MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Saat Rindu Datang


Sudah dua hari Cilla berada di Singapura bersama papi Rudi, tante Siska dan Theo. Mereka memilih menyewa apartemen dengan dua kamar di daerah Orchard.


Di hari kedua ini papi Rudi pergi dengan tante Siska dan Om Rio yang baru saja sampai tadi pagi.


“Kenapa sih jutek begitu ?” sapa Theo menghampiri Cilla yang sudah duduk di meja makan.


“Dari kemarin susah banget balas pesan, baru balas jam 1 subuh pas Cilla udah tidur. itu pun cuma tulisan singkat maaf Mas Juna sibuk banget,” omel Cilla dengan wajah cemberut.


“Baru juga dua hari, lagian Juna kan tetap balas bukannya dicuekin begitu aja. Tugas dia memang segunung menjelang akhir tahun begini,” ujar Theo sambil menikmati secangkir kopi yang baru disedunya sendiri.


“Memang nggak punya karyawan yang bantuin ?” gerutu Cilla dengan bibir mengerucut.


“Ya ada ribuan yang bantuin perusahaan om Arman. Tapi keputusan akhir kan ada di tangan pemilik perusahaan dan pemegang saham. Dan kalau nggak salah Juna juga udah kasih tahu kamu alasan dia diminta balik ke perusahaan selama dua minggu ini, kan ? Lagi banyak masalah yang nggak bisa ditangani sama om Arman sendirian.”


“Apa selamanya Mas Juna akan sesibuk ini, Kak ?” tanya Cilla dengan suara lirih.


“Kenapa memangnya ?” Theo tersenyum tipis. “Kamu takut bakal sering ditinggalin sendiri sama Juna ?”


Cilla mengangguk. Wajahnya tidak lagi cemberut berganti dengan muka sedihnya.


“Mungkin malah akan tambah sibuk,” sahut Theo.


“Kok kakak malah nambah bikin keruh hati Cilla, sih ?” gerutunya dengan wajah kesal.


“Coba kamu pikirkan baik-baik,” ujar Theo sambil merangkul bahu sepupunya yang masih duduk di kursi meja makan.


“Setelah menikah dengan kamu, berarti tanggungjawab perusahaan papi Rudi akan dipegang juga oleh Arjuna sampai usia kamu memenuhi syarat. Kalaupun nanti memenuhi syarat, belum tentu Arjuna akan kasih ijin kamu bekerja mengelola perusahaan papi kamu yang sudah pasti akan menyita banyak waktumu. Juna pasti akan lebih memilih kamu jadi ibu rumah tangga yang mengurus anak-anak kalian. Kalau sampai itu terjadi, bisa dibayangkan gimana sibuknya calon suami kamu itu.”


Cilla terdiam dan mengaduk-aduk susu dalam gelasnya. Theo menatapnya sambil tersenyum tipis. Bukan ingin menakuti-nakuti Cilla, tapi mempersiapkan Cilla menghadapi kenyataan tentang siapa Arjuna sebenarnya.


Selepas pekerjaannya sebagai guru, Cilla harus dihadapkan pada Arjuna, seorang CEO sebuah perusahaan makanan ringan multinasional yang mulai merambah negeri tetangga.


Sedang sibuk dengan kegelisahan hatinya, suara handphone Cilla berbunyi. Mulanya ia hanya melirik tapi begitu melihat nama Bapaknya anak bebek, wajahnya langsung bersinar.


Theo yang ikut melihat ke arah handphone Cilla yang diletakan di atas meja langsung tergelak.


Cilla melotot dengan wajah cemberut, ingin membekap mulut Theo yang masih tergelak. Tangannya reflek menekan ikon hijau yang berarti menerima panggilan.


“Cilla,” Arjuna mengerutkan dahinya saat melihat wajah calon istrinya malah menoleh ke sampingbukan ke layar handphone, padahal Arjuna melakukan video call.


Cilla menoleh masih dengan bibir mengerucut dan wajah sebal.


“Kamu kenapa ? Kok pagi-pagi calon suami dikasih wajah jelek begitu ?” dahi Arjuna masih berkerut karena belum ada sepatah kata pun keluar dari mulut Cilla.


“Bukan calon suami, tapi bapaknya anak bebek,” teriak Theo dari samping membuat Cilla kembali menoleh dan akhirnya memukul bahu kakak sepupunya.


“Udah sana jauh-jauh, Cilla mau pacaran dulu,” omel Cilla dengan wajah kesal.


“Cilla sayang,” panggilan Arjuna yang lembut tidak seperti biasanya.


Cilla tercengang, tangannya berhenti memukuli bahu Theo, matanya mengerjap menatap layar handphone. Hatinya yang sedang dipenuhi dengan rasa rindu, mendadak berdebar mendengar panggilan Arjuna yang begitu kalem.


“Baru dipanggil sayang, udah melehoy,” ledek Theo sambil mencebik, namun diabaikan oleh Cilla.


“Rese !” omel Cilla sambil beranjak bangun.


