
Ketukan pintu kamar membuat Arjuna menghentikan sejenak bujukannya pada Cilla.
Begitu pintu terbuka, Arjuna melihat Sean sedang menangis sesunggukan dengan wajah yang basah oleh keringat dan air mata.
“Maaf mengganggu, Den,” ujar Bik Mina sambil menggendong Sean.
Arjuna langsung mengambil Sean dan memeluk sambil mengusap-usap punggung Sean.
“Tadi setelah mandi, Sean sempat tertidur lalu tiba-tiba bangun dan menangis seperti ini.”
“Tidak apa-apa, Bik. Saya akan mengurusnya,” Arjuna tersenyum sebelum menutup pintu.
Tangisan Sean berhenti sebentar lalu wajahnya berkeliling mencari sosok maminya.
Sean mengernyit mencoba menangkap suara isakan tangis Cilla dari balik pintu kamar mandi.
Bayi yang belum bisa bicara itu menggerakan kakinya seolah minta Arjuna membawanya menghampiri maminya.
“Cilla,” panggil Arjuna di balik pintu kamar mandi.
Belum sempat Arjuna berbicara panjang lebar, Sean kembali menangis membuat Cilla akhirnya membuka pintu kamar mandi dan melihat wajah putranya yang juga sembap seperti dirinya.
Tangan Sean langsung terulur minta digendong oleh Cilla. Arjuna terharu melihatnya. Bahkan putranya yang belum bisa bicara bisa merasakan keresahan hati Cilla meski dari jauh, sementara Arjuna, sebagai suami yang sudah menyatukan dirinya dengan Cilla malah tidak peka dan berusaha memahami bagaimana perasaan Cilla.
Wanita kesayangannya itu membawa Sean ke tempat tidur dan mengambil tisu untuk menghapus air mata putranya.
Dengan penuh kasih sayang, Cilla mengajak Sean berbicara sambil tersenyum. Mata bayi itu hanya mengerjap dan tangannya menyentuh wajah Cilla.
“Mami nggak apa-apa, capek aja tapi bukan karena Sean.”
Cilla menciumi Sean sampai bayi itu terkekeh kegelian membuat Arjuna tersenyum. Tidak lama bayi gemoi itu menyentuh sumber kehidupannya membuat Cilla tertawa.
“Mau bobo, ya ?” ledek Cilla.
Tidak lama Sean tertidur setelah kenyang menyusu. Arjuna pun membantu Cilla supaya istrinya bisa merapikan diri.
Sean ditidurkan di ranjang mereka dan Arjuna bergegas menghampiri Cilla yang sudah beranjak bangun.
Dipeluknya Cilla dengan erat dan kali ini dia tidak memberontak atau membalas pelukan Arjuna.
“Maafkan Mas Juna. Cilla benar, Mas Juna mudah emosi hanya karena menerima kiriman foto dari orang yang tidak dikenal.”
“Siapa ?” tanya Cilla dengan suara pelan.
“Mas Juna nggak tahu. Dan Mas Juna nggak pernah menempatkan orang untuk mengawasi Cilla. Mas Juna percaya sama Cilla tapi belum bisa mengendalikan rasa cemburu.”
Cilla diam saja, tidak menyahut dan tidak bertanya lebih lanjut soal foto-foto yang disebut Arjuna.
*****
Sudah 3 hari ini Arjuna tidak tenang bekerja, masalahnya Cilla masih irit bicara dengan Arjuna.
Tugas dan tanggungjawabnya sebagai istri masih berjalan seperti biasa kecuali kegiatan malam berdua yang terhenti
Yang menjadi ganjalan, 2 hari ini Cilla berangkat sendiri ke kampus saat Arjuna sedang di kamar mandi.
Dalam 2 hari ini pula Arjuna kembali mendapat kiriman foto aktivitas Cilla yang sedang duduk di cafe berhadapan dengan Glen !
“Dapat kiriman lagi ?” tebak Tino saat Arjuna baru saja tiba di depan ruangan Tino dan Ami, sekretaris baru Arjuna.
Arjuna mengangguk lesu sambil membuka pintu ruangannya. Tino pun beranjak dari kursi sambil membawa satu map untuk diberikan pada Arjuna.
“Cilla masih aksi mogok ?”
“Masih dan 2 hari ini pergi ke kampus tanpa pamit sama gue dan setiap pagi pas gue sampai di kantor, kiriman foto Cilla dan Glen lagi di cafe masuk ke nomor gue.”
“Dari nomor yang sama atau beda-beda ? Kalau sama yang bulan lalu udah pasti beda.”
Arjuna mengeluarkan handphone dari saku celana panjangnya dan memeriksa pesan yang masuk.
”Beda.”
Arjuna melempar handphone nya ke atas meja supaya Tino melihat kiriman foto yang diterima Arjuna.
“Masih berpikir kalau Cilla sengaja melakukan semua ini di belakang elo ?”
