
Arjuna baru saja turun dari lantai tiga dan menapak di lantai 2, saat tangannya di tarik ke arah ruang BK. Meski awalnya kaget karena tidak melihat siapa yang menariknya, sekarang Arjuna malah tersenyum sambil membiarkan tangannya ditarik.
Beberapa murid kelas XI yang baru saja keluar kelas untuk istirahat, memperhatikan Cilla yang menarik lengan guru matematika itu ke arah ruang BK. Mereka sempat iri melihat Arjuna tidak marah ditarik oleh Cilla, malah terlihat bahagia karena senyuman terlihat di wajahnya. Mereka sempat berharap, guru tampan itu mengajar anak-anak kelas XI juga.
“Maaf Bu, saya mau pinjam ruangannya sebentar. Pak Arjuna mau memarahi saya karena tadi bolos saat ulangan,” ujar Cilla saat membuka pintu ruangan Bu Retno setelah mengetuknya tiga kali.
Bu Retno yang tidak menduga akan kedatangan Cilla dan Arjuna sempat tercengang. Arjuna tampak mengangguk saat Bu Retno menatapnya seolah ingin memastikan ucapan Cilla. Untung saja Cilla sudah melepaskan tangannya yang menarik Arjuna.
“Maaf mendadak, Bu. Tapi saya harus segera menyelesaikannya dengan Cilla karena berkaitan dengan masalah ulangan. Saya takut Cilla sudah keburu mendapat bocoran soal,” ucap Arjuna dengan wajah serius dan tegas saat Bu Retno sudah berada di dekatnya menuju pintu keluar.
“Silakan, Pak,” Bu Retno yang memang sudah mencari perhatian Arjuna sejak awal terlihat senyum malu-malu dan tersipu. “Memang masalah dengan siswa harus diselesaikan secepatnya, jangan sampai tertunda lama-lama.”
Arjuna sengaja memberikan senyuman manisnya sambil menganggukkan kepala supaya Bu Retno tidak berlama-lama dan menambah kalimatnya.
Sementara Cilla yang berada di belakangnya langsung mencibir.
Setelah Bu Retno menjauh, Cilla langsung memberikan isyarat pada Arjuna untuk menutup pintunya. Arjuna menurut lalu menyandarkan tubuhnya di balik pintu sambil menatap Cilla dengan senyuman tipis dan tangan melipat di depan dada.
“Sengaja bolos saat ulangan supaya bisa ikut susulan khusus berdua seperti ini ?” ledek Arjuna sambil mencibir.
Cilla mendekat dengan mata melotot sambil bertolak pinggang.
“Apa maksud Bapak mengancam teman-teman saya karena saya tidak ikut ulangan ? Apa Bapak tidak sadar kenapa saya suka tidur saat Bapak mengajar ?” Cilla makin medekat dan wajahnya mendongak menatap Arjuna dengan galak.
Maklum tinggi Cilla yang pas pas an hanya sebatas leher Arjuna. Pria itu malah senyum-senyum sambil menoleh ke arah lain.
“ Supaya pacar saya ini nggak kabur-kaburan lagi,” ledek Arjuna mendekatkan wajahnya dan membuat Cilla mundur. Ia tercengang mendengar ucapan Arjuna dan tidak menyangka kalau Arjuna akan mendekatkan wajahnya. Cilla pun langsung mundur beberapa langkah.
“Sejak kapan saya jadi pacar Bapak ?” Cilla kembali melotot.
“Sejak bibir kita saling menempel,” sahut Arjuna sambil tertawa.
“Bapak yang nempelin bibirnya, bukan saya yang minta.”
“Tapi kamu juga nggak menolak,” ledek Arjuna sambil terkekeh. “Buktinya kamu diam saja.”
“Saya terlalu kaget sampai semua badan saya terasa kaku dan pikiran saya juga langsung kosong,”omel Cilla dengan mata melotot.
“Itu reaksi normal untuk hati yang sedang jatuh cinta,” sahut Arjuna dengan senyuman manisnya.
Ia sengaja terus tersenyum karena teringat bagaimana Cilla selalu bilang kalau senyuman Arjuna membuatnya salah tingkah dan berdebar.
“Hati saya nggak cinta sama Bapak. Masih aman ada di sini,” Cilla memegang dadanya.
Semua itu hanya alasannya saja untuk menenangkan hatinya yang memang berdebar karena senyuman Arjuna terlalu lama menghiasi wajah pria itu.
