
Tanpa bertanya pada Arjuna, Cilla memasuki salah satu cafe yang menawarkan makanan berat. Cilla sudah meninggalkan nomor handphonenya pada suster yang berjaga di dekat ruang ICU, meminta perawat memberi kabar kalau ada perkembangan papi Rudi.
“Mau makan apa ?” tanya Arjuna saat keduanya sudah duduk berhadapan di salah satu meja.
Cilla membolak balik buku menu dan memilih salah satu menu pasta dan jus strawberry sementara Arjuna memesan nasi goreng dan teh hangat.
“Bawaan pujasera, Mas ?” ledek Cilla sambil tertawa.
“Bawaan anak kost, Neng,” sahut Arjuna sambil tertawa.
Cilla ikut tertawa, hatinya mendadak kangen dengan tempat pertamanya menjalin pertemanan penuh debat dengan Arjuna.
”Kangen sekoteng,” ujar Arjuna sambil membayangkan pilihan makanan di pujasera.
“Kangen sekoteng apa kangen nyemburnya ?” cebik Cilla. “Jangan pura-pura lupa pernah nyembur Cilla dua kali.”
“Makanya anak bebeknya nggak bisa lepas dari Mas Juna, udah dikasih semburan cinta,” ujar Arjuna tertawa dengan wajah bangga. Cilla hanya mencibir.
Tidak lama pesanan mereka diantar oleh pelayan. Cilla menelan salivanya melihat nasi goreng milik Arjuna.
“Boleh coba ?” tanya Cilla dengan wajah mupengnya. “Kayaknya enak.”
Arjuna pura-pura tidak mendengar dan sengaja menyuap nasi gorengnya dengan wajah penuh nikmat sampai membuat Cilla kembali menelan salivanya.
“Cilla mau cobain, Mas Juna,” pinta Cilla tanpa malu-malu.
Arjuna menyendok lagi dan mengarahkannya ke mulut Cilla yang langsung terbuka, namun ternyata sendok itu malah berbelok dan kembali masuk ke dalam mulut Arjuna.
“Mas Juna iihhh.. Pelit banget !” gerutu Cilla sambil memukul garpu ke piring pastanya.
“Mintanya yang mesra, dong,” Arjuna mengedipkan sebelah matanya.
“Bodo !” Cilla mengomel dan menyendok pasta pesanannya lalu menyuapnya.
“Pakai sendok Mas Juna nggak apa-apa ?” tanya Arjuna berusaha membujuk Cilla yang masih ngambek.
Cilla terdiam, hanya fokus makan pastanya dan enggan mengangkat wajahnya.
“Sayang, kamu kok jadi gampang ngambek setelah lebih dari sepuluh hari jauh dari Mas Juna ?” Ledek pria itu sambil sengaja mendekati sendok yang berisi nasi goreng dekat dengan Cilla.
“Sayang, sayang ! Ingat ya Pak Arjuna, saya masih belum seratus persen memaafkan Bapak. Masih kesel, masih sebel, masih marah sama Bapak sebagai mantan calon suami saya. Sekarang status kita cuma guru sama murid, jadi nggak boleh panggil saya pakai sayang, sayang.”
Bukannya kesal Arjuna malah senyum-senyum dan menggigit bibir bawahnya menahan gemas. Mulut Cilla komat-kamit sambil mengerucut.
“Sayang, Sayang, Sayang,” sengaja Arjuna terus memanggil Cilla. “Anak bebek kesayangan Mas Juna, jangan ngambek dong. Mas Juna suapin nasi goreng nanti Cilla gantian suapin pastanya buat Mas Juna. Sepertinya enak juga, Mas Juna ngiler.”
Cilla masih terlihat masa bodoh. Saat garpu dengan lilitan pastanya terangkat dan siap dilahap, Arjuna menahan lengan Cilla dengan tubuh sedikit condong. Arjuna mengarahkan garpu itu ke mulutnya dan langsung dilahapnya. Cilla hanya melongo melihat tingkah Arjuna.
Arjuna duduk kembali sambil membasahi bibirnya dengan ekspresi menikmati pasta yang sedang dikunyahnya.
“Enak, pakai banget karena disuapin sama calon istri,” ujar Arjuna sambil mengedipkan sebelah matanya.
