
Cilla membawa Arjuna kembali ke parkiran yang ada di dekat pujasera. Pria itu mengerutkan dahinya karena yang terlihat mobil yang biasa Cilla pakai, bukan motor.
“Kamu tadi pergi berdua sama Dimas ?” pertanyaan dengan nada cemburu langsung terucap dari mulut Arjuna.
“Nggak, Cilla pergi sendiri. Kan Dimas juga bawa motor,” sahut Cilla santai sambil menyerahkan kunci mobil pada Arjuna.
Pria itu masih melirik ke arah helm yang dibawanya dari tempat kost. Cilla diam saja meskipun sudah melihatnya, tidak memberitahu kalau ia bawa mobil bukan motor. Bahkan Arjuna sudah lengkap memakai jaket karena berpikir mereka akan kencan naik motor.
Akhirnya tidak mau berdebat, Arjuna meletakkan helm dan jaket yang sudah dilepasnya di kursi penumpang belakang. Baru saja membuka pintu pengemudi, teriakan yang dikenalnya membuat Arjuna menoleh, sementara Cilla sudah di dalam mobil.
“Kak Juna,” Amanda mendekat sambil berlari kecil.
“Kamu ngapain di sini ?” Arjuna menautkan alisnya melihat adiknya ada di sekitar tempat kostnya.
Amanda langsung menggeser badan Juna dan mengintip ke dalam mobil.
“Bagus ya, gue hubungi malah asyik pacaran,” omel Amada
“Ya ampun, elo ngapain di sini ?” sahut Cilla dengan wajah terkejut. “Kok nggak telepon dulu kalau mau makan di sini ?”
“Telepon ? Dari jaman batu sampai now telepon elo langsung dijawab sama mbak cantik,” gerutu Amanda dengan mulut mengerucut.
“Ah iya, lupa gue,” Cilla menepuk jidatnya. “Baterai handphone gue dah bobo dari tadi sore, lupa bawa powerbank,” sahut Cilla sambil nyengir kuda.
“Terus sekarang mau kemana ?” Amanda yang merasa pegal dalam posisi membungkuk langsung duduk di kursi pengemudi dan membiarkan Arjuna menatapnya dengan wajah jutek.
“Mau pacaran dong,” sahut Cilla sambil terkekeh.
“Pacaran ? Memangnya elo sama Kak Juna ?” Amanda menunjuk Cilla yang mengangguk malu-malu lalu menoleh ke arah kakaknya yang masih memegangi pintu mobil.
“Ya ampun !” pekik Amanda dengan cukup keras, membuat Arjuna langsung menegur adiknya untuk memelankan suaranya.
“Kalau begitu elo berdua harus traktir gue. Pajak jadian,” ujar Amanda sambil menaik turunkan alisnya.
“Iiih masa mintanya sama pihak cewek. Tuh minta sama pihak cowok yang nembak duluan,” sahut Cilla sambil terkikik.
“Akhirnya…. Senang banget gue,” Amanda langsung memeluk Cilla dari samping membuat gadis itu sedikit kewalahan karena badannya yang sudah terikat seatbelt tertahan.
“Urusannya masih panjang, Man,” bisik Cilla di tengah pelukan Amanda. “Masih ada masalah orangtua. Bokap elo kan belum setuju kalau gue ngomong jujur sama kakak elo.”
“Eh iya juga ya…” Amanda melepaskan pelukannya.
“Kalian mau lanjut ngobrol atau bagaimana ?’ tanya Arjuna dengan nada kesal. “Kalau mau ngobrol berdua, aku balik ke tempat kost aja.”
“Eh jangan dong, Kak,” Amanda buru-buru keluar dari mobil dan memberi jalan pada kakaknya. “Masa gara-gara aku, kencan kalian jadi batal.”
“Ikut aja yuk, Manda,” Cilla membungkukkan badannya supaya bisa melihat Amanda yang berdiri di samping Arjuna.
Arjuna menatap adiknya dengan wajah yang sudah dipastikan oleh Amanda memyuruhnya berkata TIDAK.
“Nggak bisa hari ini. Cil. Karena susah hubungin elo, akhirnya gue janjian sama sohib gue. . Besok-besok aja deh, gue tunggu undangan pajak jadiannya,” Amanda membungkuk dan mengedipkan sebelah matanya.
“Terus elo pulang naik apa ?”
“Dijemput sohib gue, Cil. Udah sana pergi pacaran nanti kemalaman,” Amanda memberi isyarat pada kakaknya untuk masuk ke mobil.
“Eh, mana bisa…. Kita anterin Manda dulu aja, Mas Juna,” ujar Cilla sambil menatap Arjuna.
