
“Sudah dapat info soal Glen dan Susan ?” tanya Theo saat bertemu dengan Arjuna untuk makan siang sekaligus membahas masalah pekerjaan.
“Sudah dan gue atau Tino tidak bisa menemukan alasan kenapa Glen begitu membenci gue. Semuanya seperti yang kita tahu saat SMA. Glen sempat terpukul atas kematian adiknya yang mendadak dan kondisi ayahnya yang di PHK karena perusahaan tempatnya bekerja bangkrut, selebihnya gue nggak bisa menemukan alasan khusus yang membuat Glen begitu dendamnya sama gue.”
“Tapi kenyataannya dia merasa benci sama elo.”
“Terus gue harus bagaimana, Yo ?”
“Sepertinya hanya Cilla yang bisa mencari tahu kebenarannya dan gue rasa saat ini pun dia sedang berusaha melakukan itu.”
“Gue nggak mau menempatkan Cilla dalam kondisi yang berbahaya apalagi semuanya berkaitan dengan Susan. Gue jadi kepikiran soal omongan Tino gimana perempuan lebih menyeramkan kalau sudah obsesi.”
“Soal Susan sendiri gimana ? Apa ada alasan lain selain perasaan obsesinya ?”
“Sejauh ini nggak ada. Setelah lulus menempuh pendidikan di Inggris, Susan sempat bekerja di perusahaan milik bokapnya, tapi tidak lama karena perusahaan yang sudah diambang kebangkrutan itu tidak bisa diselamatkan. Susan yang memang tidak suka bekerja kantoran akhirnya memilih jadi dosen dan mengikuti rekruting di kampus milik Sebastian sesuai dengan prosedur yang berlaku. Saat dia masuk, Glen sudah 2 tahun menjadi dosen tetap di sana.”
“Berarti Susan murni hanya terobsesi sama elo, Jun, berbeda dengan Glen yang punya agenda tersendiri. Susah kalau orang jahat saling bertemu, biarpun sadar kalau mereka hanya saling memanfaatkan, yang penting tujuan mereka tercapai, tidak peduli apakah hubungan itu benar-benar saling menguntungkan atau malah menjatuhkan.”
“Gue lagi mikirin cara terbaik untuk melindungi Cilla. Saat ini kondisi memang lagi anteng dan adem ayem, tapi gue nggak yakin kalau Glen dan Susan akan berhenti begitu saja.”
“Bujuk Cilla untuk pindah kampus, Jun.”
“Udah sampai berbusa mulut gue bujukin dia pindah, Yo, tapi elo tahu gimana keras kepalanya sepupu elo itu. Cilla bilang kalau Glen itu memang stalking hidup Cilla makanya mau lari kemanapun, Glen pasti nguber. Cilla bilang orang model Glen itu harus dihadapi dan dicari sumber masalahnya bukannya melarikan diri.”
“Darimana Cilla tahu kalau selama ini Glen stalking hidup dia ? Ada buktinya ? Apa boleh gue dan mama bantuin ngomong soal pindah kampus ?”
“Cilla pernah cerita kalau sebetulnya secara lisan Glen sudah ditawarkan menjadi Rektor di kampus baru mereka yang ada di Yogyakarta, dia sempat mengiyakan dan melakukan kunjungan ke lokasi kampus. Entah dengan cara apa Glen mendapat informasi soal data mahasiswa baru dan menemukan nama Cilla di sana. Atas dasar itulah dia memutuskan untuk menolak tawaran kampus dan tetap mengajar di Jakarta. Gilanya dia bahkan minta ditempatkan untuk mengajar mahasiswa baru padahal secara level seharusnya Glen mengajar mahasiswa tingkat akhir dan menjadi pembimbing skripsi.”
“Atau jangan-jangan Glen dan Susan sebelas duabelas ? Sama-sama manusia yang terobsesi dengan perasaan cinta mereka ? Kalau gue nggak salah ingat, elo pernah cerita bagaimana Glen mendekati Cilla pertama kali di Semarang. Waktu itu Glen belum tahu kan kalau Cilla itu istri elo bahkan sedang hamil, jadi menurut gue, awalnya dia memang sempat jatuh cinta sama Cilla pada pandangan pertama.”
Arjuna terdiam, ia memang pernah berpikiran sama seperti Theo. Mungkin Glen berharap kalau rencananya bisa berhasil, saat Cilla berpisah dengan Arjuna, dia akan masuk sebagai pahlawan yang akan menggantikan posisi Arjuna.
“Nggak usah khawatir karena merasa elo kelihatan jauh lebih tua dari Cilla,” ledek Theo berusaha mengurangi ketegangan Arjuna. “Yang penting elo sadar kalau bukan hanya elo yang jadi incaran banyak wanita karena punya banyak uang, tapi Cilla punya pesona tersendiri yang membuat banyak cowok terpikat dan nggak peduli dengan statusnya yang sudah menjadi seorang ibu.”
“Kalau soal itu mah gue sadar banget, kok. Jangankan cowok seumur Glen, kakak kelasnya aja ngebet banget mau jadiin Cilla pacarnya.”