Ia bergegas masuk kamar yang ditempatinya bersama tante Siska dan mengunci pintunya. Cilla langsung duduk sambil melipat kedua kakinya di pinggir ranjang.


“Mas Juna mau kemana ?” matanya memicing saat melihat pemandangan di belakang Arjuna bukan di rumah atau kantor.


“Mas Juna lagi di bandara.”


“Mau kemana ? Mau nyusul Cilla kemari ?” Dengan nada sedikit menggebu, Cilla langsung memasang wajah bahagianya.


“Nggak bisa, ini mau ke Batang sama papa, meninjau lokasi untuk pemekaran pabrik.”


“Batang yang dekat Semarang ?”


“Pintar calon istri Mas Juna,” Arjuna langsung menunjukan jempolnya di layar handphone. “Kira-kira satu jam dari Semarang. Mas Juna naik pesawat ke Semarang baru ke Batang, mungkin pulangnya naik mobil langsung ke Jakarta.”


“Jadi pengen ke Semarang lagi sama Mas Juna,” Cilla senyum-senyum namun wajahnya terlihat sedih.


“Kamu diapain sama Theo sampai muka sedih begitu ?”


Cilla langsung menggeleng, takut mulutnya kelepasan menanyakan perihal yang Theo sampaikan tadi di meja makan, padahal di hatinya masalah itu sangat mengganjal dan membuatnya mendadak resah.


“Jangan bohong,” ujar Arjuna kembali. “Kan Mas Juna sudah pernah bilang, mata kamu nggak bisa bohong kalau lagi sedih banget.”


“Kangen,” jawab Cilla sekenanya. Hatinya memang merindukan kebersamaan dengan Arjuna. Entah kenapa sejak bertunangan, Cilla merasa jadi perempuan melow.


“Sama,” sahut Arjuna sambil tertawa. Ia tahu kalau calon istrinya berusaha mengalihkan topik yang Arjuna tanyakan.


”Tadi kak Theo ngetawain Cilla gara-gara masih pasang nama bapaknya anak bebek di handphone,” adu Cilla dengan bibir mengerucut.


“Memangnya kamu masih belum rubah juga ? Yang kerenan dikit dong, calon suami atau Song Jong Ki lokal,” ujar Arjuna sambil tertawa.


“Loh nggak berasa kalau sudah dilamar, tunangan dan punya calon suami ?” Alis Arjuna menaut.


Cilla senyum-senyum dengan wajah mulai merona.


“Pas ketemu papi maminya Jovan, kamu sudah kenalin Mas Juna sebagai calon suami,” ledek Arjuna yang merasa senang melihat wajah Cilla sudah tidak cemberut lagi.


“Iya juga, sih,” sahut Cilla sambil mengerjap.


“Mas Juna harus naik pesawat sebentar lagi. Jangan nakal di sana, ya. Jangan lirik-lirik oppa-oppa ganteng, jangan terlalu pusing sama omongan Theo, dia memang suka memprovokasi orang. Kamu ingat aja sama Mas Juna, penuhi hati dan pikiran kamu dengan Mas Juna aja.”


“Ini Singapura Mas Juna, bukan Korea. Nggak banyak oppa-oppa di sini,” sahut Cilla dengan bibir mengerucut membuat Arjuna tertawa.


“Kalau masalah Mas Juna, nggak usah disuruh, hati sama otak Cilla tigaperempat-nya sudah penuh sama bayangan Mas Juna.”


“Kok nggak penuh, hanya tigaperempat ?” ledek Arjuna sambil terkekeh.


“Seperdelapannya buat papi, seperdelapan lainnya buat ingat rumus matematika dan masalah lain. Soalnya kalau penuh dengan Mas Junas, pas ditanya berapa besar sudut segitiga sama sisi, pasti mulut Cilla langsung jawab ARJUNA. Belum lagi kalau ulangan ekonomi, Pak Dono bisa langsung jutek karena semua jawaban tulisannya hanya Arjuna. Bisa-bisa Cilla nggak boleh ikut ujian kelulusan. Kalau nggak lulus-lulus, nikahnya makin diundur, dong.”


Arjuna langsung tergelak mendengar jawaban Cilla. Calon istrinya ini selalu punya cara untuk mengalihkan kegundahan hatinya supaya orang melihatnya baik-baik saja.


“Memangnya beneran sudah siap menikah sama Mas Juna pas lulus SMA ?”


“Kalau rindu begini berat karena jauh seperti kata Dilan, kayaknya pilihan menikah muda nggak ada jeleknya. Jadi bisa tiap hari lihat Mas Juna dari melek mata sampai mau bobo.”


“Ya ampun anak bebek kesayangan Mas Juna, baru dilepas dua hari udah bisa ngegombal bikin hati Mas Juna jadi deg deg kan begini,” sahut Arjuna sambil tertawa. Hatinya senang juga mendengar ucapan Cilla yang sedikit blak-blakan.


“Tapi…” suara Cilla merendah, ragu-ragu mau membahas soal ucapan Theo.