Arjuna menghempaskan bokongnya di sofa dan menyandarkan punggungnya.
“Jujur hati gue panas melihat foto itu, elo tahu gimana Arjuna. Tapi gue sempat perbesar foto yang kemarin, kayaknya muka Cilla nggak bahagia.”
“Kalau beneran selingkuh, udah pasti wajah Cilla terlihat berbunga-bunga saat menatap Glen, tapi di foto itu…”
“Maksud elo ini ?”
Tino tertawa pelan sambil mengangkat handphone Arjuna, memperlihatkan foto wajah Cilla yang sudah diperbesar.
Arjuna mengangguk dengan wajah seperti kurang rela melihat istrinya duduk berdua dengan pria yang mengejarnya.
“Wajah Cilla kelihatan jelek dan jutek begini.”
“Berani bilang istri gue jelek ?” Arjuna melotot.
“Wooii Papinya Sean, ingat umur,” Tino tergelak. “Posesif dan cemburunya Arjuna Hartono masih pedes kayak cabe level 30.”
“Memangnya elo rela kalau pacar elo ditempel tiap hari sama cowok yang terang-terangan ngejar dia ?”
Arjuna mencebik sambil melengos.
“Yang kasih istri kesempatan untuk ketemu cowok yang ngejar dia siapa ? Suaminya sendiri kan ?”
“Jadi gue harus gimana ?”
“Pasti ada alasan kenapa Cilla aksi mogok bicara sampai hari ini. Kalau masalah cemburu suami, udah pasti dia hafal betul gimana posesif dan pencemburu mantan gurunya.”
“Cilla sempat ngomong sih kalau dia sempat merasa nano-nano juga pas tahu Glen jadi dosen di fakultasnya. Cuma gue udah keburu esmosi jiwa.”
Tino tergelak dan mengambil map yang dibawanya. Hampir saja lupa melaporkan data yang ditemukannya berkaitan dengan urusan Cilla.
“Ini, siapa tahu bisa menimbulkan ide di otak elo yang lagi keriting gara-gara nggak bisa nahan cemburu ?”
“Memangnya ada otak manusia yang lempeng kayak pipa air ?” gerutu Arjuna.
“Otak yang habis masuk salon, Jun, habis di smoothing,” ledek Tino sambil tergelak.
Arjuna mencebik dan membuka map yang diberikan Tino.
“Ada 2 nama yang udah gue tandain dan gue yakin kalau elo mengenal baik keduanya selain Sebastian sebagai pemilik kampus.
Masalah gimana mereka bisa ada di situ, elo bisa tanya langsung sama Sebastian. Nanti sore kan kita meeting sama Si Boss, Theo dan Luki di Hotel Pratama.”
“Elo yakin dia dosen di sana juga ?” Jari Arjuna mengetuk-ngetuk di atas kertas yang menuliskan satu nama yang tidak asing untuk Arjuna.
“Ya elah Jun, data ini kan gue dapetin dari orangnya Bastian juga. Dan satu tambahan, tuh nama bukan sembarang dosen. Bokapnya termasuk salah satu pemilik saham kampus, berapa persentasenya gue kagak tahu. Data rahasia.”
“Tolong bawa data ini pas meeting nanti sore.”
“Nggak bisa Jun, ini data rahasia. Gue udah diwanti-wanti sama Dion supaya hanya elo dan gue yang tahu.”
Arjuna tampak menghela nafas sambil memijat pelipisnya.
”Elo tetap bisa nanya sama Bastian selagi nggak ada Theo dan Luki. Mau gue atur ketemu Bastian 30 menit lebih awal sebelum keduanya datang ?”
“Boleh, kalau bisa begitu aja.”
Tino langsung mengirimkan pesan pada Dion untuk merubah pertemuan 30 menit lebih awal.
“Ada rapat apa pagi ini ?”
“Mau ketemuin Cilla ?” Arjuna mengangguk.
“Udah gue tebak,” ujar Tino sambil terkekeh. “Sana beresin urusan sama istri dulu biar balik kantor udah nggak lecek tuh muka. Usaha yang gigih, jangan mendahulukan emosi.”
“Gue jalan, Bro.”
Arjuna bergegas bangun dan mengambil handphonenya. Sambil berjalan menuju lift, Arjuna langsung menghubungi nomor Cilla sampai beberapa kali karena panggilannya selalu berakhir di kotak suara.
CILLA : Lagi kuliah Mas Juna.
Arjuna tersenyum lebar saat mendapat kiriman pesan dari istrinya. Minimal Cilla tidak mengabaikannya seperti 2 hari kemarin.
ARJUNA : Bisa ketemu sebentar pas jam kuliah selesai ?
CILLA : Jam 10
ARJUNA : Mas Juna tunggu di parkiran mobil.
Arjuna melirik jam tangannya. Baru mendekati pukul 9, berarti masih ada waktu membelikan sesuatu untuk istri tercintanya