
“Mas Juna bangun,” Cilla menepuk-nepuk bahu Arjuna yang tertidur pulas.
“Perut Cilla mules banget nih,” lanjut Cilla saat melihat pergerakan Arjuna dari posisi miring menjadi terlentang.
“Ya udah tinggal ke kamar mandi. Kalau takut nggak usah dikunci,” sahut Arjuna dengan mata masih terpejam.
“Iihh Mas Juna, bukan mules mau BAB, tapi mules karena baby,” ujar Cilla dengan wajah kesal.
“Ya udah, sini,” Arjuna meraih lengan Cilla menyuruh berbaring di sampingnya. “Mas Juna peluk sambil dielus-elus.”
Cilla mendengus kesal dan menghentakan tangannya hingga tangan Arjuna terlepas dan dengan sedikit kasar, Cilla beranjak bangun dari pinggir ranjang.
“Cilla ke rumah sakit sama Bang Dirman dan Bik Mina aja kalau gitu,” suara Cilla yang emosi sengaja diucapkan dengan nada tinggi.
“Eh.. kok mules pakai ke rumah sakit segala,” Arjuna beranjak bangun dan duduk di atas ranjang. Ia mengucek matanya yang masih terasa berat.
“Mas Juna lupa kalau Cilla lagi hamil ? Ini mules mau melahirkan bukan BAB,” omel Cilla sambil berjalan mengambil koper yang sudah disiapkannya sejak sebulan lalu.
“Kok sekarang ?” Arjuna melebarkan matanya. “Kan perkiraan dokter baru minggu depan ?”
“Nggak penting banget membahas soal perkiraan segala deh, perut Cilla udah tambah mules nih. Nggak lucu kan kalau nanti melahirkan di jalan.”
“Ya ampun !” Arjuna bergegas turun melihat Cilla mengernyit sambil mengusap perutnya. “Kita ke rumah sakit sekarang.”
“Nggak mau !” protes Cilla membuat Arjuna mengerutkan dahi.
“Cilla nggak mau suami Cilla ke rumah sakit pakai baju begitu,” Cilla menunjuk Arjuna yang langsung menelisik dirinya sendiri.
“Oh iya,” Arjuna nyengir kuda dan berjalan menuju lemari bajunya.
“Pakai baju aja banyak cewek yang nempel, apalagi cuma pakai boxer sama kaos begitu. Bisa-bisa perawat di sana pada galfok terus salah bantu pasien,” gerutu Cilla membuat Arjuna tertawa.
“Itu dibawa juga,” Cilla menunjuk satu tas lainnya selain koper baju milik Cilla dan baby.
“Itu isinya baju-baju Mas Juna, tapi nggak ada kemeja kerja. Cilla udah siapin dari 3 hari yang lalu, jaga-jaga kalau mulesnya malam-malam begini, hiar Mas Juna juga siap bawa baju ganti,” ujar Cilla menjawab kebingungan Arjuna.
Arjuna pun mengangguk dan menyuruh Cilla berpegangan pada lengannya.
Begitu pintu kamar dibuka ternyata Bik Mina dan Pak Trimo sudah menunggu di depan kamar. Cilla sudah memanggil Bik Mina lewat hp saat perutnya mulai terasa mulas.
Pak Trimo sendiri sudah diminta tinggal bersama Cilla dan Arjuna sejak acara tujuh bulanan.
“Dirman sudah siap di luar, Noni,” ujar Pak Trimo yang langsung mengambil alih koper dan tas yang dibawa oleh Arjuna.
“Bibik juga sudah menghubungi Nyonya Siska dan Nyonya Diva,” ujar Bik Mina berjalan di samping Cilla menuju pintu keluar.
“Doakan yang terbaik buat Cilla dan baby ya Bik, Pak Trimo,” pinta Arjuna pada kedua pelayan sekaligus orangtua angkat bagi istrinya.
“Ditunggu kabar baiknya juga, Den,” sahut Bik Mina.
Cilla sendiri sudah tidak banyak bicara karena perutnya makin bertambah mulas hingga peluh mulai keluar di keningnya.