“Tapi kenapa ?” Arjuna masih senyum-senyum, namun perlahan dahinya berkerut melihat wajah Cilla yang tidak mampu menyembunyikan kegundahan hatinya


“Mas Juna juga nggak boleh lirik-lirik cewek lain. Ada anak bebek yang selalu nunggu telepon dan kiriman pesan dari calon suaminya.”


Cilla mendongak dan wajahnya langsung berubah jadi galak dengan bibir cemberut. Arjuna tertawa pelan, rupanya Cilla masih belum bisa mengungkapkan kegundahan hatinya, tapi waktunya terlalu singkat untuk membahas lebih jauh.


“Udah mulai bisa gombal ?” ledek Arjuna.


“Diajarin sama guru matematika yang ternyata cowok serba bisa.”


Arjuna tertawa. Terdengar suara papa Arman memanggil untuk segera naik pesawat.


“I love you,” ucap Arjuna sambil memberikan ciuman dari jauh.


Cilla kembali terkesiap, tidak percaya mendengar kalimat Arjuna barusan. Sepertinya baru kali ini Arjuna mengucapkan kata sakti itu saat mereka berteleponan. Jantung Cilla langsung berdebar tidak karuan.


“Nggak mau dibalas ?” tanya Arjuna sambil senyum-senyum. Sudah terlihat kalau calon istrinya mendadak terpesona.


Cilla menatap wajah Arjuna di layar handphone dengan mata mengerjap-ngerjap. Melihat Arjuna tersenyum manis, debar jantungnya makin berantakan.


“I love you too,” lirih Cilla dengan suara yang sangat pelan dan wajah makin merona.


Arjuna tertawa, terlihat tangannya bergerak menyentuh layar handphone seolah ingin menyentuh wajah Cilla.


“Jangan sering-sering mengerucutkan bibir di depan cowok lain. Muka kamu ngegemesin kalau lagi begitu. Mas Juna nggak mau nanti ada yang tiba-tiba nyosor.”


Cilla hanya mengangguk sambil senyum-senyum.


“Mas Juna tutup dulu ya, papa udah masuk pesawat. Nanti Mas Juna telepon lagi begitu senggang.”


“Hati-hati, Mas,” lirih Cilla dengan wajah merona.


Arjuna tersenyum dan mengangguk lalu memutus sambungan video call mereka.


Di bandara, wajah Arjuna berbinar bahagia dan langkahnya lebih ringan karena sudah mendapat vitamin khusus dari calon istrinya.


Papa Arman sudah duduk di kursi penumpang dalam pesawat, menunggu putranya yang masuk dalam barisan penumpang terakhir.


“Ada masalah sama Cilla ?” tanya papa Arman saat Arjuna memasang sabuk pengaman di sebelahnya.


“Sepertinya papi belum bicara apa-apa sama Cilla, Pa. Tadi Cilla nggak menyinggung apapun soal sakitnya papi,” sahut Arjuna.


“Kalau sesuai rencana yang papi Rudi sempat bilang ke papa, memang baru besok jadwal ketemu dokter sekalian menjalankan serangkaian pemeriksaan lain.”


“Semoga Cilla bisa menerima semua penjelasan papi soal penyakitnya,” ujar Arjuna dengan suara pelan.


“Yang pasti, kita akan selalu mendukungnya, Jun. Jangan paksakan dia untuk menjadi kuat di luar kemampuannya. Bagaimana pun usia calon istrimu itu masih sangat belia, biarkan dia mengeluarkan perasaannya sesuai usianya. Sebagai calon suami dengan usia yang lebih matang, Papa harap kamu bisa lebih mengerti dan mendampinginya, bukan memaksanya menjadi kuat sebagai orang dewasa. Tugas seorang suami bukan sekedar memberi nafkah lahir batin untuk istrinya, tapi juga harus mampu membimbing istrinya untuk menjadi lebih baik,” papa Arman menepuk tangan Arjuna yang ada di atas pegangan kursi.


“Juna akan ingat selalu pesan Papa,” Arjuna menatap papa Arman yang memandangnya sambil tersenyum juga.


Arjuna memejamkan matanya. Sepertinya di tahun yang baru hidupnya akan jauh lebih berwarna. Tidak terbayangkan kalau sekarang statusnya calon suami wanita yang sangat dicintainya.


Hidup memang tidak pernah terduga, banyak rahasia yang tidak bisa ditebak oleh manusia. Tapi yang pasti, apapun yang terjadi dalam hidup, semua akan indah pada waktunya. Manusia mungkin akan berkeluh kesah dan bersusah payah saat harus melewatinya, tapi di ujung jalan, ketika makna dan arti indah mulai terlihat, manusia hanya bisa bersujud dan memuji nama Sang Pemilik Kehidupan yang pasti akan selalu memberikan yang terbaik untuk ciptaan-Nya.


Hanya satu yang mengganjal hati Arjuna, lagi-lagi ia melihat kesedihan mendalam di mata Cilla dan calon istrinya itu masih belum mau berbagi dengannya.