
Cilla baru saja masuk ke dalam lobby hotel saat Arjuna keluar dari lift. Pria itu terlihat sudah segar dan tampan meski belum mandi.
Wajah Cilla berbinar saat langkahnya bertemu dengan Arjuna di tengah-tengah lobby.
“Terima kasih Bapak beneran mau temani saya pagi ini,” Cilla mengatupkan tangannya di depan wajah sambil tersenyum sumringah.
“Memangnya kamu mau makan dimana pagi ini ?”
Cilla memberi isyarat supaya Arjuna mengikuti langkahnya keluar hotel menuju parkiran.
“Ada rumah makan soto Semarang yang jadi tempat favorit saya. Saya selalu menyempatkan makan di sana setiap kali kemari.”
“Kenapa nggak untuk makan siang ?”
“Sejak pagi, rumah makannya sudah ramai pengunjung, Pak. Saya nggak yakin kalau jam 11 nanti masih ada untuk kita berenam.”
Mereka sampai di parkiran hotel yang ada si basement. Arjuna mengerutkan dahinya saat melihat Cilla mendekati motor bukan mobil.
“Bapak bisa bawa motor ?”
Arjuna mengangguk dengan alisn yang saling menaut.
“Motor siapa ?”
“Motor teman saya, Pak. Semalam saya pinjam, tadi pagi diantar. Ternyata sekalian dibawakan helm baru juga,” Cilla menunjuk dua helm yang tergantung di spion.
Arjuna mengambil kunci yang diserahkan oelh Cilla dan mengambil helm yang sudah dipilihkan oleh Cilla.
“Kalau di film-film, cowoknya bantuin ceweknya pakai helm loh, Pak,” Cilla terkekeh saat mulai memakai helmnya.
“Ini kenyataan, bukan film. Lagian cowok melakukan itu karena ada kesempatan dalam kesempitan. Biar kelihatan romantis aja.”
Arjuna menjawab dengan wajah datar dan mulai menyalakan motor pinjaman Cilla.
“Jadi Bapak nggak romantis, dong,” Cilla terkekeh.
“Romantisnya buat pacar saya doang.”
“Nggak bisa pagi ini saya pura-pura jadi pacar Bapak ?”
“Kamu cerewer banget, Cil. Banyak maunya juga. Mau jadi pergi atau batal ?” Wajah Arjuna berubah ketus begitu juga dengan nada bicaranya yang terdengar kesal.
Cilla tertawa dan mendudukan b**kongnya di jok penumpang.
“Awas coba-coba mengambil kesempatan pegang-pegang saya, ya !” Ancam Arjuna sebelum menjalankan motormya.
“Sepertinya otak Bapak harus dikuras, biar nggak gampang nethink sama saya,” Cilla mencebik.
Arjuna mulai menjalankan motornya dan Cilla yang duduk di belakang perpegangan pada bagian belakang motor.
“Jangan ngebut Pak, kalau tidak mau saya peluk san nggak akan saya lepaskan lagi,” Cilla mendekatkan wajahnya ke pundak Arjuna supaya suaranya terdengar dengan seringai jahil di bibirnya.
“Bawel ! Kasih tahu saya jalannya,” omel Arjuna yang membuat Cilla malah tertawa.
Cilla menikmati semilir angin lagi kota Semarang. Kebahagiaannya terasa semakin lengkap karena ternyata Arjuna mau memenuhi permintaannya untuk menemani ia sarapan di luar hotel.
Semalam ia mengirim pesan pada calon gurunya itu sebagai teman makan, bukan murid
Dengan alasan hutang traktiran gaji pertama Arjuna sebagai guru di SMA Guna Bangsa, Cilla sedikit memaksa Arjuna untuk menemaninya.
Cilla tidak lagi berharap Arjuna akan memenuhi permintaannya karena pesan terakhirnya tidak lagi terbalas. Hanya dua centang biru yang artinya sudah dibaca.
