MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
MCPG 2 Mantan Penggemar Lama


Sudah sebulan berlalu Cilla resmi berstatus mahasiswa dan menjalani kuliahnya sekaligus menyandang tugas sebagai istri  Arjuna dan mami Sean.


Selama tugas belum terlalu padat, Cilla masih bisa membagi waktu antara ketiga statusnya itu, hanya saja sedikit membatasi diri untuk menikmati waktu bersama teman-temannya.


“Mas Juna sih semalam nggak ada capeknya main anak koala,” gerutu Cilla saat mobil Arjuna mulai memasuki gerbang kampus.


‘Iiih kamunya juga senang, nggak nolak Mas Juna minta tambah, malah tadi pagi kamu yang menggoda Mas Juna duluan,” sahut Arjuna sambil terkekeh.


“Ya udah Cilla kuliah dulu, ya, udah terlambat. Mudah-mudahan dosennya ikutan terlambat,” ujar Cilla sambil tertawa pelan.


Belum sempat Arjuna menjawab, Cilla sudah turun setelah melepas sabuk pengamannya sampai lupa juga memberikan ciuman seperti biasa.


“Dasar bocah !” ujar Arjuna sambil tersenyum.


Setelah Cilla sudah tidak terlihat lagi, Arjuna sendiri kembali menjalankan mobilnya menuju kantor.


Cilla masih berlari menuju lantai 2 dimana kelasnya berada. Bolak balik melihat jam tangannya, Cilla tidak memperhatikan jalan hingga menabrak orang yang berjalan di depannya.


“Aduh !” Cilla meringis, mengusap keningnya yang lumayan sakit.   “Maaf.”


Sadar kalau kesalahan itu ada pada dirinya karena terburu-buru, Cilla pun mengucapkan kata maaf pada pria yang ditabraknya.


Cilla mendongak melihat pria itu membalikkan badan dan matanya langsung terbelalak begitu melihat siapa yang berdiri di depannya.


“Glen !” desis Cilla dengan tatapan tidak percaya.


“Apa kabar Priscilla Darmawan ?” sapa pria itu sambil tersenyum manis membuat Cilla merasa lehernya langsung kering.


“Kata orang kalau lebih dari 2 kali bertemu, itu namanya jodoh. Kita sudah berkali-kali dan akan tertambah kalinya karena kamu akan jadi mahasiswaku di kampus ini,” lanjut Glen dengan senyuman smirk.


“Apa maksudnya ?” Cilla menelan salivanya. “Sudah sebulan kuliah,  tidak ada nama anda tercatat sebagai dosen di jurusan manajemen.”


“Aku sengaja minta bagian administrasi mencantumkan nama asistenku karena tugas di luar kota baru selesai dalam 3 bulan. Tapi sepertinya keberuntungan berpihak padaku dan membuat aku bisa bertemu denganmu lebih cepat.”


Cilla menarik nafas panjang dan tidak lupa menghembuskannya perlahan. Dalam hatinya ia menggerutu, seperti baru lepas dari kandang singa masuk ke mulut buaya.


Baru merasa sedikit tenang karena Hans mengurangi gangguannya, Cilla malah bertemu pria yang lebih gila dari Hans karena tidak mau menerima kenyataan kalau Cilla adalah istri teman sekolahnya.


“Saya permisi dulu, Pak. Maaf saya sudah terlambat masuk kelas,” Cilla menganggukan kepalanya dan berniat melewati Glen karena baru saja handphonenya bergetar.



Cilla yakin kalau salah satu dari teman barunya yang menghubunginya karena sudah lewat 10 menit jam kuliah pertama dimulai.


“Tidak akan ada hukuman karena aku yang akan mengisi jadwal di kelasmu pagi ini,” ujar Glen sambil menahan tangan Cilla.


Cilla menggerutu tanpa membalikkan badannya. Rasanya ingin mengirim laporan tertulis pada Arjuna, tapi membayangkan suaminya itu bisa tiba-tiba datang dan menariknya keluar dari kelas bahkan mungkin melarang Cilla melanjutksn kuliah.


“Kalau begitu saya duluan, Pak,” Cilla melepaskan tangan Glen dan langsung bergegas meninggalkan pria itu tanpa menunggu jawaban.


Glen kembali tersenyum smirk dengan tatapan masih fokus pada Cllla yang sedang memukuli kepalanya sendiri.


“Elo kenapa bisa telat ?” bisik Dita saat Cilla sudah menempati kursi yang sengaja disiapkan oleh teman barunya itu.


“Bangun kesiangan, semalam…”


“Lupa waktu sama suami,” ledek Fino yang duduk di sebelah kiri Cilla.


“Dih sotoy,” Cilla mencebik. “Elo lupa kalau gue punya anak juga ? Udah tambah besar dan ngerti kalau mau ditinggal, susah dibohongin.”


“Tadi katanya gara-gara semalam,” ledek Fino lagi.


Cilla memutar bola matanya saat melihat kedua temannya cekikikan. Hilda, teman baru Cilla yang duduk di sebelah Fino tampak sedang asyik berselancar dengan medsosnya.


“Mau lihat dosen kita yang bakal masuk pagi ini ?’


Hilda mengulurkan handphonenya melewati Fino yang langsung sedikit mundur bersandar pada kursi.


