
Arjuna tidak main-main dengan ucapannya karena hingga hari ke-4, semua janji makan siangnya dibatalkan demi menemani Cilla yang menuntaskan persyaratan Glen untuk perbaikan nilainya.
Sikap Arjuna itu akhirnya membuat Glen menyerah dan menganggap Cilla sudah menyelesaikan tugas pengganti nilai.
“Terima kasih, suami tersayang,” Cilla menggandeng lengan Arjuna sambil menyusuri lorong kampus.
“Urusannya masih belum tuntas,” ujar Arjuna yang 2 hari ini datang sendiri tanpa ditemani Tino.
“Maksudnya ?” Cilla menautkan alisnya.
“Aku akan mengajakmu menemui seseorang.”
Arjuna melepaskan tangan Cilla di lengannya dan menggandeng istrinya naik ke lantai 2.
“Kamu sembunyi dulu,” pinta Arjuna saat mereka sudah berada di dalam ruangan yang belum pernah didatangi Cilla.
“Kenapa ?”
“Kejutan, Sayang. Kita akan kasih kejutan untuk seseorang,” ujar Arjuna sambil mengusap pipi Cilla.
Cilla memutar bola matanya dan menuruti permintaan Arjuna. Ia bersembunyi di samping lemari arsip yang ada di pojok ruangan.
Sekitar sepuluh menit pintu ruangan diketuk. Arjuna yang sengaja duduk di sofa menyuruh masuk. Dari posisinya Cilla bisa melihat jelas ke arah sofa.
“Sudah nggak sibuk ?” tanya Arjuna berbasa basi dengan wanita yang baru saja masuk.
“Nggak, lagipula pas jam makan siang. Aku bawakan makanan kesukaan kamu jadi bisa lebih santai ngobrolnya.”
Arjuna hanya mengangguk-angguk dan membiarkan wanita itu mengeluarkan makanan dari kantong kertas yang dibawanya.
“Tumben ngajak ketemu, Jun. Mau membahas istri bocahmu yang lagi dihukum sama Glen ?” ujar wanita itu tertawa pelan.
“Elo tahu juga ? Bukannya elo nggak ngajar di jurusan istri gue ?”
“Tentu aja tahu, Jun, Glen juga cerita gimana istri mu itu suka manja-manja sama dia demi mendapatkan nilai bagus. Hati-hati Jun, aku dengar istri kamu itu sering memanfaatkan cowok-cowok yang menganggapnya masih bocah.”
Cilla menggerutu dan beberapa kali memutar bola matanya, sebal mendengar ucapan Susan.
“Nggak gue sangka kalau elo lumayan akrab sama Glen. Seingat gue, Glen nggak pernah elo anggap pas kita sekolah.”
“Kamu cemburu, Jun ?” wajah Susan tersipu membuat Cilla ingin muntah.
“Cemburu ? Apa perlu ?”
“Jun,” Susan berpindah duduk di sebelah Arjuna. “Maaf karena dulu aku mengutamakan emosi dan membatasi kehidupan pergaulanmu. Aku sadar saat kita terpisah di SMA kalau aku sudah menyia-nyiakan kesempatan untuk dekat dengan cowok sebaik kamu.
Aku pindah atas permintaan orangtuaku. Kamu tahu sendiri kan bagaimana mereka ketat membatasi hidupku dan selalu menuntut untuk menjadi siswa nomor satu di sekolah. Aku tidak berdaya apa-apa, Jun dan hanya bisa menuruti permintaan mereka.”
“Yakin karena alasan itu ? Bukannya elo menerima gue cuma demi memenangkan taruhan kan ? Masalahnya kita satu sama karena gue nembak elo juga hanya demi taruhan doang,” ujar Arjuna terkekeh.
Tangannya reflek menepis tangan Susan yang sempat menyentuh pahanya.
“Nggak ada gunanya kita membahas masa lalu, mau bagaimana pun nggak akan bisa kembali lagi. Hidup harus maju, masa lalu jadi pelajaran doang,” ujar Arjuna sambil beranjak bangun dan duduk di sofa tunggal karena gelagat Susan mulai semakin agresif.
Kalau dibiarkan bisa-bisa malam ini Arjuna disuruh tidur di teras belakang karena ada CCTV hidup yang memantaunya dari samping lemari.
“Iya dan sekarang kamu memanggil aku kemari untuk membahas masa depan denganku ?” tanya Susan sambil tertawa malu-malu.
“Gue mau berterima kasih karena sampai saat ini elo masih peduli sama gue,” ujar Arjuna sambil memberikan senyuman termanisnya.
“Akhirnya kamu sadar juga Jun,” ujar Susan dengan wajah sumringah.
“Aku sudah mendengar kalau pernikahanmu dengan bocah itu karena dijodohkan oleh orangtua dan terpaksa kamu terima hanya demi urusan bisnis juga.”
Arjuna mengangguk-angguk seolah setuju dengan pernyataan Susan.
“Gue berterima kasih atas kiriman elo selama ini.”
Arjuna mengeluarkan handphonenya dan membuka galeri foto lalu meletakkannya di atas meja.
“Apa maksudmu, Jun ?” Susan mengerutkan dahi dan memasang wajah pura-pura tidak mengerti.
“Gue tahu kok kalau semua foto ini dikirimin elo sebagai bentuk perhatian dan kepedulian. Kalau cuma omongan doang, elo tahu banget kalau gue nggak bakal percaya, beda sama foto yang bisa dijadikan bukti otentik. Thanks ya.”
”Aku nggak mau kamu sakit hati, Jun. Biar bagaimana istri kamu itu memang masih bocah, begitu ketemu dengan teman-teman sebayanya, dia pasti lupa dengan statusnya yang udah menikah dan punya anak.”
