
Sepuluh hari berlalu sejak pesta perrnikahan Arjuna dan Cilla digelar. Tidak ada pembahasan lebih jauh soal malam pertama karena Arjuna sendiri bertambah kesibukannya.
Papi harus menjalani pengobatan dua kali dalam seminggu hingga pekerjaan di Darmawan Grup sebagian mulai dialihkan pada Arjuna.
“Suami lo datang hari ini, Cil ?” tanya Lili sambil berjalan menuju aula besar.
Hari ini semua siswa kelas XII beserta orangtua diundang hadir untuk acara pengumuman kelulusan.
“Mustinya sih begitu. Kemarin infonya diundang sama Pak Slamet sebagai mantan guru kelas 12.”
“Halo para selirku tersayang,” Jovan muncul langsung merangkul bahu Cilla dan Lili yang berjalan bersebelahan.
“Tangan… tangan dikondisikan !” omel Cilla sambil melirik tangan Jovan sementara Lili berusaha melepaskan tangan Jovan dari bahunya.
”Sekali-sekali dong, sayang. Kapan lagi jadi selirnya King Jovan,” Jovan tetap merangkul bahu Cilla dan Lili yang terus melangkah.
“Mau coba merebut istri orang ?” suara berat di belakang Jovan membuat cowok itu langsung melepaskan tangannya.
Lili, Febi dan Cilla langsung tergelak melihat Jovan salah tingkah mendengar sapaan dari belakang mereka. Tanpa menoleh, keempat siswa itu sudah hafal dengan suara khasnya.
“Maaf Kak, eh maksud saya Pak Juna,” Jovan berbalik sambil nyengir kuda.
“Sejak kapan saya jadi kakak kamu ?” Arjuna bertolak pinggang dengan mata melotot menatap Jovan.
“Sejak dapat restu pacaran sama adiknya Pak Juna. Kalau saya panggil Pak Juna dengan bapak, bisa-bisa orang sekampung mengira kalau Amanda anaknya Pak Juna,” Jovan kembali tertawa kikuk.
“Saya nggak pernah merasa kasih restu,” ketus Arjuna.
“Tapi orangtua dan istri Bapak udah merestui,” Jovan melirik Cilla.
“Eh kok jadi bawa-bawa gue,” Cilla mendekat sambil bertolak pinggang.
“Duh ini suami istri kompak banget gayanya,” gumam Jovan yang masih bisa didengar keempatnya. Lili sudah cekikikan sementara Febi hanya senyum-senyum.
“Harap diingat kalau kamu belum dapat restu dari saya untuk pacaran sama Amanda,” tegas Arjuna melewati Jovan dan langsung menggandeng Cilla.
Jovan tertawa pelan sambil mengusap tengkuknya, menatap Cilla dan Arjuna yang jalan duluan menuju aula besar.
Febi dan Lili yang masih di situ langsung terbahak.
“King Jovan ternyata kalah sama kakang Arjuna, produk asli lokal,” ledek Lili di tengah tawanya.
Jovan mendengus kesal dan lanjut berhjalan menuju aula diikuti oleh Lili dan Febi yang masih sesekali meledeknya.
Cilla buru-buru melepaskan tangannya dari genggaman Arjuna begitu mendekati pintu aula.
“Kenapa ?” Arjuna mengerutkan dahinya.
“Acara formal sekolah, nanti dibilangnya mau pamer mentang-mentang anak pemilik sekolah. Lagipula hari ini Mas Juna datang kan sebagai mantan guru kelas 12, bukan walinya Cilla.”
Arjuna mengangguk-angguk sambil tertawa.
“Mas Juna duduk bareng guru-guru, ya.”
Cilla mengangguk dan melambaikan tangan lalu menuju deretan kursi teman-teman sekelasnya.
“Bokap nggak datang, Cil ?” tanya Nino saat Cilla berdiri di dekatnya.
“Biasa, kan pengumuman kelulusan, pasti di depan gabung sama Pak Slamet dan guru-guru.”
“Suami elo ?”
“Tuh,” Cilla menunjuk dengan dagunya ke arah barisan bangku guru-guru. Terlihat Arjuna sedang menyalami beberapa guru yang sudah hadir di sana sebelum akhirnya duduk di sebelah Dono.