Cilla hanya diam saja sambil menatap Arjuna masih dengan wajah cemberut.
Arjuna menyendok nasi goreng miliknya dan kali ini benar-benar berniat menyuapi Cilla.
“Makan ya, pasti enak. Pakai satu sendok sama Mas Juna dan disuapin penuh cinta. Biar cinta kita cepat dapat restu dari papi.”
Arjuna mulai mengeluarkan jurus bujuk rayunya sambil memasang wajah sok kalem dan senyuman manis yang bikin Cilla mulai goyah.
Cilla mengerjap-ngerjap dan Arjuna masih tersenyum sambil menganggukan kepala, memberi isyarat supaya Cilla membuka mulutnya. Dan akhirnya Cilla pun menerima suapan nasi goreng dari Arjuna. Belum sampai dimakan dengan sempurna, teriakan dari luar kantin membuat Cilla langsung tersedak.
“Cilla !”
“Juna !”
Keduanya menoleh dengan wajah terkejut, apalagimendapatkan para keluarga plus Om Budi yang tadi keluar makan diajak papa Arman sudah berdiri di luar cafe yang dibatasi tanpa kaca sedang memandangi mereka.
Kali ini ada tambahan Febi, Lili dan Jovan di sana yang rupanya datang untuk memberi semangat pada Cilla setelah mendapat kabar dari Dono.
Wajah Cilla langsung merona menahan malu, Baru sepuluh hari yang lalu ia menemui papa Arman dan mama Diva membatalkan pernikahannya dengan Arjuna dan sekarang dia kedapatan sedang disuapi Arjuna dengan mesranya.
Cilla menutup wajahnya dengan sebelah telapak tangannya setelah meneguk air putih untuk menghilangkan batuk karena tersedak. Tidak ada keberanian untuk menoleh keluar hingga Cilla menutupi sebelah wajahnya supaya tidak terlihat dari samping.
“Kayaknya belum lama ada yang bilang sudah membatalkan pernikahannya,” lengkingan Lili terdengar begitu dekat dengan Cilla.
Perlahan gadis itu menoleh dan mendapati tiga sahabatnya sedang menatapnya dengan tajam. Tangan Febi dan Lili terlipat di depan dada sementara kedua tangan Jovan dimasukan dalam saku celana seragamnya.
“Belum lama ada yang melow gara-gara melihat calon suaminya berselingkuh,” sinis Jovan sambil mencibir.
“Begitu yakinnya mau pisah dari calon suaminya,” Febi pun ikut menimpali.
“Jadi kalian nggak senang kalau lihat sahabatnya bahagia ?” Cilla balik bertanya dengan ekspresi yang terlihat biasa-biasa saja.
Arjuna hanya senyum-senyum dan langsung bersandar ke kuris. Kedua tangannya menopang pada pegangan kursi dan jemarinya menangkup di depan bibinya.
“Apa lupa sampai nangis sambil meluk gue gara-gara ngelihat calon suami lo dicipok sama cewek lain ?” Jovan kembali menyindir sambil melirik ke arah Arjuna.
Arjuna sempat tertawa kecil namun matanya langsung membelalk saat menyadari ucapan Jovan barusan.
“Kamu peluk-peluk Jovan, Cilla ?” Arjuna mencondongkan badan mendekat ke arah Cilla.
Febi, Lili dan Jovan saling melirik dan senyum-senyum menunggu drama pasangan ini.
“Nggak peluk ! Jovan lebay. Cilla cuma sandaran di punggungnya pas di motor tapi tangan Cilla nggak meluk. Dan pas di taman, Cilla cuma menyandarkan kepala di bahu Jovan, nggak sentuh yang lainnya,” ujar Cilla menjelaskan.
“Cilla nggak lari tapi naik motor. Mana mungkin larilari di jalan cari Jovan. Kan memang Jovan yang mengantar Cilla ke kantor Mas Juna. Begitu terpikir kalau Mas Juna memblokir nomor Cilla, emosi langsung naik dan berasa kelamaan kalau pakai acara panggil kang ojol dulu, jadi Cilla paksa Jovan untuk antar ke kantor Mas Juna,” Cilla masih membantah dan memberi alasan.
