
“Lebih baik segera lakukan general check up lagi, Rud. Handoyo khawatir kankermu aktif kembali,” ujar dokter Raymond di ruangannya.
Sudah dua minggu terakhir, tubuh papi Rudi mulai tidak nyaman lagi, mudah lelah dan kadang-kadang mengalami sesak nafas. Beberapa bagian kulitnya sempat gatal-gatal sebagai salah satu reaksi dari kanker getah bening yang dideritanya.
“Coba rutin kemoterapi, Rud. Bukankah Handoyo sudah membuatkan jadwal untukmu.”
“Apa aku perlu menemui dokter Lee lagi di Singapura ?” tanya papi Rudi.
“Aku sempat menghubungi dokter Lee dan dia bilang kamu bisa meneruskan pengobatannya di sini. Rumah sakit ini sudah mendapat rekomendasi sebagai partner mereka.”
“Berapa lama kemoterapi harus aku jalani ?”
“Sementara 6 kali dalam tiga atau empat minggu seingatku. Kalau memang kamu siap, kita akan membahasnya dengan Handoyo. Jangan lupa kamu beritahu juga putrimu, dia tampak sangat terpukul saat pertama kali tahu tentang penyakitmu. Untung saja calon suaminya selalu setia menemani dan memberikan dukungan untuknya.”
“Arjuna bukan calon suami anakku lagi,” sahut papi Rudi dengan nada sedikit ketus.
“Tapi yang kulihat tidak seperti itu,” ujar dokter Rsymond sambil mengerutkan dahinya. “Anak Arman terlihat sangat menyayangi putrimu. Kenapa kamu sepertinya tidak setuju kalau mereka bersama ?”
Papi Rudi menghela nafasnya. Apa yang dikatakan oleh dokter Raymond memang ada betulnya, tapi hari papi Rudi belum bisa menerima sepernuhnya.
“Jadi masalah putrimu yang membuatmu stress kembali belakangan ini ?” tanya dokter Raymond sambil tertawa pelan. “Apa putrimu menolak anaknya Arman jadi calon suaminya ? Tapi sejauh yang aku lihat saat kamu dirawat di ICU, putrimu sangat mengandalkan anaknya Arman, kelihatan betul kalau putrimu juga menyayanginya.”
“Seharusnya mereka menikah minggu depan, tapi karena merasa ragu, putriku menemui kami, aku, Arman dan Diva, putriku membatalkan pernikahannya dan mengembalikan cincin pertunangannya. Sekarang setelah sebulan mereka berpisah, tiba-tiba Arjuna menemui aku dan minta restu untuk bisa bersama Cilla bahkan Arjuna bilang kalau mereka juga siap menikah.”
“Tinggal bilang setuju apa susahnya ?” ledek dokter Raymond sambil tertawa. “Aku yang tidak terlalu mengenal mereka bisa melihat kalau keduanya memang benar-benar saling cinta. Masalah yang lalu mungkin karena emosi sesaat. Apalagi anakmu sendiri masih sekolah, ya ? Aku ingat dia masih memakai seragam sekolah saat kemari. Jiwanya masih labil, memutuskan sesuatu sering kurang pertimbangan. Tapi kenyataannya aku bisa meihat kalau putrimu sangat mencintai anaknya Arman. Hmmm… siapa namanya tadi kamu bilang ? Arjuna ?”
“Aku memang ingin mencari suami untuk Cilla. Setidaknya kalau aku sampai harus menyerah pada sakitku ini, Cilla ada yang menjaganya. Memang ada Siska, kakak mendiang istriku dan anaknya yang sangat menyayangi Cilla, tapi setelah Theo berumahtangga, mana mungkin dia menemani Cilla setiap hari.”
“Jangan ragu memberikan restu untuk mereka, apalagi calon suami Cilla adalah anak Arman. Kamu tehu senditi bagaimana kerasnya Arman mendidik anak-anaknya. Sudah pasti Arman juga akan mengawasi dari jauh kalau sampai keduanya menikah. Dan aku yakin kalau Arman akan menganggap Cilla bukan hanya menantu tapi anaknya juga. Apa kamu ingin anakmu dibuat hamil dulu supaya diberi restu ?” ledek dokter Raymond sambil tertawa.
