MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Kegelisahan Cilla


Cilla sengaja minta pada papi Rudi agar mereka diturunkan di ujung Orchard Road dan berjalan kaki menuju apartemen yang letaknya di sisi ujung lainnya.  Papa Rudi menuruti permintaan putri tunggalnya ini.


 


“Kamu lagi mau bicara apa ?” tanya papi Rudi sesaat setelah mereka turun.


 


“Mau jalan berdua aja sama papi.”


 


“Papi mungkin sudah lama tidak bersamamu, tapi tidak akan pernah lupa kebiasaanmu saat kecil. Jangan suka mencari tahu sendiri apalagi menebak-nebak hal penting yang mengganjal di hatimu,” papi Rudi menepuk-nepuk jemari Cilla yang menggandeng lengannya.


 


Cilla tersenyum, bahagianya mendengar papi Rudi masih begitu perhatian dan mengingat hal-hal kecil yang sudah menjadi kebiasaannya.


 


“Kalau Cilla menikah dengan Mas Juna dalam waktu dekat, apa semua tanggungjawab perusahaan papi diserahkan pada Mas Juna ?”


 


“Kenapa ? Kamu nggak rela kalau suami kamu yang pegang ?” tanya papi sambi tertawa.


 


“Bukan begitu,” Cilla menghela nafas. “Kalau Mas Juna pegang banyak perusahaan, berarti Mas Juna akan jadi suami yang super sibuk. Dan ujung-ujungnya Cilla akan sendirian lagi. Tidak mungkin mengganggu Mas Juna yang punya tanggungjawab sama perusahaan.”


 


Papi Rudi kembali tertawa dan melepaskan tangan Cilla di lengannya. Sekarang papi Rudi merangkul bahu putrinya sambil menyusuri jalan.


 


“Jadi sejak tadi masalah itu yang mengganjal di hatimu ?”


 


“Sudah dua hari ini Mas Juna kelihatan sibuk. Tadi pagi sempat video call sebelum berangkat ke Semarang sama papa. Katanya mau survey lokasi di daerah Batang. Kak Theo bilang, kesibukan Mas Juna  belum seberapa karena saat ini tugasnya hanya membantu papa, belum kembali menjadi CEO. Dan kalau menikah dengan Cilla dalam waktu dekat ini, tanggungjawab perusahaan milik papi sudah pasti akan menjadi tugas Mas Juna sampai Cilla mencapai usia yang memenuhi syarat secara hukum.”


 


Cilla menjeda sejenak dan kembali menghela nafas. Matanya menangkap satu penjaja es krim yang ada di jalan. Papi Rudi yang melihat pandangan putrinya langsung mengerti dan mendekati gerobak es krim itu. Kebiasaan Cilla kalau sedang gelisah, suka mencari es krim atau susu cokelat atau minuman dengan rasa strawberry.


 


Papi Rudi memesan satu es potong dengan rasa cokelat mint kesukaan Cilla.


 


“Papi masih ingat aja rasa kesukaan Cilla setiap kali makan es ini,” wajah Cilla berbinar saat papi Rudi memberikan potongan es itu.


 


“Kan papi sudah bilang, sekalipun beberapa tahun terakhir jauh dari kamu, tapi semua tentang kamu tidak pernah terhapus dari ingatan papi.”


 


“Terima kasih papi,” Cilla bergelayut manja pada papi Rudi.


 


“Mau duduk di situ atau jalan terus ?” Papi Rudi menunjuk pada undakan tangga yang ada di dekat situ. Cilla hanya menunjuk ke arah yang dimaksud papi Rudi karena mulutnya baru saja menikmati potongan es.


 


“Balik ke masalah kamu sama Juna,” ujar papi Rudi saat keduanya sudah duduk. “Kenapa kamu harus berpikir sampai sejauh itu ? Yang perlu kamu pikirkan sekarang adalah masalah ujian sekolah yang sudah di depan mata.”


 


“Tapi masalah dengan Mas Juna juga harus dipikirkan dari sekarang, Pi. Cilla nggak mau kesepian lagi dan Cilla takut kalau sampai terlalu sering jarang bertemu, Mas Juna akan kehilangan cintanya sama Cilla. Cilla takut kalau sampai itu terjadi,” ujar Cilla dengan nada sedih di akhir kalimatnya. Wajahnya juga terlihat sendu membuat hati papi Rudi terasa sesak.


 


Papi Rudi tersenyum dengan raut wajah sedih melihat kecemasan putrinya. Selama ini Cilla selalu memperlihatkan diri sebagai gadis yang dewasa, ceria dan optimis, namun saat ini yang terlihat hanyalah seorang Cilla,  gadis belia yang belum genap tujuhbelas tahun, yang kehilangan rasa percaya dirinya karena rasa trauma.


