
Arjuna turun dari mobil dengan tubuh lelah dan wajah letih. Rapat dengan papa Arman hanya berlangsung sampai jam 6 sore, tapi kelanjutan makan malamnya membuat Arjuna akhirnya baru sampai rumah hampir jam 9 malam.
Pandangan Arjuna beredar karena tidak mendapati sosok Cilla yang rutin menyambutnya.
“Non Cilla belum pulang dari pagi, Den,” ujar Bik Mina setelah mengunci pintu utama.
“Tapi mobil sudah ada di depan, Bik,” tanya Arjuna dengan perasaan mulai was-was.
“Selesai mengantar barang ke panti asuhan, Non Cilla minta Dirman pulang lagi, minta diambilkan barang yang tertinggal. Awalnya Dirman tidak mau meninggalkan Non Cilla sendirian, tapi Non. Cilla bersikeras dan bilang kalau barang itu penting banget. Sampai di rumah Dirman menanyakan sama saya tapi tidak ada barang yang dititipkan dan handphone Non Cilla sudah tidak aktif lagi. Dirman balik ke sana, kata Ibu Panti, Non Cilla sudah jalan tidak lama setelah Dirman pergi.”
“Iya, sejak siang handphonenya sudah tidak aktif, Bik. Saya mengirim pesan berkali-kali tapi hanya centang satu.”
“Saya khawatir aja, Den. Memang ini bukan pertama kalinya Non Cilla pulang di atas jam 9 malam, tapi kondisi Non Cilla…”
Arjuna menyentuh bahu Bik Mina sambil berusaha tersenyum.
“Saya juga sama khawatirnya karena Cilla sedang hamil, Bik. Saya ke kamar dulu sambil mencari tahu dimana keberadaan Cilla.”
Arjuna bergegas masuk kembali ke kamarnya dan kakinya langsung lemas saat melihat handphone Cilla dan beberapa benda berharga milik Cilla termasuk cincin pernikahan mereka ditaruh di atas nakas.
Tidak ada memo apapun yang Cilla tinggalkan. Hati Arjuna berdebar tidak karuan, namun bingung harus menghubngi siapa lebih dulu.
Akhirnya setelah melepas dasinya dan menggulung kemejanya, Arjuna memilih mencari Cilla dengan mobil.
“Perlu saya temani, Den ?” ujar Dirman saat Arjuna meminta kunci mobil padanya.
“Nggak usah, Dir, saya sendiri aja. Tolong info aja kalau nanti Cilla pulang.”
“Baik, Den.”
Arjuna membawa mobil meninggalkan rumah. Nama Dimas langsung terlintas di benaknya. Mungkin saja sahabat Cilla itu mengetahui kegiatan Cilla hari ini.
Arjuna harus menelan kecewa karena seharian ini Dimas tidak berhubungan apalagi bertemu dengan Cilla.
Arjuna menepi, berniat ingin menanyakan pada para sahabat Cilla, tapi urung dilakukannya.
Saat termenung memikirkan harus bagaimana, Arjuna baru ingat kalau besok adalah hari ulangtahunnya. Senyuman tipis tersungging di bibirnya. Apa jangan-jangan Cilla ingin membuat kejutan untuknya ?
Arjuna pun melajukan kembali mobilnya menuju aprtemen yang sempat mereka tempati. Berharap Cilla kabur dan menyendiri di tempat ini tapi lagi-lagi Arjuna hanya bisa menelan kecewa.
Berputar Jakarta ke tempat-tempat yang biasa didatangi Cilla membuat Arjuna cukup lelah. Jam duabelas lewat tadi Arjuna sempat menanyakan Cilla pada Bik Mina, tapi belum ada tanda-tandanya Cilla pulang ke rumah.
Arjuna melajukan mobil menuju rumah. Jam di dashboard menunjukkan pukul 2 pagi. Rasa lelah dan pikiran lainnya membuat Arjuna akhirnya memutuskan untuk pulang.
Berharap Cilla sedang menunggunya di kamar tidsk kesampaian. Suasana kamar tidak berubah. Sama seperti saat Arjuna tinggalkan beberapa jam lalu.
Arjuna pun membersihkan diri di kamar mandi sebelum tidur.
Tangannya meraih handphone Cilla dan menyalakannya kembali. Berharap ada catatan atau pesan yang ditinggalkan Cilla di sana.
Arjuna langsung mrmbuka kunci keamanan handphone Cilla dan mengecek beberapa aplikasi di dalamnya namun tidak menemukan apapun.
