
Cilla sedang berdiri di tembok pembatas depan kelas XII IPS-1 bersama Febi dan Lili. Matanya masih berbinar dan senyum tidak lepas dari bibirnya. Cilla tidak percaya kalau di kelas XII ini ia bisa meraih rangking 3 di kelas.
Sejak SMP Cilla hanya masuk dalam 10 besar, dan sempat 5 besar saat kelas 9. Lalu turun lagi ke 7 besar di kelas 10 sampai 11.
“Cil, elo masih waras, kan “ tanya Lili sambil menyentuh kening Cilla dengan punggung tangannya.
“Waras lah ! Kalau nggak waras mana bisa dapat rangking 3 di kelas,” ujarnya dengan senyuman bangga.
Papi Rudi yang tadi mengambil raport Cilla juga sempat terkejut saat Dono memberikan ucapan selamat atas prestasi yang diraih oleh calon istri Arjuna itu.
“Sepertinya perjodohan dengan Arjuna membawa dampak positif untuk Cilla, Pak,” ledek Dono sambil melirik ke arah Cilla.
“Mana pernah Mas Juna membantu Cilla belajar, Pak,” protes Cilla sambil mencibir.
Papi Rudi dan Dono hanya tertawa melihat reaksi Cilla yang langsung cemberut saat kedua orang dewasa di depannya menganggap kalau prestasinya berkat dukungan Arjuna.
“Cil,” Febi menyenggol bahu sahabatnya yang sempat melamun. “Tuh lihat calon suami elo ! Kayaknya emaknya si Sherly lagi usaha keras tuh ! Jangan-jangan ada niatan mau menjodohkan anaknya sama calon suami elo.”
“Eh iya tuh, Cil,” Lili menimpali. “Ngapain juga pakai pegang-pegang bahu Pak Juna begitu,” cibir Lili.
Cilla memicingkan matanya, melihat pemandangan Sherly yang bersikap tersipu-sipu sementara mamanya – tante Dinda – terlihat bersikap sedikit berlebihan pada Arjuna yang terlihat canggung.
“Susah memang punya calon suami orang cakep, nggak dimana-mana bisanya cuma jadi perhatian khalayak ramai. Udah kayak bintang film aja,” cibir Lili.
“Resiko Li, nggak bisa dicegah,” sahut Cilla sambil tetap memandang ke arah depan ruang guru dimana tante Dinda dan Sherly masih menahan Arjuna yang hendak kembali ke dalam ruang guru.
“Yang penting calon suami gue nggak membalas tuh dewi jadi-jadian dengan sikap lebay juga. Pantas aja anaknya centil dan over pede banget, lah emaknya aja kayak begitu. Sebelas duabelas,” cebik Cilla.
“Samperin yuk !” Lili langsung menarik lengan Cilla menuju tangga yang dekat dengan ruang guru.
“Dih Lili, mau ngapain juga gue di depan tuh dewi jadi-jadian ?” Cilla beusaha melepaskan cengkraman Lili, tapi Febi malah menahan bahunya dan mendorong supaya Cilla melangkah maju.
“Tunjukin kalo elo itu calon istri dan pemilik sekolah ini. Emaknya Sherly cuma anggota Komite Sekolah, nah kalo bokap elo kan pemilik sekolah, jadi dimana-mana tetap menang posisi elo !” Ujar Febi memberi semangat.
“Iihh ogah deh !” Cilla masih berusaha menolak paksaan kedua sahabatnya.
“Jangan ogeb deh !” Lili berbalik sambil melotot dan diangguki oleh Febi. “Cowok model Pak Arjuna itu bakal sering ditemplokin ulat bulu. Elo mau pasrah begitu aja ? Nanti kebiasaan. Jangan kasih longgar cowok model Pak Arjuna, namanya lelaki, bisa-bisa tergoda juga kalau kebanyakan ulet yang nempel.”
“Bener banget, Cil. Elo mau Pak Arjuna sampai punya selir ?” ujar Febi sambil terkekeh.
“Elo kira jaman kerajaan ? Butuh banyak selir demi menjaga kelangsungan tahta ?” Cilla gantian melotot pada Febi yang masih terkikik.
“Siang Pak Arjuna,” sapa Lili tanpa sungkan di depan tante Dinda dan Sherly. Spontan cewek terpopuler se-Guna Bangsa itu langsung cemberut dan menekuk wajahnya.
“Tadi bapak minta tolong saya dan Febi mencari Cilla. Ini kebetulan kami tangkap di depan kelas XII IPS-1,” Lili yang bicara, Febi mendorong Cilla supaya mendekat ke Arjuna.