“Maksudnya seperti menantumu itu ?” Papi Rudi balas meledek dokter Raymond sambil tertawa pelan.
“Itu beda lagi ceritanya. Anakku terpaksa menikahi wanita itu karena dipaksa menghamilinya,” keluh dokter Raymond dengan wajah sedih.
“Aku masih mempertimbangkannya apa Arjuna benar-benar akan menerima Cilla sebagai istrinya. Perbedaan usia mereka cukup jauh. Seperti kamu bilang tadi, Cilla memang masih labil sementara Arjuna punya tugas membantu Arman meneruskan usahanya. Aku belum terlalu yakin kalau Arjuna siap menjadi suami sekaligus pembimbing Cilla.”
“Jangan terlalu lama. Bukan hanya akan membuat mereka menderita, tapi beban pikiranmu pun akan bertambah dan memperburuk kesehatanmu. Kalau sampai Cilla dan Arjuna berani bicara minta restu untuk bersatu lagi, sudah pasti mereka akan kebih serius, tidak mudah terbawa emosi lagi.”
Papa Arman terdiam dan menimbang-nimbang ucapan dokter Raymond.
Apa yang dikatakan oleh dokter Raymond banyak benarnya. Kehadiran papa Arman menemani Arjuna menemui papi Rudi memang benar menunjukan kalau papa Arman seolah memberikan penegasan kalau niat putranya itu tidak main-main.
☘️☘️☘️
Besok paginya sekitar jam 7, papi Rudi datang ke SMA Guna Bangsa tanpa pemberitahuan seperti sebelum-sebelumnya.
Sengaja datang mendadak sebagai kunjungan tidak resmi menemui Pak Slamet, itu pun menunggu jam pelajaran sudah dimulai.
“Wajah Bapak kelihatan kurang sehat,” ujar Pak Slamet saat keduanya sudah duduk di sofa yang ada di ruangan Pak Slamet.
“Jangan terlalu formal, Met. Aku kemari bukan sebagai pemilik sekolah tapi sebagai sahabatmu,” ujar papi Rudi sambil tertawa pelan.
“Agak canggung karena posisi kita di ruang kerjaku di sekolah,” sahut Pak Slamet ikut tertawa.
“Kalau begiti anggap aku sebagai orangtua Cilla, muridmu yang jadi langganan ruang BK.”
“Sepertinya sejak jadian dengan Arjuna, putrimu itu sudah tobat dan berubah jadi anak manis. Anak bebeknya Arjuna, begitu para sahabatnya memberi julukan.”
Papi Rudi tertawa sambil geleng-geleng kepala.
“Apa urusan Arjuna berhenti jadi guru di sini sudah beres ?” tanya papi Rudi sambil meraih satu botol air mineral yang disedikan di meja.
“Juna datang menemuiku bersama Arman dan meminta ijin untuk kembali bersama Cilla.”
“Bukankah itu pertanda bagus ? Mereka berdua memang berjodoh dan sama-sama saling cinta. Aku rasa masalah Cilla membatalkan pernikahannya bukan karena sudah tidak cinta, tapi karena emosi. Lagipula alasan Cilla saat itu bukan karena Juna berselingkuh atau tindak kekerasan, itu pun hanya sekedar mendengar tanpa memastikan langsung dan minta penjelasan dari Arjuna.”
“Sekarang Juna-nya ada dimana ?”
“Sepertinya sedang mengajar.”
“Apa aku boleh melihat CCTV kelas Cilla ?”
“Tentu saja boleh. Untuk masalah ini aku harus menempatkanmu sebagai pemilik sekolah, bukan sebagai orangtua murid,” sahut Pak Slamet sambil tertawa.
Pak Slamet pun beranjak bangun yang diikuti oleh papi Rudi. Pak Slamet melewati satu pintu lain yang ada di ruangannya menuju tempat monitoring CCTV.
“Itu Arjuna ?” mata papi Rudi langsung membelalak saat melihat tampilan di layar monitor.