Hingga akhirnya mata Arjuna menyipit saat melihat layar yang menampilkan beberapa aplikasi yang belum lama digunakan Cilla, dan salah satunya adalah voice recording.
Arjuna tercengang saat mendengar percakapan terakhir yang direkam oleh Cilla tentang Desi dan Anggita. Rahang Arjuna mengeras. Besok ia akan membuat perhitungan pada kedua wanita itu yang berani-beraninya menganggap istrinya sugar baby.
Terlalu lelah dengan pikirannya tentang Cilla, akhirnya Arjuna terlelap menjelang jam 3 pagi.
🍀🍀🍀
Mata Arjuna mengerjap saat mendengar ketukan keras di pintunya. Kepalanya sedikit pusing. Dilihatnya baru jam 7 pagi.
Dengan langkah gontai, Arjuna membuka pintu kamarnya dan mengernyit saat melihat Theo dengan wajah penuh amarah menyambutnya di balik pintu.
“Elo apain lagi sepupu gue ? Kemana dia sekarang ?” Theo langsung mencengkram kaos Arjuna.
“Gue juga nggak tahu, Yo. Gue cari kemana-mana sampai jam 2 pagi tapi nggak ketemu.”
Theo menghempaskan kaos Arjuna dengan kasar hingga pria itu jatuh terduduk di lantai. Arjuna memegang kepalanya yang masih agak pusing.
“Cepetan lo siap-siap, kita semua nunggu elo di bawah.”
Tanpa mempedulikan Arjuna dan menunggu sahabatnya itu bicara panjang lebar, Theo berbalik dan meninggalkan Arjuna yang masih memegang kepalanya.
“Ada apa lagi sih antara kamu sama Cilla ? Apa masih kurang bahagia sebentar lagi jadi orangtua ?” mama Diva dengan wajah kesal menyambut Arjuna yang duduk di sofa tunggal.
“Jadi papa dan mama juga tante Siska sudah tahu kalau Cilla nggak pulang ?”
“Belum,” papa Arman yang menyahut. “Pagi ini kami datang karena ingin mengucapkan selamat ulangtahun sama kamu dan baru tahu kalau Cilla nggak pulang semalam dari Bik Mina.”
“Mama mencoba hubungi handphone Cilla dari kemarin siang, tapi tidak aktif. Mama yakin pasti ada apa-apa di antara kalian, soalnya sehari sebelumnya Cilla mendadak membatalkan acara pesta ulangtahun kamu,” timpal mama Diva.
“Maksud mama ?” Arjuna mengerutkan dahi.
“Cilla itu udah susun rencana mau buat surprise party di Hotel Pratama. Tiba-tiba dua hari yang lalu dia batalin dengan alasan kondisinya lagi tidak memungkinkan. Mama langsung kepikiran soal kehamilan Cilla makanya kemarin mama telepon Cilla lagi, tapi kondisi handphonenya mati terus.”
Arjuna menghela nafas. Arjuna sempat berpikir kalau Cilla sengaja mendatangi hotel setelah mendapat info dari Pak Pujo.
Istrinya itu selalu punya cara untuk mendapat informasi dari orang-orang di sekeiling Arjuna.
“Pasti ada masalah sampai Cilla mendadak membatalkan acara itu. Cilla sudah mempersiapkannya sejak dari dua minggu lalu, terus udah tinggal dua hari, tiba-tiba batal,” ujar mama Diva.
Akhrinya Arjuna menceritakan masalah kebohongannya hanya demi menghindari emosi Cilla kalau sampai tahu Arjuna tetap pergi tanpa Tino.
“Dasar cowok b**go,” maki Theo meski tanpa berteriak. “Elo tahu kan kenapa Cilla sampai mewajibkan elo didampingi sama cowok, entah Tino atau siapapun juga ! Itu bukan karena sepupu gue masih bocil dan bisanya cemburu buta. Cilla tuh khawatir kalau sampai ada cewek yang berbuat nekat sama elo, bikin elo akhirnya cuma bisa nyesel kalau kenapa-napa.”