“Ya ampun Hilda, cakep banget,” Dita langsung mengambil handphone Hilda dan menatap wajah Glen yang terpampang di layar handphone.


“Elo dapat aja sih masalah beginian,” Cilla sampai menautkan alisnya saat melihat Hilda menaik turunkan alisnya.


“Eh elo ngapain “ Cilla mengernyit saat melihat Dita mengutak-atik handphone Hilda.


“Gue kirim fotonya nih dosen ke wa grup kita berempat biar bisa menikmati wajah tampannya bareng-bareng.”


“Eh, gue nggak minat, ya !” protes Fino sambil melotot. “Gue masih normal biar bertemannya sama 3 cewek somplak kayak elo pada.”


“Idem gue, Fin,” Cilla tertawa dan mengajak Fino melakukan tos.


Keempatnya tidak melanjutkan perbincangan karena pria yang sedang dibicarakan itu masuk dan memberi salam pagi pada seluruh mahasiswa.


“Maaf saya baru menampakkan diri setelah sebulan kalian belajar di sini,” ujar Glen membuka pertemuan mereka pagi ini. “Nama saya Glen, saya dosen yang akan mengajar matkul statistik. Saya juga Kajur kalian, jadi ke depannya mungkin kita akan sering  bertemu.”


Suara Glen yang terdengar tegas namun ramah membuat para mahasiswi yang sedang terpesona dengan ketampanannya langsung menaruh harapan.


Apalagi Glen adalah salah satu dosen muda, berbeda dengan dosen-dosen yang sudah mengajar mereka selama sebulan, rata-rata usianya di atas  35 tahun dan hampir semuanya sudah menikah.


“Bapak masih jomblo ?” celetuk Anita, salah satu mahasiswi cantik dan seksi yang menjadi incaran banyak pria.


“Saya belum bisa memberikan jawaban soal itu,” Glen tersenyum dan matanya langsung menatap Cilla yang membuang muka ke lain arah. “Cuma sudah ada calon yang sedang saya tunggu jawabannya.”


“Masuk daftar antrian, Nit,” ledek mahasiswa lainnya.


“Yang pasti saya memang belum menikah, dan untuk nomor handphone boleh kalian simpan untuk keperluan kuliah, bukan untuk mengirim rayuan gombal pada saya,” seloroh Glen yang membuat mahasiswi gantian riuh.


“Jangan lebay deh, Dit,” Cilla menyenggol lengan temannya yang senyum dan tersipu saat tatapan Glen sering mencuri-curi pandang melihat Cilla.


Dita yang sudah salah tingkah itu berpikir kalau Glen bukan menatap Cilla tapi melirik kepadanya. Dita belum tahu kalau Glen adalah pria yang mengejar Cilla hampir setahun yang lalu.


“Kamu kenapa ?” tanya Glen menunjuk ke arah Cilla dan Dita.


“Saya, Pak ?” wajah Dita bukannya cemas ditegur dosen malah langsung cerah, seolah Glen perhatian padanya.


“Bukan kamu, tapi sebelah kamu.”


“Saya ?” Cilla menunjuk pada dirinya sendiri. “Saya baik-baik aja, Pak.”


“Coba kemari !” Glen memberi isyarat supaya Cilla menghampirinya.


Rasanya ingin tegas menolak karena tahu Glen sengaja mencari- cari bahan omongan dengan Cilla, tapi tidak mungkin melakukan itu di depan mahasiwa lainnya.


Perjuangannya sebagai mahasiswa baru dimulai  dan masih  ada 4 tahun yang harus dilewatinya, belum lagi status Glen selain dosen juga Kajur.


“Kamu kenapa dari tadi sepertinya marah dan kesal ? Tidak suka saya jadi dosen kamu ?” tanya Glen saat Cilla sudah berdiri di hadapannya.


“Nggak Pak, baru keingat kalau pagi ini saya lupa pamitan sama mama,” jawab Cilla asal membuat teman-temannya menertawakan ucapan Cilla.


“Bukannya kamu kesal karena ternyata banyak yang terpesona sama saya dan itu berarti kamu makin banyak saingannya,” ejek Arjuna sambil tertawa.


“Bapak nggak salah makan ?” tanya Cilla dengan mata membola.“Yang lain mungkin terpesona tapi saya nggak, soalnya hati saya sudah terikat sama ini.”


Cilla mengangkat jemari kanannya dan memperlihatkan cincin kawin yang tidak pernah dilepsnya sejak masa ospek berakhir.


“Hati-hati kamu menyesal dengan ucapanmu hari ini,” Glen kembali tersenyum tipis lalu menyuruh Cilla balik ke bangkunya.


Cilla masih menggerutu kesal saat kembali duduk di samping Dita dan Fino, membayangkan kuliahnya akan tidak tenang dengan kehadiran Glen.


“Elo beneran nggak minat selingkuh dari suami sama dosen secakep itu ?” bisik Dita sambil cekikikan,


“Elo belum kenal aja laki-laki macam apa itu dosen,” gerutu Cilla sambil berbisik.


“Memangnya kenapa ?”


“Elo buktiin sendiri aja buat tahu aslinya.”


Dita mengerutkan alisnya tapi tidak memperpanjang percakapan dengan Cilla karena Glen sudah memulai memberikan kuliah di depan.