 


“Menjadi seorang pengusaha sudah pasti akan lebih sibuk daripada pekerja biasa, karena tanggungjawabnya bukan hanya pada satu pekerjaan saja tapi seluruh hidup perusahaan menjadi beban yang harus dipikulmya. Tapi papi yakin kalau Arjuna pasti bisa membagi waktu untuk semuanya itu. Sama seperti papi saat mami masih ada, papi pasti selalu meluangkan waktu untuk mami dan kamu.”


 


“Tapi papi seperti menjauh dari Cilla saat mami sudah tidak ada. Saat  itu Cilla bilang pada diri sendiri kalau  semuanya  karena perusahaan papi makin berkembang dan tanggungjawab yang papi pikul semakin besar. Hal yang sama akan terjadi juga pada Mas Juna, karena  kalau sampai menikah dengan Cilla, bukan hanya perusahaan papa Arman yang harus Mas Juna teruskan, tapi juga usaha papi. Cilla ingin cepat-cepat besar supaya beban Mas Juna tidak terlalu berat. Tapi selama usia Cilla belum memenuhi syarat, Cilla tetap tidak bisa membantu Mas Juna. Kalau sudah begitu Cilla akan merasa tidak berguna di mata Mas Juna  dan bisa saja Mas Juna bosan pada Cilla lalu mencari wanita lain yang bisa mengimbangi Mas Juna. Cilla benar-benar takut kehilangan Mas Juna dan sendirian lagi.”


 


Papi merengkuh bahu Cilla dan membawa membiarkan putrinya bersandar di bahunya.


 


“Papi tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Papi akan bicara dengan papa Arman soal perusahaan kami berdua. Semuanya itu bisa diatur. Perusahaan papi dan papa Arman bisa digabungkan supaya waktu Arjuna tidak akan tersita banyak untuk mengurus beberapa perusahaan yang berbeda lokasi. Papi dan papa akan memastikan kalau Arjuna tetap punya waktu untuk Cilla, bahkan untuk anak-anak kalian juga.”


 


“Kalau masalah anak sepertinya belum terpikir dalam benak Cilla,” ujar Cilla sambil tersipu.


 


Papi tertawa dan meraih tangan Cilla yang masih memegang es potong, mengigit sedikit ujung es yang mulai lumer.


 


“Nanti punya anak yang banyak sama Arjuna, biar banyak yang membantu papinya untuk mengurus perusahaan,” ledek papi Rudi sambil tertawa.


 


 


“Masih khawatir soal hubungan kamu sama Arjuna ?’ papi Rudi melirik putrinya yang masih menikmati es krim. Cilla mengangguk.


 


“Papa Arman pasti akan ngamuk kalau Arjuna sampai menyia-nyiakan atau mengabaikan kamu. Apa kamu lupa kalau papa Arman sampai tega membiarkan Arjuna harus keluar rumah dan kost dengan uang seadanya karena kabur saat ingin dikenalkan denganmu ?” ujar papi Rudi sambil terkekeh.


 


‘Tapi kalau sudah menikah, Mas Juna….”


 


“Jangan berpikir terlalu  jauh,” papi Rudi meletakan jari telunjuknya di bibir Cilla. “Kekhawatiran sering membuat kita melihat hal-hal buruk yang belum tentu terjadi dan kejadian buruk bisa terjadi karena pikiran kita sendiri.”


 


“Terus Cilla harus bagaimana, Pi ?”


 


Keduanya kembali berjalan menyusuri Orchard Road yang terang benderang dan terlihat meriah dengan hiasan bernuansa natal dan tahun baru.


 


“Jalani hidup selangkah demi selangkah sesuai dengan usia dan kemapuanmu saat ini. Jangan memaksakan diri untuk menjadi lebih dari kemampuanmu apalagi untuk menjadi apa yang orang lain inginkan. Tanggungjawabmu saat ini adalah  menyelesaikan pendidikan SMA, lanjut kuliah dan raih cita-citamu. Hidup itu ibarat kita naik tangga yang tidak tahu ada dimana ujungnya. Tidak baik melompati dua undakan sekaligus, kamu bisa terpeleset atau bahkan jatuh karena kakimu tidak cukup panjang untuk meraihnya. Masalah usaha papi dan papa Arman saat ini adalah tanggungjawab kami berdua. Sebagai orangtua, kami pasti akan memikirkan yang terbaik untuk anak-anaknya.”


 


“Terima kasih karena papi sudah mengerti Cilla,” Cilla kembali bergelayut manja dan menyandarkan kepalanya pada lengan papi Rudi karena tidak cukup tinggi untuk meletakan kepalanya di bahu papinya.