“Elo kira gue buronan yang masuk DPO dan sekarang ditangkap ?” omel Cilla dengan suara berbisik sambil memandang kedua sahabatnya yang hanya nyengir kuda.
Arjuna sempat bingung dengan drama yang sedang dimainkan oleh Lili dan Febi karena mengusung Cilla yang tidak pernah dicari olehnya.
Namun sadar kalau mereka adalah bala bantuan yang datang untuk menyelamatkannya dari jebakan Sherly dan mamanya, Arjuna langsung mengangguk.
“Oh iya, benar saya memang mencari Cilla,” sahut Arjuna cepat dengan senyum mengembang. Ia pun bergerak mendekati Cilla supaya tangan tante Dinda yang masih memegang lengannya terlepas.
“Tadi saya dapat informasi dari Pak Dono kalau ada masalah nilai yang ingin kamu tanyakan,” lanjut Arjuna sambil mengedipkan sebelah matanya.
Posisinya yang memunggungi Sherly dan tante Dinda memungkinkan Arjuna untuk mengedipkan mata sambil tersenyum menggoda calon istrinya. Spontan Cilla langsung mendelik.
Febi dan Lili yang melihat tingkah Arjuna langsung tercengang, tidak menyangka gurunya bisa seperti itu. Tapi tidak lama keduanya langsung senyum-senyum.
“Kalau begitu, kita bicara di ruang Bu Retno saja. Febi, Lili, terima kasih ya sudah membantu mencari Cilla,” Arjuna menatap satu persatu muridnya sambil mengangguk dan tersenyum.
“Sama-sama, Pak,” Lili yang menyahut dan Febi hanya balas menganggukan kepala.
“Maaf Bu, Sherly, sepertinya saya harus membereskan masalah nilai raport dulu dengan Cilla,” Arjuna membungkukan sedikit badannya.
Terlihat raut jutek bukan hanya terpampang di wajah Sherly tapi juga tante Dinda yang memang sering bersikap sombong. Statusnya anggota komite sekolah. Seharusnya ia bisa mewakili semua lapisan orangtua dari murid-murid yang bersekolah di SMA Guna Bangsa. Tidak semua murid berasal dari keluarga kaya karena papi Rudi memang menerapkan prinsip membuka kesempatan bukan hanya untuk yang memiliki uang, tapi juga memiliki prestasi namun terhambat karena masalah biaya.
Cilla tidak berkata apa-apa hanya menganggukan kepala dan mengikuti langkah Arjuna menuju ruang Bu Retno.
“Kamu pura-pura ke toilet dulu. Kalau mereka sudah pergi, kita ke halaman belakang sekolah saja.”
Arjuna mengirimkan pesan pada Cilla karena tidak memungkinkan untuk menyampaikan hal itu saat mereka berpapasan dengan banyak orangtua murid dan siswa kelas 11 yang memang letak kelasnya di lantai 2.
Sekitar sepuluh menit kemudian keduanya sudah berada di halaman belakang sekolah yang memang sepi. Hampir tidak ada yang suka menghabiskan waktu di tempat ini karena isunya suka ada yang mengganggu.
Tapi tidak bagi Cilla dan Arjuna. Halaman belakang sekolah adalah tempat paling strategis untuk bertemu tanpa gangguan. Lagipula selama ini memang mereka tidak pernah diganggu apapun dan siapapun.
“Bukan hoax, tapi berita nyata,” cibir Cilla. “Kenapa ? Nggak percaya ?”
“Percaya,” Arjuna mengacak-acak poni Cilla sambil tertawa. “Calon istri Mas Juna ini memang pintar, cuma suka cari perhatian aja sama guru BK,” ledeknya.
“Iiih ngapain juga cari perhatian sama Bu Retno. Kalau guru BK nya ganteng melebih Mas Juna mungkin bisa dipikirkan ulang,” ujar Cilla sambil terkekeh.
“Eh udah ada niat selingkuh ?” mata Arjuna langsung melotot.
“Bukan selingkuh, tapi menyeimbangkan dengan calon suami yang suka menarik perhatian cewek-cewek bahkan emak-emak,” ujar Cilla sambil tergelak. “Soalnya calon suami Cilla suka tepe-tepe sama siswi-siswi plus emak-emaknya.”
“Mas Juna nggak tepe ya !” Arjuna melotot. “Sherly aja yang langsung ngejar Mas dengan alasan ingin dikenalin sama mamanya. Mamnya pakai acara bilang kalau dia komite sekolah. Nggak ada gunanya juga buat guru kontrak kayak Mas Juna.”
“Ganti panggilan nih ?” ledek Cilla sambil tertawa.
“Kenapa ? Aneh ? Nggak suka ?”