“Suami jauh, perlu ditemenin nggak ?” ledek Aron sambil tertawa.
“Kan elo udah temenin nih,” sahut Cilla sambil terkekeh dan menganggukan kepala pada orangtua Nino dan Aron yang sudah duduk di sebelah anak-anak mereka.
Cilla mengambil tempat duduk di barisan yang masih banyak kosong dan menyiapkannya untuk Febi dan Lili yang biasanya ditemani mama-mama mereka.
Sekitar sepuluh menit kemudian, kedua sahabat Cilla itu datang dengan masing-masing mama, sementara Jovan yang juga didampingi maminya harus duduk bersama dengan teman-teman sekelasnya.
Acara dimulai dengan sambutan-sambutan, dimulai dari kepala sekolah, wakil guru dan Jovan ikut tampil sebagai wakil murid. Papi Rudi selaku Ketua Yayasan yang seharusnya di awal sengaja ditempatkan di urutan terakhir.
“Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya selaku ketua yayasan Guna Bangsa ingin pamit pada semua orangtua dan murid-murid yang telah mempercayakan sekolah ini untuk menjadi tempat menimba ilmu di penghujung masa-masa remaja kalian. Tongkat estafet selanjutnya akan saya serahkan pada putri saya Priscilla Darmawan, namun karena saat ini usianya belum memenuhi persyaratan, saya percayakan tugas ini pada menantu saya, Pak Arjuna Hartono. Saya yakin kalau anak-anak kelas 12 sudah mengenal siapa Pak Arjuna. Beliau tidak akan lagi menjadi guru, namun bertanggungjawab atas kelangsungan sekolah Guna Bangsa ini secara keseluruhan. Saya mohon kerjasama dari semua pihak untuk mendukung Pak Arjuna dalam menjalankan tugasnya mengembangankan dan memajukan sekolah ini untuk kita bersama.”
Arjuna pun diminta naik ke atas panggung dan secara simbolis menerima lambang sekolah Guna Bangsa dalam bentuk plakat.
“Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan pada saya sebelum Priscilla menempati posisi ini. Mohon pendampingan dari kepala sekolah, bapak ibu guru dan staf baik di SMP maupun SMA, para pengurus yayasan dan semua pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Dan semoga Tuhan selalu membimbing saya untuk mempertahankan nama baik dan reputasi sekolah ini,” ujar Arjuna dalam sambutan singkatnya.
Tepukan riuh para murid langsung terdengar begitu Arjuna menutup sambutannya.
“Yaah Pak, kenapa ngurus sekolahnya setelah kita lulus . Kalau nggak kan lumayan ada pemandangan yang segar-segar,” celetuk salah satu siswi
”Wooiii sadar suami orang,” seru seorang siswa lainnya menanggapi.
“Kan buat dipandang doang bukan dimiliki. Boleh kan Cilla ?” sahut siswi tadi.
“Asal jangan kelamaan memandangnya, nanti elo jatuh hati gue yang repot apalagi kalau sampai Pak Juna-nya meleleh,” sahut Cilla dengan suara cukup keras.
“Cie cie yang posesif,” celetuk Nico dari barisan kelasnya.
Tawa dan ledekan langsung menyambut percakapan para siswa yang bersahutan.
“Pemandangan yang segar masih banyak kok,” ujar Arjuna di atas panggung. “Banyak bapak ibu guru muda yang boleh langsung ditanya. Kalau saya sudah ada pemiliknya dan tidak bisa dipindahtangankan,” sahut Arjuna sambil tertawa menatap ke arah Cilla.
“Cie cie Pak Juna, romantisnya bikin ciwi-ciwi melehoy,” celetuk satu siswa dari kelas IPA.
“Nyanyi lagi dong, Pak,” celetuk Mira.
“Jangan Pak Juna,” Cilla langsung berdiri. “Nggak rela saya Bapak jadi perhatian ciwi-ciwi.”
“Huuuuu…”
“Maaf tidak bisa memenuhi permintaan kalian, nggak dapat ijin dari istri,” sahut Arjuna masih dengan tawa khasnya. “Terima kasih semuanya dan semoga hasil yang kalian capai hari ini adalah yang terbaik dari jerih payah kalian selama tiga tahun belajar di SMA Guna Bangsa.”