“Yakin ?” Arjuna mendekatkan dirinya dan sedikit membungkukkan badannya hingga wajahnya kembali berhadapan dengan muka Cilla yang sudah mulai memerah.
“Yaa… yakin !” Pekik Cilla membuat Arjuna terperanjat.
“Terus kenapa wajah kamu merah ?” ledek Arjuna sambil tertawa.
“Karena saya terlalu kesal sama Bapak ! Terlalu emosi ! Menahan marah karena kelakuan Bapak yang seeenaknya sama saya !”seru Cilla dengan suara galak dan mata melotot.
“Jadi saya harus bagaimana ?” Lirik Arjuna sambil tersenyum.
“Jauh-jauh dari saya..” Cilla mendorong tubuh Arjuna dengan separuh tenaganya dan membuat pria itu hanya mundur sedikit.
“Kenapa harus menjauh ? Saya tidak mau menjauhi kamu lagi. Sepertinya saya sudah kena tulah dengan ucapan saya sendiri, karena ternyata…”
Arjuna sengaja memenggal kalimatnya karena melihat Cilla masih menoleh ke arah lain dengan bibir mengerucut. Ia menunggu reaksi Cilla yang diyakininya akan menoleh dan bertanya tentang lanjutan kalimatnya. Arjuna sengaja menghitung dalam hati dan yakin sebelum ia mengucapkan angka kesepuluh, Cilla akan menatapnya dan bertanya.
“Ternyata apa ?” tanya Cilla sambil menatap ke arah Arjuna masih dengan wajah galaknya.
Bingo ! teriak Arjuna dalam hati. Cilla menoleh dan bertanya dalam hitungan kesembilan.
“Ternyata saya jatuh cinta sama kamu dan tidak akan membiarkan Jovan atau Theo memiliki hatimu. Kamu hanya boleh untuk saya,” ujar Arjuna dengan suara seperti berbisik dan wajah yang kembali ditundukkan mendekat wajah Cilla.
“Mana bisa begitu !” seru Cilla tanpa berani menatap Arjuna yang begitu dekat dengannya. Ia kembali mendorong tubuh Arjuna, tapi pria itu tetap bergeming di tempatnya.
“Kenapa nggak bisa ?”
“Bapak kan sendiri bilang kalau sudah punya jodoh yang dipilihkan oleh orangtua. Kalau akhirnya memilih saya hanya karena adegan kemarin, saya nggak mau ! Saya tidak akan menerima pertanggunjawaban Bapak hanya karena terpaksa,” Cilla menjawab masih dennga pandangan ke samping.
Arjuna tertawa pelan dan menangkup wajah Cilla, dan memalingkan wajah gadis itu hingga mereka saling bertatapan.
“Memangnya saya melakukan adegan apa sampai harus bertanggunjawab ?” Tanya Arjuna.
Ciila mengerjap-ngerjapkan matanya. Tangannya kembali ingin mendorong Arjuna, tapi sedikit sulit dengan posisi Arjuna sekarang.
“Buat apa saya sebutkan lagi. Saya yakin kalau bapak belum kena amnesia,” gerutunya dengan wajah kesal.
“Jangan cemberut seperti itu, bikin saya ingin nyosor lagi,” ujar Arjuna sambil tertawa.
“Yang suka nyosor itu angsa bukan anak bebek, jadi Bapak salah alamat. Mana cocok angsa sama bebek.”
Arjuna tergelak dan melepaskan tangannya dari wajah Cilla.
“Saya bersedia jadi bebek juga demi bisa mencium anak bebek.”
“Tapi anak bebeknya nggak mau sama bebek jadi-jadian, maunya yang asli.”
Arjuna sudah bersiap ingin mengacak rambut Cilla, namun pergerakan gadis itu lebih lincah menerobs ke bawah lengan Arjuna dan bergegas menuju pintu, lalu membuka pintu ruangan Bu Retno. Cilla sempat menoleh dan menjulurkan lidahnya sebelum menutup pintu.
Arjuna hanya tertawa sambil menggelengkan kepala. Ternyata tidak buruk juga punya pacar masih anak SMA. Tapi kalau calon istri ? Entahlah. Arjuna jadi takut membayangkan jodoh pilihan papa berbeda jauh dengan Cilla.
Baru saja berbalik setelah menutup pintu ruangan Bu Retno, Cilla dikejutkan dengan sosok Jovan yang berdiri dekat situ sambil memperhatikannya. Ketos tampan itu baru saja berkeliling memastikan kalau tidak ada siswa yang kabur setelah jam istirahat. Matanya malah menangkap sosok Cilla keluar dari ruangan Bu Retno.