“What ?” Amanda memekik kembai namun dengan suara yang sengaja ditahan. “Mas Juna ? Haiiss co cweet. Sejak kapan elo panggil kakak gue kayak begitu ?” tanya Amanda sambil tertawa.
“Sejak cintaku terperangkap dalam bujursangkar,” sahut Cilla sambil terkekeh. “Dua sisi hati yang sama-sama merindu ternyata menghasilkan cinta seluas samudera.”
“Asem !” ujar Amanda sambil tergelak. “Geli banget gue dengar omomgan elo. Itu mah rumus luas bujursangkar, dodol.”
“Bawel !” gerutu Arjuna sambil membuka pintu belakang. “Udah cepetan masuk, ngobrolnya di dalam mobil aja. Kelamaan nunggu omogan kalian dikasih titik. Daritadi koma terus, nggak ada ujung kalimatnya.”
Amanda menutup kembali pintu mobil belakang dan menggeleng.
“Masih belum malam, Kak. Aku masih mau pergi ke tempat lain. Tadi setelah nggak bisa-bisa telepon Cilla, aku udah hubungin Maya sama Ellin untuk menjemputku di sini.”
“Yakin ?” Arjuna mengernyit. Tidak tega juga meninggalkan adiknya seorang diri.
Amanda menangguk dan merogoh handphonenya yang berbunyi dari dalam saku celana jeansnya. Ia memperlihatkan layar handphonenya pada Arjuna dan ada nama Maya, sahabat Amanda yang sering datang ke rumah.
Amanda pun bergeser sambil menerima panggilan telepon Maya dan melongok ke dalam mobil.
“Manda akan dijemput sama temannya. Kita tunggu sampai dia dijemput, ya ?” tanya Arjuna.
“Iya, biar aman juga,” Cilla mengangguk dan melepas seatbeltnya. Ia keluar dari mobil dan memutar menghampiri Arjuna yang sedang menunggu Amanda berbicara di telepon.
“Ke rumah Cilla mau ? Bik Mina tadi kasih kabar kalau hari sudah masak makanan kesukaan Cilla.”
“Papi kamu ada di rumah ?”
“Nggak ada. Kemungkinan baru besok datangnya. Biasanya memang hanya akhir pekan papi ada di rumah. Memangnya kenapa ? Takut ketemu sama papi karena pacarin anaknya ?” goda Cilla sambil mendekatkan wajahnya ke Arjuna lalu mengerjap-ngerjap.
“Bukan takut, tapi nggak enak. Masa datang ngapel lagi nggak ada orang,” sahut Arjuna dengan wajah datar.
Otaknya memang sedang berpikir kalau sampai bertemu dengan Pak Darmawan. Masalahnya papi Cilla itu bukan sekedar ayah dari kekasihnya, tapi juga pemilik sekolah tempatnya bekerja. Setahu Arjuna ada aturan kalau guru tidak boleh pacaran dengan muridnya.
“Memangnya masih punya rasa nggak enak ? Kan udah pernah kabur ninggalin anak orang pas mau dikenalin. Waktu itu nggak ingat sama rasa nggak enak,” ledek Cilla sambil tertawa.
“Waktu itu beda kasusnya,” sahut Arjuna datar.
Tidak lama Amanda kembali mendekati mereka dan pamit karena Maya sudah menjemput.
“Jangan mau dibawa pacaran ke kaki lima melulu sama kakak gue,” ujar Amanda dengan gaya orang berbisik tapi Arjuna masih bisa mendengarnya.
“Uang tabungannya banyak. Dulu aja sanggup beliin Kak Luna tas yang harganya puluhan juta,” cebik Amanda melirik Arjuna.
“Udah anak kecil nggak usah jadi kompor,” gerutu Arjuna sambil memegang bahu Amanda dan membawanya menjauhi Cilla yang tergelak mendengar celoteh adik Arjuna itu.
“Iiisshh ngatain aku anak kecil,” Amanda melotot. “Nggak sadar tuh pacar kakak juga anak kecil. Beda tingkat doang , tapi umur kita kan sama,” gerutu Amanda saat posisi mereka makin menjauh dari Cilla.
“Yang itu anak kecilnya spesial,” sahut Arjuna sambil tersenyum.
“Terus anak kecil yang mau dijodohkan sama kakak ?” Amanda berhenti dan memposisikan badannya berhadapan dengan Arjuna.
“Kasihan karena pernah ditinggalin begitu aja tanpa ucapan apapun dari Kakak,”’ujar Amanda.
Arjuna menghela nafas lalu mengacak rambut adiknya.
“Pasti akan kakak temui dan jelaskan masalahnya supaya dia tidak salah paham,” ujar Arjuna sambil tersenyum.