“Terus pakai sandaran di punggung dan bahu Jovan ? Mas Juna nggak yakin kamu nggak pegang-pegang Jovan,” dengusnya kesal.
“Dan kamu !” Arjuna berdiri sambil menunjuk hidung Jovan. “Masih belum bisa move on dari calon istri saya ? Mentang-mentang dia lagi kesal sama saya, kamu malah cari kesempatan dalam kesempitan,” omel Arjuna.
“Iihh siapa yang nggak bisa move on, Pak Juna ? Apa Bapak lagi menceritakan diri sendiri yang belum bisa move on dari mantan calon istri ?” ledek Jovan sambil terkekeh. “Saya udah move on dari Cilla dan fixed bakal jadi calon adik ipar Bapak.”
“Kamu bilang apa ?” Mata Arjuna langsung membelak dan mendekati muka Jovan, menelisik wajah mantan ketos itu sambil memicingkan matanya.
“Status saya sekarang sudah resmi jadi pacarnya Amanda. Tiga cewek ini saksinya plus Dimas juga. Mereka ada di sana waktu Amanda menerima cinta saya,” Jovan senyum-senyum dengan wajah bangga.
“Saya nggak merestui !” Protes Arjuna. “ Terus kenapa ada Dimas segala pas Amanda menerima cinta kamu ? Memangnya kalian kenal ?”
Meski pertanyaan itu ditujukan pada Jovan, namun kepala Arjuna bergerak menoleh ke arah Cilla.
“Dimas itu tamu kehormatan Cilla juga, Pak. Khusus datang untuk menghibur gadis yang habis patah hati karena diselingkuhi calon suaminya,” sindir Jovan sengaja memanasi Arjuna.
“Saya tidak selingkuh. Kejadian di kantor itu tidak disengaja dan tak terduga, istilah kerennya force majeur gitu,” protes Arjuna.
“Nggak ada gempa bumi atau kebakaran gedung, Pak. Mana bisa dimasukan dalam kategori force majeur. Kebakaran sih ada, tapi kebakaran hati, panas banget sampai bikin air mata keluar,” Febi ikut menyindir sambil tertawa meledek.
“Udah sih jangan begitu sama pak guru,” Cilla pun beranjak dari kursinya. “Ujian sekolah belum lewat, mau dikasih nilai nggak lulus ?”
“Duuuhh yang lagi belain calon suaminya,” sindir Lili sambil mencebik.
“Iiihh calon suami dari Hongkong ? Gue ini sama kayak elo bertiga, muridnya Pak Arjuna, guru matematika SMA Guna Bangsa.”
“Yakin cuma guru buat elo ?” Jovan mendekati Cilla bahkan wajahnya ikut dicondongkan ke muka Cilla.
Arjuna langsung mendorong pelan bahu Jovan dan menatap dengan tajam pada mantan ketos itu.
”Jangan dekat-dekat dengan Cilla. Mau saya melarang Amanda pacaran sama kamu ?” Arjuna menatapnya dengan senyuman sinis namun malah membuat Jovan tertawa.
“Saya dekat doang sama Cilla, Pak, nggak sampai nempel bibir kayak Bapak,” ujar Jovan di sela tawanya.
Arjuna mendengus kesal dan akhirnya menarik tangan Cilla.
“Mau kemana ?” tanya Cilla dengan alis menaut.
“Papa menunggu kita di atas.”
Arjuna berjalan menuju kasir dan membayar tagihan makan siang mereka, lalu menggandeng tangan Cilla menuju lift.
Ketiga sahabatnya mengikuti mereka dari belakang dengan tatapan tajam mengarah pada keduanya.
”Kok kita kayak penjahat yang lagi dikawal sama polisi, Mas Juna ?” bisik Cilla saat mereka berlima sudah berada dalam lift.
Posisinya tidak berubah, ketiga sahabat itu berdiri di belakang Cilla dan Arjuna dengan waspada.
“Sebetulnya yang guru di sini Mas Juna apa mereka, ya ? Kok Mas Juna jadi berasa kayak murid yang lagi digiring ke ruang BK dan siap terima hukuman ?” tanya Arjuna dengan suara berbisik.
“Mas Juna ingat waktu SMA, ya ?” Cilla balik berbisik sambil terkikik. “Kata Amanda, Mas Juna itu preman pas SMA. Sama dong kayak Cilla, pelanggan ruang BK.”