“Elo ngapain di ruangan Bu Retno ? Tadi gue lihat Bu Retno ada di ruang guru ?” tanya Jovan sambil mengerutkan dahi.
“Pacaran,” jawab Cilla asal sambil melewati Johan untuk kembali ke kelas.
Gara-gara mengklarifikasi niat Arjuna memberikan hukuman untuk teman-teman sekalasnya kalau sampai Cilla bolos saat mapel Arjuna, ia melewatkan jam istirahatnya. Perutmya sudah bersimfoni minta diisi. Tapi tidak mungkin membolos jam pelajaran berikutnya, karena Pak Dono, guru gaul sekaligus walkes nya akan mengajar pada jam ini.
Jovan yang masih berdiri di depan pintu ruangan Bu Rento masih mengerutkan dahi sambil mendekat ke arah pintu.
Belum sempat ia memegang handel pintu, dari dalam seseorang keluar memperlihatkan batang hidungnya. Jovan terkejut melihat Arjuna yang keluar sambil menyugar rambutnya.
“Bapak habis ngapain di dalam ?”tanya Jovan dengan tatapan curiga.
“Habis ketemu Cilla,” jawab Arjuna santai dan mulai melangkah menuju ke ruang guru.
Jovan mengikuti langkah Arjuna yang memang tidak ada jadwal mengajar. Setelah istirshat kedua, Arjuna baru kebagian jadwal lagi mengajar di kelas Jovan.
“Apa sudah ada perkembangan baik dari Cilla, Pak ?” tanya Jovan dengan sedikit antrusias.
Arjuna menghela nafas. Ia sudah memutuskan akan bicara terus terang pada Jovan dan Theo kalau ia melepaskan tugasnya sebagai mak comblang. Perannya kali ini sudah berganti menjadi nominator pengerjar cinta Cilla.
“Ada,” ujar Arjuna sambil menghentikan langkahnya.
Ia memutar badan hingga berhadapan dengan Jovan. Dilihatnya wajah ketos tampan itu berbinar, seolah yakin kalau akan mendapat kabar baik dari Arjuna.
“Apa Cilla bersedia memaafkan dan memberi saya kesempatan untuk mendekatinya lagi, Pak ?”
Arjuna menggeleng dan memasang wajah penuh drama yang membuat Jovan makin penasaran.
“Apa Cilla membutuhkan waktu sedikit lagi sebelum berbaikan dengan saya ?”
Lagi-lagi gelengan kepala Arjuna membuat Jovan akhirnya terlihat kesal.
“Terus apa dong, Pak ? Masa tebakan saya nggak ada yang mendekati betul ? Minimal hampir gimana gitu,” ujarnya dengan penuh emosi dan wajah kesal.
“Mulai sekarang saya melepaskan janji saya untuk membantu kamu mendekati Cilla sebagai calon masa depanmu,” sahut Arjuna dengan tegas dan tatapan pasti menatap Jovan.
“Kenapa bisa begitu ?” Jovan menautkan kedua alisnya.
Arjuna kembali bergaya penuh drama. Ia menghela nafas panjang . Kepalanya menatap lurus memandang Jovan yang sudah tidak sabaran.
“Karena mulai sekarang, saya memutuskan untuk menjadi kompetitor kamu, pesaing ! Saya akan memastikan kalau perasaan Cilla sama dengan saya,” senyum penuh kemenangan terpancar di wajahnya.
“What ? Bapak sudah gila ?” umpat Jovan sambil membelalakan matanya dengan wajah sangat-sangat kesal.
“Iya saya sudah gila karena tidak bisa menahan diti untuk tidak menyukai Cilla.”
“Tapi saya yang duluan menyukai Cilla.”
“Apa ada surat kepemilikan ?” Arjuna membuka telapak tangannya seolah meminta sesuatu pada Jovan. “Atau apapun yang menyatakan kalau saya dilarang keras untuk ikut bersaing sama kamu ?”
Jovan menggeleng sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Ayo kita bersaing !” Arjuna tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu Jovan. “Mulai detik ini saya melepas pekerjaan saya sebagai mak comblangnya kamu :dan sahabat saya. Mulut bisa membantah, tapi suara hati tidak boleh diabaikan.”
Arjuna tersenyum dengan wajah pongah. Iya yakin akan menjadi pemenang dari kompetisi ini karena sudah mengantongi point penting : Cilla menyukai dirinya.