MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Efek Galau


Cilla melangkah dengan lesu mengikuti kedua sahabatnya menuju kantin. Hari Senin ini Cilla sudah masuk sekolah seperti biasa dan akan mengikuti susulan tryoutsepulang sekolah nanti.


Papi Rudi sudah pulang dari rumah sakit sejak hari Minggu siang dan memilih bekerja dari rumah dibantu oleh Om Budi.


 


“Kenapa sih muka lo jelek begitu ?” tanya Lili saat mereka sudah duduk bertiga di kantin lengkap dengan tiga mangkok bakso dan tiga minuman yang berbeda-beda.


 


“Berantem lagi sama Pak Juna ?” tanya Febi sambil tertawa pelan.


 


“Elo beneran balik lagi sama Pak Juna ?” Lili dengan wajah keponya ikut bertanya.


 


Belum sempat Cilla menjawab, suara Jovan yang jauh dari kata wibawa seperti saat menjadi ketos dulu membuat ketiga cewek ini menatap Jovan yang langsung duduk di sebelah Cilla hanya dengan membawa segelas minuman.


 


“Ada berita baru apa ?” tanyanya sambil menoleh ke arah Cilla.


 


“Kan udah tahu kalau Cilla balik lagi sama Pak Juna,” ujar Lili kelepasan berbicara dengan suara yang sedikit menggema, membuat beberapa siswa yang duduk di meja depan belakang dan samping mereka langsung menoleh.


 


Febi langsung melotot membuat Lili tertawa kikuk.


 


“Jadi elo udah minta susulan sama Pak Juna ?” tanya Jovan dengan suara yang sedikit keras juga untuk mengimbangi pernyataan Lili.


 


Cilla menyuap baksonya yang terakhir sambil mendengus kesal. Suasana hatinya memang sedang jelek saat menerima secarik memo dari Arjuna saat jam pelajaran tadi.


Arjuna mendekati Cilla yang sudah kembali duduk di singgasananya dan menyelipkan kertas itu dengan gerakan secepat kilat.


 


Cilla masih dalam mode diam sambil berjalan keluar kantin. Febi langsung mengomeli Lili tanpa suara sementara Jovan mengangkat kedua alisnya bertanya pada Lili dan Febi soal Cilla yang jutek dan pendiam.


 


“Jadi elo semua nggak suka kalau gue balik sama Pak Juna ?” tanya Cilla dengan wajah ditekuk saat mereka sudah duduk di dalam kelas yang masih sepi.


 


Istirahat tinggal 6 menit lagi, tapi belum ada satu siswa kelas XII  IPS-1 yang balik ke kelas. Akhirnya Jovan ikutan melipir dulu demi memenuhi jiwa keponya untuk mengetahui masalah yang sedang membuat sahabat kecilnya itu galau,


 


“Bukan nggak setuju,” Jovan langsung buka suara saat melihat Febi dan Lili hanya terdiam. “Tapi kesannya gampang banget maafin Pak Juna.”


 


“Memangnya menurut kalian kesalahan Pak Juna fatal banget ?” Cilla kembali bertanya sambil menatap sahabatnya satu persatu.


 


Jovan tersenyum kikuk  dan mengusap tengkuknya sendiri sementara Lili dan Febi masih bingung memberikan jawaban apa.


 


“Jadi di mata kalian gue ini cewek gampangan ?” tatapan Cilla terasa menusuk ketiga sahabat yang ada di dekatnya.


 


“Bukannya cewek gampangan dalam arti cewek murahan,” akhirnya Febi ikutan buka suara. “Tapi kemarin ini elo gampang banget bilang putus sama Pak Arjuna dan hanya dalam waktu duabelas hari elo udah nempel-nempel lagi sama Pak Juna, seolah-olah nggak pernah ada masalah di antara kalian.”


 


“Apa di mata cowok, gue ini cewek gampangan gitu, Jo ?” Cilla menatap Jovan dan menunggu tanggapan cowok itu.


 


“Nggak usah pusing soal pandangan orang, yang penting Pak Juna-nya gimana ? Apa kelihatannya Pak Juna ada niatan mau balas perlakuan elo yang sebentar minta putus dan dirayu sedikit mau balik lagi “


 


“Menurut pandangan elo sebagai cowok gimana ? Apa Pak Juna menunjukan tanda-tanda seperti yang elo bilang tadi ?”