Arjuna pun turun dari panggung sedangkan papi Rudi sudah terlebih dulu duduk di sebelah Pak Slamet.
“Susah punya menantu ganteng, Pak Darmawan,” bisik Pak Slamet sambil terkekeh.
“Iya makanya Cilla nggak nolak disuruh cepat-cepat diikat, saingan banyak,” sahut papi Rudi ikut tertawa pelan.
Tidak lama Pak Slamet kembali naik ke atas panggung didampingi oleh Pak Ikbal untuk membacakan secara resmi pengumuman hasil belajar kelas 12.
“Dengan ini saya menyatakan siswa SMA Guna Bangsa lulus seratus persen,” ujar Pak Slamet di akhir pembacaan surat keputusannya.
Seluruh siswa siswi langsung berdiri dan bertepuk tangan. Ada rasa lega bisa menyelesaikan pendidikan di SMA ini sekaligus rasa sedih karena harus berpisah dengan para sahabat.
Selesai pengumuman keseluruhan, Pak Ikbal mulai membacakan murid-murid berprestasi termasuk nilai ujian tertinggi.
”Eh mak, nama elo tuh disebut. Maju sana !” ujar Lili dengan binar bahagia.
“Yakin Pak Ikbal nyebut nama gue ?” tanya Cilla dengan wajah tidak percaya.
”Jangan sok merendah deh,” ledek Aron dan Nico yang berbalik badan menghadap Cilla yang duduk di belakang mereka.
“Cilla,” panggil Pak Ikbal dari panggung.
”Perlu gue tampol biar elo yakin kalau bukan mimpi ?” ujar Febi dengan tangan sudah tersngkat.
“Atau perlu kecupan hangat dari abang biar yakin kalau ini kenyataan ?” ledek Nico sambil mengedipkan matanya.
”Nggak perlu,” sahut Cilla sambil berdiri. “Ciuman laki gue udah bikin gue klepek-klepek,” Cilla terkekeh.
“Dasar somplak,” cebik Aron. “Sana nyusul Nino tuh, kasihan sendirian.”
Cilla menjulurkan lidahnya pada Aron sebelum berjalan ke depan.
Cilla naik ke atas panggung dan menerima piagam serta plakat dari Pak Slamet.
“Keren deh !” Pak Slamet mengacungkan jempolnya.
“Ini murni beneran hasil kerja saya kan, Pak ? Bukan demi menyenangkan papi ?” bisik Cilla pelan di dekat Pak Slamet
Kepala sekolah SMA Guna Bangsa itu tersenyum dan mengangguk.
”Mau lihat hitungannya ?” ledek Pak Slamet.
“Nggak perlu Pak, cuma saya nggak yakin sama diri sendiri aja,” sahut Cilla sambil cekikikan.
Cilla mengangkat plakat dan piagam di tangannya dan menunjukannya pada papi Rudi.
”Saya boleh minta waktu bicara sebentar, Pak ?” tanya Cilla sambil menatap ke arah Pak Slamet.
“Boleh.”
“Selamat pagi Om, Tante, bapak ibu guru dan seluruh staf Guna Bangsa yang saya hormati, maaf kalau saya minta waktu sebentar Jujur rasanya saya tidak percaya dengan semua ini,” Cilla menatap piagam dan plakat di tangannya.
”Saya sudah pastikan sama Pak Slamet kalau ini semua murni hasil belajar saya sebelum menerima ini, jadi bukan hasil KKN.”
Tawa dari yang hadir menanggapi ucapan Cilla
“Dan secara khusus, saya mau mengucapkan terima kasih atas dukungan om, tante, bapak ibu guru dan teman-teman terutama kelas XII IPS-1 yang mendukung pernikahan saya dengan Pak Arjuna, hingga saya bisa berdiri di sini sebagai lulusan SMA Guna Bangsa bersama teman-teman semua.” Cilla menjeda sejenak berusaha menahan rasa haru yang mulai menjalar dari hati kecilnya.