“Bang Dirman, bawa mobilnya agak cepetan ya,” pinta Cilla setelah mobil meninggalkan rumah.
Arjuna memeluk istrinya sambil mengusap-usap punggung serta perut Cilla.
“Baby sabar ya dan jangan lama-lama bikin mami mules. Papi sama mami udah nggak sabar juga mau ketemu baby,” ujar Arjuna di sela-sela pergerakan tangannya.
30 menit kemudian, sesuai pesan dokter Wanda, Arjuna meminta Dirman membawa mobil ke depan pintu UGD.
Terlihat beberapa perawat sudah siap dengan kursi roda menanti Cilla dan Arjuna.
“Masih bisa jalan sendiri, Bu ?” tanya perawat yang menghampiri saat pintu mobil di buka.
“Mas Juna gendong, ya ?” Arjuna menawarkan pada Cilla saat ia sudah turun dari mobil.
“Nggak usah, masih bisa sendiri sampai ke kursi roda.”
Arjuna membantu Cilla duduk di kursi roda dan membiarkan perawat mendorongnya menuju lantai 3, tempat ruang persiapan persalinan.
“Bapak silakan tunggu di luar,” pinta seorang perawat saat Arjuna.
Tidak lama mama Diva dan papa Arman datang menemui Arjuna.
“Gimana Jun ? Dokter bilang apa ?” tanya mama Diva.
“Cilla masih di dalam, Ma. Belum ketemu sama Tante Wanda.”
“Yang tenang Jun, biar Cilla nggak makin tegang,” nasehat papa Arman sambil menepuk bahunya.
“Ternyata mau jadi orangtua harus tegang begini dulu ya, Pa,” Arjuna tidak menutupi rasa cemasnya.
“Ini baru permulaan, Jun,” sahut papa Arman sambil tertawa.
Tidak lama Cilla keluar dari ruang persiapan masih menggunakan kursi roda dan di belakangnya terlihat dokter Wanda yang ternyata sudah menunggu Cilla di dalam.
“Sepertinya Cilla bisa melahirkan normal, Jun. Sudah pembukaan enam juga, jadi tetap harus menunggu.”
“Nunggunya sambil mules begini terus, Tante ?” tanya Cilla dengan wajah sesekali menahan sakit.
“Iya, mulasnya akan datang dan pergi seperti ini dan semakin lama bertambah mulas seiring bertambahnya pembukaan jalan kelahiran.”
“Atau Cilla mau dioperasi aja ?” Arjuna berjongkok di depan Cilla, menyentuh perut Cilla yang sesekali terlihat berkedut.
“Nggak mau, tadi udah bilang sama Tante Wanda kalau Cilla mau lahiran normal. Cilla masih bisa tahan kok. Waktu bikinnya aja biar sakit banget Cilla tahan, padahal udah mau ngamuk sama Mas Juna. Bilangnya sakit sebentar, tapi efek nggak enak jalan sampai 2 hari.”
Mata Arjuna langsung membola dan wajahnya memerah menahan malu.
Papa Arman, mama Diva, dokter Wanda dan perawat yang dekat situ saling melempar pandangan dan tertawa pelan.
Memang mama muda yang masih muda ini suka apa
adanya kalau berbicara.
“Sekarang Cilla ke kamar dulu aja, ya. Akan ada suster yang melakukan pengecekan pembukaan setiap beberapa menit sekali.”
Cilla mengangguk dan Arjuna yang mendorong kursi roda Cilla menuju kamar rawat.
“Memangnya Mas Juna udah urus administrasinya ?”tanya Cilla saat mereka bersama papa Arman, mama Diva dan 2 orang perawat sudah berada di dalam lift.
“Sudah Mas Juna bayar uang mukanya sejak 2 hari lalu. Nggak ada firasat apa-apa, tiba-tiba aja ingin mempersiapkan semuanya. Nggak nyangka kalau baby udah nggak sabar mau lihat dunia,” sahut Arjuna.
Tidak lama setelah Cilla sampai di kamar, om Rio, tante Siska dan Theo datang juga.
