
Cilla masih gelisah di atas tempat tidur sementara Arjuna masih belum masuk ke kamar.
Sean, si bayi gemoi sudah tertidur pulas dalam dekapan Cilla dan perlahan mami muda itu memindahkan putranya yang berusia 10 bulan ke dalam boks bayinya.
Cilla duduk di pinggir ranjang. Saat Arjuna mandi, Cilla sempat membuka handphone suaminya yang dan melihat ada gambar baru yang dikirim dari nomor yang tidak dikenal.
Sesuai dugaan Cilla, foto adegan Glen memegang bahunya lalu berbisik hingga terlihat seolah pria itu sedang mencium Cilla.
Kegelisahan Cilla bukan karena tertangkap basah seakan berselingkuh di belakang Arjuna tapi tidak seperti biasanya, Arjuna tidak menanyakan apapun soal foto itu.
“Belum tidur ?” suara Arjuna yang baru masuk ke kamar membuat Cilla sadar dari lamunannya.
“Nggak bisa tidur,” sahut Cilla sambil menoleh ke arah Arjuna.
Pria itu diam saja dan masuk ke kamar mandi sebelum naik ke atas ranjang.
Sebetulnya hati Arjuna juga gelisah, namun ingat janjinya pada Cilla untuk tidak mudah cemburu dan percaya pada istrinya membuat Arjuna harus mati-matian melawan emosinya.
Seperti yang Cilla lihat, foto itu seolah memperlihatkan Glen sedang mencium Cilla dan yang menyakitkan Arjuna, Cilla nampak pasrah menerima perlakuan Glen.
Cilla sebetulnya enggan melaporkan masalah hukuman Glen yang mengharuskannya bertemu dengan dosen gila itu setiap jam makan siang, tapi melihat sikap Arjuna malam ini, sepertinya Cilla harus bicara apa adanya.
“Masih belum ketemu siapa yang suka kirim foto sama Mas Juna ?” tanya Cilla saat Arjuna sudah di atas ranjang, bersiap untuk tidur.
“Belum.”
Cilla menghela nafas. Rasanya malah aneh melihat sikap Arjuna yang terlihat tenang dan biasa saja.
“Tidur udah malam,”’ujar Arjuna saat melirik jam dinding yang ada di kamar.
“Hari ini Mas Juna nggak dapat kiriman foto ?” pancing Cilla saat Arjuna sudah merebahkan diri di bawah selimut.
Arjuna menggeleng membuat Cilla kecewa karena suaminya berbohong.
Cilla kembali menghela nafas saat Arjuna mematikan lampu baca dan mengambil posisi tidur memunggungi Cilla.
Arjuna pun enggan membahas masalah foto karena sejak pulang kerja ia sempat menangkap gelagat Cilla yang tidak tenang.
Istrinya terlihat gelisah seperti orang yang sudah berbuat salah. Itu sebabnya Arjuna enggan bertanya, takut Cilla memberikan jawaban yang tidak diharapkannya.
”Mas Juna,” Cilla kembali memanggil suaminya namun tidak ada jawaban.
Cilla mendekati punggung Arjuna, terdengar suara dengkuran halus membuat Cilla menghela nafas. Gagal rencananya mau membahas soal Glen dengan Arjuna, padahal tanpa Cilla tahu kalau Arjuna pura-pura mendengkur sambil memejamkan matanya.
*****
Dengan wajah lesu Cilla menyusuri lorong kampus menuju ruang dosen yang kemarin sedangkan ketiga temannya sudah ke arah kantin.
Perasaannya kacau balau. Cilla sadar kalau Arjuna sedang dalam mode cemburu namun berusaha menutupinya.
Gagal mengajak suaminya bicara semalam, Cilla berniat mengajaknya bicara pagi ini namun belum juga Cilla selesai memandikan Sean, Arjuna sudah pamit berangkat ke kantor dengan alasan meeting.
Tidak ada ciuman selamat pagi, bahkan saat bangun tidur, Arjuna tidak mencium kening Cilla seperti biasanya.
Cilla menghela nafas sebelum mengetuk pintu. Merasa kehidupan pernikahannya yang memasuki tahun ke-2 terasa berat, Gangguan pebinor menerpa sejak hari pertama kuliah.
Rasanya ingin menyerah dan cukup menjadi istri serta ibu rumah tangga bisa, tapi tanggungjawab atas perusahaan yang diwariskan Papi Rudi sudah menunggunya, tidak tega melihat Arjuna sendirian.
“Kenapa pintunya tidak ditutup ? Sayang ada AC,” Glen mengerutkan dahi saat melihat Cilla malah membentangkan pintu.
“Hubungan kita dimulai dengan tidak baik jadi tidak nyaman buat saya hanya berdua di dalam ruangan tertutup dengan Bapak, apalagi status saya juga bukan wanita single.”
“Jadi ruangan ini memungkinkan kita untuk macam-macam ?” ledek Glen sambil tertawa.
“Kalau orang mau berbuat aneh-aneh, dimana pun bisa, apalagi di ruangan seperti ini,” sahut Cilla dengan nada ketus dan meletakkan tas ranselnya di kursi.
“Mana tugas yang harus saya periksa ?” Cilla menatap tumpukan kertas yang ada di atas meja.
“Semuanya dan harus selesai hari ini karena besok ada tugas lain yang sudah menunggu.”
Cilla menghela nafas sementara Glen mengeluarkan sesuatu dari kantong kertas.
