
“Jangan biarkan emosi merusak acara liburan dengan yang lain,” nasehat Cilla saat melihat wajah suaminya cemberut karena semalam bisa-bisanya Glen mendadak datang ke acara makan malam tamu Cilla dan Arjuna.
“Coba tanyakan pada Glen, sebetulnya masalah apa yang membuat dia hobi membuat Mas Juna kesal.”
“Sudah, lebih dari sekali malah. Dia hanya suruh Mas Juna untuk refleksi bahkan terakhir dia bilang kalau perasaannya pada Cilla bukan cinta sesaat.”
“Mas Juna benar-benar nggak pernah melakukan kesalahan di masa sekolah ?”
“Cilla, Mas Juna sudah beberapa kali refleksi diri dan bertanya pada Theo, Luki dan Boni. Mungkin ada sikap Mas Juna yang tanpa sadar menyakiti Glen, tapi tidak ada satu orang pun yang mengingatnya.”
“Ya udah kalau begitu sekarang senyum dulu,” Cilla menarik kedua sudut bibir Arjuna hingga membentuk senyuman.
”Kita mau bernostalgia jadi lupakan sejenak soal
Glen, lagipula semalam Kak Theo dan semua sahabat kita sudah menunjukkan dukungan untuk membuat Glen menjauhi kita berdua.”
Cilla langsung memeluk Arjuna dan mengusap punggung suaminya.
“Anak bebek kesayangan Mas Juna jadi sedih kalau melihat Bapak Bebek cemberut begitu.”
Arjuna akhirnya tersenyum tanpa perlu dipaksa dan membalas pelukan istrinya dengan erat.
***
Perjalanan kali ini langsung menuju ke Gunung Pati, menyusul Pak Trimo dan Bik Mina yang sudah lebih dulu ke sana sejak kemarin.
“Jangan salah suap lagi, Jun. Bukan sekedar malu tapi siap-siap disetrap sama Cilla,” ledek Erwin, si biang heboh seperti biasanya.
”Namanya juga lagi mabuk, Win. Mabuk asmara, pura-pura malu tapi mau,” timpal Luki.
Kejadian memalukan itu akhirnya dibuka dan diketahui oleh seluruh penumpang bus termasuk kedua orangtua Arjuna dan Theo yang memilih bergabung ikut bus.
Arjuna terlihat santai meski banyak orang meledeknya. Ia malah sibuk bercanda dengan Sean yang tidak bisa diam, ikutan bersemangat meski tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan para orang dewasa.
“Sayang ya Om Boni dan Kak Mimi nggak bisa ikut,” ujar Cilla pda Arjuna.
“Rencana ini juga dadakan, Mas Juna baru kepikiran dua minggu lalu, untung aja masih dapat hotelnya.”
“Terima kasih, Mas Juna sayang. Nggak tahu kapan lagi kita bisa mengulang kenangan seperti ini.”
“Semua untuk anak bebek kesayangan Mas Juna,”’ujar Arjuna sambil mencium pelipis Cilla.
Si kepo Sean pun pindah ke pangkuan Cilla dan ikit menciumi maminya lebih dari sekali.
“Ya ampun Sean, kamu tuh nggak mau kalah banget sih sama papimu,” ledek Jovan yang sedang berjalan di lorong bus hendak menghampiri Amanda yang duduk di dekat Febi dan Lili.
“Bagus dia belajar sama papinya daripada sama kamu, dokter-dokteran.”
“Ya ampun Pak Juna, masih dendam aja sama saya,” sahut Jovan.
“Yakin masih mau lanjut punya kakak ipar kayak gitu, Van ?” cibir Theo yang duduk sejajar dengan Arjuna dan Cilla.
“Kalau cinta sudah bicara, topan badai akan diterjang tidak peduli siang dan malam.”
Cilla dan Yola langsung terbahak melihat Jovan bergaya ala pujangga.
“Geli, Jo. Asli geli banget,” Cilla meledek di tengah gelak tawanya.
“Amit-amit banget deh,” Cilla mengusap-usap perutnya.
“Elo lagi hamil lagi ?” tanya Jovan dengan dahi berkerut.
“Nggak ! Cuma jaga-jaga aja kalau hamil lagi, jangan sampai kelakuan anak gue kayak elo.”
“Sekarang Cilla ngerti kan kenapa Mas Juna agak berat memberikan restu pada Amanda, kan ?” ujar Arjuna santai.
“Susah memang ngelawan Pak Guru.” gerutu Jovan sambil berjalan ke arah depan.
Theo dan Arjuna langsung terbahak dan melaukan tos. Keduanya memang kompak kalau disuruh meledek Jovan dan baru akan berhenti saat Amanda mengomel karena kekasihnya di-bully oleh kakaknya.
Waktu hampir menunjukkan pukul 11 saat mereka tiba di rumah kediaman Pak Trimo dan Bik Mina.
Pasangan suami istri yang memperlakukan Cilla seperti anak angkat mereka terlihat bahagia meskipun harus direpotkan dengan acara makan siang.
“Kalian lagi pada ngapain ?” tanya Arjuna saat berjalan ke teras belakang seusai makan siang.
Di sana sudah duduk berpasangan Dimas-Lili dan Jovan-Amanda sedang suap-suapan duren.