“Bagus kalau elo sadar,” cibir theo sambil tertawa. Arjuna hanya mendengus kesal.
“Sepertinya gue akan bicara sama Sebastian untuk mencari solusi. Siapa tahu dia bisa kasih pendapat yang lebih tepat tanpa mengganggu urusan kampus.”
“Kalau memang Sebastian bisa membantu memikirkan solusinya, nggak ada salahnya elo coba ketemu dia.”
*****
“Mas Juna yakin nggak pernah undang Susan ke pesta ulangtahunnya Sean ?” tanya Cilla saat keduanya sudah berada di atas ranjang.
Arjuna masih memangku laptopnya dan bersandar pada headboard sementara Cilla sudah berbaring di sampingnya. Sean masih ditempatkan dalam boks bayi yang diletakkan di dekat ranjang mereka.
Sudah sebulan berlalu sejak pesta ulangtahun Sean dan Cilla baru ingat untuk menanyakan soal kedatangan Glen dan Susan yang diundang oleh Arjuna.
“Mereka masih suka gangguin Cilla di kampus ?”
“Nggak sih, Pak Glen udah biasa-biasa aja, kalau Bu Susan kan memang nggak ngajar di fakultasnya Cilla.”
“Glen nggak kasih tugas macam-macam lagi sama Cilla ?”
“Nggak kok. Sekarang Cilla diperlakukan sama seperti mahasiswa lainnya, nggak over dan nggak suka lihatin kalau lagi ngajar di kelas.”
“Dia masih suka stalking Cilla ?”
“Kalau soal itu sih Cilla nggak tahu karena sampai detik ini Cilla nggak berteman dengan Pak Glen di semua medsos Cilla. Beberapa akun Cilla buat private supaya nggak sembarangan orang bisa lihat. Lain cerita kalau Pak Glen pakai nama samaran atau memanfaatkan orang lain untuk mengawasi Cilla.”
“Cilla takut nggak ?”
“Nggak, Cilla nggak setakut dulu karena teman-teman Cilla termasuk Hans bersedia membantu dan melindungi Cilla.”
“Hans ? Memangnya dia masih kepo dekatin kamu ?” Arjuna langsung menjaga jarak supaya bisa menatap wajah Cilla dengan lebih jelas, matanya memicing menyimak ekspresi Cilla yang terlihat biasa saja.
“Nggak, Hans udah terima kondisi kalau Cilla ini istrinya orang dan hanya berniat membantu kalau sampai Cilla terkena masalah lagi. Biar bagaimana dia sempat menjadi ketua BEM yang disegani banyak mahasiswa jadi koneksinya cukup luas dan berpengaruh juga.”
“Kalau masalah itu, Mas Juna bisa minta tolong sama Sebastian,” tegas Arjuna.
Cilla mendekati Arjuna dan memeluk suaminya seperti guling lalu mendusel-dusel di ketiak Arjuna. Kebiasaan yang dimulainya sejak menikah dengan Arjuna dan masih dilakukan bahkan setelah punya Sean.
“Om Sebas itu levelnya udah terlalu tinggi dan tidak terlalu tahu bagaimana kehidupan di kampus sehari-hari karena universitas ini hanya sebagian dari usaha sosialnya. Cukup Mas Juna tetap percaya sama Cilla. Lagipula di kampus kan ada Amanda, Lili dan Febi yang selalu jadi orang kepercayaannya Mas Juna.”
Arjuna meleleh kalau istrinya mendadak kalem begini apalagi hidungnya mengendus-endus dada Arjuna membuat pria yang usianya hampir kepala 3 ini merasakan geli-geli nikmat.
“Janji ya jangan aneh-aneh atau memancing Glen untuk mengeluarkan taringnya. Masalah Glen benci sama Mas Juna sedang dicari tahu penyebabnya, ada Tino dan Theo yang ikut membantu. Mas Juna udah sempat bertemu empat mata dengan Glen untuk menanyakan langsung tapi dia tetap nggak mau jawab,”
“Masa sih ?” Cilla menjauhkan kepalanya dari tubuh Arjuna.
“Iya, Glen nyuruh Mas Juna memikirkannya baik-baik, semacam refleksi diri.”
Belum sempat Cilla bersuara, Arjuna langsung mengecup bibir istrinya supaya berhenti berbicara, selanjutnya kening Cilla menjadi tujuan bibir Arjuna.
“Bobo udah malam, besok kan ada kuliah pagi dan minggu depan udah mau ujian lagi. Sini Mas Juna peluk.”
Sebetulnya masih banyak cerita dan pertanyaan yang ingin Cilla suarakan, tapi pelukan hangat Arjuna membuat matanya tiba-tiba mengantuk. Akhirnya Cilla menurut dan kembali ke dalam dekapan Arjuna. Arjuna masih menciumi pucuk kepala istrinya saat dengkuran halus Cilla mulai terdengar.
Mas Juna tidak akan memaksa Glen memberitahu alasannya karena sebagai gantinya dia minta Mas Juna melepaskan Cilla. Mau sampai matahari terbit di barat, Mas Juna nggak akan rela melepaskan Cilla untuk Glen atau siapapun juga, batin Arjuna.