MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Awal Semester Dua


“Good morning, friends ! Selamat Tahun Baru !” suara cempreng Lili membuat seisi kelas menoleh.


 


Hari pertama masuk sekolah setelah libur akhir tahun dan semesteran, wajah para siswa terlihat lebih semangat setelah mengisi daya selama 2 mingguan.


 


“Wooii, pagi-pagi udah bikin polusi telinga !” teriak Aaron menanggapi kecemperangan Lili.


 


“Ini udah tahun baru, LI. Nggak ada niat buat memperbaiki suara elo biar nggak kayak nenek lampir, gitu ?” timpal Nino sambil terkekeh.


 


“Bikin jodoh ogah dekat-dekat,” celetuk Nico sambil tergelak.


 


Ketiga cowok itu akhirnya tertawa dan saling memberikan tos, sementara Lili sambil bertolak pinggang dan mata melolot langsung mendekati tiga cowok tadi yang duduk berkumpul dengan beberapa siswa siswi lainnya.


 


“Wooii para jones, kayak elo pada gampang laku aja. Udah kelas 12 belum ada juga catatan punya mantan pacar gitu,” ucap Lili dengan suara galaknya.


 


“Dih emangnya kalau kita punya pacar di luar kudu pake TOA kasih pengumuman di kelas,” sahut Aaron sambil mencibir.


 


“Sok gaya bener lo, Aronan. Kalau berani keluarin sini pacar elo, kenalin dong sama kita-kita,” tantang Lili dengan tatapan meledek.


 


“Takut ketularan cempreng kayak elo,” sahut Aaron sambil tergelak.


 


“Eh dasar…”


 


“Udah jangan ngegas aja, Bu,” Cilla langsung merangkul sahabatnya dari samping. “Mendingan elo doain mereka supaya jatuh cinta kalau perlu tergila-gila sama elo. Nah kalau udah bucin sama elo, tinggal elo tendang satu-satu.”


 


“Eh nih bocah malah ngomporin nenek lampir,” cebik Nico.


 


“Bukan ngomporin, giant,” balas Cilla dengan tatapan mengejek. “Tapi setia kawan.”


 


Lili tertawa langsung mengajak Cilla tos. Nico yang memang mendapat panggilan julukan raksasa karena badannya tinggi besar dan sedikit gempal langsung cemberut.


Bukan karena tidak bisa membalas Cilla yang statusnya anak pemilik sekolah, tapi otaknya mendadak mampet begitu mendengar panggilan Giant. Sudah lama teman-temannya tidak memberikan panggilan kesayangan itu untuknya.


 


“Jangan bilang elo mendadak baper gara-gara gue panggil Giant,” ledek Cilla sambil terkekeh.


 


Lili mencibir ke arah Nico sambil tertawa, lalu berdua dengan Cilla berjalan menuju meja mereka. Formasi duduk tidak berubah. Cilla masih duduk sendirian di baris paling belakang dekat jendela.


 


Tidak lama bel berbunyi dan semua siswa langsung menuju ke lapangan. Memang bukan hari Senin dan tidak ada pelaksanaan upacara bendera seperti baisanya. Hanya dikumpulkan untuk mendengar kata sambutan Pak Slamet selaku kepala sekolah di awal semeseter dua ini sekaligus membahas beberapa kegiatan dan event yang akan diadakan di sekolah dalam enam bulan ke depan.


 


“Cil, calon laki elo kok nggak ada ?” Febi menyenggol lengan Cilla saat mereka sudah berbaris sesuai kelas di lapangan.


 


Cilla yang baru saja selesai mengikat tali sepatunya berdiri lagi dan menatap ke arah barisan guru-guru yang berdiri di depan, persis di samping podium.


 


“Eh iya, Mas Juna kok nggak kelihatan ?” mata Cilla mengernyit.


 


“Memangnya nggak bilang sama elo kalau hari ini nggak masuk ?” tanya Febi lagi.


 


“Nggak bilang apa-apa,” Cilla menggeleng dan mengeluarkan handphone dari saku roknya.


 


“Eh awas handphone elo disita. Noh si Devan udah ngelirik elo aja, siap-siap nyamperin kayaknya nih,” bisik Lili sambil menengok-nengok ke belakang dan melihat ketos baru pengganti Jovan sedang menatap ke arah mereka.


 


“Bentar doang, ngecek pesan,” sahut Cilla pelan sambil mencari kiriman pesan dari Arjuna. Tapi hasilnya nihil. Akhirnya dengan tergesa-gesa Cilla hanya mengetik sebaris kalimat untuk Arjuna “ Mas Juna kemana ? Kok nggak masuk ?”