”Gue juga nggak bermaksud mau main api di belakng Cilla, Theo. Paginya Cilla uring-uringan karena gue nggak ajak dia ke kantor lagi. Sejak hamil, mood nya gampang banget emosi, Gue cuma nggak mau dia emosi dan marah-marah karena…”
“Nggak baik buat kandungannya ? Gitu maksud elo ? Apa elo nggak mikir panjang kalau mungkin aja Cilla akan tanya-tanya ke Tino atau sopir yang bawa elo hari itu. Gue yakin kalau Cilla pergi bukan karena cewek-cewek yang meeting sama elo, tapi dia kecewa elo udah bohong sama dia dan perginya justru dengan cewek-cewek.”
Theo masih terus mengomeli Arjuna dengan wajah emosi.
“Iya, gue ngaku salah,” sahut Arjuna dengan wajah tertunduk.
“Masalah mood Cilla yang berubah-ubah tolong dimengerti, Arjuna,” ujar Tante Siska. “Usia Cilla benar-benar masih sangat muda, apalagi mimpinya harus dia tunda karena kehamilannya. Dan saat dia kuliah nanti, kondisi hidupnya tidak akan sama lagi. Cilla bukan mahasiswa biasa karena di rumah dia punya peran sebagai istri dan ibu juga.”
“Juna juga selalu berusaha mengerti kondisi emosi Cilla, Tante. Itu sebabnya Juna selalu memberikan Cilla kegiatan yang bermanfaat, biar Cilla nggak punya banyak waktu untuk melihat medsos teman-temannya yang malah bikin Cilla suka melow. Tapi Juna salah juga dengan berbohong hanya karena tidak siap untuk mengatakan kalau Juna melanggar janji karena tidak pergi sama Tino. Seharusnya Juna kasih kabar Cilla kalau Tino sakit dan tidak bisa menemani Juna meeting.”
“Kamu ada ide dimana Cilla sekarang ?” tanya papa Arman.
“Juna baru hubungi Dimas, Pa, belum hubungi siapa-siapa lagi. Semalam Juna masih berharap kalau ini semua bagian rencana Cilla untuk memberikan kejutan ulangtahun.”
“Bukannya kamu bilang pernah minta tolong Bastian memasang alat pelacak di handphone Cilla ?” tanya papa Arman lagi.
“Semua handphone dan perhiasan Cilla ditinggal, termasuk cincin kawin kami, Pa.”
“Kamu juga aneh-aneh sih, Jun. Daripada berbohong, apa susahnya bicara terus terang dan kalau perlu minta Cilla nyusul, temani kamu meeting,” omel mama Diva.
“Kamu tuh banyak masalah sama perempuan, Jun, makanya Cilla suka khawatir. Kamu itu CEO yang mudah dikadalin sama perempuan. Seperti Theo bilang tadi, Cilla itu bukan cemburu buta tapi khawatir kamu diapa-apain.”
“Iya, saya minta maaf Tante, udah buat semua kecewa dan jadi kepikiran.”
“Udah tanya Bik Mina apa Cilla kasih tahu kemana ?” tanya mama Diva.
“Udah, bahkan Bik Mina sudah menghubungi Pak Trimo. Cilla nggak ada di sana.”
“Kita bagi tugas buat cari tahu keberadaan Cilla,” ujr papa Arman. “Dan ke depannya, jangan lagi jadi suami yang ceroboh.”
“Juna mau ke kantor dulu, Pa. Ada yang mau Juna bereskan di sana.”
“Ya ampun Jun, fokus masalah keberadaan Cilla dulu baru mikir urusan kantor,” gerutu mama Diva.
“Ini juga penting, Ma. Juna mau bereskan masalah karyawan yang berani menganggap istri Juna sebagai sugar baby dan menyebarkan gosip kalau Juna terpaksa menikah sama Cilla.”
“Ya ampun, Jun,” mama Diva tercengang. “Bisa-bisanya mereka bilang begitu padahal pernikahan kamu sudah diadakan secara besar-besaran dan semua karyawan diundang.”
“Itu sebabnya Cilla masih suka merasa nggak aman, Tante,” ujar Theo.
Suasana di ruang tengah itu mendadak sunyi dan masing-masing sibuk berpikir tentang keberadaan Cilla.
Papa Arman sendiri langsung meminta orang-orang kepercayaannya untuk membantu mencari keberadaan Cilla.
Terlihat beberapa kali Arjuna menghela nafas sambil menatap handphonenya. Berharap Cilla menghubunginya dengan nomor lain. Tapi harapannya hanya sebatas angan.
Yang masuk justru ucapan selamat ulngtahun untuknya. Tapi Arjuna sudah tidak bersemangat membalas ucapan selamat ulangtahun dari para sahabat, karyawan dan koleganya.