MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Wanita Penggoda


“Jadi sekarang panggilnya aku kamu ?” wanita itu beranjak bangun dari ranjang dan mendekati Arjuna.


Dengan gerakan yang gemulai, wanita itu berdiri di depan Arjuna dan mulai memainkan jemarinya di antara kancing-kancing kemeja Arjuna.


“Mau jadi wanita penggoda ?” cebik Arjuna masih memasang wajah dingin dan datar.


Debar jantungnya makin tidak karuan melihat penampilan wanita di depannya memakai baju tidur hitam berbahan satin dengan tali spageti.


“Kenapa ? Mulai tergoda ?” tangan wanita itu masih bermain-main di kemeja Arjuna malah dengan berani mulai membuka kancing kemejanya.


“Yakin nggak menyesal kalau sampai Mas Juna tergoda ?” Arjuna memandang anak bebeknya dengan tatapan menyeringai siap menerkam.


“Kalau akhirnya menyesal nggak bakal Cilla jauh-jauh naik pesawat datang kemari terus repot-repot minta pihak hotel cariin kamar yang ranjangnya besar kayak begini.”


“Jadi sengaja bikin suami emosi tingkat dewa dulu ?”


Arjuna memegang dagu Cilla yang malah senyum-senyum sambil meneruskan gerakan jemarinya hingga seluruh kancing kemeja Arjuna terlepas.


“Menurut info dari mbah, dalam keadaan emosi pertarungan akan makin hot.”


Arjuna tertawa dan melepas kemejanya, menyisakan kaos putih berlengan yang pas di tubuhnya.


“Terus dari jam berapa nunggu di sini ?”


“Baru sampai jam 3 sore di hotel, langsung minta ganti kamar pas tahu Mas Juna tidur di kamartwin bed. Pakai dicurigai segala soalnya pas lihat KTP umur Cilla baru 17 tahun. Akhirnya Cilla kasih lihat surat nikah kita sekalian minta bantuan om Budi untuk menghubungi GM hotel. Manajer front office-nya sampai keluar dan minta maaf sama Cilla karena karyawannya sudah menganggap Cilla cewek nggak benar. Cilla bilang…”


Arjuna langsung menarik Cilla dan membungkam bibir gadis itu dengan ciuman panas sampai Cilla gelagapan karena kehabisan nafas.


“Anak bebek kesayangan Mas Juna bawel banget, sih,” Arjuna menyatukan keningnya dengan kening Cilla.


“Kan Mas Juna tanya makanya Cilla kasih tahu detilnya.”


“Terus pergi dari pagi kemana ?”


Tanpa malu-malu, Arjuna melepas celana panjangnya hingga menyisakan boxer saja, lalu menarik Cilla duduk di pangkuannya di pinggir ranjang.


“Ke rumah sakit Pratama.”


“Ngapain ?” Arjuna langsung mengerutkan dahi dengan tangannya memeluk pinggang Cilla. “Jangan bilang kalau ada janji sama KAK STEVEN !”


Arjuna sengaja menekan nama Steven dengan bibir yang mulai cemberut. Cilla tertawa dan mencium pipi Arjuna cukup lama.


“Ketemu dokternya betul tapi bukan Steven namanya. Dokter Wanda, spesialis kandungan.”


“Ngapain ?” Arjuna kembali mengerutkan dahi.


“Konsultasi dong. Cilla tanya baiknya bagaimana tetap bisa membahagiakan suami tapi belum mau hamil dulu karena usia Cilla. Cilla tahu kalau dokter Wanda pasti bingung dan bertanya-tanya, makanya sebelum menemui dokter Wanda, Cilla minta saran om Raymond dulu. Om Raymond bilang kalau dokter Wanda adalah dokternya Kak Kirana, istri om Bastian. Jadilah Cilla dikasih solusi. Tante Wanda memilihkan pil KB untuk Cilla karena usia Cilla masih sangat muda. Tante Wanda banyak tanya-tanya sih kenapa Cilla mau nikah muda, berapa usia Mas Juna dan banyak pertanyaan lain deh. Berasa kayak lagi diinterogasi sama detektif.”


Arjuna tertawa melihat ekspresi wajah Cilla yang penuh semangat menceritakan semuanya.