 


Tanpa melihat lagi pesannya, Cilla buru-buru memasukan handphone ke saku roknya dan berdiri tegak ke arah depan. Pikirannya mulai tidak tenang. Semalam selesai membahas soal rencana pernikahan mereka, Arjuna tidak bilang apapun soal rencananya tidak masuk mengajar hari ini.


 


Cilla pun tidak lagi memperhatikan ucapan Pak Slamet sepanjang acara pengarahan dari kepala sekolah. Begitu siswa boleh bubar dan kembali ke kelas, tanpa mengajak kedua sahabatnya , Cilla bergegas menghampiri Dono.


 


“Pagi Pak,” Cilla mengangguk sopan. Dono balas mengangguk dan sedikit menjauh dari rekan guru supaya lebih leluasa berbincang dengan Cilla karena ia sudah tahu masalah yang akan dibicarakan oleh muridnya itu.


 


“Mas Juna kenapa nggak masuk, Pak ?” tanya Cilla dengan suara hampir berbisik, takut terdengar oleh guru atau siswa lainnya.


 


“Memangnya dia nggak kasih kabar apa-apa sama kamu ? Tadi pagi saya sempat papasan di gerbang sekolah, tapi sepertinya Juna terburu-buru. Saya nggak sempat ngobrol apa-apa hanya saling sapa aja.”


 


“Loh jadi Mas Juna sudah sempat datang ke sekolah ? Kok nggak kirim pesan sama saya ? Sekitar jam berapa, Pak ? Tadi saya sudah sampai sekolah sekitar jam 5.40.”


 


“Kalau nggak salah 5.45. Soalnya begitu selesai parkir motor, istri saya telepon dan saya lihat jam di handphone baru 5.52.”


 


“Ya udah kalau begitu, Pak,” Cilla mengangguk-angguk dan kembali mengeluarkan handphonenya.


 


“Kamu udah coba telepon ?” tanya Dono saat melihat Cilla mengeluarkan handphonenya.


 


 


“Mungkin lagi nggak dapat sinyal, Pak. Pesan saya aja masih centang satu. Terima kasih, Pak. Saya balik ke kelas dulu.” Cilla berpamitan sambil membungkukan badan. Dono pun hanya mengangguk sambil tersenyum.


 


Dengan langkah gontai, Cilla menaiki tangga menuju kelasnya. Febi dan Lili sudah tidak kelihatan karena sudah terlebih dahulu masuk ke kelas.


 


“Dih mukanya jelek banget baru hari pertama masuk,” Jovan yang ternyata sejak tadi memperhatikan Cilla langsung berjalan di samping sahabatnya.


 


“Calon suami nggak bisa dihubungi,’ keluh Cilla lesu dengan wajah setengah menunduk.


 


“Pantes tadi gue nggak lihat tuh sosoknya di barisan guru-guru,” ujar Jovan. “Jangan sedih gitu kalee… Jaman udah canggih kan tinggal elo telepon aja dan tinggal pilih mau nanya dengan suara galak atau suara sexieh,” ledek Jovan.


 


“Udah, tapi yang jawab mbak operator, terus pesan gue juga cuma centang satu.”


 


“Ya udah sabar dulu aja, mungkin Pak Juna ada tugas mendadak dari bokapnya. Nanti siangan kalau udah beres dan pesan elo masuk pasti langsung dibalas.” Jovan menepuk-nepuk bahu sabahatnya.


 


“Eh elo ngapain kemari ?” Cilla baru sadar kalau Jovan mengikutinya sampai ke depan kelas XII IPS-1.


 


“Jagain elo kalau lagi nggak ada Pak Juna,” Jovan nyengir kuda. “Kalau sampai calon kakak ipar kenapa-napa di sekolah, calon pacar gue bisa ngamuk-ngamuk karena nggak perhatian sama calon kakak ipar.”


 


Cilla mencebik  melihat Jovan yang hanya terbahak.


 


“Elo nggak PHP doang sama Amanda, kan ? Bilang suka cuma jadi alasan biar bisa tetap dekat-dekat sama gue,” ujar Cilla dengan mata memicing.


 


“Ya ampun anak bebek ke-geeran,” Jovan menepuk jidatnya sendiri. “Gue beneran udah move-on ya,” timpalnya dengan nada suara sedikit nge-gas.