“Ini makan siang untukmu. Sesuai perkataanku kemarin, kamu bukan hanya membantu memeriksa tugas tapi juga menjadi teman makan siangku.”
“Terima atau aku suapin kamu sekalian !” tegas Glen tidak menerima penolakan.
Cilla hanya menghela nafas dan memeriksa handphonenya yang bergetar.
Ada pesan yang baru masuk dari Arjuna.
ARJUNA
Sudah selesai kuliah ? Mau makan siang bareng ? Mas Juna lagi ada dekat kampus.
CILLA
Cilla masih ada tugas kampus, tiga hari ini nggak bisa makan siang bareng, Maaf.
Di tempat yang berbeda, pasangan suami istri itu sama-sama menghela nafas. Cilla merasa bersalah karena harus berbohong pada Arjuna, sementara Arjuna tambah kecewa saat tahu istrinya berbohong.
Bukan tanpa alasan Arjuna tiba-tiba mengajak Cilla makan siang. Ia pun berbohong dengan berkata kalau posisinya dekat dengan kampus padahal Arjuna ada di dalam ruang kerjanya.
Arjuna baru saja menerima kiriman foto terbaru. Foto Glen berdua dengan Cilla di dalam ruangan dan terlihat pria itu menyodorkan satu kotak yang Arjuna yakin isinya makanan.
Arjuna hanya ingin mengetes istrinya, ternyata Cilla tidak berkata jujur soal Glen yang sedang bersamanya.
Cilla sendiri juga sudah punya firasat dan yakin kalau ajakan Arjuna terdorong karena suaminya sudah mendapat kiriman foto dirinya dengan Glen di ruangan ini.
“Jangan banyak melamun, kalau ini semua belum selesai sampai jam kuliah berikutnya, kamu harus meneruskannya selesai kuliah,” ujar Glen sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Cilla.
“Saya kan sudah bilang…” protes Cilla dengan wajah kesal, tapi Glen hanya tertawa.
“Bercanda, Priscilla. Bercanda. Aku suka banget melihat wajah kamu kalau lagi cemberut begitu, bikin gemas, pingin aku cubit dan cium.”
Mata Cilla membola dan berusaha menghalau rasa kesalnya supaya wajahnya bisa terlihat normal.
Cilla membuka kotak bekalnya dan tidak berniat menyentuh makanan yang diberikan oleh Glen. Pengalaman mengajarkan Cilla untuk lebih hati-hati menerima pemberian orang terutama dari pria seperti Glen.
“Kamu kok nggak makan makanan yang saya beliin ? Takut saya kasih racun atau obat ?” nada suara Glen terdengar tidak suka dengan sikap Cilla.
“Perjanjiannya membantu Bapak memeriksa tugas sekalian makan siang tanpa kesepakatan kalau Bapak atau saya yang menyediakan makanannya,” Cilla dengan tegas menolak permintaan Glen.
“Kamu benar-benar tidak percaya padaku ? Bukan hanya dengan ucapanku tapi niat baikku juga ?” Glen mengernyit, tidak mampu menyembunyikan rasa marahnya.
Cilla hanya tersenyum tipis dan menarik satu berkas. Ternyata bukan lembaran ujian melainkan seperti laporan makalah.
“Kamu belum menjawab pertanyaanku !” suara Glen meninggi membuat Cilla mendongak dan menmbalas tatapan Glen.
“Kalau saya tidak percaya sedikit pun sama Bapak, saya tidak akan menepati janji saya dan duduk di sini. Soal makanan tidak ada hubungannya dengan niat baik.
Kalau memang Bapak benar-benar berniat baik, nilai ujian saya tidak akan dibuat gagal lalu Bapak memaksa saya untuk menebusnya dengan tugas konyol seperti ini.”
“Ternyata kamu masih sangat polos dan naif,” Glen tersenyum sinis.
“Susah membuatmu membuka mata untuk melihat bagaimana Arjuna sebenarnya. Tapi tidak apa, aku semakin ingin memilikimu karena Arjuna tidak pantas mendapatkan wanita sebaik kamu.”
“Satu hal yang perlu Bapak tambahkan kalau saya adalah perempuan yang setia, tidak suka ganti-ganti pasangan.
Saat ini Mas Juna sudah menjadi suami saya, bukan waktunya menimbang-nimbang baik buruknya tapi sudah seharusnya saya belajar menerima Mas Juna apa adanya.”
Glen berdecih sambil tersenyum sinis tapi Cilla tidak peduli. Bukan pertama kalinya orang memprovokasinya untuk membenci Arjuna.
“Bisakah kita kembali pada tujuan awal Bapak meminta saya datang ke sini ? Apa yang harus saya kerjakan sekarang ?”
“Tidak ada, kamu hanya cukup menemaniku di sini. Hanya memandang wajahmu saja aku sudah tenang dan bahagia.”
Cilla memutar bola matanya, kesal mendengar ucapan Glen, membayangkan masih ada 6 hari yang harus dilewatinya dengan situasi seperti ini.
Hingga jam 13.15, Cilla akhirnya bisa menarik nafas lega karena sudah waktunya pamit untuk mengikuti kelas berikutnya.
“Tidak usah buru-buru, jadwal kamu selanjutnya adalah kelas saya,” ujar Glen santai sambil merapikan laptopnya.
Cilla mengernyit dan menggerutu dalam hati, padahal niatnya ingin bolos dan langsung kabur ke kantor Arjuna, tapi sangat tidak mungkin karena Glen tidak akan membiarkannya bolos.