
Jovan tidak dapat menahan gelak tawanya melihat sikap Cilla yang galak, bibir mengerucut dan kedua tangan terlipat di depan dada.
Mata Cilla menatap tajam ke arah Arjuna yang baru saja turun dari mobil.
“Gimana ceritanya tuh cabe-cabean bisa ada di mobil Mas Juna ?”
“Mas Juna sampai sekitar 15 menit lalu terus terima telepon dari Tino dan pintu mobil memang sudah Mas Juna buka, tiba-tiba aja Susan masuk dan langsung duduk di depan.”
“Kenapa nggak langsung diusir keluar ?”
“Udah, sayang. Mas Juna udah suruh turun tapi nggak pakai acara dorong-dorong, nanti dia laporan Mas Juna yang mau ngapa-ngapain lagil.”
“Bohong ! Kalau memang niat mau suruh dia turun kan Mas Juna tinggal matiin mesin mobil terus turun duluan. Kenapa malah kasih kesempatan dia buat nemplok sampai melintas batas tempat duduk ?”
Arjuna tertawa kikuk sambil mengusap tengkuknya, istrinya memang cerdik dan teliti, Arjuna harus hati-hati memilih kata-kata.
“Iya tadi Mas Juna udah buka pintu dan keluarin satu kaki terus Susan menahan lengan Mas Juna, minta waktu mau ngomong sebentar jadi ya udah Mas Juna kasih kesempatan 3 menit. Semula dia ngomong biasa terus nangis dan tahu-tahu nemplok mau minta peluk.”
“Lain kali nggak usah kasih-kasih 3 menit, 1 menit apalagi 5 menit buat mantan kayak begitu. Udah terbukti dia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Mas Juna sampai tega memfitnah Cilla, masa Mas Juna masih bisa berpikiran positif kalau dia bakalan tobat.”
Jovan masih senyum-senyum melihat Arjuna sulit membantah istrinya. Satu kelemahan Arjuna sejak dulu adalah gampang memberi celah para ulat bulu untuk mengganggunya.
“Iya maaf, lain kali Mas Juna nggak akan beri waktu sedetik juga buat cewek kayak Susan.”
“Klasik !” ketus Cilla menepis tangan Arjuna yang memegang bahunya.
Melihat gelagat istrinya yang akan pergi apalagi Jovan masih ada di dekat mereka, Arjuna langsung memeluk istrinya. Tubuh Cilla yang kecil susah kabur dalam dekapan Arjuna.
“Udah kamu pulang sana biar anak bebek saya nggak minta dibawa pergi sama kamu,” perintah Arjuna sambil memberi isyarat pada Jovan yang kembali tergelak.
”Makanya kebiasan jelek jangan diperlihara Pak Arjuna,” ledek Jovan di sela tawanya.
”Saya balik dulu, Pak. Cilla, gue balik duluan ya.”
Cilla hendak memanggil Jovan, ingin minta tolong supaya sahabatnya itu mengantarnya pulang ke rumah.
“Cilla nggak boleh kemana-mana, tunggu di ruangan Mas Juna sampai Mas Juna selesai ngajar. Bisa nurut nggak ? Kalau nggak mau, Mas Juna akan melakukan hal tergila di sini.”
Cilla menggerutu, tidak bisa melawan Arjuna selain menganggukan kepala. Perlahan Arjuna melepaskan dekapannya dan buru-buru memegang lengan Cilla, berniat membawanya ke ruangan.
Jovan langsung menginjak rem saat Amanda berdiri di depan mobilnya yang sedang antri pembayaran tiket parkir.
Jovan menghela nafas, enggan berbicara dengan Amanda tapi mengingat bagaimana mantan kekasinya suka berbuat nekad, Jovan pun memberi isyarat agar Amanda masuk ke dalam mobilnya.
Amanda bergegas masuk ke bangku penumpang di depan dan memasang sabuk pengamannya.
”Habis kemana sama Cilla ?”
“Makan siang.”
Mobil Jovan sudah keluar dari kampus dan tanpa bertanya, Jovan langsung membuka aplikasi mencari jalan tercepat ke rumah Amanda.
”Aku belum makan.”
Bukannya menanyakan ingin makan dimana, Jovan mengambil sesuatu dari kantong kursi penumpang lalu memberikannya pada Amanda.
“Makan ini aja untuk ganjel, nanti kamu bisa makan di rumah.”
Amanda menghela nafas sambil menerima sebungkus biskuit yang diberikan Jovan. Tidak ada kalimat tambahan lain yang diucapkan Jovan, hanya suara lagu dari radio mobil.
“Gimana kuliah kamu ?” Amanda mencoba membuka percakapan di tengah perjalanan.
“Tambah sibuk.”
“Belum mulai skripsi kan ?”
“Semester depan.”
Amanda kembali menghela nafas. Jawaban Jovan begitu datar, tidak sebawel dan ceria seperti biasanya. Hati Amanda jadi campur aduk antara sedih, kangen dan kehilangan.
Rasanya kali ini perjalanan lebih cepat dari biasanya karena mobil Jovan sudah berhenti di depan rumah Amanda.