“Gimana keadaan kamu, sayang ?” tante Siska langsung memeluk Cilla yang sedang berdiri di pinggir ranjang.
“Perutnya sakit, Tante, tapi Cilla masih bisa tahan. Dokter bilang Cilla bisa lahiran normal, udah pembukaan enam.”
“Tenang aja Tante, selama ini Cilla selalu konsultasi terus sama Tante Wanda dan hasil pemeriksaan tadi semuanya aman. Tante harus percaya kalau Cilla bisa.”
“Iya Tante, Juna juga selalu pantau kondisi Cilla dan baby selama kehamilan ini kok, jadi didoakan saja semoga semuanya lancar, “ Arjuna menimpali.
Tante Siska pun hanya bisa mendukung keputusan Cilla dan Arjuna.
“Cilla banyakin jalan-jalan biar pembukaannya makin cepat,” nasehat mama Diva.
Cilla menurut dan sambil merangkul lengan Arjuna, Cilla mulai berputar di kamar.
“Wah sebentar lagi bukan anak bebek kesayangan Arjuna, dong,” ledek mama Diva.
“Sebentar lagi jadi mama bebek,” timpal tante Siska.
“Nggak mau !” Cilla menggeleng. “Cilla mau selamanya jadi anak bebek kesayangannya Mas Juna. Baby nanti punya panggilan lain.”
Papa Arman, Om Rio, mama Diva dan tante Siska tertawa melihat wajah Cilla ditekuk sambil meringis menahan rasa mulasnya.
“Iya.. iya…” Arjuna memeluk Cilla dan mengusap punggung istrinya itu. “Cilla akan selalu jadi anak bebek kesayangan Mas Juna, nggak akan ada yang lain.”
Theo yang ternyata sempat menghilang dari kamar sudah kembali membawa sekantong makanan untuk Cilla dan yang ada di situ.
Tante Siska tersenyum dengan penuh rasa haru melihat bagaimana Arjuna begitu telaten melayani Cilla dan menenangkan keponakannya yang meringis menahan rasa sakitnya.
“Mas Juna,” Cilla melihat ke bawah saat air keluar dari antara kakinya. “Cilla ngompol.”
“Bukan ngompol, sayang,” mama Diva bergegas bangun. “Ketuban kamu pecah, sudah waktunya anak kamu lahir.”
Arjuna panik melihat kondisi Cilla bingung harus bagaimana sementara itu om Rio langsung memanggil perawat yang segera datang membawa kursi roda.
“Mas Juna temenin,” rengek Cilla saat perawat hendak membawanya masuk ke dalam ruang bersalin.
“Bapak boleh ikut masuk,” ujar perawat yang ditatap oleh Arjuna.
Mantan guru yang masih bingung dan panik itu mengangguk dan mengikuti Cilla masuk.
Tidak lama setelah Cilla siap, dokter Wanda pun masuk bersama seorang dokter anak yang membuat wajah Cilla langsung berbinar.
“Dokter Steven !”
Arjuna yang mulai keringat dingin langsung menoleh dan cemberut melihat dokter anak tampan yang selalu menarik banyak wanita, termasuk Cilla.
“Memangnya nggak ada dokter anak lain, Tante Wanda ? Kenapa juga harus dia,” gerutu Arjuna membuat Cilla geleng-geleng.
“Bukannya elo lagi di Papua ?” tanya Arjuna dengan wajah ketus.
“Raven lagi sakit, jadi gue diminta balik dulu sama papa. Dan sepertinya gue berjodoh nih sama Cilla. Bisa pas banget lahirannya pas gue ada di sini. Kalau minggu depan kita nggak ketemu, ya.”
Steven tersenyum sambil berdiri di dekat Cilla membuat Arjuna merapatkan posisinya pada Cilla.
“Tenang aja,” Steven menepuk-nepuk jemari Cilla membuat Arjuna tambah kesal.
“Aku tahu kamu perempuan hebat. Semuanya pasti bisa dilewati dengan baik.”
“Terima kasih Pak Dokter,” Cilla tersenyum lalu meringis.
