MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Sweet Seventeen


Cilla berdiri di depan cermin  kamar mandi.  Seharusnya Cilla bahagia hari ini karena jadi bintang utama acara seharian ini, tapi mukanya malah lesu dan malas bertemu tamu-tamu yang diundang ke rumah malam ini, padahal mereka yang datang adalah orang-orang pilihan Cilla.


 


Perlu negosiasi alot dan perdebatan panjang dengan papi Rudi masalah perayaan ulangtahunnya. Cilla yang kehilangan semangat karena tahu Arjuna tidak akan datang malas mengadakan pesta.


Tapi demi membahagiakan dan menjauhkan papi dari stress akhrnya Cilla menurut dengan beberapa syarat.


 


Tidak ada pesta besar di hotel mewah, tidak ada gaun dan dandanan bak cinderella, tidak perlu pakai EO segala.


Awalnya papi Rudi menolak keras dengan alasan ingin memberikan kenangan indah untuk putri tunggalnya memasuki usia dewasa bagi seorang perempuan. Dan dengan keras kepala juga Cilla menolak dengan alasan tidak suka menjadi pusat perhatian dan sudah terbiasa merayakan ulangtahunnya secara sederhana bahkan tanpa keluarga.


 


Papi terdiam mendengar alasan Cilla dan larut lagi dalam ingatan akan sikap buruknya sebagai ayah selama ini. Melihat reakasi papi Rudi, Cilla menyesal, merasa bahwa ia telah menyakiti hati papi Rudi yang harus dijaga ketenangan hati dan pikirannya.


 


Dan akhirnya keduanya sepakat, tetap mengadakan pesta tapi hanya sederhana. Siang tadi semua teman sekelasnya plus Jovan diundang makan-makan di café tanpa acara spesial.


Mereka boleh makan sepuasnya dan hanya ada acara tiup lilin serta beberapa games yang disiapkan oleh pemilik café. Tidak ada guru atau keluarga lain yang diundang. Hanya papi Rudi ditemani Om Budi hadir di sana.


 


“Cilla !”


 


Ketukan dan panggilan di pintu kamar mandi membuyarkan lamunannya. Cilla baru saja selesai mandi. Begitu pintu dibuka, sudah ada Lili dan Febi berdiri  di sana.


 


“Elo lagi bertapa apa semedi ?” tanya Lili dengan wajah cemberut. Ternyata sudah beberapa kali mereka mengetuk sambil memanggil Cilla namun tidak ada tanggapan dari dalam.


 


“Habis tidur siang di dalam,” sahut Cilla asal.


 


Matanya mengernyit saat ada satu orang asing lagi di kamarnya. Ia langsung menoleh pada kedua sahabatnya, bertanya dengan tatapan mata tentang sosok yang tidak dikenalnya.


 


“Ini Mbak Pingkan yang akan membantu elo dandan sore ini,” ucap Lili menjelaskan.


 


“Dandan lagi ?” Cilla memutar bola matanya dengan malas. Baru saja dia menghapus semua riasan yang menempel di wajahnya, sekarang harus dirias kembali.


 


“Ya iyalah, masa mau biasa-biasa aja,” omel Lili.


 


Cilla yang hanya mengenakan jubah mandi akhirnya pasrah dan membiarkan Mbak Pingkan itu meriasnya dengan catatan tidak boleh tebal-tebal apalagi menor.


 


30 menit kemudian Cilla sudah terlihat berbeda. Tetap seperti abege namun tambah manis dan imut. Febi hanya duduk di pinggir ranjang sambil mengutak-atik handphonenya sementara Lili yang kepo langsung membawakan dress selutut warna broken white untuk Cilla.


 


“Kenapa harus pakai yang ini ? Gue mau pakai yang peach atau biru aja,” tolak Cilla sambil melewati Lili yang sudah mengangkat gaun Cilla.


 


Beberapa hari yang lalu kedua besties Cilla sempat mengajaknya berbelanja beberapa dress untuk acara hari ini. Cilla hanya memilih dua dan sampai di rumah ternyata ada kiriman dari tante Siska yang katanya wajib dipakai untuk acara malam harinya.


 


“Elo nggak ingat kalau Tante Siska udah wanti-wanti supaya pakai gaun yang ini ?” tegas Lili menghampiri Cilla yang sudah berdiri di depan pintu lemarinya.