“Nggak mampir dulu ?”
“Thanks, aku harus balik lagi ke kampus.”
“Jovan, sorry. Aku udah egois dan…”
“Nggak usah diperpanjang lagi, kita sudah membahasnya panjang lebar. Kita sama-sama salah dan kesimpulan terakhir rasanya nggak akan mudah melanjutkan hubungan ini. Sorry aku benar-benar harus segera balik ke kampus.”
Wajah Amanda terlihat sedih apalagi kalimat terakhir Jovan seolah mengusirnya dari mobil.
“Terima kasih sudah mengantarku pulang.”
“Sama-sama.”
Amanda terkejut karena Jovan langsung melajukan mobilnya begitu Amanda menutup pintu mobil. Biasanya Jovan masih menunggu sampai pintu gerbang dibuka.
Maafkan aku yang sangat egois, Van. Semoga kamu lebih bahagia setelah lepas dariku.
***
“Siapa ?” tanya Arjuna melihat Cilla baru saja menutup handphonenya saat ia keluar dari kamar mandi.
“Amanda, dia udah di depan rumah. Minta waktu ketemu.”
“Kayak nggak ada hari lain aja,” gerutu Arjuna.
“Kali ini Jovan bersikeras nggak mau balikan lagi, dia mau fokus dengan kuliahnya yang semakin padat. Awal semester tujuh udah harus siap-siap bikin skripsi.”
“Ya udah sana turun dulu, bilang sama Manda kalau Mas Juna nggak kasih dia sampai malam apalagi pakai acara menginap. Ingat , Cilla lagi hamil, nggak boleh sampai kurang tidur.”
“Iya Pak Dosen, Cilla titip Sean dulu.”
Cilla memeluk leher Arjuna yang belum memakai kaos lalu mencium pipi suaminya. Sean sedang asyik berjoget sambil menyanyi diiringi lagu yang tayang di layar televisi.
Sampai di lantai satu, Cilla langsung ke teras belakang, tempat favorit Amanda kalau sedang ingin curhat. Adik iparnya sudah duduk di kursi yang menghadap ke arah taman.
“Bawa mobil sendiri ?” tanya Cilla duduk di bangku yang berbeda.
“Naik taksi online.”
“Sorry banget kalau kali ini Mas Juna nggak kasih elo nginap di sini. Dilarang melarikan diri kalau lagi ada masalah,” ujar Cilla sambil tertawa pelan.
”Tadi siang elo pergi kemana sama Jovan ?”
“Makan siang sekalian ngobrol, udah lama kita berdua nggak chit chat ngalor ngidul membahas soal masa lalu dan yang sekarang.”
“Dia cerita apa soal gue ?”
“Jovan cuma bilang kalau kalian udah putus dan mungkin nggak akan nyambung lagi dalam waktu dekat karena dia mau fokus dengan kuliahnya.”
“Beneran cuma itu ?” Cilla mengangguk-angguk.
“Terus elo bilang apa ?”
“Manda, gue sama Jovan nggak pernah memaksakan kehendak kalau udah soal perasaan cinta. Dia cuma info dan sekalipun elo adalah adik ipar gue bukan berarti dia nggak akan gue kasih ijin putus dengan elo. Sorry, bukan karena gue nggak mau belain elo, tapi soal hati, kalian berdua yang paling mengerti dan tahu yang terbaik.”
“Sebetulnya gue nggak mau putus sama Jovan tapi sampai tadi sore Jovan nggak mau merubah keputusannya.”
“Jovan memang sahabat gue dari kecil, tapi udah 3 tahun ini gue jauh dari dia. Selain karena kita berdua udah nggak satu kampus, masing-masing punya kesibukan sendiri tapi bukan berarti kita udah saling nggak peduli lagi.
Sepanjang gue kenal, Jovan adalah tipe cowok yang setia, nggak gampang ngobral cinta tapi kembali lagi kalau manusia itu bisa berubah, jadi gue nggak bisa menjamin seratus persen kalau Jovan masih sama seperti dulu. Kalau pun berubah, itu bukan suatu kesalahan karena kadang-kadang manusia memang harus berubah menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang dihadapinya.”
“Gue mau minta tolong, Cil. Bisa nggak elo bujuk Jovan supaya nggak putus sama gue.”
“Nggak bisa !”
Keduanya menoleh, menatap Arjuna yang berdiri di pintu teras sambil menggendong Sean.
“Sean merengek mau tidur sama maminya, nih. Cilla ajak Sean bobo dulu, biar Mas Juna antar Manda pulang.”
“Sorry Manda, gue urus Sean dulu. Sampai ketemu besok di kampus.”
Cilla tidak membantah perintah Arjuna yang langsung menurunkan Sean dari gendongannya. Sesudah mengucapkan selamat malam pada Amanda dan Arjuna, bocah gembul itu menggandeng jemari Cilla menuju kamarnya.
”Ayo kakak antar pulang !”
Amanda menghela nafas panjang, alamat dapat wejangan dari barat sampai ke timur kalau Arjuna sudah turun tangan.