“Iya, sepertinya Arjuna sedang menjadi guru pengganti di kelas Cilla,” sahut Pak Slamet sambil tertawa pelan.
“Kenapa mereka peluk-pelukan di depan murid-murid ?” papi Rudi menghela nafas panjang melihat kelakuan putrinya. “Dan kenapa nggak langsung melepaskan diri padahal sudah disoraki anak-anak lainnya.”
Pak Slamet tertawa melihat ekspresi wajah papi Rudi yang campur aduk, antara kesal, gregetan dan malu dengan situasi Cilla dan Arjuna di kelas.
“Maklum sudah lama mereka seperti orang asing, bahkan di sekolah juga saling menghindar. Kamu pastinya tahu bagaimana gejolak anak muda yang sedang jatuh cinta.”
“Iya, tapi nggak begitu juga,” papi Rudi menghela nafas sambil mengusap tengkuknya.
“Kalau begitu berikan mereka restu dan segera nikahkan kalau mereka berdua memang sudah setuju untuk menikah dalam waktu dekat.”
Papi Rudi keluar dari ruangan monitoring dan kembali duduk di sofa. Pak Slamet pun mengukutinya dan kembali duduk berseberangan.
“Kankerku sedang aktif kembali,” lirih papi Rudi. “Dan aku jadi khawatir meninggalkan Cilla sendirian kalau sampai terjadi sesuatu padaku.”
“Jaga kesehatanmu dengan baik kalau masih ingin menemani Cilla lebih lama lagi,” ujar Pak Slamet dengan senyuman tipis.
“Dan aku bisa meyakinkanmu kalau Arjuna adalah pilihan yang tepat untuk menjadi suami Cilla, menjadi menantumu. Meski terkadang bersikap kekanakan, tapi Arjuna adalah pria yang bertanggungjawab. Kelakuannya seperti itu kalau sedang berhadapan dengan Cilla saja. Sepertinya jiwa Arjuna menyesuaikan diri dengan cintanya,” lanjut Pak Slamet sambil tertawa pelan.
“Bagaimana bisa jadi suami yang baik kalau suka pamer kedekatan mereka di depan umum seperti di kelas tadi,” gerutu papi Rudi membuat Pak Slamet tertawa.
“Sepertinya kamu lupa dengan kelakuanmu pada Sylvia dulu,” ledek Pak Slamet. “Meskipun tahu dia jauh lebih muda darimu, tapi sikapmu cukup agresif. Dan sekarang semuanya seperti diulang kembali pada Cilla.”
Papi Rudi tertawa, mengingat masa-masa indahnya bersama mami Sylvia.
“Maaf aku tidak bermaksud membuatmu teringat pada Sylvia,” ujar Pak Slamet dengan wajah merasa bersalah.
“Sama sekali tidak,” papi Rudi menggeleng. “Aku terlalu sibuk dengan kesedihanku karena kehilangan Sylvia sampai aku melupakan mengingat hal-hal indah yang pernah terjadi dalam hidupku.”
“Dan Cilla adalah kebahagiaan terbesar yang ada di depan matamu kemarin, hari ini dan besok,” ujar Pak Slamet.
“Ya dan aku sudah mengabaikannya cukup lama, membiarkan dia tumbuh sendirian, hingga akhirnya dia tumbuh menjadi gadis yang terlihat kuat namun sebenarnya rapuh.”
“Dan sekarang biarkan Cilla mendapati kebahagiaannya dengan Arjuna. Aku yakin Arjuna akan membuat Cilla tidak lagi kesepian dan lebih dewasa dengan cara mereka yang tidak biasa. Aku yakin Arjuna akan membuat Cilla menjadi wanita yang benar-benar kuat bukan hanya di luarnya saja.”
Papi Rudi terdiam dan terlihat menghela nafas berkali-kali sambil memikirkan ucapan Pak Slamet.
Sepertinya semua yang dekat dengan Arjuna dan Cilla memberi dukungan penuh supaya keduanya bersatu. Bahkan Siska dan Rio juga ikut mendukung meski tdak secara langsung.
Papi Rudi kembali menghela nafas panjang sambil meraih handphonenya dan langsung menekan panggilan keluar ke nomor papa Arman.