MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
MCPG 2 Aksi Pertama Glen


Ujian semester sudah berlalu seminggu yang lalu dan sebagian nilai sudah keluar.


Cilla terlihat kesal saat mengetahui kalau dirinya masuk sebagai salah satu dari 3 mahasiswa yang gagal lolos dalam ujian matkul statistik.


”Elo ada masalah apa sama Pak Glen, Cil ?” tanya Dita saat menemani Cilla menuju ruang dosen.


“Masalahnya udah lewat lebih dari setahun yang lalu. Gue benar-benar nggak nyangka kalau dia masih dendam sama gue dan suami.”


“Jadi Pak Glen itu kenal sama suami elo juga ?”


“Teman sekolah malah.”


“Jangan bilang kalau laki elo pernah rebutan dirimu sebelum kalian nikah.”


“Iihh gue itu ketemu Pak Glen pas gue udah hamil, itu pun ketemunya nggak sengaja di Semarang pas gue lagi nongki sendiri di cafe.”


“Laki elo ?”


“Meeting,” sahut Cilla asal, enggan menceritakan kisah yang sebenarnya pada Dita.


“Mau gue temenin masuk ?” tanya Dita saat keduanya sudah sampai di depan pintu ruangan.


Ruangan yang didatangi bukan milik Glen pribadi, tapi ruangan yang biasa digunakan para dosen untuk bertemu dengan mahasiswa untuk membahas masalah perkuliahan secara personal.


“Gue tunggu di depan, ya ?” ujar Dita saat melihat Cilla menarik nafas panjang.


“Nggak apa-apa kalau elo mau ke kantin, nanti gue nyusul ke sana.”


“Nggak apa-apa, gue tunggu di sini aja biar elo lebih tenang. Kalau Pak Glen macam-macam, elo teriak aja, nanti gue langsung masuk.”


Cilla tertawa mendengar ucapan Dita dengan wajahnya yang terlihat serius. Hati kecil Cilla memang sedikit khawatir karena pria obsesi seperti Glen bisa melakukan sesuatu yang tidak terduga.


Cilla kembali menarik nafas panjang sebelum membuka pintu setelah mengetuknya 3x dan dipersilakan masuk oleh orang yang ada di dalam.


“Selamat siang, Pak,” Cilla menganggukan kepala setelah masuk ke dalam ruangan.


Glen mengerutkan dahi dan melihat ada bayangan Dita di belakang Cilla. Glen tersenyum tipis dan mengetik sesuati di handphonenya.


“Kamu tahu kan kenapa dipanggil kemari ?” tanya Glen sambil tersenyum tipis saat Cilla sudah duduk di hadapannya.


“Iya Pak dan saya siap membuat tugas untuk perbaikan,” Cilla mengangguk. “Tapi di kelas bukan hanya saya sendiri, masih ada 2 teman saya dan saya dengar mereka dikasih tugas tertulis.”


“Tugas kamu berbeda,” Glen bangun dari kursinya dan berjalan ke arah Cilla, duduk di pinggiran meja.


“Kenapa tugas saya harus berbeda dengan 2 teman saya padahal kami satu kelas ?”


“Karena kamu istimewa buatku,” Glen mencondongkan tubuhnya ke arah Cilla membuat wanita itu reflek mundur namun tidak bisa menjauh.


Kedua tangan Glen bertopang pada sandaran kursi membuat Cilla merasa tidak nyaman. Apalagi Glen mulai menyebut diri dengan aku kamu.


Wajah Glen benar-benar dekat dengannya hingga hembusan nafas pria itu terasa di wajah Cilla.


Setelah memutar otak dan memberanikan diri, Cilla mendorong tubuh Glen tanpa berniat kasar dan beranjak dari kursinya,


Glen tertawa pelan saat melihat sikap Cilla yang canggung dan waspada.


“Kamu harus membantuku memeriksa tugas mahasiswa selama seminggu, di sini, di ruangan ini.”


“Saya aja gagal dengan ujian matkul Bapak, sekarang Bapak suruh saya membantu memeriksa tugas mahasiswa. Bapak nggak salah ?” Mata Cilla membola menatap Glen yang menggelengkan kepalanya.


“Aku yakin kamu bisa karena kepintaranmu di atas rata-rata teman sekelasmu,” sahut Glen santai sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


“Di atas rata-rata ?” Cilla mengerutkan dahinya. “Jadi….”


Wajah Cilla berubah kesal saat Glen mengangkat kedua alisnya sambil tertawa.


“Jadi Bapak sengaja memberi saya nilai gagal supaya punya alasan untuk memanggil saya ke sini ?” suara Cilla mulai meninggi, emosi mendengar ucapan Glen.


Glen tidak menjawab dan hanya tertawa sambil berjalan kembali duduk ke kursinya.


“Sudah kubilang kalau kamu adalah wanita istimewa yang berhasil mencuri perhatianku. Aku tahu siapa Arjuna dan aku yakin kalau pernikahan kalian diterimanya hanya karena alasan bisnis. Aku akan menunggu Arjuna menunjukkan dirinya seperti apa dan di saat kamu merasakan kecewa, tanganku terbuka untuk menjadi pengganti Arjuna.”