 


“Gue nggak begitu suka. Kenapa juga ulangtahun malah pakai broken white, kayak mau acara kawinan aja,” omel Cilla dengan wajah cemberut.


 


“Udah sih, nurut aja kenapa ?” Febi yang mendengar perdebatan itu pun mendekat dan memberi isyarat supaya Cilla menuruti Lili.


 


Sambil menggerutu kesal akhirnya Cilla menurut. Kedua bestie membantunya memakai gaun selutut itu. Memang sederhana dan cantik tapi Cilla tidak terlalu suka warnanya untuk tema pesta ulangtahun.


 


Mbak Pingkan yang masih menunggu di situ membantu Cilla merapikan rambutnya menyesuaikan dengan mode baju dan memberikan sentuhan akhir di wajah Cilla.


 


“Kamu imut banget, sih. Kayak belum tujuhbelas,” puji Mbak Pingkan saat memandang hasil akhir riasan Cilla di cermin.


 


“Efek badan pendek, Mbak,” ledek Febi sambil terkekeh.


 


Cilla langsung melotot menatap kedua sahabatnya yang sedang tertawa bahkan melakukan tos bersama.


 


“Imut, bukan pendek,” bela Mbak Pingkan.


 


“Udah dong, masa lagi pesta ulangtahun mukanya kayak baju baru keluar dari mesin cuci, lecek dan lembab,” ujar Lili sambil memegang kedua bahu Cilla yang masih duduk di depan meja rias.


 


“Bodo !” omel Cilla sambil beranjak bangun.


 


Sampai di bawah Mbak Pingkan langsung pamit pulang karena ada pekerjaan di tempat lain sementara Cilla langsung duduk di teras belakang mengamati kedua sahabatnya yang sedang memastikan perlengkapan party garden sore ini.


 


Om Rio dan tante Siska sudah datang duluan, bahkan tante Siska terlihat sibuk di dapur mempersiapkan hidangan untuk malam ini.


 


Tidak banyak yang diundang, Selain keluarga om Rio, Cilla mengundang para sahabat Arjuna termasuk Dono yang merangkap jadi wali kelasnya. Jovan pun kali ini diundang bersama dengan kedua orangtuanya. Dan pasti papi mengundang Pak Slamet dan Pak Wahyu. Entah yang lainnya.


 


Atas seijin papi, Cilla juga mengundang Amanda, papa Arman dan mama Diva. Tidak ada nama Arjuna yang disebut karena takut memancing emosi papi. Belum ada tanda-tanda kalau papi Rudi akan memberikan kesempatan untuk Arjuna.


 


“Happy Birthday Cilla,” suara Amanda datang dari belakangnya membuat Cilla kembali sadar dari lamunannya.


 


Cilla bangun dari bangku dan meghampiri Amanda yang ternyata datang bersama Jovan.


 


“Akhirnya tujuhbelas juga,” Amanda langsung memeluk Cilla setelah memberinya selamat.


 


“Iya, akhirnya punya KTP juga,” ujar Cilla sambil tertawa setelah melepaskan pelukannya.


 


“Jadi ceritanya udah resmi nih direstui sama orangtua ?” Cilla menatap Jovan sambil menaikturunkan alisnya.


 


“Mami udah move on dari elo,” jawab Jovan asal.


 


“Dih kok nyokap elo yang udah move on ? Bukannya elo yang akhirnya nyadar kalo nggak cinta sama gue tapi cuma obsesi ?” ledek Cilla sambil terkekeh.


 


“Diihh cewek geeran. Siapa juga yang obsesi sama elo,” Jovan mencebik.


 


“Sama mantan nggak boleh gitu dong,” ledek Amanda ikut menggoda Jovan,


 


“Sayang, mana ada status dia ini mantan,” ujar Jovan sambil menunjuk ke arah Cilla. “Pacaran aja nggak. Aku memang pernah nembak, tapi nih cewek sok kecakepan, nolak cowok keren dan populer kayak aku ini.”


 


“Duh gelinya,” Cilla langsung mengernyitkan wajahnya. “Aku kamu, cowok keren dan populer, kayak bukan Jovan banget sih !”


 


“Iri aja !” Jovan mencebik sambil menarik tangan Amanda supaya mendekat kepadanya.