“Jadi beneran udah siap di-unboxing sekarang ? Nggak jadi nunggu bulan madu ?” Arjuna melirik Cilla dengan tatapan menggoda.


“Jadi nggak mau nih ? Nunggu sampai jadwal bulan madu aja ?” Cilla bangun dari pangkuan Arjuna namun lengannya ditahan oleh Arjuna.


“Jangan menyesal kalau Mas Juna eksekusi malam ini, ya. Sekali dimulai jangan harap Mas Juna akan berhenti.”


Arjuna langsung menggendong Cilla membuat gadis itu terkejut sekaligus merasa malu.


Perlahan Arjuna merebahkan Cilla di atas ranjang dan membuka kaos putih yang menutupi tubuhnya. Setelah menyibakkan selimut, Arjuna pun naik ke atas ranjang dan mengukung Cilla.


“Tunggu !” Cilla menahan tubuh Arjuna. “Lampunya matiin dulu, jangan terlalu terang begini. Cilla malu,” ujarnya tersipu dengan wajah makin merona.


Arjuna tertawa dan menggeser tubuhnya ke samping Cilla lalu duduk di tepi ranjang dan mulai menekan tombol-tombol lampu hingga hanya tersisa lampu baca yang bercahaya redup.


Arjuna pun kembali ke atas tubuh Cilla dengan posisi kedua tangannya masih menopang di kedua sisi Cilla.


“Mas Juna,” Cilla kembali menjulurkan tangannya. “Beneran pelan-pelan, ya. Cilla sebetulnya takut banget sih, takut sakitnya. Tapi Cilla juga mau jadi istri yang baik.”


“Iya, masa Mas Juna mau kasarin dan nyakitin Cilla. Katanya sih sakit di awalnya doang, sisanya kenikmatan surga,” sahut Arjuna terkekeh.


Cilla tersenyum malu-malu membuat Arjuna bertambah gemas dan langsung bergerak ingin mencium bibir Cilla. Aroma tubuh Cilla membuat gejolak hatinya semakin tidak karuan.


“Mas Juna !” Cilla menutupi mulutnya sebelum bibir Arjuna menyentuhnya. “Kalau obat dari tante Wanda nggak berhasil terus Cilla hamil gimana ?”


“Ya udah,” Cilla menggeser telapak tangannya namun kembali menahan bahu Arjuna membuat pria itu menarik nafas panjang menahan rasa kesal bercampur gairah.


“Mas Juna…” Cilla tercengang saat mulutnya kembali dibungkam dengan bibir Arjuna.


“Udah nggak usah terlalu pikiran, jangan banyak tanya dan khawatir. Santai aja, semua pasti bisa berjalan dengan sendirinya. Apa yang kita lakukan malam ini bukan hal yang berdosa, jadi nggak usah takut. Mas Juna udah nggak tahan lagi nih gara-gara Cilla dari tadi menggoda Mas Juna terus.”


Cilla tersenyum malu-malu dan takut anak bebeknya bertanya macam-macam lagi, Arjuna langsung membungkam bibir Cilla penuh gairah membuat Cilla merasakan cinta yang luar biasa dari Arjuna.


Kecemasan Arjuna kini berganti kebahagiaan saat mendapat kejutan manis dari istri kecilnya ini. Kegalauan hatinya menanti Cilla siap menjadi istrinya secara penuh akhirnya bisa terjawab malam ini saat Cilla menyerahkan diri seutuhnya menjadi milik Arjuna seorang.


Cilla memeluk erat tubuh Arjuna dan menggigit bibirnya saat Arjuna akhirnya mengambil haknya sebagai suami, sebagai laki-laki pertama dan satu-satunya dalam hidup Cilla.


☘️☘️


Jam 7 pagi Cilla terbangun saat cahaya matahari mulai mengintip di sela-sela bawah tirai.


Bibirnya langsung mengembangkan senyum saat melihat Arjuna masih tertidur pulas di sampingnya dengan posisi terlentang. Cilla menyentuh satu persatu bagian wajah Arjuna dengan penuh rasa bahagia. Akhirnya Cilla bisa memberikan diri seutuhnya sebagai seorang istri.