“Jangan percaya seratus persen pada omongan Amanda, siapa tahu dia punya misi tertentu dengan jalan menjelek-jelekan Mas Juna,” sahut Juna masih dengan suara berbisik
Lili mulai tidak tahan menahan diri untuk tertawa. Kedua anak manusia benar-benar menggemaskan dan seperti tidak terjadi apapun sebelumnya. Padahal seminggu kemarin, Cilla benar-benar menghindari Arjuna dengan sedikit ekstrim.
Keduanya masih berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke arah Febi, Lili san Jovan, menbuat jiwa kepo ketiganya tanpa sadar mendekat ingin mendengar percakapan Arjuna dan Cilla.
“Ingat status, Pak,” sindir Jovan.
Arjuna menghela nafas sementara Cilla menoleh menatap Jovan dengan tatapan kesal.
Pintu lift terbuka dan mereka keluar tanpa merubah posisi dan setelah lima langkah dari lift, Arjuna yang sudah tidak bisa meredam emosinya menghentikan langkah dan berbalik badan.
”Sebetulnya siapa yang guru, siapa yang murid ?” Arjuna melipat kedua tangan di depan dada. “Kenapa saya berasa posisi kita terbalik, saya ini berasa jadi murid kalian yang tertangkap basah melanggar aturan sekolah.”
Febi, Lili dan Jovan sempat saling pandang-pandangan sebelum menjawab pertanyaan Arjuna, memberi kode dengan isyarat mata dan akhirnya Jovan yang maju selangkah.
“Di sekolah, Bapak memang guru kami. Tapi di luar sekolah wewenang Pak Arjuna nggak seratus persen guru kami. Berbeda dengan Cilla yang statusnya sahabat kami mau di dalam atau luar sekolah. Sejauh yang kami tahu kalau hubungan Pak Iuna dan Cilla saat ini hanya sebagai guru dan murid, jadi tolong dijaga kelakuannya sama Cilla.
Sebagai sahabat kami nggak mau Bapak bikin Cilla nangis lagi sampai bengkak tuh matanya. Nggak boleh pegang-pegang, peluk-peluk apalagi cium-cium.”
Arjuna terlihat kesal, dia tidak mampu membantah ucapan Jovan karena memang begitulah keadaannya.
”Cilla aja nggak menolak,” Arjuna masih berusaha mencari celah melawan tiga sahabat Cilla yang saat ini benar-benar menyebalkan.
“Cilla itu terlalu baik sampai mau aja dikadalin sama Bapak, apalagi Bapak sudah masuk kategori om-om yang pengalamannya pasti sudah banyak,” sahut Lili sambil tertawa meledek.
“Awas kamu semua ya !” omel Arjuna. “Tunggu sampai saya sah lagi jadi calon suaminya Cilla, bahkan saya akan buat langsung jadi suaminya. Sudah pasti saya akan buat pembatas supaya kalian nggak bisa dekat- dekat dengan Cilla,” Arjuna masih mengomel dengan wajah cemberut.
“Memangnya Cilla rumah tinggal yang perlu pakai pembatas supaya nggak dimasuki orang, Pak ?” ledek Lili sambil tertawa.
Jovan dan Febi ikut tertawa menbuat Arjuna makin sebal sampai mengepalkan kedua tangannya di samping.
Cilla yang sedari tadi hanya menjadi penonton mencoba menahan tawa melihat reaksi Arjuna yang benar-benar dibuat kesal oleh ketiga sahabatnya.
“Jangan emosi begitu Pak Juna, biar kerutan nggak cepat datang. Sekarang aja memang sudah jadi om-om, kalau wajah banyak kerutan bisa-bisa beneran dianggap sugar daddy-nya Cilla,” Cilla mendekati Arjuna dan merangkul lengan pria kesayangannya itu.
Arjuna menoleh menatap Cilla dan mendengus kesal sambil menggerutu. Bergegas Arjuna melangkah membuat tangan Cilla terlepas. Bukannya marah ditinggal Arjuna, Cilla tertawa pelan sambil menyusul langkah pria itu.
Dasar murid kurang ajar ! Bisa-bisanya menertawakan gurunya yang lagi kesal gara-gara masalah cinta😃😃