Pria gila ! Sakit ! Maki Cilla dalam hatinya. Bagaimana bisa dia mengharapkan rumah tangga temannya berakhir dengan sebuah perpisahan.


”Tolong beri saya tugas tertulis lain, Pak. Saya keberatan dengan tugas yang Bapak berikan untuk memperbaiki nilai saya yang gagal dalam ujian. Meskipun Bapak bilang istimewa, tapi saya lebih suka diperlakukan sama seperti maba lainnya.”


“Berapa jam saya harus membantu Bapak memeriksa tugas mahasiswa ? Saya adalah wanita bersuami dan sudah memiliki anak, karena itu saya sangat disiplin soal waktu.”


“Setiap hari saat jam makan siang selama seminggu dan sore setelah jam kuliah kamu berakhir.”


Cilla menghela nafas. Jadwal kuliahnya sudah diatur sepanjang tahun maksimal hanya sampai jam 4 sore karena masih ada Sean di rumah yang perlu diperhatikan.


“Saya akan membantu saat jam makan siang tapi tidak di sore hari karena seperti saya jelaskan tadi soal status saya.”


“Oke, 7 hari kerja saat jam makan siang kamu membantu saya sekaligus menemani saya makan siang,” Glen tersenyum sambil mengulurkan tangannya.


Cilla ragu-ragu membalasnya namun akhirnya ia balas menjabat tangan Glen dan cepat-cepat melepaskannya.


“Kalau begitu saya pamit dulu, Pak.”


Cilla beranjak bangun dan membungkukkan badannya sekilas lalu berjalan menuju pintu.


Tepat di saat pintu terbuka, Glen ternyata mengikutinya menahan tangannya dan mendorong tubuh Cilla hingga menempel pada pintu yang terbuka.


Mata Cilla membola saat kedua tangan Glen memegang kedua bahunya dan wajah Glen mendekat ke samping wajahnya.


“Aku tidak akan menyerah karena kamu adalah istrinya Arjuna,” bisik Glen. “Bahkan aku akan memastikan kalau kamu akan meninggalkan Arjuna.”


Tubuh Cilla menegang dan dadanya berdebar karena emosi. Sebelum tangannya mendorong tubuh Glen, pria itu sudah menjauh.


Cilla menghela nafas panjang sambil melirik Glen kembali ke meja yang ada di ruangan itu dan merapikan laptopnya.


“Kamu bisa mulai besok,” tegas Glen dari mejanya.


“Saya permisi dulu, Pak,” pamit Cilla.


Cilla menghela nafas beberapa kali sambil mencari Dita yang sudah tidak kelihatan di selasar. Tangannya langsung mengambil handphone dari saku celana jeansnya.


DITA


Cilla, sorry gue tinggal dulu. Tadi pas lagi nunggu ada asdos minta bantuan bawain berkas terus ketahan di ruang dosen.


CILLAit’s oke Dit, gue baru beres sama Pak Glen. Gue langsung ke kelas nih.


Cilla tersenyum saat melihat Dita sedang mengetik balasan.


DITA


Gue otw ke kelas juga.


Cilla tersenyum tipis dan mulai bisa membaca langkah yang diambil oleh Glen. Tidak aneh kalau setelah ini, Arjuna akan mendapat kiriman kabar terbaru soal Cila dan Glen


*****


Sesuai pemikiran Cilla, di kantor Indopangan, Arjuna yang baru saja keluar dari ruang rapat terlihat kesal dan beberapa kali menarik nafas menahan emosi.


“Masih aja dapat kiriman foto hari ini ?” tanya Tino yang berjalan di sampingnya.


Arjuna tidak menjawab dan memperlihatkan handphonenya pada Tino.


“Gue yakin kalau tidak terjadi apa-apa antara Cilla dan Glen. Memang keinginan di pengirim elo nethink sama istri sendiri, kan ?”


“Bingung gue kenapa orang sampai niat banget begini,” keluh Arjuna dengan wajah kesal.


“Namanya juga usaha, Bro. Kan orang bilang usaha nggak mengkhianati hasil.”


“Itu kalau usaha untuk tujuan yang baik,” gerutu Arjuna dengan wajah ditekuk membuat Tino tertawa


Keduanya berjalan kembali ke ruang kerja Arjuna.


“Jun,” Tino menahan lengan Arjuna sebelum bossnya masuk ke dalam ruangan.


“Terus terang gue merasa sedikit aneh dengan kegigihan Glen merebut Cilla. Elo nggak pernah bersaing sama dia soal cewek, kan ? Atau mungkin elo pernah merebut cewek yang dia suka ?”


”Nggak lah !” sahut Arjuna emosi. “Gue belum sempat ngejalanin yang namanya pacaran sama Susan, terus sama Luna juga baru pacaran setelah kuliah. Selain itu gue nggak ada cerita sama cewek.”


“Yah tiba-tiba aja kepikiran dalam otak gue.”


Arjuna hanya mengangguk dan lanjut masuk ke dalam ruangannya.