 


Cilla terkekeh dan mendorong bahu sahabatnya lalu mengibaskan tangannya menyuruh Jovan lanjut ke kelasnya sendiri.


 


“Jangan kelaman di sini, nanti Lili langsung meleleh kalau lihat-lihat elo,” ujar Cilla sambil terkikik.


 


“Dih emangnya gue api yang bisa bikin lilin meleleh.”


 


“Udah sih balik aja, komen melulu nanti nggak selesai-selesai ngomongnya,” gerutu Cilla kembali mengusir Jovan.


 


“Titip salam sama calon pacar kalau nanti elo ketemu, ya.” Jovan mengangkat tangannya dan melambai ke arah Cilla yang hanya tertawa sambil mencibir.


 


 


Sampai jam pulang sekolah, Cilla yang sejak tadi bolak balik memeriksa handphonenya tambah gelisah karena pesan pertama yang dikirimnya hari ini sempat centang dua namun tanpa balasan apa-apa.


Wajtu baru menunjukan jam 10.45. Sekolah hanya berlangsung setengah hari sampa tiga hari ke depan.


 


“Kenapa sih dari tadi kayak ikan keluar kolam kekeringan air ? Klepek-klepek terus ?” Febi mengerutkan dahinya karena wajah Cilla sejak di kelas terlihat kesal dan gelisah.


Ketiganya sudah berjalan sebagai penghuni terakhir yang meninggalkan kelas.


 


“Mas Juna handphonenya nggak bisa dihubungi. Gue kirim pesan udah dibaca tapi nggak dibalas,” gerutu Cilla dengan nada sendu.


 


“Lagi sibuk ngantor kali, Cil,” ujar Lili. “Nanti kalau udah senggang pasti langsung telepon elo balik. Apalagi lihat begitu banyak missed call dari elo.”


 


“Tadi pagi sempat datang kemari ketemu sama Pak Dono. Apa susahnya sih tinggal ketik pesan 2 menit, kabarin kalau ijin nggak masuk ngajar. Lagian pas Mas Juna datang, gue tuh udah di sekolah. Nyebelin !” gerutu Cilla dengan wajah ditekuk.


 


“Ya udah tunggu aja,” Febi merangkul sahabatnya. “Belajar lebih sabar ngadepin calon suami yang pekerjaan aslinya CEO. Pasti calon laki elo sibuk banget sampai pagi-pagi udah di sekolah terus jalan lagi.”


 


“Iya Cil, pasti ada alasan yang kuat,” Lili ikut merangku dari sisi yang lainnya. “Lagian kan di kantornya Pak Juna ada mertua elo juga. Mana mungkin Pak Juna bisa macam-macam kalau pengawasnya itu pro sama elo.”


Cilla menarik nafas dan membenarkan ucapan kedua sahabatnya. Tapi ia sudah memutuskan untuk bicara dengan Arjuna supaya mengubah kebiasaannya.


Cilla bukan Luna, yang nggak masalah berhari-hari bisa santai tanpa berikirim kabar dengan Arjuna. Lagipula bagi Cilla kalau sudah mendapat kabar dari Arjuna biar hanya satu kalimat singkat, hati Cilla pasti terasa tenang. Tidak seperti ini, dari pagi sampai malam, pesannya terkirim sekali, terbaca tapi todak dibalas, sesudah itu semua pesan Cilla hanya centang satu.


**


**


 


Sampai sekitar pukul delapan malam, Cilla yang sedang tiduran di kamarnya kembali memeriksa handphonenya. Lagi-lagi beberapa pesan yang dikirim sesudah pesan pertamanya masih centang satu. Bahkan sambungan telepon tidak bisa masuk.


 


Akhirnya Cilla mencoba menghubungi Amanda untuk menanyakan keberadaan kakaknya itu. Tapi sayangnya nomor Amanda sebelas duableas dengan Arjuna, kiriman pesan hanya centang 1 dan panggilan pun dijawab oleh kotak suara.


 


Terlalu kesal dengan situasi yang ada dan capek bolak balik menatapi handphonenya, akhirnya Cilla tertidur dan melewati makan malamnya.



Sekitar pukul sepuluh malam, papi Rudi yang baru pulang sempat melongkok ke kamar putrinya. Awalnya papi Rudi ingin membicarakan sesuatu dengan Cilla, tapi melihat anaknya sudah tertidur pulas, papi Rudi hanya mendekat, membenarkan selimut dan mencium kening putrinya dengan penuh kasih sayang.