Cilla terkekeh saat melihat ada tiga tanda merah di leher Arjuna dan sisanya beberapa ada di bahu Arjuna. Cilla merasa wajahnya panas karena malu. Ternyata memang secara alami, akhirnya Cilla bisa dengan sendirinya tanpa perlu dintuntun atau diajari oleh Arjuna. Rasanya benar-benar malu saat Cilla ikut bersemangat mengimbangi permainan Arjuna setelah kecemasannya akan rasa sakit berganti dengan kenikmatan.


Cilla benar-benar bahagia karena bisa memberikan miliknya yang paling berharga untuk Arjuna yang sekarang sudah berstatus suaminya sebagai pria yang sangat dicintainya.


Cilla tercengang saat bibirnya menyentuh pipi Arjuna, mata pria tampan di sampingnya itu langsung terbuka. Rupanya Arjuna terbangun saat Cilla memainkan telunjuknya di wajah Arjuna sambil senyum-senyum.


“Mau ngulang yang semalam ?” ledek Arjuna saat Cilla cepat-cepat berbaring di samping Arjuna dengan wajah memerah menahan malu.


“Nggak dulu,” Cilla menggeleng dan menarik selimut hingga di bawah hidungnya.


“Kenapa ? Kan udah nggak sakit lagi, malah Cilla hot banget semalam, udah pintar banget nih anak bebek kesayangan Mas Juna.”


Arjuna sengaja menarik selimut Cilla hingga kedua tubuh polos mereka saling menempel membuat buli kuduk Cilla meremang.


Tangan Arjuna langsung terentang, menarik Cilla ke dalam pelukannya.


“Kok malu-malu begini ? Semalam semangat banget pas di atas,” ledek Arjuna sambil tertawa.


“Kalau digodain terus, besok-besok Cilla nggak mau gantian nih,” ancam Cilla dengan bibir mengerucut.


Arjuna tergelak dan menghujani wajah Cilla dengan ciuman penuh cinta.


“Jangan dong ! Soalnya Cilla keren banget pas lagi gaya menunggang kuda,” ujar Arjuna masih tertawa.


“Mas Juna apaan sih,” gerutu Cilla sambil memukul bahu suaminya, malu dengan ucapan Arjuna


“Sekali lagi ya, habis itu kita mandi terus sarapan,” pinta Arjuna dengan wajah memelas.


“Nggak bisa, Cilla lagi ada misi,” Cilla menggeleng.


“Misi apa lagi ?” Arjuna mengerutkan dahinya


“Mengusir wabah ulat bulu. Cilla tahu kok kalau kemarin Mas Juna ketemu Luna karena Rafael itu adik tirinya Luna. Cilla juga lihat pas Luna pegang-pegang Mas Juna dekat pintu restoran.”


“Kok Mas Juna nggak tahu ?” Arjuna mengernyit.


“Mungkin karena Mas Juna terlalu fokus sama Luna dan menghalau debar jantung gara-gara ketemu mantan calon istri,” Cilla mencebik.


“Dih mana ada lagi debar jantung buat Luna, yang ada malah emosi jiwa karena Theo nggak cari tahu dulu siapa itu Rafael,” sahut Arjuna berapi-api.


“Pengalihan deh, padahal aslinya nggak begitu,” Cilla masih menyindir sambil mencebik.


“Perlu bukti ?” Arjuna mengangkat tubuhnya sedikit berhadapan dengan Cilla.


“Mana bisa hati orang diterawang,” sahut Cilla kembali menncibir.


“Bisa,” Arjuna kembali berada di atas tubuh Cilla dan mengukungnya


.”Mas Juna mau ngapain ? Nanti kesiangan,” protes Cilla.


“Sekali aja, sayang. Mas Juna pastikan kalau misi Cilla tetap bisa tercapai dan dengan senang hati Mas Juna membantu. Sekarang kita shiort time dulu, baby,” bisik Arjuna di telinga Cilla dengan suara mendesah membuat akhirnya Cllla pasrah dengan perlakuan Arjuna yang membuatnya kembali melayang ke langit ketujuh.


Rasanya susah menolak gejolak cinta yang juga menggebu di hati Arjuna dan Cilla. Sekarang keduanya benar-benar bukan lagi aku dan kamu tapi kita.