 


“Eh chaebol,” Lili mulai tersulut emosi mendengar Cilla selalu balik bertanya saat ditanya oleh mereka. “Elo itu suka pura-pura kuat padahal lemah, pura-pura nggak cinta padahal bucin parah. Yang ngerasain gimana-gimananya Pak Juna kan elo sendiri, tanya sama hati elo, apa Pak Juna memperlakukan elo seperti yang Jovan bilang ?”


 


Cilla terdiam dan menarik nafas panjang, Mukanya masih cemberut, namun ingin mengungkapkan perasaannya saat ini juga sulit karena teman-teman kelasnya mulai berdatangan dan duduk di bangku mereka.


 


Cilla mengeluarkan lipatan kertas dari saku kemejanya dan memperlihatkannya pada tiga sahabatnya. Ia juga memberi kode supaya memo itu jangan sampai terlihat oleh teman-teman lainnya.


 


Tulisan tangan Arjuna hanya singkat, meminta Cilla bersabar dan menjauh dari Arjuna untuk sementara ini karena papi Rudi sudah memberikan ultimatum lewat Pak Slamet supaya Arjuna tidak coba-coba mendekati Cilla di sekolah. Hubungan mereka benar-benar hanya sebatas guru dan murid. Bahkan Arjuna bilang  kalau Pak Slamet secara tidak langsung diminta oleh papi Rudi untuk mengawasi mereka berdua.


 


Bukannya kasihan, Lili malah tertawa pelan, tidak berani langsung berkomentar karena tidak ingin kembali dimarahi Cilla dan Febi.


 


Jovan pun senyum-senyum saat mengetahui alasan Cilla mendadak jutek dan wajahnya melebihi kertas lecek.


 


“Pengalaman adalah guru yang berharga, Cil,” ledek Jovan sambil tertawa sebelum menjauhi meja Cilla. “Jangan main sosor aja kayak bebek, salah nyosor jadinya nyesel.”


 


“Jovan si**lan !” pekik Cilla sambil melempar penghapus miliknya.


 


Mantan ketos itu hanya tertawa sambil melambaikan tangannya. Lili juga masih tertawa dan kembali ke bangkunya.


 


“Hati-hati, siapapun bisa jadi mata-matanya om Rudi,” ledek Lili sebelum guru mapel berikut nya masuk ke kelas mereka.


 


“Elo kira lagi di medan tempur ada doubel agent segala ?” gerutu Cilla.


 


“Who knows baby ? Who knows ?” ledek Lili sambil terkikik.


 


Cilla kembali menggerutu dan mengomel sendiri. Bukannya menghibur dan membantunya, para sahabat Cilla malah meledeknya membuat hatinya tambah panas.


 


 


**


 


Cilla baru saja menyelesaikan susulan tryout Bahasa Indonesia di ruangan Bu Retno dan pengawasnya adalah Dono. Belum habis waktunya, Cilla sudah menyerahkan lembar kertas jawabannya kepada wali kelasnya itu.


 


“Kamu tunggu dulu di sini, jangan pulang dulu,” perintah Dono.


 


“Tapi sekarang sudah hampir jam 3, Pak. Kasihan sopir saya nunggu kelamaan,” protes Cilla saat menekan handphone dan melihat tampilan waktu di layarnya.


 


“Hanya sepuluh menit. Sisa waktu untuk menyelesaikan tryout kan masih duapuluh menit lagi, jadi sopir kamu pasti nggak akan keberatan menunggu.”


 


Tanpa menunggu jawaban Cilla, Dono membuka pintu ruangan Bu Retno dan ternyata bergantian dengan si pemilik hati Cilla yang masuk.


 


“Mas Juna mau ngapain ?” Cilla menautkan alisnya. “Nanti kalau sampai ada yang melihat, urusan sama papi bakal tambah susah.”


 


Arjuna mendekati Cilla yang sudah beranjak bangun dan merapikan tasnya.


 


“Mas Juna kangen,” pria itu langsung memeluk Cilla. “Ada yang lapor kalau anak bebek kesayangan Mas Juna ini jutek sepanjang hari.”


 


“Dasar trio kepo,” gerutu Cilla.