“Dasar cowok nethink,” gerutu Cilla. “Belum juga dijawab udah langsung kasih tiga pertanyaan sekaligus. Memangnya lagi belanja grosiran, harga tiga lebih murah dari satuan ?”
“Habisnya ekspresi kamu begitu.”
“Cilla suka kok,” Cilla mendekati wajah Arjuna dengan senyuman menggoda. “Kesannya gimana gitu,” matanya mengerjap-ngerjap sambil menatap guru matematika itu.
“Jangan suka menggoda,” gerutu Arjuna. “Mas Juna pria dewasa yang sudah tahu manisnya rasa bibir ini,” Arjuna menunjuk bibir Cilla dengan telunjuknya.
“Selama ini Mas Juna sudah menahan diri untuk tidak asal nyosor anak bebek kesayangan Mas Juna.” Terlihat bibir Arjuna mengerucut membuat Cilla tergelak.
“Berhubung Cilla sudah berhasil masuk tiga besar, sebagai calon suami kasih dong hadiah buat menambah semangat belajar calon istrinya,” Cilla mengulurkan tangannya seperti menadah.
“Sudah disiapkan,” Arjuna menepuk telapak tangan Cilla yang terbuka lalu menggenggamnya.
“Kasih clue-nya dong ! Atau bocoran juga boleh,” rengek Cilla sambil mengerjap-ngerjapkan matanya kembali.
“Pokoknya habis ini langsung pulang, nggak boleh pergi sama Febi atau Lili !” ujar Arjuna sambil menoel ujung hidung Cilla.
“Loh memangnya kenapa ? Kan sudah mulai libur semesteran,” wajah Cilla merajuk dengan bibir mengerucut.
“Nanti malam Mas Juna mau ajak kencan pertama sebagai calon suami,” bisik Arjuna di telinga Cilla. “Dandan yang cantik tapi jangan terlalu cantik, nanti kalau banyak yang melirik, Mas Juna nya yang repot.”
“Seriusan ?” mata Cilla membelalak dan wajahnya berbinar menatap Arjuna. “Kencan naik motor ?”
“Malam ini naik mobil dulu, besok baru naik motor. Mas Juna sudah boleh pakai mobil yang biasa Mas Juna pakai waktu kerja di kantor papa.”
“Besok lagi ?” tanya Cilla dengan senyum makin mengembang.
“Iya, besok juga. Nanti mas minta ijin sama papi di ruang Pak Slamet. Kan mulai hari Senin, Mas Juna harus kerja di kantor papa dulu, bantu papa menyelesaikan masalah di perusahan. Kemungkinan sampai libur semesteran berakhir.”
“Tapi Mas Juna nggak berhenti jadi guru sekarang ini, kan ?” tatapan Cilla sedikit khawatir saat mendengar Arjuna akan kembali bekerja di perusahaan.
“Nggak, tunggu calon istri menyelesaikan SMA-nya,” sahut Arjuna sambil tertawa pelan. “Lagipula Mas Juna kan terikat kontrak setahun. Mana tega juga meninggalkan anak-anak kelas 12 di tengah jalan.”
Tanpa terduga, Cilla memeluk leher Arjuna dan menyenderkan kepalanya di atas bahu pria itu. Arjuna sempat terkejut namun akhirnya ia tersenyum dan balas memeluk Cilla.
“Terima kasih sudah hadir dalam hidup Cilla,” ujar Cilla dengan suara pelan.
Arjuna mengelus punggung calon istrinya itu dengan penuh kasih sayang.
“Terima kasih juga sudah mau menerima Mas Juna dan memaafkan karena sudah kabur meninggalkan kamu,” sahutnya sambil tertawa pelan.
Cilla pun merenggangkan pelukannya.
“Kalau sekarang berani kabur lagi, Cilla uber sampai ke kolong langit atau dasar bumi. Mana boleh sudah buat anak kecil jatuh cinta, terus ditinggal pergi lagi.”
Cilla menatap Arjuna dengan galak namun dibalas dengan tawa pria itu. Ia kembali mengacak-acak poni Cilla.
“Memangnya anak bebek ini sudah tahu rasanya jatuh cinta beneran ? Terus mana ada anak bebek yang punya kemampuan menyelam lama-lama.”
“Ini anak bebek khusus, yang dilatih sama ikan paus supaya tetap bisa bernafas sekalipun harus lama-lama di dalam air.”
Arjuna hanya geleng-geleng kepala sambil tertawa. Hidup memang sering tidak terduga. Menolak keras dijodohkan dengan anak kecil yang bahkan belum punya KTP, tapi malah Arjuna merasakan bahagia memiliki calon istri yang imut-imut ini. Hidupnya jadi lebih berwarna, tidak monoton dan jiwanya ikut jadi lebih muda.