 


“Diihh kayak takut direbut aja,” cebik Cilla. Tangannya langsung terulur pada  Jovan.


 


 


“Mantan penggemar belum kasih kado ulangtahun,” ujar Cilla dengan mata melotot. “Mana ada orang datang ke pesta nggak bawa kado, apalagi ngaku-ngaku mantan penggemar.”


 


“Ya ampun Cilla !” Jovan menoyor kening Cilla membuat gadis itu semakin melotot sementara Amanda hanya tertawa pelan. “Barusan yang dikasih Amanda itu apaan ? Dus kosong ? Gue sama Amanda kan udah jadi satu hati, jadi ya kasih kadonya cukup satu berdua.”


 


“Rugi dong gue,” gerutu Cilla sambil manyun. “Kan datang berdua, jatah makan berdua, masa kadonya cuma satu. Lagian yang kasih kan Amanda bukannya elo. Tadi siang elo gue undang juga ke café. Masa nggak ada niat kasih kenang-kenangan sama idola.”


 


“Dasar cewek matere !” omel Jovan sambil kembali menoyor kening Cilla.


 


“Jovan !!” omel Cilla dengan suara sedikit keras membuat Lili dan Febi yang ada di taman jadi menoleh. “Jangan main toyor. Nggak tahu kalau perlu perjuangan bikin muka gue tambah cakep begini.”


 


“Nggak ada bedanya,” cebik Jovan sambil tertawa. “Tetap aja chaebol.”


 


Cilla langsung mendelik dan kakinya menendang mata kaki Jovan yang tdiak tertutup sepatu.


 


“Cilla sakit !” pekik Jovan sambil meringis. Kalau tidak ingat gadis di depannya sudah berdandan, ingin rasanya Jovan memiting Cilla seperti kebiasaannya dulu.


 


“Yang, nggak ada niat mau belain calon suami gitu ?” rengek Jovan menatap Amanda yang sejak tadi hanya tertawa melihat perdeatan Jovan dan Cilla.


 


“Kamu juga sih diundang ke pesta dua kali, kasih kadonya sekali,” ledek Amanda masih sambil tertawa.


 


Cilla menjulurkan lidahnya dan meninggalkan Jovan yang masih meringis kesakitan. Cilla berjalan ke arah taman menghampiri Febi dan Lili.


 


Jam enam lewat para undangan pun mulai datang. Ternyata papi Rudi mengundang om Budi dan keluarganya, juga tante Nila, sekretaris papi Rudi dan keluarganya.


 


Dono dan Wiwik yang sedang hamil besar datang bersama Boni dan Mimi. Theo menyusul kemudian bersamaan dengan Pius yang datang sendirian. Terakhir Erwin dan Luki disusul oleh Pak Slamet dan Pak Wahyu.


 


Tidak ada acara spesial hanya acara kumpul dan makan bersama di halaman belakang. Semua sudah akrab karena bukan yang pertama para undangan kumpul di acara seperti ini. Hanya Tante Nila dan Om Budi yang baru pertama kalinya diundang bersama seperti ini.


 


“Bo-nyok kemana, Man ? Nggak datang ?” bisik Cilla mendekati Amanda karena tidak melihat tanda-tanda kedatangan mantan calon mertuanya itu padahal waktu sudah di angka tujuh malam.


 


“Mungkin sebentar lagi,” sahut Amanda santai.


 


Cilla hanya menggangguk. Kalau boleh jujur, dia berharap papa Arman tidak hanya datang bersama mama Diva tapi juga Arjuna. Tapi itu semua hanya andai.


 


Tidak lama Bik Mina meminta Cilla untuk menemui papi Rudi di ruang tamu. Jantung Cilla langsung berdebar tidak karuan.


Minggu yang lalu, selain membahas soal perayaan ulangtahun, papi Rudi menyinggung juga soal anak rekan bisnsnya yang ingin berkenalan dengan Cilla. Katanya pernah melihat Cilla saat menemani papi Rudi datang ke sebuah acara.


 


Langkah Cilla terhenti di ujung pembatas ruang tamu. Ternyata kecemasannya salah, yang datang bukan orang asing untuk Cilla, tapi papa Arman dan mama Diva. Dan yang membuat Cilla terpaku, Arjuna juga duduk di sana dengan wajah penuh senyuman.