 


“Bukan kepo, mereka justru sekutu kita. Kita bisa kirim-kirim pesan lewat ketiga teman kamu itu, soalnya sejauh yang Mas Juna tahu, handphone kamu juga disadap,”


 


“Serius ? Kok jadi berasa kayak lagi shooting film Mission Impossible sih,” Cilla merenggangkan pelukan dan mendongak menatap Arjuna.


 


“Beneran,” Arjuna mengangguk untuk memastikan.


 


“Duh papi gini amat sih, Cilla udah kayak tahanan perang aja,sih !” Cilla kembali menekuk wajahnya dan mengomel sendiri.


 


“Jangan cemberut gitu, bikin Mas Juna tambah gemas. Sabar sebentar ya, Mas Juna lagi pikirin cara terbaik bicara sama papi.”


 


 


“Maaf Cilla nggak pikir panjang jadinya kayak begini,” lirih Cilla sambil mengeratkan pelukannya.


 


Arjuna tersenyum dan membalas pelukan anak bebek kesayangannya sambil mengusap punggung Cilla.


 


“Nggak apa-apa, ini pelajaran juga buat Mas Juna. Belum apa-apa, jadi cowok udah ketakutan dulu. Bukannya bicara baik-baik sama Cilla malah melarikan diri jadi pengecut.”


 


Cilla merenggangkan pelukannya dan menatap Arjuna dengah dahi berkerut.


 


“Mas Juna beneran udah nggak takut lagi dapat tugas berjibun kalau sampai balik lagi jadi calon suaminya Cilla ?”


 


“Yakin pakai banget,” sahut Arjuna mantap dan tegas. Kepalanya juga ikut mengangguk.


 


“Memangnya Cilla masih ragu untuk balik lagi jadi calon istrinya Mas Juna ?” Arjuna mengernyit, menatap Cilla yang langsung menggeleng.


 


“Kalau begitu, Cilla sabar sedikit ya, Mas Juna akan pikirkan yang terbaik untuk kita berdua. Nggak boleh jutek-jutek dan cemberut. Bukannya jadi jelek tapi bikin Mas tambah gemas.” Arjuna tertawa sambil mengacak rambut depan Cilla.


 


“Boleh usul ?” Cilla mengangkat kedua alisnya.


 


“Usul apa ?”


 


“Kita kawin lari aja.” Cilla menatap Arjuna dengan wajah polosnya.


 


“Udah nggak jaman,” sahut Arjuna sambil tertawa. “Nggak enak lari-lari terus, kalau kecapean nggak bisa sayang-sayangan, habis udah tenaganya.”


 


“Ya minum vitamin biar kuat,” sahut Cilla dengan wajah cemberut.


 


Arjuna tertawa melihat sikap polos Cilla. Anak bebek kesayangannya ini memang masih minim pengetahuan tentang hubungan orang dewasa. Sepertinya kalau sampai mereka menikah, Arjuna harus membuka kelas privat dulu, mengajarkan Cilla bagaimana caranya menjadi istri yang berbakti pada suami.


 


“Kalau status kita kawin lari, sudah pasti semua rekening Mas Juna dan Cilla diblokir sama papa dan papi. Kita nggak punya modal apa-apa.”


 


“Kan bisa cari kerja,” sahut Cilla.


 


“Kedua orang tua kita itu bukan sekedar kaya harta aja tapi juga kaya koneksi. Mas Juna sudah membuktikan. Waktu pertama keluar dari rumah karena menolak perjodohan,  tidak ada perusahaan yang mau menerima Mas Juna bahkan dengan referensi dari teman-teman. Sekalinya perusahaan kecil, pimpinan mereka langsung ciut begitu tahu keluarga dan latar belakang Mas Juna. Mereka takut dibuat pailit sama papa.”


 


Cilla terdiam memikirkan ucapan Arjuna dengan wajah serius. Arjuna senyum-senyum sambil mengelus kepala Cilla dengan penuh sayang.


 


“Mas Juna sedang mengusahakan untuk ketemu dan bicara sama papi buat meyakinkan papi kalau kita berdua itu sama-sama saling cinta dan sudah belajar dari pengalaman ini. Doain aja semoga usaha Mas Juna bisa meluluhkan hati papi Rudi.”


 


Arjuna menyipitkan matanya menatap Cilla yang masih terlihat berpikir keras membantu Arjuna mencari jalan keluarnya.


