di piring.


 


“Enak pakai banget,” Cilla memberikan jempolnya. “Dan sedikit mirip-mirip masakan mami,” lirih Cilla.


 


“Memangnya kamu masih ingat bagaimana rasa masakan mami kamu ?” tanya mami Siska menautkan kedua alisnya.


 


“Sedikit Tante, menu ini,” Cilla menunjuk pada mangkuk lauk berisi semur daging .”Mami sering memasaknya saat saya kecil, jadi begitu mencicipi masakan Tante, saya langsung teringat sama mami. Bahkan Bik Mina tidak bisa membuatnya mirip seperti ini.”


 


“Kalau begitu kapan-kapan akan Tante buatkan lagi dan minta Theo mengantarkannya untukmu,” sahut mami Siska sambil menepuk punggung tangan Cilla yang ada di atas meja.


 


“Jangan merepotkan Om Theo, Tante. Saya bisa mampir kemari sekalian main dengan Tante.”


 


Mami Siska tertawa mendengar panggilan Cilla untuk Theo.


 


“Jangan panggil Theo dengan sebutan om, kasihan ketuaan. Lagipula pasangan om itu kan tante, jadi berasa kalau Theo itu suami tante.”


 


Cilla ikut tertawa sambil menatap Theo. “Memang Om Theo sudah kelihatan agak tua sih, Tante. Dan sepertinya memang cocok dipanggil om.”


 


 


Selesai makan siang, mami Siska mengajak Cilla duduk di ruang keluarga. Tidak lama mereka duduk, seorang pelayan membawakan tiga piring buah yang berbeda jenis dan sepiring kue bolu keju buatan mami Siska.


 


Cilla mengambil sepotong kue bolu keju dengan piring kecil yang sudah disediakan, menunggu mami Siska dan Theo yang sedang ke ruangan lain untuk mengambil album foto.


Tidak lama hanya mami Siska yang kembali seorang diri.


 


“Theo sedang mengurus pekerjaan kantor,” ujar mami Siska seolah menjawab tatapan Cilla.


 


Cilla hanya mengangguk karena mulutnya sedang mengunyah kue bolu keju. Tidak lupa ia memberikan jempol pada mami Siska sebagai tanda kue yang dimakannya sangat enak.


 


Mami Siska duduk di sebelah Cilla dan memberikan dua album kecil. Cilla yang sudah menghabiskan kuenya, menaruh piring di atas meja lalu mengambil salah satu album foto yang diberikan oleh mami Siska.


 


Wajahnya langsung berbinar saat melihat foto-foto mami Sylvia di masa mudanya, bahkan beberapa di antaranya terlihat mami Sylvia mengenakan seragam SMA, berarti kurang lebih seusia Cilla saat ini.


 


“Mami Sylvia sangat mirip denganmu di masa mudanya. Saat melihatmu, tante seakan-akan melihat Sylvia kembali.”


 


“Tante pernah tinggal serumah dengan mami ?” tanya Cilla saat melihat beberapa foto yang memperlihatkan maminya dan mami Siska mengambil pose di sebuah rumah dan kamar.


 


“Ya, kami memang tinggal serumah sejak lahir,” sahut mami Siska dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Kami serumah karena kedua orangtua kami sama,” lanjut mami Siska dengan suara lirih.


 


Cilla tercekat mendengarnya. Tangannya terhenti saat menyentuh salah satu foto dimana terlihat sepasang suami istri dengan dua putri mereka yang masih kecil-kecil bahkan salah satunya masih dalam gendongan ibunya.


 


“Maksud Tante ?” Cilla mendongak dan menatap mami Siska dengan dahi berkerut.


 


Terlihat mami Siska sedang mengusap air mata yang membasahi pipinya.


 


“Kami adalah kakak adik, Cilla. Sylvia adalah adik tante satu-satunya. Hanya dia yang tante punya setelah kedua orangtua kami meninggal.”


 


Mami Siska tidak mampu lagi menahan isak tangisnya. Cilla sendiri masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Selama ini, maminya tidak pernah bercerita kalau mempunyai seorang kakak kandung.


 


“Mami tidak pernah bercerita kalau masih punya kakak kandung,” ujar Cilla dengan suara pelan dan tertahan.


 


“Karena tante memutuskan hubungan dengan Sylvia saat dia menikah dengan Rudi Darmawan,” sahut mami Siska di sela-sela isak tangisnya.


 


“Kenapa Tante sampai memutuskan hubungan dengan mami  hanya karena mami menikah dengan papi ? Apakah papi orang yang tidak baik ?” tanya Cilla dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


 


“Karena mami kamu lebih memilih papimu daripada tante, kakak kandungnya. Kekecewaan tante pada mamimu membuat tante memutuskan untuk pergi jauh-jauh dan menganggapnya tidak pernah ada sebagai adik kandung.”


 


“Jadi Om Theo adalah kakak sepupu saya ?” tanya Cilla saat melihat Theo masuk dan menghampiri Cilla dan mami Siska yang duduk di sofa. Mami Siska mengangguk.


 


Theo yang duduk di samping mami Siska memeluk wanita kesayangannya yang masih menangis tersedu.