Kejutan buat Cilla saat mendapati Arjuna keluar dari lift dan bersedia memenuhi ajakannya. Cilla merasa kalau liburannya kali ini luar biasa meski hanya seminggu.
Rumah makan yang dimaksud Cilla masih di sekitaran daerah penjual lumpia. Bangunan sederhana namun memang ramai pengunjung seperti Cilla katakan..
“Terima kasih sudah mau menemani saya pagi ini, Pak Arjuna. Ternyata Bapak memang teman makan saya yang terbaik.” Cilla memberikan jempolnya
Mereka sudah duduk di salah satu meja berbagi dengan pengunjung lainnya. Tidak lama pesanan mereka sudah diantar.
Perlahan semangkok soto ayam yang dicampur nasi dengan asap yang masih mengepul mulai dinikmati. Keduanya tidak banyak bicara karena selain ramai, soto yang panas itu harus ditiup dulu sebelum masuk mulut.
“Jangan terlalu banyak makan sambal,” Arjuna menahan tangan Cilla saat gadis itu ingin memasukan sendok kermpat ke dalam mangkoknya.
“Namanya juga cewek, Pak,” Cilla tertawa. “Rata-rata cewek suka rasa pedas dan asam, apalagi kalau sedang datang bulan.”
Arjuna hanya menatap Cilla dan menggeleng tanpa menjawab. Matanya memberi isyarat supaya Cilla meletakan kembali sendok sambal. Bukannya marah Cilla malah tersenyum dan mengerjapkan matanya.
“Iya, iya… saya nurut. Tapi bukan karena saya Amanda. Bapak nggak boleh lupa kalau nama saya Pricilla.”
Cilla menuruti perintah Arjuna sambil terkekeh, apalagi saat mleihat Arjuna mendengus kesal, karena seperti biasa gadis itu mengingkatkan kalau ia bukan adiknya Arjuna.
Jam 10 mereka baru kembali ke hotel. Bukan hanya sekedar sarapan pagi, Cilla juga mengajak Arjuna keliling ke beberapa tempat makanan.
“Hmmm” Arjuna hanya menjawab dengan gumaman sambil menyerahkan kunci motor pada Cilla.
Keduanya naik ke lobby dan lanjut kembali ke kamar tanpa percakapan apapun. Bahkan saat lift sudah sampai, Arjuna langsung berbelok ke arah lorong kamarnya tanpa sepatah kata meninggalkan Cilla. Gadis itu hanya menghela nafas panjang.
Jam 11, Cilla sudah menunggu di lobby dengan kopernya dan beberapa kantong oleh-oleh yang ternyata sudah disiapkannya untuk Lima Pandawa. Dengan bantuan Pak Tono, Cilla membagi-bagi bungkusan itu menjadi beberapa kantong.
Termyata Lima Pandawa sampai di lobby tigapuluh menit kemudian. Mereka terheran melihat banyak bungkusan yang tersusun dekat koper Cilla.
Gadis itu kembali menyelesaikan administrasi hotel setelah menerima kunci kedua kamar yang diberikan oleh Theo, sekalian menitipkan kunci motor untuk kenalannya.
“Ngeborong Cil ?” Tanya Erwn sambil menatap ke arah bungkusan di samping koper Cilla.
“Buat orang sekampung,” sahut Cilla sambil tertawa. Ia mulai mengambil 5 kantong yang sudah disiapkan .
“Ini goody bag buat orang-orang di rumah. Biar pria-pria lajang ini dikasih ijin kalau mau pergi lagi.”
Cilla menyerahkan masing-masing sekantong oleh-oleh khas Semarang untuk para pria itu, khusus Boni diberikan 2 kantong.
“Ini titipan untuk Kak Mimi. Cilla udah kasih tahu juga semalam. Jangan dikorupsi ya, Om Boni kan udah dut dut,” Cilla tertawa.
“Mas Juna nya nggak kebagian nih, Cil ?” Ledek Luki.