 


Cilla mengerjap berharap kalau ini bukan mimpi atau halusinasi.


 


“Mau sampai kapan kamu berdiri di situ ?” tanya papi Rudi mencairkan kebekuan Cilla.


 


“Eh iya..” Cilla tergagap dan berjalan mendekati papi Rudi lalu duduk di sampingnya.


 


Cilla menatap papi Rudi dengan alis menaut seperti bertanya kenapa Arjuna bisa ada di sini bersama kedua orangtuanya pula ?


 


“Cilla,” panggil mama Diva.


 


Cilla menoleh dan sempat bertatapan dengan Arjuna namun segera Cilla beralih ke mama Diva.


 


“Maksud kedatangan Om dan Tante kemari ingin kembali melamar Cilla menjadi istrinya Arjuna. Apa Cilla bersedia ?”


 


Cilla tercengang, tidak percaya dengan ucapan mama Diva. Cilla kembali mengerutkan dahi dan menatap papi Rudi penuh tanda tanya.


 


“Kamu dengar sendiri ucapan Tante Diva barusan, kan ?” ujar papi Rudi santai, tidak ada tatapan dingin dan marah di mata papi Rudi.


 


“Iya Cilla, Om dan Tante kemari karena ingin melamar kamu untuk menjadi calon istrinya Arjuna,” tegas papa Arman.


 


Cilla masih belum menoleh, masih menatap papi Rudi menanti penjelasan. Kenapa tiba-tiba papi Rudi seolah menyetujui Cilla kembali dengan Arjuna bahkan langsung ke acara lamaran ?


 


“Jawabannya terserah kamu. Papi sudah menyetujui permintaan Arjuna dan Om Arman dan keputusan akhirnya ada padamu karena kamu sendiri yang akan menjalaninya.”


 


“Tapi bukannya Papi dan Om Arman….” Cilla menoleh menatap papa Arman dengan dahi berkerut.


 


“Ceritanya panjang, biar nanti Arjuna yang menjelaskan. Sekarang kamu tinggal putuskan saja lamaran Om Arman dan Tante Diva,” ujar papi Rudi menjawab kebingungan Cilla.


 


Cilla menatap Arjuna dengan wajah yang masih bingung. Rasanya tidak percaya dengan kenyataan yang sedang dihapinya sekarang.


 


“Ini semua nggak ada hubungannya dengan masalah penyakit Papi, kan ?” tanya Cilla kembali menatap papi Rudi.


 


“Sakit papi nggak akan langsung sembuh dengan jawaban kamu,” sahut papi Rudi sambil tertawa pelan. “Kalau kamu pikir kalau papi setuju karena sakit Papi bertambah parah maka jawabannya salah. Papi kan sudah janji tidak akan menutup-nutupinya lagi dengan Cilla.”


 


Cilla menarik nafas lega. Pengalaman kejadian sebelumnya membuat Cilla jadi khawatir dan berpikiran buruk.


 


Cilla menatap papa Arman dan mama Diva bergantian, seolah ingin memastikan sebelum mengambil keputusan. Tidak ada lagi kemarahan di mata papa Arman bahkan wajahnya terlihat lebih ramah dan penuh senyuman. Begitu juga dengan mama Diva yang selalu tersenyum sekalipun Cilla pernah menyakitinya.


 


“Gimana Cilla ?” tanya papa Arman.


 


Cilla menunduk dan meremat kedua jemarinya berusaha berpikir jernih meski semua ini membuatnya masih dipenuhi dengan tanda tanya.


 


“Cilla,” panggil Arjuna perlahan.


 


Cilla mendongak, membalas tatapan Arjuna yang sedang memandanginya sambil tersenyum.


 


“Saya maunya.. Dimas.”


 


“Dimas ?” Arjuna mengerutkan dahinya dan mengikuti arah pandang Cilla.


 


Dilihatnya sosok lelaki yang pernah ditemuinya di Pujasera beberapa waktu lalu sedang berdiri di depan pintu memegang seikat bunga. Rahang Arjuna langsung mengeras dan kedua tangannya mengelpal. Apa iya dalam sebulan hati Cilla sudah berpindah pada sosok yang bernama Dimas ini ?