“Terus kok elo bisa dapat aja posisi istri gue lagi sama mahasiswa senior terus lanjut sama Glen ?”
Susan tersenyum dan terlihat bingung menjawab pertanyaan Arjuna.
“Mungkin karena Tuhan tahu niat baik aku sama kamu, Jun, makanya selalu aja dikasih kesempatan untuk melihat langsung kelakuan istri kamu di kampus.”
“Ooo jadi Tuhan dibawa-bawa ?” Arjuna mengangkat alisnya sebelah.
“Jun, aku sudah beberapa tahun jadi dosen sudah hafal dengan kelakuan anak muda jaman sekarang. Pas baru masuk aja, istri kamu udah dekat dengan seniornya, begitu kuliah dia naik tingkat coba mendekati Glen.”
Arjuna mengangguk-angguk dan menolak makanan yang disodorkan oleh Susan.
“Nggak Jun, apa gunanya aku stalking bocah itu. Aku bilang…”
“Bocah itu istri gue dan punya nama atau elo bisa memanggilnya Nyonya Arjuna.”
Wajah Arjuna mendadak berubah galak membuat nyali Susan sedikit ciut.
“Sayang,” Arjuna memanggil Cilla tapi malah Susan yang salah tingkah.
“Ya Jun,” sahut Susan dengan penuh percaya diri.
“Udah beres ?” suara Cilla yang muncul dari samping lemari membuat mata Susan membelalak.
“Kamu dengar sendiri kan siapa yang suka kirim pesan rahasia sama aku ?” ujar Arjuna sambil mendongak menatap Cilla yang sudah berdiri di sampingnya.
“Kamu ngapain di sini ? Sengaja memata-matai suami kamu ?” suara galak Susan membuat dahi Arjuna berkerut dan Cilla menatap dosen itu dengan wajah bingung.
“Mata-mata gimana, Bu ? Saya sudah ada di sini menemani suami saya sejak Ibu belum datang.”
“Terus kamu ngapain ngumpet di sana ?”
Emosi Susan makin tidak karuan membuat Cilla hampir terbahak.
”Nggak ngumpet kok. Mas Juna tahu kalau dari tadi saya berdiri di situ. Iya kan Mas Juna ?”
Arjuna mengangguk dan menarik tangan Cilla hingga jatuh ke atas pangkuannya.
“Sekarang kamu lega kan karena menemukan penggemar gelapmu yang selalu melaporkan kegiatanmu pada suami tersayang ini ?”
Tangan Arjuna melingkar di pinggangnya sedangkan tangan Cilla mengalung di leher Arjuna. Wajah Cilla mulai merona karena Arjuna memperlakukannya begitu mesra di depan wanita yang terang-terangan menyukai suaminya.
“Mas Juna malu ih,” bisik Cilla di telinga suaminya.
“Bukan kita yang harus malu, Sayang, karena kita berdua memang suami istri yang sah, jadi wajar aja kalau kita bermesraan.”
“Tapi nggak di depan orang juga, Mas Juna,” Cilla terispu sambil memukul dada suaminya.
“Kalau memang yang melihat risih apalagi keberatan, paling mudah pergi menjauh dari kita supaya nggak lihat keemsraan ini.”
Arjuna meraih tengkuk Cilla dan mencium bibir istrinya dengan lembut, mesra dan penuh cinta.
Susah mendengus kesal dan beranjak dari sofa sambil menghentakkan kakinya.
“Susan !” panggil Arjuna setelah melepaskan ciumannya.
“Makanan elo jangan lupa dibawa. Gue sudah punya menu makan siang spesial.”
Arjuna menatap Cilla sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Kalau nggak mau dimakan kasih orang aja,” sahut Susan dengan nada ketus.
Susan bergegas keluar ruangan dan menutup pintunya dengan cukup keras membuat Arjuna lamgsung tertawa.
“Senang berhasil ngerjain mantan pacar ?” cibir Cilla dengan wajah masam.
“Bukan mantan pacar sayang, tapi pelakor. Berani-beraninya dia rajin memanipulasi foto kamu seolah lagi bermesraan dengan cowok lain.”
“Memangnya Mas Juna nggak cemburu ?” ledek Cilla sambil memicingkan mata.
“Emosi level 30, Sayang. Dan sekarang Cilla harus jadi pemadam emosinya.”
“Nggak mau, ini kan di kampus. Jangan-jangan Om Bastian sengaja kasih tempat ini karena ada CCTV tersembunyi.”
“Kalau begitu kita pulang sekarang !”
Arjuna menyuruh Cilla bangun dari pangkuannya disusul dirinya sendiri. Tanpa menunggu lebih lama, Arjuna langsung menggandeng Cilla keluar ruangan.
“Cilla masih ada kuliah jam 1.30.”
“Sekali-kali bolos nggak masalah, nanti Mas Juna yang menghadap dosen kalau kamu kenapa-napa.”
“Iiihh mana bisa begitu,” protes Cilla sambil mengikuti langkah Arjuna.
“Jadi Cilla maunya Mas Juna melakukannya di kampus ? Atau di mobil ?”
“Ya nggaklah ! Ngaco aja !” Cilla mengomel sambil memukul bahu suaminya.
“Kalau begitu nurut sama suami. Kita ke kantor sekarang.”
Cilla hanya bisa pasrah dan menurut apa kata suami yang langsung membawanya ke parkiran mobil.
Dari balkon yang ada di lantai 3, Glen mengepalkan kedua tangannya saat melihat kemesraan Cilla dan Arjuna yang tertawa-tawa menuju parkiran mobil.
“Urusan kita belum tuntas, Arjuna Hartono,” gumam Glen pada dirinya sendiri.