“Sudah lengkap pembukaannya, Cilla. Siap ya, sesuai yang kamu belajar aja pas waktu senam hamil,” ujar dokter Wanda.
Cilla menarik nafas panjang dan memegang jemari Arjuna.
“Cilla pasti bisa !” Arjuna memberi semangat lalu mencium kening Arjuna.
Cilla mulai mengejan, mengikuti instruksi dokter Wanda dan seorang perawat yang berada di sisi yang berbeda dengan Arjuna.
Cilla terlihat mulai kepayahan dan berusaha menguatkan diri dengan sisa tenaganya. Arjuna merasa tidak tega melihat Cilla yang mulai keletihan, memberi semangat dan berkali-kali menciumi rambut dan kening Cilla.
Tidak lama terdengar tangisan bayi laki-laki dengan panjang 50 cm dan berat 2.8 kg.
“Bayimu laki-laki dan sehat Cilla, normal dan lengkap semuanya. Aku yakin akan jadi anak yang hebat seperti mamanya,” ujar dokter Steven yang membawa bayi terbungkus kain hijau itu mendekati Cilla dan Arjuna.
“Bukan bayi Cilla aja, anakku juga itu,” protes Arjuna. “Bayi kami. Bibitnya dari aku, dan akan jadi hebat seperti papi maminya.”
“Mas Juna iihh,” Cilla hanya bisa melotot karena tenaganya sudah habis terkuras.
“Untung nggak ada yang mirip sama gue,” ledek Steven sambil tertawa.
“Mana ada mirip sama elo,” cebik Arjuna.
“Bayinya dibersihkan dulu ya, habis itu kalau kamu mau langsung kasih ASI pertama boleh juga.”
“Nggak ada !” tegas Arjuna. “Kasih ASI-nya di kamar aja. Nggak rela gue ada elo di sini. Bilang aja mau cari kesempatan dalam kesempitan,” Arjuna kembali menggerutu.
Cilla hanya memutar bola matanya sementara Steven dan dokter Wanda tertawa mendengarnya.
“Prosesnya sudah beres semua Cilla,” ujar dokter Wanda mendekati Cilla.
“Kamu benar-benar luar biasa dan suami kamu juga sama hebatnya,” dokter Wanda mengacungkan jempolnya. “Kapok nggak kalau diminta hamil dan melahirkan lagi ?”
“Nggak Tante,” Cilla menggeleng. “Masih mau lagi kok.”
“Soalnya Arjuna udah pintar cari cara bikin kamu nggak sakit, ya ?” ledek dokter Wanda sambil melirik
Arjuna yang langsung sumringah.
“Wah kalau itu nggak jamin, Tante. Mas Juna biar udah om-om tenaganya benar-benar nggak ada capeknya. Tante bisa bayangkan kan bagaimana keampuhan obat penunda kehamilan yang tante berikan takluk dengan serangan Mas Juna.”
“Sayang…” Arjuna memberi isyarat untuk tidak membicarakan masalah itu karena ada Steven.
Dokter anak yang sudah senyum-senyum itu pasti akan mengejeknya habis-habisan.
“Tapi kamu juga bahagia kan punya suami perkasa,” ledek dokter Wanda lagi sambil tertawa pelan.
“Bahagia banget, Tante, habis biar sakit enak juga sih. Iya kan Mas Juna ? Cilla yakin kalau dokter Steven nggak akan bisa mengalahkan Mas Juna.”
Istri kecil Arjuna ini memang paling pintar mengangkat hati Arjuna setelah menjatuhkannya.
“Jadi ajakan selingkuhnya ditolak nih,” ledek dokter Steven yang kembali mendekati Cilla dan Arjuna sambil membawa bayi yang sudah bersih dan menyerahkannya untuk digendong Cilla.
“Apa kurang jelas Cilla ngomong kalau elo nggak bisa mengalahkan gue untuk membahagiakan Cilla ?” Arjuna tersenyum mengejek Steven yang tertawa menanggapinya.
“Jadi anaknya dikasih nama siapa ?” tanya dokter Wanda.
“Sean Abimanyu Hartono,” sahut Arjuna dengan eajah bangga.