 


“Cilla ada ide,” matanya berbinar cerah dan menatap Arjuna dengan senyuman.


 


 Melihat reaksi Cilla seperti itu, Arjuna bukannya senang malah mengerutkan dahi dengan hati deg deg kan. Berharap cemas semoga anak bebeknya tidak memberikan ide yang tidak-tidak. Arjuna sampai menelan salivanya karena terlalu khawatir.


 


“Cilla sempat baca di novel. Kalau kawin lari malah bikin kondisi makin kacau, bagaimana kalau kita pura-pura sudah itu,” Cilla menempelkan kelima jari kiri dan kanannya yang menguncup.


 


“Pura-pura itu apa ?” Arjuna mengernyit dengan wajah bingung.


 


“Ya itu…” Cilla terlihat malu mau menjelaskan Arjuna dengan kata-kata.


 


Arjuna menggeleng sambil mengusap tengkuknya dengan wajah bingung. Cilla menghela nafas. Di satu sisi Cilla malu mau mengucapkannya pada Arjuna, di sisi lain Cilla kesal karena Arjuna tidak mengerti maksudnya, padahal pria itu sudah berusia duapuluh enam tahun jalan duapuluh tujuh.


 


“Kita sengaja tidur seranjang berdua biar papa sama papi suruh kita langsung nikah.” Cilla mengungkapkan maksudnya cepat-cepat  sambil menunduk malu.


 


“Kok Cilla  bisa punya ide begitu ?” tanya Arjuna dengan tatapan tidak percaya.


 


“Ide dari novel,” sahut Cilla cepat.


 


Arjuna menghela nafas dan kembali mengusap tengkuknya sendiri. Bingung mau tertawa atau marah melihat wajah polos gadis di depannya.


 


“Ingat ya, KTP aja belum punya, jangan kebanyakan baca novel 21 ++. Gini akibatnya,” Arjuna menyentil kening Cilla membuat gadis itu langsung cemberut.


 


“Kasih ide nggak ada yang diterima,” omel Cilla sambil menyandang tas ranselnya.


 


Dia melewati Arjuna sambil menyenggol bahu pria itu dengan kasar dan mulutnya masih menggerutu.


 


“Mau kemana ?” cegah Arjuna menahan lengan Cilla.


 


“Mau ketemu dokter Steven, minta obat biar kepala Cilla nggak pusing,” sahut Cilla asal tanpa memutar badannya menatap Arjuna.


 


“Dia itu dokter anak, bukannya dokter umum,” omel Arjuna.


 


“Kan tadi Mas Juna bilang Cilla masih anak-anak, belum punya KTP  dan belum boleh baca novel yang mengandung konten 21++. Jadi masih cocok berobat ke dokter anak.”


 


Arjuna menarik tangan Cilla dan langsung memiting kepala Cilla di bawah ketiak Arjuna.


 


“Mas Juna iihh.. apaan sih ini. Bau. Nanti Cilla pingsan di sini gimana ?”



Cilla memberontak dan berusaha melepaskan diri dari himpitan tangan Arjuna.


 


“Biarin bau, biar nggak ada cowok lain yang mau dekat-dekat sama Cilla. Masih kepikiran terus sama calon suami orang ? Mau jadi pelakor ? ” omel Arjuna dengan nada kesal. Tangannya masih menghimpit Cilla di bawah ketiaknya.


 


“Siapa juga yang mau jadi pelakor. Cilla bilang mau bertemu dan minta obat, bukan mau ajak selingkuh.” Tangan Cilla mulai memukul-mukul lengan Arjuna yang menghimpitnya.


 


“Nggak boleh ! Mas Juna bisa kasih obat yang lebih manjur.”


Arjuna melepaskan Cilla tapi langsung menagkup wajah gadis itu. Tanpa menunggu gadis itu menghela nafas, Arjuna langsung mencium bibir Cilla.


 


“Pak Arjuna !”


 


Suara Bu Retno yang baru saja hendak masuk membuat keduanya terdiam. Tangan Arjuna terlepas dari wajah Cilla dan perlahan ia menggeser wajahnya ke samping muka Cilla hingga bisa melihat Bu Retno. Arjuna hanya tersenyum kikuk membalas tatapan Bu Retno yang terlihat nano-nano, antara kaget,  kecewa, kesal dan patah hati.