“Kalau buat guru, spesial dong,” Cilla melirik Arjuna. “Tanpa bandeng presto, soalnya nggak bisa goreng-goreng juga di tempat kost. Nanti dibawainnya udah matang lengkap nasi dan bumbu cinta,” ujar Cilla sambil tertawa.
Diserankan kantong yang lebih kecil untuk Arjuna.
“Spesial untuk Bapak guru tersayang.”
“Awas ada peletnya tuh, Jun,” ledek Erwin.
“Pak Arjuna nggak akan mempan biar dikasih dobel pelet sama saya , soalnya pelet calon istrinya lebih kuat lagi, Om.”
Bukan hanya Cilla yang tertawa namun keempat sahabatnya juga ikut tertawa.
Selesai memasukan koper ke dalam mobil, Cilla membawa mereka ke salah satu rumah makan sederhana tidak jauh dari hotel.
Jam satu lebih limabelas, mobil sudah sampai di Bandara Ahmad Yani. Semua mengucapkan terima kasih pada Pak Tono yang menjadi sopir mereka selama 5 hari ini. Terlihat Theo memberikan sebuah amplop hasil urunan dengan keempat sahabatnya sebagi tips untuk Pak Tono.
Suasana bandara tidak terlalu ramai karena mereka pulang di hari biasa meskipun masih dalam rentang liburan panjang anak sekolah.
“Cil, thankyou so much ya udah buat liburan kita jadi berkesan banget,” Luki mengulurkan tangannya dan dibalas dengan Cilla hingga keduanya berjabatan.
“Boleh peluk nggak ?” Sambil berkata, Luki melirik ke arah Arjuna yang duduk di belakang Cilla sedang memainkan handphonenya.
Dilihatnya Arjuna masa bodoh dan masih fokus dengan handphonenya.
“No hug no kiss, Om,” Cilla terkekeh. “Kalau Om semua hug and kiss Cilla, bisa-bisa usaha pdkt-nya gagal,” ujarnya sedikit berbisik sambil menutup mulutnya dengan sebelah telapak tangannya.
Luki, Erwin dan Boni yang ikut berdiri dekat Cilla ikut tertawa.
“Justru harus lempar umpan dulu, Cil,” sahut Erwin. “Biar ketahuan ikannya ada atau nggak.”
“Lo kira mancing di empang ?” Cela Boni sambil mencibir.
“Cil, thankyou atas ajakan liburannya ya,” Theo mendekat dan menyalami Cilla juga.
“No hug no kiss, tapi kalau foto boleh dong ?”
Cilla tertawa dan menggangguk. Theo mengeluarkan handphonenya dan langsung merangkul bahu Cilla lalu mengambil foto selfie mereka berdua.
“Dih Theo nggak ajak-ajak,” cebik Erwin.
“Buat pasang di pp, mau pamer calon pacar ,” Theo tertawa
“Haiss bakal ada pertandingan antar CEO nih,” celetuk Erwin kembali.
“CEO ?” Cilla menautkan alisnya. “Maksud Om Erwin itu Om Theo sama…”
“Jangan didengar omongan Erwin. Udah tahu mulutnya suka kepeleset,” potong Theo cepat lalu kembali merangkul bahu Cilla, pura-pura tidak tahu kalau Arjuna sempat meliriknya.
“Yuk foto ramean,” ajak Theo.
Ketiga sahabatnya langsung mengambil pose di antara Theo dan Cilla, hanya Arjuna sendiri yang masih duduk di tempantnya.
“Jun, woi jangan sok jaim deh !” Omel Luki.
Arjuna bangun dengan malas, ingin menolak bisa omelan sahabatnya sepanjang jalan kenangan.
Dan ketiga sahabat yang penuh pengertian itu sengaja menyuruh Arjuna berdiri di sebelah Cilla. Jadilah gadis itu diapit oleh Arjuna dan Theo yang masih merangkulnya.