“Terus soal perjodohan ?” Mata Amanda menyipit menatap kakaknya.
“Sepertinya kakak akan memilih anak bebek bawel itu,” sahutnya sambil tertawa pelan.
“Haiiss anak gadis orang dikatain anak bebek. Tapi kalau memang kakak sudah mantap dengan Cilla, aku akan jadi pendukung nomor satu,” ujar Amanda sambil tertawa.
“Iya… iya… kamu sama bawelnya kayak Cilla. Udah sana pergi,” Arjuna mendorong kedua bahu adiknya.
”Ingat jangan nakal, jangan sembarangan sama cowok, jangan terima makanan atau minuman….”
“Iya… iya Pak Guru,” potong Amanda. “Gimana muridnya nggak mau bawel. Lah gurunya aja bawel ngomel terus.”
Arjuna hanya tertawa dan merangkul Amanda, mengantarnya sampai ke mobil Maya.
“Sore Kak Juna,” sapa Maya dan Ellin, dua sahabat adiknya yang memang sudah lama berteman dengan Amanda. Keduanya duduk di kursi penumpang belakang karena ada sopir keluarga Maya yang menemani mereka.
“Sore,” jawab Arjuna datar.
Arjuna sengaja tidak mau sering-sering tersenyum pada teman-teman adiknya yang suka datang ke rumah, terutama pada kedua gadis ini. Bukan sok jaim, tapi Arjuna tahu bahwa keduanya berlomba mendapatkan perhatiannya.
Kalau saja Arjuna model pria yang mudah jatuh cinta dan tebar pesona, bukan tidak mungkin keduanya akan semakin agresif mendekatinya. Saat masih berpacaran dengan Luna dulu, kedua sahabat Amanda tetap mencoba mendekatinya. Prinsip mereka selama janur kuning belum melengkung, tidak ada salahnya mencoba untuk menikung.
Arjuna melambaikan tangan pada Amanda setelah adiknya di dalam mobil dan melambaikan tangan pada Arjuna. Ia pun langsung berbalik untuk menemui Cilla yang menunggunya di parkiran.
“Kakak elo makin ganteng aja, Da,” ujar Maya yang lebih agresif mendekati Arjuna sejak mereka masih SMP.
“Iya lah, kakak siapa gitu loh ! Lagian kalau cowok iti makin dewasa akan makin ganteng,” sahut Amanda dengan nada bangga.
“Tapi kali ini elo berdua jangan coba-coba menggoda Kak Juna. Gue nggak akan membiarkan kalian coba-coba menikung calon kakak ipar gue,” ujar Amanda dengan mata melotot menatap satu per satu sahabatnya.
“Memangnya Kak Luna udah nyogok elo apaan ? Sepatu terbaru? Tas h**mes ?” ledek Maya sambil mencibir.
Sahabatnya ini memang tidak pernah malu-malu menyatakan perasaannya tentang Arjuna, apalagi Maya merasa dari sisi ekonomi, keluarganya setara dengan keluarga Amanda.
“Bukan Kak Luna. Kak Juna sudah punya pacar baru dan sepenuhnya mendapat dukungan dari gue,” Amanda tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.
“Kenapa ? Lebih cakep dari Kak Luna ? Lebih tajir ?” ledek Ellin.
“Nggak lebih cakep dari Kak Luna, kalau tajir jangan dibilang. Tapi yang pasti sesuai selera gue dan nyokap. Masih anak SMA pula. Orangnya asyik banget dan keren,” Amanda mengangkat jempolnya.
“What ? Anak SMA ? Gimana bisa kakak elo yang kaku kayak kanebo itu bisa jatuh cinta sama anak SMA ? Seumur kita ?” Tanya Ellin dengan wajah tidak percaya.
Amanda mengangguk sambil tersenyum bangga. Ia memang senang kalau Cilla adalah benar-benar jodoh kakaknya.
“Jangan bilang kalo pacarnya itu pakai susuk atau pelet,” ujar Ellin sambil mencibir.
“Nggak keren banget sih pikiran elo,” Amanda menoyor kening sahabatnya itu. “Bukan pakai pelet atau susuk, tapi pakai rumus matematika,” sahut Amanda sambil terkikik.
Maya dan Ellin saling menatap dengan wajah bingung. Sepertinya pupus sudah niat mereka untuk menikung.
Sikap Amanda terlihat jauh berbeda dengan saat Arjuna masih pacaran dengan Luna.
Waktu itu, mereka lebih sering mendengar Amanda berkeluh kesah dan mengomel dengan pacar kakaknya itu.
Tapi kali ini, wajah Amanda terlihat berbinar saat bercerita tentang pacar baru kakaknya dan berubah menjadi galak setiap kali mendengar kata menikung.