 


‘Papi yakin kalau Arjuna bukanlah pria yang mudah tergoda oleh wanita lain. Selama kamu menjalankan tugas dan tanggungjawab sebagai seorang istri, Arjuna pasti akan selalu mencintaimu. Dan selama papi dan papa Arman masih hidup, jangan harap Arjuna bisa begitu mudah mempermainkanmu,” tegas papi Rudi dengan wajah galak. Cilla tertawa melihatnya.


 


“Jadi ceritanya kencan sama sugar baby-nya hanya begini aja,” ujar Cilla saat langkah mereka sudah semakin mendekati apartemen.


 


“Memang sugar baby-nya mengharap apa lagi ? Shopping ? Dibeliin rumah dan apartemen mewah ? Semua milik papi sudah pasti diwariskan untuk putri kesayangan papi ini.” Papi Rudi kembali merengkuh bahu Cilla dan memeluknya dari samping.


 


“Minta sedikit waktu papi supaya Cilla nggak perlu sampai bikin janji lewat om Budi kalau mau ketemu. Setidaknya sekarang Cilla punya teman curhat yang bisa dipercaya dan memberikan nasehat yang luar biasa.” Cilla mengacungkan jempolnya ke hadapan papi Rudi.


 


“Boleh… boleh… Kalau masalah waktu aja bisa diatur. Selama di sini kamu nggak mau shopping ? Banyak tawaran sale yang lumayan menggiurkan. Biasanya anak seusia kamu paling senang dan puas kalau berhasil memburu barang diskon.”


 


“Iiih itu mah bukan masalah umur, Papi. Semua cewek kalau melihat ada tanda persen di belakang harga barang pasti langsung berbinar-binar wajahnya. Tapi sayangnya Cilla nggak termasuk salah satunya, apalagi kalau sudah lihat tanda persen di belakang angka dalam soal yang Mas Juna berikan… Huuffftt langsung pusing kepala.”


 


Cilla mengerucutkan bibirnya dengan ekspresi wajah seperti orang yang sedang kepusingan.


 


“Kamu tuh cinta banget sama Juna, ya ? Hampir setiap ucapan kamu tuh pasti ada selipan nama Arjuna,” ledek papi sambil tertawa.


 


“Memangnya kelihatan banget kalau Cilla cinta banget sama Mas Juna ya, Pi ?” alis mata Cilla menaut.


 


“Banget ! Kalau papi nggak salah, istilahnya bucin, ya ?”


 


“Duuh jangan cerita apa-apa sama Mas Jua ya, Pi, bisa-bisa gede kepala tuh guru matematika kalau tahu Cilla cinta banget sama dia.”


 


“Terus kamu akan berikan sogokan apa supaya papi tutup mulut ?” papi Rudi mengerlingkan matanya.


 


“Cinta Cilla yang segini,” Cilla mengangkat tangan dan membuat bentuk lingkaran dengan kedua tangannya. “Seperti lingkaran yang tidak punya sudut. Cinta Cilla sama papi juga tidak punya sudut, tidak berujung.”


 


“Terima kasih karena sudah jadi putri papi yang kuat dan hebat. Terima kasih karena Cilla selalu menyayangi papi meskipun sudah berkali-kali papi membuat Cilla kecewa dan sakit hati,” papi Rudi memberikan pelukan hangatnya sebelum memasuki lobby apartemen.


 


“Terima kasih juga karena sudah menjadi papi Cilla,” Ciilla membalas dengan pelukan dan menyandarkan kepalanya di dada papi Rudi.


 


Keduanya kini berdiri di depan lift dengan tangan Cilla masih bergelayut di lengan papi Rudi. Terlihat papi Rudi beberapa kali menghela nafas dan menutupi kegelisahan hatinya dengan senyuman.


 


Bagaimana mungkin berbagi kenyataaan tentang penyakitnya saat papi Rudi melihat Cilla sedang dalam keadaan rapuh karena kegundahan hati soal hubungannya dengan Arjuna. Cilla mungkin sudah tertawa dan kembali ceria, tapi sebagai ayah, papi Rudi paham benar kalau kekhawatiran putrinya belum benar-benar terangkat dari hatinya.


 


Apalagi papi Rudi sempat menangkap kekecewaan saat melihat Cilla beberapa kali menghela nafasnya setelah melihat handphone miliknya. Sudah pasti Cilla sedang menunggu pesan atau panggilan telepon dari calon suaminya. Raut wajahnya menyiratkan kekecewaan setiap kali tidak menemukan apapun dari Arjuna di layar handphonenya.