“Biarpun sudah pensiun menjadi guru, di mata kami Bapak tetaplah seorang guru yang patut diteladani,” ujar Jovan.
“Kami mau meneladan jejak Bapak supaya pacar kami ini jadi jodoh sejati di masa depan,” timpal Lili.
Arjuna langsung terbahak melihat kelakuan 2 muridnya ini.
“Elo nggak ikut sekalian Yo ?” ledek Arjuna pada sepupu Cilla.
“Yang namanya jodoh mana bisa dipastikan hanya dengan suap-suapan duren,” Cilla langsung bersuara saat bergabung di teras belakang.
“Lagian insiden mabuk duren antara gue sama Mas Juna benar-benar nggak disengaja, jadi kemanjurannya pasti beda lah dengan kalian berempat yang sengaja suap-suapan .”
“Udah terlanjur, Cil, biar mesra,” sahut Lili.
“Mesra darimana ? Elo nggak nyimak mukanya Dimdim udah merah padam begitu ? Baru juga makan duren sebiji udah kayak habis makan duren sepohon,” ledek Cilla sambil tertawa. Ia pun mengambil sebiji duren yang ada di dekat Lili.
“Eh Cilla, ambil duren yang lain, ini duren cinta gue !” omel Lili.
“Pelit ! Tinggal makan gratis aja masih pelit,” Cilla mencebik dan sengaja mengambil sebiji lagi.
Cilla menoleh saat Yola bergabung duduk dengannya. Ternyata Arjuna memberi isyarat kalau ia, Theo dan Tino akan keluar sebentar. Cilla hanya mengangguk sambil menikmati duren keduanya.
“Gue baru dapat berita soal masa lalu Glen. Secara garis besar tidak berbeda jauh dengan ingatan elo, Theo dan Luki.”
Tino menatap satu persatu pria yang namanya dia sebut.
“Satu hal tambahan soal Gina, adik kandung Glen yang meninggal. Apa kalian tahu kalau adik Glen ini meninggal karena bunuh diri ?”
“Sempat tersiar kabar seperti itu,” sahut Arjuna. “Tapi saat kita tanya, maksudnya gue dan teman-teman satu tim basket tanya langsung sama Glen, dia nggak mau jawab. Bahkan saat Gina meninggal, nggak ada satu pun yang diijinkan untuk melayat.”
“Mungkin karena Gina meninggal bunuh diri dengan cara menggantung dirinya di rumah kosong yang letaknya tidak jauh dari rumah mereka.”
“Apa informan elo menyebutkan penyebabnya ?”
“Keluarga terutama ayah Glen sempat menolak pernyataan polisi yang mengatakan anaknya bunuh diri. Beliau yakin kalau ada orang lain yang menghabisi nyawa putrinya.”
“Kasusnya diperpanjang ?” tanya Luki.
“Sepertinya terbentur masalah biaya saat itu. Ayah Glen yang baru di PHK tidak sanggup membayar sejumlah uang yang dibutuhkan seandainya kasus putrinya mau dibuka kembali. Dan berikutnya, ayah Glen juga menyusul putrinya tapi karena kecelakaan bukan bunuh diri.”
“Biasanya gadis semuda itu nekat bunuh diri karena pelecehan atau hamil. Apa ada laporan kalau Gina sedang mengandung atau apapun ?” tanya Theo.
“Di laporan penyelidikan polisi tidak disebutkan soal hamil atau tanda-tanda tindakan aborsi. Tertulis murni bunuh diri karena tidak ditemukan adanya penganiyaa atau tindakan kekerasan fisik.”
Arjuna tampak sedang berpikir, berusaha mengingat-ingat sosok Gina yang terpaut 2 tingkat di bawah Glen. Sikapnya yang ceria membuat gadis itu cukup akrab dengan teman-teman kakaknya. Kejadian buruk itu terjadi saat mereka baru saja naik kelas 12 dan Gina akan masuk SMA.
“Tidak ada cara lain, gue akan bicara 4 mata dengan Glen dan bertanya apa tujuan dia sebenarnya mengusik Cilla.”
“Apa elo nggak berniat untuk lapor polisi, Jun ?”
“Lapor dengan alasan apa ? Pelecehan ? Tidak ada bukti yang kuat kalau Glen melakukan pelecehan terhadap istri gue. Dia hanya dipanggil ke ruang dosen dan menjalani hukuman membantu dosennya memeriksa tugas dan tidak ada rekaman kalau terjadi kontak fisik di antara mereka.
Terus laporan teror ? Faktanya semua pesan yang dikirim Glen hanya sebatas masalah dosen dan mahasiswa, tidak menyimpang pada kalimat yang tidak sopan dan pertemuannya di berbagai tempat sudah dia atur seperti kebetulan.”
“Kalau dia nggak mau menjawab juga ?”
“Gue akan terus memancing emosinya sampai Glen sendiri yang bicara. Orang-orang seperti mereka tidak tahan untuk menyombongkan rencana mereka saat kita berada di dekatnya.”
“Maksud lo ?” tanya Theo sambil mengerutkan dahi.
Arjuna hanya tersenyum penuh rahasia, belum mau menjawab atau memberi penjelasan pada siapapun.