“Dan untuk Tante Neno,” Cilla menatap ke arah mama Aron. “Terima kasih karena menjadi pencetus pertama yang mendukung saya dan Pak Arjuna. Meskipun anak Tante suka membully saya karena ukuran badan saya yang kecil dan usia saya paling muda, tapi Aron adalah teman terbaik saya yang rajin juga absen ke Bu Retno. Bakalan kangen adu mulut sama anak Tante yang nyebelin tapi baik hati dan setia kawan,” Cilla tertawa saat Aron mengangkat tangannya yang terkepal. Di sebelahnya Tante Neno melotot pada Aron namun tertawa.
“Dan untuk semua yang sudah memberi dukungan, sekali lagi terima kasih,” Cilla menjauh sedikit dari mic dan membungkukan badannya yang disambut tepukan tangan teman-temannya.
“Semuanya ini saya persembahkan khusus buat papi tersayang yang telah membesarkan saya sebagI papi sekaligus mami sejak saya berusia lima tahun. Ternyata papi nggak salah pilih menantu guru galak di sekolah ini, yang mewajibkan saya belajar dan belajar menjelang ujian,” ujar Cilla sambil tertawa dan melirik Arjuna yang sudah melotot.
“Dipaksa-paksa sayang dong, Cil” pekik Aron dari tempat duduknya yang langsung disambut dengan tawa riuh murid lainnya.
“No comment,” sahut Cilla dengan gaya lebaynya. “Rahasia perusahaan nggak boleh jadi konsumsi umum.”
Arjuna hanya senyum-senyum di tempat duduknya.
”Dan yang terakhir untuk teman-teman semua. Jangan pernah ragu untuk kembali kemari entah untuk sekedar bernostalgia atau malah menyekolahkan anak-anak kalian di sini, karena saya dan Pak Arjuna akan melakukan yang terbaik supaya sekolah Guna Bangsa tetap menjadi tempat yang nyaman dan terpercaya untuk melewati masa-masa indah seperti yang sekarang kita rasakan. Jangan pernah lupa semua yang sudah kita ukir bersama di sekolah ini, entah kenangan indah atau buruk, tentang kenakalan kita, persaingan dan pelajaran untuk tumbuh menjadi manusia dewasa. Jangan pernah lupa juga akan para guru dan semua yang orang yang ikut mengantar kita melewati masa-masa indah itu.”
Sesuai dengan yang sudah dipersiapkan Cilla, masing-masing siswa sudah memegang setangkai bunga mawar. Nino, Aron, Mira, Reina, mendekati panggung dan mulai bernyanyi diriingi alunan gitar Nino dan keyboard oleh Raka dari kelas XII IPA-1, lagu Ingatlah Hari Ini
Kawan dengarlah yang akan aku katakan
Tentang dirimu setelah selama ini
Ternyata kepalamu akan selalu botak
Eh kamu kayak gorila
Cobalah kamu ngaca itu bibir balapan
Daripada gigi lo kayak kelinci
Yang ini udah gendut suka marah-marah
Kau cacing kepanasan
Tapi ku tak peduli
Kau selalu di hati
Kamu sangat berarti, istimewa di hati
Selamanya rasa ini
Jika tua nanti kita telah hidup masing-masing
Ingatlah hari ini
Ketika kesepian menyerang diriku
Nggak enak badan, resah nggak menentu
Kutahu satu cara sembuhkan diriku
Ingat teman-temanku
Don’t you worry, just be happy
Temanmu di sini
Kamu sangat berarti, istimewa di hati
Selamanya rasa ini
Jika tua nanti kita telah hidup masing-masing
Ingatlah hari ini
Lili, Febi dan Jovan bertugas mengatur barisan siswa yang mulai menyerahkan setangkai bunga dari masing-maisng siswa untuk para guru.
Selesai memberikan bunga, semua siswa kembali ke bangkunya dan ikut menyanyi bersama.
“Istrimu selalu penuh kejutan, Jun,” ujar Dono dengan wajah terharu menatap ke arah Cilla.
“Itu sebabnya gue mudah jatuh cinta sama Cilla,” sahut Arjuna sambil memandang istrinya yang sedang menyanyi dan tersenyum menatapnya.